Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
cerita rakyat Jawa Barat Cirebon
ASAL USUL DESA WARU KAWUNG
- 6 Januari 2019
Zaman dahulu Desa Warukawung yang babak yasa ialah Embah Sangkan Kuwu Cirebon. Konon kabarnya beliau tidak mau disebut namanya, tetapi cukup disebut Ki Gede Penderesan saja. Tujuan semula pokoknya beliau bermaksud menyebarkan Agama Islam di pelosok dusun, yang kini tapak petilasannya disebut Ki Buyut Cabuk.
Sebenarnya bukan Cabuk tetapi Cisabuk, karena beliau semenjak pindah tempat dari pemukimannya, sabuknya beliau ditinggalkan yakni dekat sungai Cisabuk, adalah tempat pesiaran peribadatan. Tetapi beliau bukan mengembangkan ajaran Agama Islam saja, disamping itu pula beliau berwiraswasta membuat gula aren(enau) dari pohon kawung. Memang ditempat itu banyak pohon Kawung dan Waru yang tumbuh dengan suburnya, maka tepatlah perkampungan itu disebut Desa Warukawung.
Pohon waru terkenal sekali dibutuhkan keperluan pertanian atau keperluan perumahan. Lulub waru perlu sekali untuk pemijang, yakni tali pengikat gedengan padi, begitu pula penting sekali pada masa itu lulub/waru keperluannya untuk tali welit guna atap rumah atau saung-saung sawah ladang petani.
Sehari-hari beliau selalu menghadapi kesibukan kerja, waktu magrib, isya dan subuh acara peribadatan di bidang rohani Agama Islam, sedangkan siangnya kalau bukan menderes pohon enau, mengambil nira (lahang), tentunya mencetak gula aren.
Sawah ladang pun harus pula diurus sebaik mungkin, padinya, palawija, sayur mayurnya dan yang terkenal tanaman waluhnya. Begitulah beliau kerjakan dengan para santri dan Murid pengikutnya.
Kemudian lama kelamaan setelah berhasil yang dicapai, cita-cita, tujuan pokoknya adalah penyebaran Agama Islam, beliau meneruskan perjalanannya ke tempat lain; maka tugas pengamatan diserahkan kepada kepercayaannya ialah Kiyai Murid yang kemudian turun temurun yang ada di Blok Benda.
Tapak tilas yang lain adalah di makam Sampir, disitulah ada pakaian untuk bekerja di sawah-ladang yang disampirkan ditempat saungnya, yaitu di persawahan yang pada masa ini ada diwewengkon Desa Sindang Jawa Blok Sawah/ Amba.
Sahdan pada zaman penjajahan Belanda tahun 1918 seorang Wedana di Plumbon yang terkenal disebut Wedana Blendang, sebab perutnya besar, ia ditugaskan untuk menggabung-gabungkan desa-desa yang dianggap terlalu sempit, maka terjadiDesa Warukawung yang dipimpin mendiang Kuwu Arpat dapat tergabung denganDesa Royom yang dipimpin oleh mendiang Kuwu Arsa.
Dan kelanjutannya diadakan pilihan kuwu, yang mendapat suara terbanyak ialah mendiang Kuwu Sutara. Ia adalah seorang kuwu yang masih remaja lagi tampan, dan kebiasaan ia disebutnya Kuwu Cilik. Maka terjadilah dua desa gabungan tadi menjadi satu dengan diberi nama Desa Waruroyom.
Tetapi malang baginya baru setahun menjadi kuwu, ia terkena kasus, sehingga atas keputusan sidang Pengadilan Negeri mendapat vonis hukum kurungan satu tahun lamanya. Lebih luas lagi sekedar catatan dari masa ke masa jabatan kuwu sebagai gambaran terlampir ini. Sejak itu yang sangat menonjol sekali antara pemimipin dengan rakyat selalu perpecahan, karena politik devide et impera dari pihak kolonial Belanda sehingga lupa daratan kepada bangsanya, apalagi untuk membangun dan kemajuannya.
Setelah terbentuknya Desa Waruroyom dari mulai tahun 12918 pernah mengalami rupa-rupa perubahan zaman, zaman Belanda diwaktu normal dan pada tahun 1935 waktu Malaise (failit), pada tahun 1942-1945 zaman Dai Nippon Jepang yang pada umumnya rakyat mengalami rupa-rupa penderitaan, penyakit busung lapar, orang berpakaian karung goni, jenazah dibungkus dengan tikar, disana-sini ribut-ribut pakaian manusia dirubung kutu.
Mulai tanggal 17 Agustus 1945 baru ada titik-titik terang, setelah ada Proklamasi Kemerdekaan, meskipun banyak gangguan kekacauan, gerakan DI/TII yang terkenal pagar betis, gerakan PKI yang terkenal pengkikisan G.30.S-nya, Revolusi, aksi Polisionil Belanda dan lain-lain sebagainya. Tetapi bangsa yang telah merdeka lama kelamaan ada perubahan yang sangat menguntungkan khususnya bagi masa depan generasi muda. Akan tetapi mengingat Desa Waruroyom sampailah pada tahun 1985 perkembangan penduduk sangat menonjol, maka terjadilah pemekaran desa yaitu pada tanggal 1 Januari 1985 hari Jum’at Kliwon diumumkan oleh TRIPIDA Kecamatan Plumbon, maka Desa Waruroyom menjadi 2 desa.
Bagian Waruroyom yang utara, nama desa untuk kenag-kenangan ditetapkan menjadi Desa Waruroyom, mengingat pula bagi kenang-kenangan Desa Royom pernah menjadi desa yang tergabung. Sedangkan kepala Desa dilakukan oleh seorang pejabat ialah Sdr. Wartama. Adapun Waruroyom yang bagian selatan, untuk perubahan baru namanya menjadi Desa Warukawung, karena Desa Warukawung adalah Desa ciptaan Ki Kuwu Cirebon yakni Embah Sangkan, adalah seorang Waliullah penyebar Agama Islam di Cirebon.
Letak geografisnya Warukawung sangat penting, di jaman revolusi fisik dianggap daerah konsolidasi (menegakkan kemerdekaan) oleh pejuang tentara RI, bahkan para pejuang pasukan Bede pernah markasnya di Blok Benda, sehingga Belanda acap mengadakan aksi penggerebegannya, tetapi mereka tak pernah berhasil karena berkat kekompakan rakyat dengan para pejuang.
Warukawung kaya sumber airnya, yang terbesar adalah Tuk Bual. Pernah DPD Tingkat II Cirebon ada rencana akan dibangun tempat rekreasi yakni pada tahun 1957, tapi gagal entah apa sebab-sebabnya, Sumur Jaran, Sumur-Serut, dan beberapa Pancuran Rita, Pancuran Gede, Pancuran Gondang, Pancuran Kroya, Pancuran Dasia walaupun kemarau panjang tak pernah kunjung kering.
Mata pencaharian penduduk tercatat, pertanian 60%, pertukangan 25%, dagang perantaun 10%, sedangkan buruh tani hanya 5%, sungguh tenaga buruh kurang sekali, maka bila musimnya penggarapan sawah terpaksa tenaganya harus di drop dari luar desa umumnya dari Desa Pekidulan ( selatan).
Di sekitar perkamopungan Desa Warukawung tanamannya subur, terutama durian yang mengandung banyak kalori, petai, nangka dan mangga, tetapi tanamannya kemiri dan picung kini semakin langka. Sejak dulu tahun 1934 di Warukawung tanaman/ buah-buahan serba ada, sehingga seorang petugas Lanbo Konsulen jaman kolonial, menganggap bahwa Warukawung adalah gemah ripah loh jinawi. Kegemaran para petani dulu adalah menanam padi loyor yang berasnya merah tetapi pulen, maka orang Warukawung tubunya tegap-tegap karena mengutamakan makanan yang mengandung banyak vitamin dan protein nabati dari daun lembayung.
Batas Desa yang penting di jaman dulu adalah :
Sebelum utara ini merupakan jalan yang paling sibuk untuk lalu lalang dan menuju ke kota Kesultanan Cirebon, bila menjelang bulan Maulud orang-orang pergi ke Cirebon merupakan kebiasaan tradisi dari nenek moyang. Begitu pula para perangkat desa bila pergi rapat-rapat mereka menunggang kuda, sedangakn Narpraja pun melakukan tugas kepentingan di desa wewengkonnya.
Kata Sahibul Hikayat jalan itu  pernah jadi arena pertempuran antara pasukan Galuh lawan Cirebon, sebagai bukti bekas – bekasnya dianggap keramat oleh penduduk ialah kuburan Ki Penggung, kuburan Ki Sulun (Siulun) dan kelangsungannya di ceritakan alat peperangan di kubur. Kenyataannya banyak orang yang menemukan keris atau batu-fosil seperti kampak disekitar makam Ki Penggung.
            Jurusan batas ini dari mulai barat Blok Mantri menuju Kedemangan dan Ki Penggung, dapat dipastikan bahwa blok ini bekas tempat para Narapraja, yakni Mantri, Demang (Wedana) dan Tumenggung.
 
Nama – nama Kepala Desa Warukawung yang diketahui :
1.      Madam                                        : 1865 – 1901
2.      Rodja                                           : 1901 – 1901 (9 bulan)
3.      Basi Sutaradjaja                           : 1901 – 1906
4.      Budi Wangsa Didjaya                   : 1906 – 1913
5.      Arpat Wangsa Didjaya                 : 1913 – 1918
6.      Sutara                                          : 1918 – 1919
7.      Raji                                              : 1919 – 1931
8.      Suwela Wiriadireja                       : 1931 – 1939
9.      Sentana Atmaja                            : 1939 – 1950
10.  Arpat Wansapraja                        : 1950 – 1956
11.  Djunaedi                                      : 1956 – 1967
12.  Suparma                                      : 1967 – (satu minggu diberhentikan)
13.  Abu Bakar Sidik                          : 1967 – 1989
14.  Sanipan                                        : 1989 – 2001
15.  Dirmawan                                     : 2001 – 2011
16. Warta                                           : 2012 - sampai sekarang
 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker