" Berkala Arkeologi Sangkhakala : Vol. 20 No. 2, November 2017 Ajis, Ambo Asse and Hermawan, Iwan and Wiradnyana, Ketut and Susilowati, Nenggih and Oetomo, Repelita Wahyu (2017) Berkala Arkeologi Sangkhakala : Vol. 20 No. 2, November 2017. Sangkhakala, 20 (2). Badan Penelitian dan Pengembangan, Medan. ISBN ISSN 1410 – 3974 [img] Text Sangkhakala Nov_2017_c.pdf Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial. Download (1MB) Abstract Di dalam jurnal ini terdapat beberapa artikel diantaranya: (1) Ramni–Ilamuridesam: Kerajaan Aceh Pra–Samudera Pasai (2) Persebaran Bangunan Pertahanan Jepang Di Telukbetung, Kota Bandar Lampung (3) Identifikasi Budaya Prasejarah Dari Artefak Di Situs Bukit Kerang Kawal Darat I (4) Tradisi Mengunyah Sirih Dan Memotong Kerbau Pada Upacara Adat/ Horja Di Angkola–Mandailing (5) Motif Hias Nisan: Latar Belakang Pembuatan Hiasan Lampu Gantung Pada Nisan Di Barus ITEM TYPE: Book SUBJECTS: Pendidikan > Kebudaya...
Latar Belakang Pada jaman kerajaan di Bali pada umumnya upacara keagamaan merupakan suatu upacara yang disakralkan. Salah satunya seperti upacara Ngaben yang telah tercatat dalam meorandum dunia. Pada prosesi karya Pitra Yadnya pada tingkatan madyaning utama, biasanya beberapa acara atau proses sakralisasi merupakan rangkaian yadnya seperti; mareresik, muspa, dan tarpanasaji. Sehari sebelum layon (mayat) di kremasi di rudrabhumi (setra/makam), biasanya terdapat prosesi karya muspa/saji dan munggah damar kurung. Baris kurkwak, baris basang gede, dan baris dapdap merupakan tarian sakral/tari wali guna untuk mengerenteban proses yadnya tersebut yang tidak terlepas dari hakekat ketatwaning yadnya (gegitan (nanyian), tetangguran, sasolahan/tari dan puja pangastawa), karena hal tersebut, terketuklah hati para seniman pada jamannya tersebut antara lain: AA Made Pasek, Pekak Krawa, Pekak Chandra, Pan Sweca Kader, Pan Subala, Pan Sweta, Pan Rasmin (kesemuanya telah almarhum). Tentunya atas p...
Ada yang unik saat piodalan atau pujawali di pura alas kedaton, desa kukuh, kecamatan marga, kabupaten tabanan. Para perempuan khususnya ibu PKK Bali serentak berkebaya putih berbaris panjang dengan susunan buah dan sesajen di atas kepalanya. ibu-ibu PKK dari 12 banjar desa kukuh ini melakukan tradisi mapeed. Tradisi Mapeed ialah perwujudan rasa syukur umat Hindu Bali kepada Yang Maha Kuasa. Pujawali di pura alas kedaton datang setiap 6 (enam) bulan sekali, tepatnya setiap 10 hari sesudah hari raya kuningan, tepat pada upacara piodalan atau pujawali pura alas kedaton, para perempuan akan melakukan mapeed pada setiap banjar. Dengan mengenakan pakaian adat serba putih, dengan rambut disanggul akan menambah kesan etnik pada upacara ini. Gebogakan pun sudah tersusun rapi dengan bermacam-macam buah dan jajanan yang dihiasi dengan janur dan bunga sebagai sesajen yang siap di “suun” menuju pura alas kedaton. selain mapeed, terdapat tradisi ngerebeg yang paling dinanti-nanti oleh masyar...
Tari Rejang merupakan tarian kuno yang bersifat sakral yang khusus ditarikan pada waktu piodalan di pura-pura. Tari Rejang Ayunan adalah Tari Rejang yang bermaian ayuanan. Terbukti setelah para penari berkeliling sebanayak tiga kali putaran di “Jaba Tengah” mereka langsung menuju pohon cempaka yang ada di “Jabaan” untuk bermain ayunan pada salah satu ujung tali yang sudah disediakan sebelumnya dengan cara bergelantungan. Fungsi Tari Rejang Ayunan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Upacara Dewa Yadnya di Pura Puseh Bale Agung, karena tanpa tarian ini upacara dianggap kurang sempurna. Dilihat dari segi fungsinya tari-tarian Bali dapat diklasifikasikan sebagai berikut :Seni Tari Wali (sacral, religius dance) ialah : Seni yang dilakukan di Pura-pura dan ditempat-tempat yang ada hubungannya dengan upakara dan upacara agama yang pada umumnya tidak menggunakan lakon. Seni Tari Bebali (ceremonial dance), ialah segala seni tari yang berfungsi sebagai pengiring upacara atau upakara...
Tradisi Tektekan di desa kerambitan tabanan diselenggarakan pada sasih kesanga yang dimana latar Belakang dari “Sasih Kesanga” merupakan sasih transisi, sasih yang dipandang oleh masyarakat bali merupakan sasih yang wayah dan kurang baik untuk padewasaan. Pada periode sasih kapitu, kawulu, dan kasanga biasanya masyarakat kebanyakan sudah mulai mengadakan parerebuan (penetralisir) dimasing-masing kahyangan desa tepatnya pada tilemnya. Pada sasih kesanga ini pula ditandai dengan mulainya binatang seperti anjing melakukan masa birahinya, setiap malam mulai berkumpul pada persimpangan jalan dengan suara yang melolong-lolong, berkelahi merebut betinanya. ltulah salah satu ciri bahwa sasih kesanga dikatakan sasih wayah, sehingga pada tilem kesanga (pangerupukan), pada masing-masing desa adat mengadakan upacara caru yang disebut Tawur Kasanga. Sudah menjadi tradisi yang tumbuh dan berkelanjutan untuk menetralisir kekuatan-kekuatan negatif (bhuta kala), dengan cara ” N e k t e k”, yang biasa...
Usaba Dangsil atau Usaba Gede merupakan upacara adat yang dilakukan di Desa Adat Bungaya, Kabupaten Karangasem, Bali. Usaba Dangsil dikenal dengan penggunaan “dangsil” sebagai sarana utamanya. Dangsil adalah bebanten yang dibentuk sedemikian rupa dari rangkaian dedaunan, jajanan khas daerah serta sesajen yang dibuat bertingkat seperti gunung. Upacara ini dilatarbelakangi oleh wujud bakti kasih kehadapan Ida Sanghyang Widhi (Tuhan) agar diberikan ketentraman dan kemakmuran umatnya di dunia dengan hasil bumi yang melimpah ruah. Hal yang unik dan ditemukan pada Usaba Dangsil adalah upacara ini dilakukan oleh para alon Deha (gadis) ataupun Teruna (pemuda) dengan lama pelaksanaan yang tidak tentu. Usaba Dangsil merupakan upacara yang melibatkan upakara berupa dangsil, yaitu bebanten dengan susunan berupa dedaunan, jajanan tradisional, hingga sesajen yang disusun mirip seperti meru. Dangsil terdiri atas beberapa jenis, yaitu: Dangsil Dalem, Dangsil tertinggi sebanyak 11 tingkat dengan...
Usaba Sumbu adalah ritual adat agama di Kabupaten Karangasem yang masih dapat dijumpai di beberapa Desa Pakraman, seperti di Desa Timbrah, Desa Pertima, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem. Bali. Ritual Usaba Sumbu memiliki keunikan berupa adanya tradisi Guling Siyu yang menjadi sebuah tradisi turun temurun yang diwariskan dari waktu ke waktu. saba Sumbu telah ada sejak abad ke-16. Dalam Babad Dalem, Desa Adat Bungaya tergolong sebagai desa tua yang merupakan bagian pemerintahan Kerajaan Dalem Waturenggong yang dipimpin Raja Gelgel. Dalam perkembangannya, I Gusti Alit Ngurah Bungaya, keturunan Pangeran Asak mengukuhkan Raja Gelgel Dalem Dimade sebagai Pemacek Desa Bungaya abad ke-18. Upacara Usaba Sumbu merupakan simbolisasi rasa syukur atas kemakmuran dan ketangguhan Kerajaan Dalem Waturenggong, yang ditandai dengan Sumbu berbentuk seperti penjor dengan aneka hasil pertanian, jaja, daging babi, dan daun kelapa serta berbagai macam bunga Sejarah: Secara etimologis, Usaba Su...
Mesabat-Sabatan Biu merupakan tradisi yang ada di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad. Tradisi ini menggunakan sarana pisang, dimana para peserta akan saling lempar menggunakan buah pisang. Digelar setiap setahun sekali yakni saat Ngusaba Ketiga. Makna dari tradisi ini yakni menjaga kebersamaan antara pemuda desa dan mengajarkan pemuda untuk dapat mengedalikan emosi sehingga saat terjadi sabat-sabatan biu tidak sampai terjadi permusuhan. Sumber: https://bali.tribunnews.com/2019/01/21/tribun-wiki-15-tradisi-unik-di-karangasem-ada-yang-berebut-daging-ayam-hingga-mengadu-telur?page=4
Sumber: munas.kemdikbud.go.id Halaman Utama This page contains changes which are not marked for translation. Other languages: العربية • English • Bahasa Indonesia • 日本語 • Basa Jawa • Basa Sunda • 中文(中国大陆) • 中文(台灣) PUSTAKA in MUSEUM NASIONAL Of INDONESIA + Wikimedia maps beta | Map data © OpenStreetMap contributors Ensiklopedia ini adalah produk dari kegiatan mandiri yang ada di Seksi Perpustakaan, Bidang Registrasi dan Dokumentasi, Museum Nasional di Indonesia. Platform ini digunakan dan dikembangbangkan oleh Alfa Noranda dibantu oleh tenaga siswa/i Praktek Kerja Lapangan serta mahasiswa/i Magang yang ditempatkan di Pustaka Museum Nasional, menggunakan source code Mediawiki yang bersifat Open Source. Ensiklopedia ini bertujuan dalam menyampaikan informasi yang ada di perpustakaan dari bahan pustaka mengenai Benda Budaya sebagaimana diatur oleh Undang Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan[1] serta benda benda koleksi Cagar Budaya atau did...