Ngapati berasal dari bahasa jawa, yaitu 'papat' yang artinya empat. Tradisi ini dilakukan oleh sebagian besar rakyat jawa yang percaya dapat memberikan banyak manfaat. Pada usia kandungan bayi empat bulan, masyarakat jawa yang percaya akan tradisi ini akan mengadakan acara selamatan ngapati yang berisi doa-doa permohonan kepada Allah swt. untuk masa depan anak mereka kelak. Doa-doa dan permohonan yang dipanjatkan diharapkan sesuai dengan cita-cita kedua orangtuanya. Salah satunya adalah pengharapan akan anak yang lahir dan tumbuh menjadi anak yang sholeh/sholehah. Tradisi ngapati tidak hanya memperhatikan adat istiadat masyarakat setempat, namun juga terdapat unsur agama di dalamnya. Hadits yang terkait dengan tradisi ini berbunyi, "Malaikat masuk untuk meniupkan ruh pada janin setelah berumur 40 hari" Sufyan berkata; "Lima puluh atau empat hari, lalu Malaikat berkata; 'Wahai Rab, apakah dia termasuk yang bahagia ataukah celaka, apakah laki-laki ataukah perempu...
Wedang tahu adalah sebuah minuman yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Minuman ini terbuat dari susu kedelai yang diolah menjadi tahu dengan tekstur yang sangat lembut dan dimasukkan ke dalam kuahnya yang terbuat dari campuran air, jahe, gula merah, dan pandan. Wedang tahu memiliki kemiripan dengan wedang jahe dan wedang ronde dalam kuahnya karena terbuat dari jahe, maka tenggorokan akan terasa hangat jika meminumnya. Minuman ini sangat cocok untuk dikonsumsi pada malam hari atau saat cuaca sedang dingin. Wedang tahu ini juga bisa menyembuhkan radang tenggorokan. Harga wedang tahu pun tidak terlalu mahal, kira-kira seharga 5 sampai 10 ribu per porsinya. Penjualnya pun mudah ditemukan, ada yang berjualan di pinggir jalan dan ada juga yang memakai gerobak. #OSKMITB2018
Namanya unik, Dawet Jembut, demikian biasa orang-orang menyebut.Dawet asli dari Purworejo, Jawa Tengah ini sudah melegenda dan rasanya yang luar biasa segar pun sudah kondang seantero Jawa. Bahkan, kalangan artis pun banyak yang suka lho. Adalah Mbah Dangsri yang pertama kali membuka warung dawet hitam ini di timur Jembatan Butuh, Kecamatan Butuh, Purworejo sekitar tahun 1960-an. Sebab berjualan di dekat Jembatan Butuh inilah kemudian sebutan kondang Dawet Jembut bermula. Kata Jembut adalah singkatan dari Jembatan Butuh. Dawet hitam ini racikannya cukup sederhana, dan masih dikerjakan secara manual. Proses pembuatan dawet atau cendol hitam khas Purworejo ini diolah dengan tangan dan tidak menggunakan bahan pewarna buatan. Uniknya, penyajian dawet ireng ini menggunakan perasan santan dari parutan kelapa langsung yang dapat dilihat oleh pembeli. Jumlah cendol ireng (hitam) juga jauh lebih banyak dibanding kuahnya (santan dan air gula aren), kemudian di...
Acara Slametan Acara selametan adalah upacara sebagai tanda rasa syukur manusia kepada Allah atas segala kebaikan yang Allah berikan kepada manusia. Acara ini sering dilaksanakan di tanah jawa khususnya bagi mereka yang diberi kabaikan ataupun rezeki yang melimpah sehingga mereka ingin mengungkapkan rasa syukur mereka dengan mengadakan acara slametan ini. Acara ini maliputi kajian tentang agama yang dipaparkan oleh seorang kyai atau orang yang dianggap ahli dalam bidang agama kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan sederhana. Acara slametan kebanyakan diadakan setelah seseorang naik pangkat jabatan, dikaruniai seorang anak, lulus sekolah dengan nilai baik, dll. Penyelenggara acara slametan ini, sekitar dua atau 3 hari sebelum pelaksanaan mereka sudah mulai menyebarkan undangan kepada siapapapun yang mereka undang. Biasanya acara slametan ini dihadiri oleh pihak keluarga penyelenggara, tetangga, dan orang-orang yang tinggal disekitar pihak penyelenggara acara...
Kisah tentang Ki Ageng Selo merupakan kisah yang cukup melegenda di kalangan masyarakat jawa tengah. Ki Ageng Selo atau Syekh Abdurrahman diyakini merupakan keturunan langsung dari raja terakhir dari kerjaan Mataram yaitu Raja Brawijaya v dan memiki nama asli yaitu Bogus Sogom. Dikalangan masyarakat jawa tengah dikisahkan bahwasanya Ki Ageng Selo pernah menangkap petir ketika beliau sedang mencangkul di sawah. Dikisahkan suatu hari langit terlihat mendung dan banyak halilintar menyambar. semua warga yang sedang mencangkul di sawah langsung lari menyelamatkan diri, tetapi Ki Ageng Selo tetap mencangkul di sawah tanpa memedulikan halilintar yang menyambar silih berganti. Tiba-tiba petir muncul dari langit dan langsung menyambar Ki Agen Selo, namun hebatnya Ki ageng selo mampu menangkap petir tersebut, dan dikisahkan bahwasannya petir tersebut berubah wujud menjadi seorang kakek tua. Setelah menangkapnya ki ageng selo memerintahkan petir agar tidak mengganggu penduduk sekitar sini...
Rijstaffel merupakan bentuk percampuran budaya Eropa dengan budaya nusantara berupa kuliner nusantara yang disajikan dengan tata cara jamuan makan Eropa. Didahului dengan makanan pembuka, dilanjutkan dengan menu utama, lalu ditutup dengan pencuci mulut. Rijstaffel sangat populer diantara kalangan Belanda pada era kolonial abad 19 dan abad 20 awal di pulau Jawa. Penyajiannya biasa digelar dengan mewah pada acara-acara resmi atau restoran elite di perkotaan. Versi resmi rijstaffel adalah iring-iringan pelayan pribumi berpakaian kebaya, atau setelan sarung dan belangkon, masuk ke ruang makan membawa berbagai macam hidangan nusantara secara marathon. Porsi yang dihidangkan cenderung sedikit supaya para tamu jamuan dapat menikmati segala macam kuliner eksotis nusantara dalam sekali pertemuan. Iring-iringan pelayan tersebut akan terus berlanjut membawa hidangan hingga makanan penutup. Pada era kemerdekaan, rijstaffel menghilang dari Indonesia sebab dianggap mengeksploitasi bangsa...
Musik kenthongan di Banyumas telah lahir dan berkembang menjadi musik yang begitu atraktif dan bergairah. Setiap grup dapat menampilkan kreativitasnya masing-masing secara bebas, tanpa aturan-aturan baku yang mengekang kreativitas. Kebebasan kreativitas inilah yang menjadi salah satu daya tarik dari musik ini. Setiap grup bisa menyederhanakan atau merumitkan teknik permainan musik sesuai dengan kemampuan dan keinginan mereka. Musik kenthongan di Banyumas sebenarnya sudah dapat dijumpai pada awal dekade tahun 1970-an. Di wilayah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas (kurang lebih 10 km di sebelah barat Kota Purwokerto) dijumpai ada sekelompok masyarakat yang mengembangkan kenthongan menjadi semacam perangkat musik. Caranya adalah membuat alat kenthongan dalam jumlah banyak kemudian ditabuh bersama-sama. Pada waktu itu ada yang mencoba memasukkan alat musik mirip dengan angklung yang cara membunyikannya adalah dengan memukul bilah-bilah nada di dalamnya. Selanjutnya jadilah ara...
Kegiatan tahlilan setelah seorang anggota keluarga meninggal dunia bukanlah kegiatan yang asing di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Banyak keluarga Islam yang merupakan keturunan Jawa melakukan prosesi tersebut. Namun ternyata hal ini tidak sepenuhnya merupakan ajaran Islam. Banyak ulama-ulama yang menentang digelarnya prosesi ini dan menganggap acara ini bi’dah atau sesat. Sebuah pertanyaan muncul, mengapa orang-orang Islam Jawa mewarisi adat ini? Akarnya ternyata ada di ratusan tahun yang lampau, ketika Indonesia masih terdiri dari kerajaan-kerajaan dan masyarakat yang memeluk Islam mungkin masih bisa dihitung jari. Salah satu Wali Sanga, Sunan Kalijaga, yang berniat untuk mengislamkan Jawa—yang pada saat itu hampir seluruh penduduknya masih memeluk agama Hindu, Buddha, atau bahkan animisme dan dinamisme—menggagas prosesi berikut demi diterimanya agama Islam dengan besar hati oleh penduduk. Sunan Kalijaga memikirkan sebuah cara agar Islam bis...
Berasal dari kata dasar wedang yang dalam bahasa jawa artinya air minum, "Wedangan" adalah sebuah aktifitas berjualan pada malam hari pada suatu tempat atau lokasi. Biasanya makanan yang dijual adalah makanan sederhana seperti wedang jahe, teh, ronde, serta makanan-makanan ringan. Yang umum ditemui di tempat-tempat wedangan adalah nasi kucing yang merupakan semacam nasi bungkus yang disediakan dalam porsi kecil. Wedangan adalah sebuah ikon khas di Solo. Wedangan juga merupakan sebuah suasana baru bagi mereka yang ingin sekedar berkumpul santai bersama teman-teman atau keluarga sambil menikmati suasana malam hari. #OSKM18 Referensi : https://tentangsolo.wordpress.com/kuliner/wedangan/