Sate Ambal adalah makanan khas dari daging ayam yang berasal dari daerah Ambal, sebuah kecamatan di pesisir selatan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah BAHAN : 500 gr daging ayam 1 bungkus tusukan sate 5 sendok teh minyak goreng 2 sendok makan kecap manis BUMBU : 4 butir bawang merah dan digoreng 2 siung bawang putih 1/2 sendok makan ketumbar butiran, disangrai 1/8 sendok teh jintan, disangrai 2 butir kemiri, disangrai 1/2 cm jahe 1 sendok teh garam 1 sendok makan gula merah sisir SAUS TEMPE: 250 gr tempe kukus, haluskan 6 butir bawang merah 3 siung bawang putih 5 buah cabai merah 1 sdt gula merah ½ sdt garam 250 ml air Cara membuat: Saus Tempa: Haluskan tempe, bawang merah, bawang putih, cabai merah, gula, dan garam. Tuang ke dalam wajan, lalu tambahkan air. Rebus di atas api sedang, sambil diaduk sam...
Tradisi Mageng Pasa Setiap daerah mempunyai caranya masing-masing untuk mengirimkan doa dan penghormatan bagi orang yang sudah meninggal. Seperti yang dilakukan oleh sebagian masyarakat suku Jawa, Tradisi Mageng Pasa dilakukan setiap tanggal 29 sampai 30 bulan rawah (bulan arwah) dengan cara memberikan makanan kepada orang yang paling tua di daerah tempat tinggalnya dan berdoa. Orang-orang yang melakukan tradisi ini hanya orang-orang yang menganut paham kejawen, mereka percaya bahwa dengan memberi makan pada orang yang lebih tua sama saja dengan menghormati dan menghargainya. #OSKMITB2018
Indonesia adalah Negara yang kaya akan budayanya. Salah satu kebudayaan yang ada di Indonesia adalah makanan khas dari berbagai daerah. Salah satu contohnya adalah Getuk Kethek dari Salatiga. Getuk Kethek adalah makanan khas Salatiga yang dibuat dari campuran parutan ketela pohon pilihan, parutan kelapa, dan gula jawa. Getuk ini terasa istimewa karena rasanya gurih dan tidak terlalu manis, teksturnya pun lembut sehingga mudah untuk dimakan. Konon katanya pemilik Getuk Kethek memiliki kethek (monyet) di halaman rumahnya, maka dengan itu getuk ini dinamakan Getuk Kethek. Getuk kethek dapat dibeli di jalan Argo Tunggal dekat perempatan ABC Salatiga. Getuk ini dibuat tanpa pengawet sehingga getuk ini hanya bertahan 5 jam apabila tidak dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Jadi, getuk ini selain enak juga sehat. #OSKMITB2018
Saat ini makanan tradisional mulai diminati lagi di tengah persaingan dengan makanan yang diadaptasi dari luar negeri. Selain harganya yang lebih murah, makanan tradisional juga memiliki sejarah tersendiri yang sangat menarik. Salah satu makanan tradisional khas daerah Banyumas dan sekitarnya, termasuk Purbalingga dan Purwokerto, adalah cimplung . Nama cimplung diambil dari bunyi “- plung!” saat bahan-bahan utama berupa singkong ( budin/boled ), ubi jalar ( munthul ), ganyong, atau kelapa muda ( klapa nom ) di- cemplung -kan / dimasukkan ke dalam kuahnya. Kuah cimplung secara tradisional dibuat dari air sari bunga kelapa (nira atau badheg ) yang dipanaskan. Namun seiring berkembangnya industri kuliner, banyak yang mengganti kuahnya dengan air gula aren maupun air gula jawa yang dipanaskan juga. Makanan ini memiliki rasa yang gurih dan sedikit manis yang diperoleh dari air sari bunga kelapa atau nira ( badheg ). Biasanya cimplung dikonsumsi bersama t...
Disetiap daerah di Indonesia terdapat tradisi sejarah. Kebanyakan sejarah lisan, namun ada pula dalam bentuk tulisan. Tradisi itulah yang bisa digunakan sebagai sumber sejarah lokal. Kali ini saya akan memaparkan salah satu tradisi yang berada di daerah saya yaitu upacara adat ruwahan yang berdasarkan sumber wawancara saya kepada orang tua saya melalui media sosial. Berikut paparan saya mengenai upacara adat ruwahan. Ruwahan adalah tradisi yang dilakukan masyarakat jawa khususnya jawa tengah. Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali pada bulan ruwah dalam kalender Jawa atau bulan Syaban pada kalender Hijriah. Tradisi tradisi yang dilaksanakan pada bulan itu ialah nyadran. Nyadran dilakukan dengan membawa kenduri ke makam para leluhur. Kenduri yang berupa makanan tadi dibawa ke makam lalu mereka berdoa bersama sama. Makanan tadi berisi nasi tumpeng, ingkung ayam, dan lauk lainnya, setelah berdoa mereka membagi bagikan makanan yang mereka bawa lalu dimakan bersama di tempat itu. La...
Pada era modern seperti era globalisasi seperti sekarang ini perkembangan semakin maju dari segi teknologi, pendidikan, informasi, dan komunikasi. Perkembangan ini membawa sikap dan karakteristik manusia yang lebih maju dan lebih modern sesuai dengan perkembangan jaman yang sudah ada. Akan tetapi terkadang manusia jaman sekarang sering lupa bahkan tidak tahu dengan kebudayaan bangsa nya sendiri seperti kebudayaan daerah kebudayaan disini meliputi sejarah baik itu merupakan sejarah tempat tibggaknya sendiri. Sejarah merupakan sebuah kisah yang terjadi pada masa lampau akan tetapi diceritakan secara turun temurun melalui lisan maupun tulisan. Saya berasal dari Dusun Jagan, Kelurahan Lalung, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar. Ingin memberikan paparan tentang asal usul dusun Jagan yang berdasarkan sumber data dari wawancara Saya dengan Kakek dan Nenek melalui media telepon. Asal-usul dusun Jagan dimulai dengan masa penjajahan b...
Dieng Culture Festival adalah suatu ritual tahuhan yang diselenggarakan di Dieng, Banjarnegara. Dieng Culture Festival (DCF) yang terakahir diselenggarakan pada tanggal 3-5 Agustus 2018, DCF ini merupakan DCF yang ke -9. Acara ini dihadiri oleh bupati dan wakil bupati Banjarnegara yaitu bapak Budhi Sarwono dan Syamsudin. Acara DCF ini biasanya diselelenggarakan pada saat musim kemarau dengan alasan agar para wisatawan/pengunjung dapat merasakan dinginya suhu udara di Dieng serta bisa merasakan kenyamanan suasananya. Acara DCF juga diikuti oleh bapak Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah. Hal ini diikuti dengan antusias pengunjung yang jumlahnya melebihi jumlah peserta pada tahun sebelumnya. Sabtu, 4 Juli 2018 Kakang Mbekayu Duta Wisata Banjarnegara berkesempatan ambil bagian dalam Kirab Budaya anak rambut gembel yang dimulai dari rumah pemangku adat Dieng yaitu Mbah Sumanto, hingga ke lapangan Pandawa, kompleks Candi Arjuna lokasi panggung Dieng Culture Festival 2018. Dihari ke...
Apakah kalian pernah dengar makanan yang bernama "Adep Adep"? Masih asing? Maka kalian mungkin akan tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. Adep adep merupakan makanan khas dari daerah Bumiayu, Kab. Brebes. Dalam bahasa Jawa, adep adep berarti saling berhadapan. Di Bumiayu, adep adep adalah hidangan yang terbilang unik karena hanya muncul pada saat ada selametan/hajatan seperti acara lamaran, pernikahan, atau syukuran pasca panen. Adep adep dapat dibilang sedikit mirip dengan nasi tumpeng. Hanya saja, jika nasi tumpeng berbentuk kerucut, adep adep berbentuk datar. Adep adep dihidangkan diatas tampah. Adep adep terbuat dari nasi yang diatasnya ditutupi dengan berbagai jenis sayuran seperti kacang panjang, petai, jengkol, selada, terong, daun singkong, timun dan adapula ikan teri, tempe, telur, serta kelapa parut. Cara menata bahan bahannya diatas tampah adalah dengan menata nasi terlebih dahulu kemudian diatasnya ditutupi oleh macam-macam sayuran yang diletakkan memutar berse...
Sadranan merupakan salah satu tradisi yang sudah lama turun temurun yang bisa dijumpai di Boyolali. Desa Sumur merupakan salah satu desa di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali yang setiap tahunnya rutin mengadakan sadranan. Sadranan yaitu ziarah kubur dengan membawa berbagai macam makanan ke tempat makam. Selain itu, juga membawa tikar yang nantinya digunakan sebagai alas duduk di areal depan makam yang disediakan tempat semi permanen dan beratap. Aacara ini tepatnya dilakukan setiap bulan sya'ban atau ruwah (bulan Jawa) tanggal 15. Acara Sadranan ini, biasa dimulai bakda dhuhur sampai sebelum ashar. Seluruh warga desa, mulai dari anak kecil sampai orang tua, tak pernah tertinggal untuk melakukan tradisi Sadranan ini. Bahkan warga desa yang pergi merantau pun masih berusaha menyempatkan untuk dapat menghadiri tradisi Sadranan ini. Acara dalam Sadranan ini yaitu membersihkan areal lingkungan makam, membaca surat Yasin dan tahlil, serta makan makanan yang sebelumnya dibawa secara b...