Usai resepsi perkawinan adat d bumi serambi Mekkah, Aceh, masih ada serangkaian upacara yang dijalani oleh pengantin, yakni Tueng Dara Baro. Upacara Tueng Dara Baro merupakan upacara untuk mengundang dara baro beserta rombongannya ke rumah mertua. Upacara ini dilaksanakan tujuh hari setelah upacara wo linto. Pada upacara ini, dara baro diarak menuju rumah pengantin laki-laki dengan didampingi dua pengunganjo. Rombongan pengantin perempuan ini juga membawa makanan dan kue-kue. Cara penyambutan upacara ini hampir serupa dengan upacara wo linto, namun tanpa prosesi berbalas pantun dan cuci kaki. Sampai di pintu masuk, rombongan akan disambut keluarga laki-laki. Orangtua kedua belah pihak kemudian melakukan tukar-menukar sirih. Di pintu masuk rumah, rombongan ditaburi beras (breuh padi), bunga rampai, dan daun-daun sebagai tepung tawar (on seunijuk). Setelah dara baro duduk di tempat yang telah disediakan, ibu linto baro melakukan tepung tawar yang dilanjutkan dara baro bersujud...
Pendahuluan Manusia berakal merupakan syarat mutlak bagi pendukung suatu kebudayaan, karena akal penyebab adanya kebudayaan, akal melahirkan pikir dan rasa. Keseluruhan pikir dan rasa yang ada dalam pemikiran manusia, merupakan hal yang sangat bernilai dalam hidupnya, sebagai pedoman tertinggi atas perilakunya. Dengan demikian pikir dan rasa atau konsepsi-konsepsi yang ada dalam alam pikiran masyarakat ( sistem nilai budaya), tidak langsung terlihat, melainkan tercermin dan terwujud dalam pola tingkah laku, pergaulan sosial serta pemikiran masyarakat yang bersangkutan. Nilai-nilai budaya yang menjadi ciri-ciri kehidupan suatu masyarakat biasanya terkandung di dalam sumber-sumber tertulis, lisan dan gerak. Sumber-sumber tertulis dapat berupa naskah-naskah kuno. Sumber lisan berupa cerita-cerita rakyat, sastra lisan, Sedangkan sumber gerak terwujud dalam kegiatan seperti permainan rakyat, upacara-upacara. Upacara tradisional adalah merupakan bahagian yang tak te...
Sumber : (https://situsbudaya.id/wp-content/uploads/) Lokasi Benteng Kuta Lubok Aceh Terletak di Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar dan kamu bisa mengikuti sisa-sisa peninggalan benteng Kuta Lubok. Sejarah Benteng Kuta Lubok Aceh Pada zaman perang dahulu kala, sebuah benteng memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan banyak masyarakat. Begitu juga ketika kamu berwisata di Aceh, tepatnya di Kuta Lubok, sebuah bukit dengan ketinggian mencapai 40 meter di atas permukaan laut, yang menjadi aset Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Sebuah benteng yang berdiri pada Abad ke-12 Masehi yang bernama Kuta Lobok menyimpan banyak cerita. Benteng Kuta Lubok merupakan bagian dari kerajaan Lamuri yang merupakan kerajaan pertama Islam di Nusantara serta menjadi awal lahirnya kerajaan Islam Darussalam di Aceh. Hingga saat ini benteng Kuta Lubok masih menjadi bahan penelitian bagi beberapa arkeolog untuk mengetahui asal muasalnya. Namun,...
Secara umum upacara-upacara adat yang diselenggrakan oleh petani selama mengerjakan sawah dilakukan pada tahap-tahap tertentu. Misalnya pada saat menjelang turun ke sawah untuk pertama kalinya. Pada tahap ini masyarakat biasanya menyebutnya Kenduri ule Lhueng atau babah lhueng . Kenduri ini dilaksanakan pada saat air dimasukkan ke dalam alur yang akan mengairi sawah. Pada saat kenduri ule lhueng dilakukan pemotongan kerbau. Tempat kenduri biasanya dekat mulut alur. Sesudah padi ditanam di daerah adat istiadat Kluet, dilangsungkan keunduri kanji pada saat pai berumur 1-2 bulan, yaitu dengan membawa bubur ke sawah. Mengantar bubur ke sawah dengan upacara tertentu yang dipimpin oleh kejurun belang . Menjelang bunting atau dara atau padi berisi, diadakan kenduri sawah . Sedangkan untuk di daerah lainnya berbeda-beda dalam penyebutannya. Misalnya di Aceh besar biasa disebut keunduri geuba geuco di tempat kuburan yang dianggap kramat, di daerah Aceh P...
DALAM sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda. Ada kisah-kisah mistik. Salah satunya, ajimat rante bui yang dipakai oleh ulama-ulama pengerak perlawanan. Salah satu rante bui itu adalah milik Tgk Chik Di Tiro. Ajimat itu ditemukan Belanda ditubuh Tgk Di Cot Plieng. Sampai kini masih tersimpan di Kolonial Museum di Amsterdam, Belanda dalam etnografia Aceh. Setelah Snouckh Horgronje, mungkin Schimist lah orang Belanda yang sangat paham soal Aceh. Dengan pengetahuannya bahasa dan adat istiadat Aceh, ia menjadi perwira Belanda yang bisa bergaul secara bebas dengan masyarakat Aceh. Apalagi ditopang dengan pembawaannya yang tenang dan sikapnya yang terkendali. Namun sebagai tentara Belanda, ia tetap tidak sepenuhnya diterima masyarakat Aceh. Apalagi dalam kecamuk perang. Dalam tahun 1906, Schmist bertugas sebagai seorang letnan di Jeuram dan Seunagan yang kacau balau. Di dua daerah itu, saban hari peristiwa jebakan dan sergapan dengan kele...
Islam yang diajarkan dan diamalkan di Aceh telah menentukan bentuk, arah dan perkembangan ragam hias atau ornamentasi utama di daerah ini. Bentuk ragam hias utama di daerah berjuluk Serambi Mekkah ini merupakan visualisasi, aktualisasi atau representasi tetumbuhan, benda, gerak alam dan bidang geometri yang diterapkan dengan teknik tertentu pada berbagai media mulai dari batu hingga bahan tekstil di samping kaligrafi berisi kutipan al-Qur'an atau penanda tertulis pada objek tertentu. Pilihan mengadaptasi rupa tetumbuhan, benda dan gerak alam untuk ornamentasi itu berkaitan dengan pantangan melakukan rekabentuk rupa manusia dan binatang. Pantangan ini ditanamkan pada setiap diri dan keluarga Aceh dengan mengukuhkan konstruksi hadits bahwa ''malaikat tidak akan memasuki rumah-rumah yang di dalamnya terdapat berhala dan anjing''. Inilah sebab mengapa penggambaran wujud manusia dan binatang tidak berkembang seperti ornamen yang mengadaptasi tetumbuhan....
Rumoh Aceh ini merupakan rumah adat tradisional Aceh yang dibuat besar karena mempunyai fungsi sosial sebagai tempat berkomunikasi, bermufakat tempat mengadakan kenduri, peresmian pernikahan, khitanan dan sebagainya (Saleh., 1970). Rumah ini masih ada beberapa di sekitar masyarakat sekarang. Tetapi bentuknya lebih kecil jika dibandingkan dengan rumah yang di buat pada saat kejayaan Aceh dulu. Selain itu seni ukir yang terdapat disini sudah mulai kurang diperhatikan. Konstruksi dan Simbolisme Rumoh Aceh Dalam membangun Rumoh Aceh ini diperlukan jenis kayu tertentu yang ditemukan di dalam hutan belantara. Kayu-kayu tertentu ini harus yang umur kayunya diperkirakan telah cukup tua, lurus serta dapat berdiri dengan tegak. Penebangan kayu ini dilakukan oleh penebang kayu yang mempunyai pengetahuan tentang perjalanan bulan. Karena menebang kayu sudah ada waktu yang ditentukan yaitu tidak boleh saat waktu air pasang. Jika saat terjadi air pasang maka kayu-kayu yang sudah d...
Gulee Sie Kameng adalah salah satu makanan khas Aceh. Kuliner ini diambil dari kata Sie Kameng yang artinya daging kambing atau di Nusantara lebih terkenal dengan sebutan kari kambing atau gulai kambing. Memiliki rasa sedap dan kental karinya serta dagingnya yang empuk dan di pandu dengan bumbu rempah yang begitu kaya dan kuat menjadikan Sie Kameng ini begitu digemari. Anda penasaran ingin mencobanya? Tapi tidak sempat ke Aceh. Dibawah ini, admin berikan resep nya. Bahan utama: 1 kg daging kambing bertulang, potong-potong 1/2 kg jeroan kambing, bersihkan, potong-potong 5 sdm minyak untuk menumis 4 butir bawang merah, iris tipis 2 siung bawang putih, iris tipis 2 batang serai, memarkan 15 helai daun temurui / salam koja 1 1/2 liter santan dari 1 1/2 butir kelapa Bumbu yang dihaluskan: 15 buah (200 g) cabai merah kering ataui 20 buah cabai merah segar 7 butir bawang merah...
Aceh memiliki banyak ciri khas yang berbeda-beda terutama di bagian makanan. Salah satu makanan khas tradisional aceh adalah keukarah. Keukarah atau karah merupakan penganan terbuat dari campuran tempung dan santan berbentuk lembing berukuran satu telapak tangan orang dewasa. Kue ini adalah salah satu jajanan khas Aceh yang mirip dengan serabut atau sarang burung. Rasanya sangat renyah, manis, garing, dan rapuh. Karena bentuknya yang unik, kue ini sering dijadikan oleh-oleh yang bisa dibawa kemana saja. Selain itu, kue karah ini biasnaya disajikan pada saat pesta pernikahan sebagai hantaran dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan serta disajikan pada saat menjelang hari raya atau acara adat dan kenduri Aceh. Namun, bagi anda yang ingin membuatnya dirumah silahkan simak ulasan mengenai resep dan langkah-langkah untuk membuat Kue Keukarah khas tradisional aceh dibawah ini. Bahan-bahan: 250 gr tepung beras 500 gr gula pasir Minyak goreng secukupnya 1/2 liter air Ala...