
Sumber : (https://situsbudaya.id/wp-content/uploads/)
Lokasi Benteng Kuta Lubok Aceh
Terletak di Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar dan kamu bisa mengikuti sisa-sisa peninggalan benteng Kuta Lubok.
Sejarah Benteng Kuta Lubok Aceh
Pada zaman perang dahulu kala, sebuah benteng memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan banyak masyarakat. Begitu juga ketika kamu berwisata di Aceh, tepatnya di Kuta Lubok, sebuah bukit dengan ketinggian mencapai 40 meter di atas permukaan laut, yang menjadi aset Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.
Sebuah benteng yang berdiri pada Abad ke-12 Masehi yang bernama Kuta Lobok menyimpan banyak cerita. Benteng Kuta Lubok merupakan bagian dari kerajaan Lamuri yang merupakan kerajaan pertama Islam di Nusantara serta menjadi awal lahirnya kerajaan Islam Darussalam di Aceh.
Hingga saat ini benteng Kuta Lubok masih menjadi bahan penelitian bagi beberapa arkeolog untuk mengetahui asal muasalnya. Namun, temuan awal mengungkapkan bahwa benteng ini adalah benteng tertua yang didirikan pada masa Kerajaan Lamuri (diyakini sebagai Lamreh sekarang) yang merupakan kerajaan tertua di Aceh.
Benteng Kuta Lubok sendiri kini hadir dalam kondisi yang tidak terawat sama sekali. Ilalang tinggi mengerumuni kawasan benteng yang membuatnya terlihat begitu kotor. Meskipun begitu, jika kamu berkunjung ke tempat ini, masih akan menemukan sisa benteng yang berbentuk huruf L.
Pada bagian tengah kamu masih bisa melihat sisa benteng yang masih kokoh. Beranjak ke bagian Barat, terdapat sebuah bangunan berbentuk huruf O. Uniknya, diatas bangunan ini terdapat pula sebuah pohon tinggi menjulang dengan akar-akar yang besar menyebar dan membuat keindahan bangunan ini menjadi hilang.
Meskipun tidak terawat, para peneliti masih akan melanjutkan tugasnya mencari tahu tentang sejarah benteng Kuta Lubok. Selain itu, peneliti juga terus mengajak pihak pemerintah untuk “mengamankan” tempat ini sebagai salah situs sejarah dan juga objek wisata.
https://situsbudaya.id/3750-2/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara