Islam yang diajarkan dan diamalkan di Aceh telah menentukan bentuk, arah dan perkembangan ragam hias atau ornamentasi utama di daerah ini. Bentuk ragam hias utama di daerah berjuluk Serambi Mekkah ini merupakan visualisasi, aktualisasi atau representasi tetumbuhan, benda, gerak alam dan bidang geometri yang diterapkan dengan teknik tertentu pada berbagai media mulai dari batu hingga bahan tekstil di samping kaligrafi berisi kutipan al-Qur'an atau penanda tertulis pada objek tertentu.
Pilihan mengadaptasi rupa tetumbuhan, benda dan gerak alam untuk ornamentasi itu berkaitan dengan pantangan melakukan rekabentuk rupa manusia dan binatang. Pantangan ini ditanamkan pada setiap diri dan keluarga Aceh dengan mengukuhkan konstruksi hadits bahwa ''malaikat tidak akan memasuki rumah-rumah yang di dalamnya terdapat berhala dan anjing''. Inilah sebab mengapa penggambaran wujud manusia dan binatang tidak berkembang seperti ornamen yang mengadaptasi tetumbuhan.
Namun meskipun ragam hias berkembang sedemikian rupa, Aceh punya pengalaman sendiri berkenaan dengan penggambaran manusia dan/atau binatang. Penggambaran manusia dan/atau binatang masih tetap dilakukan meskipun secara simbolik dan terbatas. Ukiran atau gambar bouraq; mahluk hibrid yang menjadi tunggangan nabi Muhammad SAW selama Isra' Mi'raj misalnya, sejak lama menghiasi dinding rabung rumah-rumah panggung Aceh di masa lalu melengkapi gambar atau ukiran ornamental yang dinamis.
Motif bungong kalimah (kaligrafi) pada kain panjang yang berfungsi sebagai selendang/penutup kepala wanita Aceh berisi kalimah Allah yang ditempatkan di bagian ujung kain dan ketika dipakai bagian ujung kain yang ada motif bungong kalimah diletakkan di atas kepala. Penempatan motif bungong kalimah di bagian kepala berkaitan erat dengan konsep yang berkembang dalam masyarakat Aceh bahwa kalimah Allah harus ditempatkan di posisi yang tinggi.
Selain motif bungong kalimah, motif yang sering digunakan dalam seni menenun adalah motif bunga delima. Pemilihan motif bunga delima sebagai motif hias dilandasi kepada konsep buah yang disebutkan dalam Al-Qu’ran bahwa buah delima adalah salah satu jenis buah yang terdapat di dalam surga. Selain bunga delima, pada tenun yang beredar dalam masyarakat Gayo/Alas terdapat motif tampuk manggis/mongeute. Pemilihan buah manggis sebagai motif hias kain tenun masyarakat Gayo/ Alas menggambarkan kondisi lingkungan setempat yang subur. Buah manggis yang dikenal sebagai ratu buah juga mengandung anti oksidan yang tinggi dan buah manggis merupakan jenis buah yang sulit dibudi dayakan, sehingga mungkin ini yang menjadi salah satu alasan pemilihan tampuk manggis sebagai motif hias sebagai apresiasi masyarakat Gayo/Alas terhadap buah manggis. Dan hasil penelitian ilmiah diketahui bahwa buah delimah dan buah manggis memiliki manfaat serta anti oksidan tinggi.
Khusus dalam masyarakat Gayo/Alas, muncul motif hias tuleng iken/tulang ikan dan peger/pagar. Penggambaran motif tulang ikan pada kain tenun Gayo/Alas merupakan penggambaran dari ikan depik yang menjadi ikan khas di Gayo/Alas. Peger/ pagar melambangkan perlindungan, selembar kain akan melindungi pemakainya dari rasa malu karena kain akan menutup aurat pemakainya.
Pohon hayat yang menjadi ciri khas tenun Siem serta yang terdapat pada kain tenun ija dua blah hah melambangkan kehidupan dan harapan. Dalam masyarakat Aceh tempo dulu, selembar kain yang disandang oleh pemakainya mengandung harapan akan kehidupan dan rezeki yang lebih baik.
Motif lain yang muncul dalam kain tenun yang menjadi koleksi museum Aceh adalah motif daun sirih. Batang sirih yang bersifat merambat melambangkan kehidupan yang terus meningkat. Selain itu, dalam kehidupan masyarakat Nusantara, daun sirih digunakan sebagai pelengkap upacara ketika menerima tamu.
Kain tenun Aceh maupun Melayu identik dengan motif awan, baik awan tunggal mau pun awan berarak. Pemilihan motif awan selain menggambarkan cuaca di Sumatera yang cerah juga melambangkan kehidupan masyarakat yang dinamis.
Selain bunga, buah, dan pohon yang mengandung makna filosofis, sebagian motif hias dibuat hanya semata sebagai hiasan saja misal motif bungong campli/bunga cabai, bunga tabur, dan motif geometris yang dipakai untuk memenuhi bidang hias dan menambah nilai estetis dari kain tenun tersebut.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara