Pecak Belut adalah salah satu kuliner khas kota Pemalang yang digemari banyak masyarakat. Terbuat dari bahan dasar belut yang disajikan diatas cobek dan dilapisi daun pisang. Meskipun bentuknya yang seperti ular, belut ini banyak yang menyukai dan yang paling penting halal. Bahan : belut segar ukuran sedang 1/2 kg minyak goreng secukupnya jahe 3 cm dimemarkan lengkuas 3 cm dimemarkan 1 batang serai dimemarkan daun salam 2 lembar air bersih secukupnya garam 1 sendok makan kunyit 2 cm ( memarkan ) Bumbu halus ( sambal ) : cabe merah besar 2 buah cabe rawit hijau 20 buah bawang merah bakar 4 butir bawang putih 3 siung dibakar kencur 2 cm jahe 2 cm tomat merah 2 buah gula pasir 1/2 sendok makan garam secukupnya penyedap rasa 1/2 sendok teh Cara Membuat : Bersihkan belut dengan air kemudian rebus dalam air mendidih bersama daun salam, lengkuas, j...
Unjungan adalah acara ritual tradsional untuk meminta hujan. Acara ritual tradisional untuk meminta hujan ini dilakukan dengan cara adu pukul pada bagian kaki yang dilakukan oleh sepasang laki-laki dewasa dengan menggunakan peralatan berupa sebilah rotan sebagai untuk memukul. Seiring dengan berjalannya waktu, tradisi Ujungan kini hanya berkembang sebagai seni pertunjukan hiburan biasa. Walaupun demikian, ketentuan-ketentuan peraturan permainan Ujungan masih tetap mengacu pada Ujungan zaman awal munculnya tradisi ini, baik rotan yang dipakai sebagai alat pukul maupun Wlandang pertunjukan. Rotan yang dipakai harus memiliki tingkat kelenturan yang cukup baik, dengan panjang sekitar 40.125 cm dan diameter sekitar 1,5 cm. Ketentuan rotan yang dipersyaratkan seperti ini bertujuan untuk mengurangi rasa pedih bila disabetkan ke tubuh. Sedangkan seorang Wlandang harus memiliki keterampilan ilmu beladiri yang tinggi. Hal ini dimaksudkan agar apabila suatu saat salah satu p...
Jaka Umbaran lahir tanpa ditunggui seorang ayah. Semakin besar, Jaka Umbaran semakin ingin tau sosok ayah. Kakeknya, Ki Ageng Giring tidak mau member tau, begitu pula ibundanya. Suatu kali, Jaka Umbaran kembali bertanya untuk kesekian kalinya. “Ibunda, seperti apakah ramanda ku ? “ Ibunda Jaka Umbaran, Dewi Nawangsasi memandang anaknya yang sedih. Dia sadar tidak mungkin lagi menghindari pertanyaan Jaka yang terus- menerus belakangan ini. “ beliau lelaki yang gagah dan tampan seperti kamu, nak. Beliau juga berbudi luhur dan baik“ Dewi Nawangsasi berbinar masih menyimpan kekaguman. “ kalau ramanda orang baik pasti dia bersama kita. Paling tidak dia menengok kita satu purnama sekali. “ sergah Jaka Umbaran. Selalu berakhir seperti itu. Jaka Umbaran menyemaikan bibit kebencian kepada orang tua sendiri. Dewi Nawangsasi berpikir tidak baik apabila hal ini dibiarkan terus. Tetapi, dia memang berjanji kepada suaminya untuk ti...
Di Jawa Tengah terdapat bukit yang bernama Gunung Wurung. Bukit ini mempunyai bentuk yang unik. Tingginya hanya sekitar 80 meter dan terlihat seperti tidak mempunyai puncak. Dahulu kala, seluruh daerah tersebut terdiri dari dataran. Tidak ada bukit atau gunung di sana. Sesepuh desa berdoa kepada para dewa agar diciptakan gunung di wilayah mereka. Para dewa pun mengabulkan permintaan mereka dengan sebuah syarat. "Besok malam, kami akan membuatkan gunung. Namun, besok malam tidak boleh ada satu orang pun yang keluar dari rumah dan berkeliaran." Kemudian, para sesepuh meminta warga agar tidak keluar dari rumah besok malam. Keesokan harinya, seluruh warga masuk ke dalam rumah mereka masing- masing dan mengunci pintu. Ketika hari mulai senja, para dewa turun dari khayangan clan mulai membuat gunung. Mereka bekerja tanpa suara. Diawali dengan memasang tiang-tiang pancang dan mulai menimbuninya dengan tanah. Ketika pagi menjelang, pembuatan gunung itu hampir selesai...
Asal mula nama Pekalongan berasal dari Topo Ngalongnya Joko Bau /Jaka Bau putra dari Kyai Cempaluk pahlawan Mataram dari Kesesi. Suatu hari, Joko Bau diperintahkan oleh Ki Cempaluk untuk mengabdi pada Sultan Agung raja Mataram. Dia juga mendapat tugas untuk memboyong putri Ratnasari Kalisasak Batang ke istana, tetapi Joko Bau malah jatuh cinta pada sang putri. Karena tindakannya mencintai putri Ratnasari, ia diberi hukuman untuk mengamankan daerah pesisir yang dibajak oleh Cina. Kemudian Joko Bau bersemedi di hutan Gambiran, setelah lama ia bersemedi akhirnya namanya berganti manjadi Bau Rekso. Atas perintah Sultan Agung, Bau Rekso mempersiapkan pasukan untuk menggempur para kompeni yang berada di Batavia (1628-1629). Namun, serangan itu mengalamai kegagalan, kemudian ia kembali ke hutan Gambiran untuk bertapa "ngalong" artinya bergelantungan seperti kelelawar. Saat topo ngalong Joko Bau/Bau Rekso berlangsung, ia pernah sekali diganggu oleh Tan K...
Diceritakan dahulu kala ada dua orang gadis sedang mengumpulkan sayuran di lading. Tiba-tiba datanglah seekor kepiting raksasa mendekatinya. Mereka sangat takjub melihat betapa besar dan tingginya binatang itu. Lupa akan pesan orang tuanya yang mengatakan bahwa apabila sedang berada di lading kemudian melihat atau menemui sesuatu yang asing atau janggal mereka dminta cepat meninggalkan tempat dan jangan menggangu atau mengusiknya, salah seorang gadis itu justru mendekat serta diusapnya sambil keheranan, dan kagetlah mereka melihatnya. Pada saat si gadis mengusap punggung kepiting, tanpa disadari sekonyong-konyong kepiting lenyap dan ditempat mereka berdiri menganga sebuah lubang yang bergerak semakin lebar dan semakin dalam menyerupai sumur yang membawa kedua gadis tadi lenyap tenggelam. Jadilah sumur dengan luas 70 ha yang kemudian dinamakan telaga Menjer. Bentuk telaga ini makin ke dalam makin mengecil seperti kerucut (kukusan-Jawa) atau terompet. Di dalam telaga k...
Berdasarkan cerita rakyat pada sekitar awal abad 17 M, tersebutlah tiga orang pengelana yang masing-masing bernama Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai Walik, mulai merintis suatu pemukiman di daerah Wonosobo, Kyai Kolodete berada di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim berada di daerah Kalibeber dan Kyai Walik berada di sekitar Kota Wonosobo sekarang ini, dan sejak saat itu daerah ini mulai berkembang dan ketiga tokoh tersebut dianggap sebagai cikal bakal dari masyarakat Wonosobo. Pada masa Kerajaan Mataram, letak pemerintahan berada di Desa Selomanik sebagai kepala pemerintahannya adalah Ki Tumenggung Kartowaseso dan Ki Butowereng sebagai patihnya. Seperempat abad dari wafatnya Tumenggung Kartosuwiryo tersebut, pusat pemerintahan beralih ke Desa Pecekelan (Kalilusi) sebagai Kepala pemerintahannya adalah Ki Tumenggung Wiroduto, selang beberapa saat pusat pemerintahannya berpindah dari Kalilusi ke daerah Ledok Selomerto.  ...
Dahulu kala Kerajaan Pajang dengan rajanya bernama Sultan Hadiwijaya. Sedang Kadipaten Jipang dipimpin olah Arya Penangsang. Kedua tokoh tersebut saling berselisih. Arya Penangsang dikenal sebagai orang yang sombong, karena keampuhannya. Perselisihan kedua tokoh tersebut mengakibatkan perang sehingga banyak korban berjatuhan dari kedua daerah. Saat pertempuran itu terjadi, Hadiwijaya memberi kepercayaan kepada Danang Sutawijaya sebagai panglima perang. Danang Sutawijaya adalah anak angkat Sultan Hadiwijaya. Danang sebagai senopati perang didampingi oleh Ki Gede Pemanahan. Dengan semangat yang tinggi dan bekal senjata tombak Kyai Pleret, mereka berdua pergi melaksanakan perintah Sultan Hadiwijaya ke medan perang. Mereka beserta rombongan agar selamat dalam medan perang, dianjurkan tidak melalui sungai atau menyeberangi sungai. Karena kelemahan mereka terdapat pada air atau sungai, yang dapat mengakibatkan kekalahan. Ketika peperangan terjadi, Arya Penangsang tewas oleh...
Sekitar 20 km di sebelah utara kota Wonosobo, yaitu di sebuah daerah dataran tinggi Dieng terdapatlah sumber mata air, mata air tersebut bernama Tuk Bima Lukar. Menurut cerita atau legenda masyarakat sekitar, Tuk Bima Lukar mempunyai daya tarik tersendiri. Yaitu dipercaya bisa membuat orang awet muda dengan membasuh muka atau mandi dengan air di tuk tersebut. Sedangkan asal mula cerita Tuk tersebut berawal pada suatu ketika sang pandawa sedang pergi ke Dieng untuk membangun Candi sebagai tempat pemujaan, di tengah perjalanan salah satu orang Pandawa yaitu Bima merasa ingin buang air kecil (kencing), lalu dia berhenti untuk kencing. Dan anehnya Air kencng itu kemudian menjadi sebuah sumber mata air yang berupa sendang. Airnya tersebut sangatlah bersih dan jernih. Pada suatu hari, Dewi Drupadi ingin mandi di sendang tersebut, maka berangkatlah Drupadi ke sendang tersebut itu, Drupadi segera melepas pakaian untuk mandi, Bima terkejut menyaksikan kecantikan Drupadi Dalam...