Buda Cemeng Kelawu yang jatuh setiap Buda Wage, Wuku Kelawu selama ini identik dengan hari raya uang. Pandangan tersebut didasarkan pada pelaksanaan Buda Cemeng Kelawu yang merupakan hari pemujaan kepada Bhatara Rambut Sedana sebagai Dewa Kesejahteraan yang menganugerahkan harta kekayaan kepada manusia. Buda Cemeng Kelawu pada hakekatnya lebih pada ucapan syukur kepada Tuhan atas segala pengetahuan yang diberikan terkait pengelolaan materi, yang salah satunya dalam bentuk dana (uang). Dengan harapan dapat memaknai pengetahuan dalam pengelolaan materi secara baik dan benar. Pengetahuan material yang dimaksud pada dasarnya bukan semata-mata dalam bentuk uang. Material yang dimaksud dapat juga berbentuk barang yang membantu mempermudah hidup manusia. Buda Cemeng Kelawu menjadi identik dengan hari uang karena di jaman kini semua dinilai dengan uang. Padahal dalam upacara yadnya tidak semua bisa diganti dengan uang, misalnya Pejati harus berbentuk pejati dan daksina dalam ben...
Ngusak-Asik merupakan lagu tradisional daerah Bali dengan tempo cepat dan riang. Seperti pada lagu-lagu daerah Bali lainnya, lagu ini banyak menggunakan sinkop dan pengulangan pola ritme.lagu Ngusak asik yang berasal Bali ini menceritakan tentang percintaan. Lirik Lagu Ngusak asik Cai ketut demai rusuh Bas kaliwat cai ngawe sakit hati Cang sing demen. Ngidih olas ketut pang enggal megedi. Arti Lagu Ngusak asik Menceritakan antara dua insane laki – laki dan perempuan yang di landa asmara tentang percintaan. Sumber : http://www.lagudaerah.xyz/ngusak-asik/
Tradisi Matekap atau membajak lahan pertanian dengan menggunakan tenaga sapi atau kerbau hingga kini masih bisa di jumpai di beberapa wilayah pedesaan di Bali. Walaupun perkembangan teknologi telah menghadirkan sebuah mesin traktor, namun siapa sangka tradisi matekap merupakan bagian dari kearifan lokal dalam merawat ibu pertiwi. matekap terdiri dari beberapa tahapan dan masing-masing tahapan memiliki sebutan berbeda yaitu: makal, mungkahin, ngelampit dan ngasahan. “Tahapan matekap menyesuaikan dengan kondisi lahan, kecepatan, waktu, minat dan kenyamanan kerja sehingga pola tanam bisa selaras dengan siklus sosial budaya masyarakat di wilayah setempat: matekap dengan teknis dan tahapan yang benar akan berdampak pada pelestarian ekosistem dan sumber daya air yang ada di sebuah kawasan persawahan. Dimana matekap membutuhkan volume air lebih sedikit dibandingkan menggunakan traktor. Sementara dengan traktor membutuhkan air lebih banyak sehingga petani pemilik la...
Siat api atau perang api merupakan sebuah tradisi kuno yang terus berkembang di Desa Pakraman Duda, Selat, Karangasem. Siat api digelar sebagai upaya untuk menetralisir kekuatan negatif yang ada di lingkungan desa. Dengan harapan agar masyarakat desa terhindar dari hal hal yang tidak diinginkan. Selain itu, siat api juga dimaknai sebagi ujian untuk mengendalikan emosi yang terdapat dalam jiwa manusia. Siat api biasanya digelar menjelang upacara Usaba Dodol pada sasih Kesange, bertepatan dengan Waraspati Tilem (bulan mati) pada Sasih Kaulu. Tradisi siat api dilaksanakan di perbatasan Desa Duda Timur dengan Desa Duda, tepatnya di atas Jembatan Tukad Sang-sang. Suasana menjadi sakral karena tradisi berlangsung pada saat Sandikala atau waktu peralihan dari siang menjadi malam. Disebut siat api atau perang api karena memang tradisi ini menyerupai perang, hanya saja yang dijadikan sebagai senjata ialah prakpak yang terbuat dari daun kelapa tua diikat dan dibak...
Sebagai wujud rasa sukacita atas hasil panen, desa pekraman Geriana Kangin, Desa Duda Utara Kecamatan Selat, kabupaten Karangasem menggelar tradisi ‘ Ngelawang ’. Tradisi yang dilakukan setiap setahun sekali pada Sasih Kesanga ini ditandai dengan iring-iringan para pemuda setempat mengelilingi desa dengan membawa ‘ucur’ atau obor disertai alunan gambelan ‘ kulkul ’ atau kentongan. Sedikitnya terdapat 70 orang pemuda terlibat dalam prosesi tersebut. Uniknya, suara tabuh yang dihasilkan merupakan hasil kreatif antara kolaborasi bunyi kulkul dengan gambelan beleganjur seperti kendang, ceng - ceng dan gong. Tradisi Ngelawang dipercayai sangat erat kaitannya dengan hasil bumi. Jika dilihat dari sudut pandang sekala, kata dia tradisi tersebut memiliki makna sebagai doa kepada Tuhan agar hasil panen berikutnya lebih baik dari sebelumnya. Simbol dari suara kentongan yang digunakan mempunyai arti agar sari bunga pada pohon buah - buahan b...
Mandolin adalah alat musik asli Cina yang dibawa oleh seorang warga Tionghoa ke Desa Pupuan, Kecamatan Pupuan, Tabanan. Warga Tionghoan yang merupakan teman dari I Ketut Lastra meninggalkan alat musik Mandolin di Pupuan pada masa penjajahan Jepang, sekitar tahun 1930. Keberadaan alat musik petik jenis kecapi dengan 12 nada itu nyaris punah. Namun berkat kegigihan warga Pupuan, alat musik Mandolin yang berasal dari kata Mandarin itu kemudian direkonstruksi pada tahun 2010. Rekontruksi dilakukan dengan memodifikasi dari 12 nada menjadi 21 nada. Mandolin kemudian dikolaborasikan dengan gitar, bass, suling, perkusi jimbe, dan perkusi chimes. Modifikasi tersebut dilakukan oleh keturunan I Ketut Lastra atau yang akrab dipanggil dengan Pan Sekar. Pada akhirnya terbentuk Group musik Mandolin yang awalnya bernama Bungsil Gading. sumber : https://www.beritabali.com/read/2018/02/14/201802140011/Merekontruksi-Mandolin-Pupuan-Yang-Nyaris-Punah.html
Lingga Yoni tak sebatas sebuah simbolisasi, namun mengandung pesan kehidupan yang sangat luas. Lingga identik dengan simbol dari Energi Maskulin, "Yang", Pria dan Yoni sebagai simbol dari Energi Feminim, "Yin", Wanita. Jadi Lingga dan Yoni merupakan jalur energi Ilahi di tubuh manusia dan di alam semesta. penyatuan Lingga dan Yoni melahirkan sesuatu yang baru, yaitu penciptaan. Perpaduan lingga dan yoni tersebut melambangkan penciptaan dunia dan kesuburan. Tanpa Dengan adanya penyatuan dan penciptaan maka ada generasi yang berkelanjutan atau kehidupan yang berkelanjutan. Lingga menyerupai alat kelamin laki-laki, karena bentuknya seperti Phallus lambang kesuburan. Dalam Tradisi Megalithik, dan dalam perkembangan Hindu merupakan simbol dari Dewa Siwa. Lingga berfungsi sebagi penyalur air pembasuh arca. Dalam manifestasinya Lingga terdapat 2 bentuk. Pertama, Lingga Cala adalah Lingga yang merupaka...
Memohon kerahayuan serta untuk membersihkan alam semesta “Bhuana Agung” dan “Bhuana Alit” baik secara “Sekala” maupu “Niskala”, bertepatan dengan “Anggara Kliwon Tambir” dilaksanakan upacara pecaruan “Manca Sanak” di Pura Telaga Toya Sah, Banjar Susut, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Beji Telage Sah ini sangat erat kaitannya dengan Gunung Agung, dalam hal ini Pura Pasar Agung, Pura Besakih bahkan berbagai Pura yang ada di Karangasem, oleh karena itu, dinamakanlah “Toye Sah” dalam sastra kata “Toya Sah” bermakna disinilah sesungguhnya keputusan beliau yang terakhir. Beji ini harus kita selamatkan dan salah satu cara umat Hindu untuk menyelamatkan ya melalui upacara, mudah-mudahan melalui upacara ini ida Bethara yang berstana di Gunung Agung kiranya akan menganugrahkan yang terbaik untuk kita. sumbe r: https://www.beritabali.com/read/2017/12/27/201712270007/B...
Tradisi bermain ayunan di Bali telah berlangsung lama, hal ini terlihat dari mainan ayunana yang ada di Desa Tenganan Pegringsingan. Desa Tenganan merupakan salah satu desa Bali Aga, selain Trunyan dan Sembiran. Mereka sebagai penduduk bali yang asli dan sampai sekarang masih mempertahankan pola hidup yang tata masyarakatnya mengacu pada aturan tradisional adat desa yang diwariskan nenek moyang mereka Menurut sebagian versi catatan sejarah, kata Tenganan berasal dari kata "tengah" atau "ngatengahang" yang memiliki arti "bergerak ke daerah yang lebih dalam". Kata tersebut berhubungan dengan pergerakan masyarakat desa dari daerah pinggir pantai ke daerah pemukiman di tengah perbukitan, yaitu Bukit Barat (Bukit Kauh) dan Bukit Timur (Bukit Kangin). Salah satu tradisi di Desa Tenganan yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah main ayun-ayunan. Tradisi main ayun-ayunan di Desa Tenganan Pegringsingan yang dinaiki oleh para Daha (gadis) dan diputar se...