Bahan: 1. 500 gram terong ungu, potong-potong 2. 1 sdt garam 3. 50 gram daun kelor 4. 800 ml santan (dari satu butir kelapa) 5. 2 sdt garam 6. 1 sdt gula pasir Bumbu yang Dihaluskan: 1. 5 butir bawang merah 2. 5 buah cabai merah yang dihaluskan 3. 3 sdm ebi, sangrai Cara membuatnya: 1. Rendam terong dalam air garam selama 10 menit. Tiriskan. 2. Rebus santan bersama bumbu yang dihaluskan sampai mendidih. 3. Masukan terong dan daun kelor, garam, dan gula pasir. Masak hingga matang. Angkat. Tips: Menurut kepercayaan adat setempat jika salah seorang tetangga yang meninggal dunia, pada hari itu tidak ada anggota masyarakat lain yang diperbolehkan membuat atau memakan masakan ini. RM yang menyediakan: Rumah Makan Heni Putri Kaili Jl. Kaombona No. 09, Palu, Indonesia +62 451 457314 Sumber: Buku 668 Resep Masakan Khas Nusantara dari 33 Provinsi
Adonan I ( Aduk Rata) 1. 700 gram singkong, parut 2. 175 gram gula merah, sisir halus 3. 30 gram gula pasir 4. 200 ml santan dari 1/2 butir kelapa 5. 1/4 sdt garam Adonan II (Aduk Rata) 1. 500 ml santan dari 1 1/2 butir kelapa 2. 60 gram tepung terigu 3. 1/2 sdt garam Cara membuat: 1. Siapkan loyang ukuran 24x24x4 cm, olesi dengan minyak dan alasi plastik. 2. Tuangkan adonan I ke dalam loyang, kukus hingga matang (15 menit) 3. Tuangkan adonan II ke atas adonan I, kukus kembali hingga matang (25 menit) 4. Angkat, dinginkan, keluarkan dari loyang, potong-potong. Sajikan, Sumber: Buku 668 Resep Kuliner Nusantara
Sumber: Buku Resep rahasia Turun Temurun, Sumatera, Jawa dan Sulawesi Bahan: 1. 1 ekor (800 g) ayam / ikan tongkol 2. 500 ml santan cair (dari 1/2 butir kelapa) 3. 200 ml santan kental (dari 1/2 butir kelapa) 4. 2 batang serai, memarkan 5. 3 buah tomat, potong-potong 6. Garam secukupnya Bumbu halus: 1. 8 butir bawang merah 2. 5 siung bawang putih 3. 25 buah cabai rawit hijau RM yang menyediakan: Rumah Makan Darisa (Restaurant & Catering Service) Jl Setiabudi No. 999 Kota Palu Sulawesi Tengah 0852-1119-1394, 0853-9910-9255, 0823-9373-1652
Kaledo adalah singkatan dari kaki lembu donggala. Masakan ini terbuat dari tulang tungkai kaki sapi. Seporsi kaledo berisi sepotong utuh tungkai sapi yang disajikan dalam semangkup sup lengkap dengan sumsum dan kikil alias kolagen yang masih menempel pada tulang tungkai tersebut. Sop Kaledo tidak memakai bumbu gulai yang intens melainkan sop encer berbumbu minimalis. Bumbunya hanya asam jawa, cabai keriting, merica dan garam. Tulang tungkai sirebus hingga enam jam hingga kolagennya empuk tapi sum sumnya tetap utuh tidak mencair. Kaledo cocoknya disantap dengan singkong rebus, bukan dengan nasi. Sumber : Buku 100 Makanan Tradisional Indonesia Bondan winarno Sumber Foto http://www.menuresepmasakan.com/resep-cara-membuat-kaledo-khas-sulawesi-tengah/
Kerajaan Mori merupakan suatu kerajaan yang terdapat di wilayah Sulawesi Tengah dan diperintah pada suatu masa oleh seorang raja yang dikenal dengan sebutan 'Mokole Marunduh' (Datu'ri tana Mokole Marunduh). Sama seperti kerajaan- kerajaan lain di Indonesia, kerajaan ini juga dibentuk dan diberikan pengabsahannya berdasarkan kisah-kisah lokal dari memori kolektif masyarakat yang bercorak legenda. Alkisah, Tanah Mori dihuni oleh beragam suku. Setiap suku memiliki Mokole (organisasi pemerintahan) yang dipimpin oleh seorang kepala suku yang bergelar Mokolempalili . Sebagian dari mokole tersebut ada yang memiliki wilayah yang luas dan pengaruhnya terhadap mokole yang lain pun lebih besar. Suku-suku besar tersebut di antaranya adalah Suku Moleta, Petasia, Lembo, Murungkuni, Tovatu , dan Musimbatu . Meskipun demikian, mokole suku yang lebih kecil tidak mau tunduk kepada mokole yang lebih besar sehingga sering terjadi peperangan di antara m...
Orang Balantak sering juga ditulis dalam buku-buku etnografi lama dengan nama Mian Balantak. Masyarakat ini terdiri atas dua sub-suku bangsa, yaitu Tanoturan dan Dale-Dale. Mereka mendiami Daerah Balantak, Lamala, Luwuk dan Tinankung di Provinsi Sulawesi Tengah. Jumlah populasi sekitar 30.000 jiwa. Bahasa Suku Balantak Bahasa Balantak termasuk kelompok bahasa Loinang yaitu kelompok bahasa ingkar. Bahasa ingkar Balantak ini ditandai dengan struktur bahasa sian (tidak). Mata Pencaharian Suku Balantak Mata pencaharian orang Balantak adalah bertani padi di ladang dengan sistem tebang, bakar dan berpindah-pindah. Selain padi mereka juga menanam ubi-ubian. Tanaman komoditinya adalah kelapa. Meramu hasil hutan, menangkap ikan dan berburu binatang liar masih tetap menjadi pekerjaan sampingan mereka. Hubungan Kekerabatan Dan Kemasyarakatan Suku Balantak Sifat hubungan kekerabatan alam masyarakat Balantak adalah...
Kerajaan Banggai klasik telah ada dan dikenal sekitar abad ke 13 M dengan nama Benggawi, di era kejayaan Kerajaan Mojopahit dibawah pimpinan Prabu Hayam Wuruk (1351-1389), dimana kerajaan Banggai saat itu telah menjadi bagian dari kerajaan Mojopahit, sebagaimana disebut pada seuntai syair dalam buku Nagara kertagama karya Mpu Prapanca. Dalam struktur Kerajaan Banggai klasik menurut Dr.Alb.C.Kruyt dalam studinya De Vorsten van Banggai, Kerajaan Banggai kala itu dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Adi yang tinggal di Linggabutun yang terletak digunung Bolukan (sekarang Padang Laya) dan empat orang yang merupakan suatu dewan penasehat bagi Adi dan diberi gelar Tomundo Sangkap yang masing-masing mempunyai kekuasaan tertentu.Mereka inilah sejatinya pendiri Kerajaan Banggai. Secara berturut-turut disebut empat orang Adi yang memerintah sebelum Adi Lambal Polambal memerintah. Adi Lambal Polambal menjadi raja terakhir fase Kerajaan Banggai klasik. Selama ia memerintah sering terjadi pers...
WATU MPOGA'A (Watumpogaa, Vatumpogaa) Pada tahun 1800an, tokoh Hindia Belanda, Adriani dan Kruyt dalam buku mereka yang berjudul De Bare'e-sprekende Toradja's van Midden-Celebes menyebutkan suku Bare'e (Bare'e-Stammen) Sebagai Suku Asli pemilik wilayah Grup Poso-Tojo, Toraja Poso-Tojo, atau Toraja Timur (Toradja Bare'e) dengan Bahasa Bare'e (Bare'e-Sprekende) sebagai bahasa asli di wilayah tersebut. Pamona berasal dari Nama suatu Desa yaitu Desa Pamona (Dorp Pamona), dan setelah terjadi Peristiwa Watu Mpogaa (WatuMpogaa atau Vatu Mpogaa) penduduk Desa Pamona kemudian tinggal di wilayah Wotu, Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, dan kemudian di wilayah Wotu, Luwu Timur, orang-orang dari Desa Pamona tersebut menamakan Penduduk mereka dengan Nama To Lampu, To Lompoe, atau To Tawaelia. SEMUA PAMONA BERAGAMA KRISTEN DAN SUKU BARE'E BERAGAMA ISLAM DAN MOLAMOA (BERTUHAN PUEMPALABURU). Jadi Pamona bukan nama suku ataupun Bahasa tetapi hanya nama Desa, yaitu Desa Pamona (Dorp p...