Ider ideran Ki Buyut Trusmi adalah tradisi rutin tahunan di Desa Trusmi Kabupaten Cirebon yang dilakukan untuk menyambut musim penghujan. Tradisi ini juga dilaksanakan untuk merayakan ritual penggantian atap rumbai Makam Keramat Ki Buyut Trusmi. Sesuai namanya ider yang berarti keliling, peserta tradisi ini akan berkeliling melewati jalur Pantura-Plered dengan start dan finish di Makam Ki Buyut Trusmi. Ider ideran ini dimulai dengan para remaja yang menunggang kuda disusul para petugas dari Makam Ki Buyut Trusmi kemudian diikuti rombongan penari Baksa (Babak Yasa) yakni tarian khas daerah Trusmi. Setelah itu akan ada parade kostum seperti tuyul, dedemit, orang hitam, badut, tentara dengan meriam bambu, putri, orang gila bahkan banci. Selain itu banyak pula atraksi yang disajikan dalam acara ini seperti ular naga, barongsai, jangkungan atau egrang setinggi 2 m, musik tarling, buroq hingga marching band. Dalam acara ini sejumlah pusaka warisan Ki Buyut Trusmi serta hasil bum...
Et dah ntu bocah, kagak prele pisan dah urusannya. pegawean dikit doang ge, ampe ora kelar-kelar…!!!” (Gawat anak itu, tidak beres urusannya. Pekerjaan sedikit saja sampai tidak bisa selesai…!!!) Kalimat diatas adalah salah satu contoh kalimat yag pernah saya dengar dari teman SMP saya yang berasal dari bekasi. Bahasa ini sudah sangat jarang digunakan oleh warga bekasi karena sudah tercampur dengan bahasa indonesia. Pada artikel kali ini, saya akan memperkenalkan kepada pembaca tentang bahasa yang mulai punah ini, bahasa Bekasi. Berbicara masalah kata serapan dari bahasa Betawi ke dalam bahasa Indonesia memang agak sedikit sulit. Hal ini disebabkan karena identitas bahasa Betawi itu sendiri yang pada eksistensinya sudah tercampur dengan banyak bahasa, baik bahasa Jawa, Sunda, bahkan bahasa Asing lain, seperti Belanda, Inggris dan Portugis. Contoh yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari adalah seperti contoh berikut ini : “Gimana din...
Popolisian merupakan permainan antara kelompok polisi dan kelompok penjahat, pembagian kelompok biasanya 1:1 jika keseluruhan orang yg bermain berjumlah genap. Permainan ini cukup sederhana, sebelumnya mereka akan menentukan batas daerah mana saja yang boleh dilalui atau yang boleh digunakan. Jika sudah ditentukan, maka langsunglah mereka membagi kelompok, biasanya dengan cara gambreng. Jika sudah, kelompok penjahat akan mencari tempat persembunyian yg aman dengan diberi waktu sebelum kelompok polisi memulai pencarian. Jika sudah, kelompok polisi akan mencari keseluruhan kelompok penjahat tersebut, jika ditemukan, maka polisi harus cepat mengejarnya, karena kemungkinan penjahatnya lari. Cara menangkapnya pun cukup mudah, dengan cara memegang baju atau lengan atau bagian tubuh lain sembari berhitung 1 sampai 10, maka penjahat itu sudah dinyatakan tertangkap. Penjahat yang telah tertangkap, biasanya akan dibawa oleh polisi disalah satu tempat berkumpumpulnya polisi. Tetapi...
Gondong Buhun merupakan seni musik tetabuhan ( tutunggulan ) yang biasa disertai oleh nyanyian, dan satu set alat musik yang dikenal sebagai lisung dan alu. Asal mula seni musik tersebut berasal dari kebiasaan masyarakat Ciamis dalam mengolah hasil panen padi mereka. Gabah padi diproses menjadi beras pada wadah kayu yang berbentuk persegi panjang dinamakan lisung. Alat ini memproduksi suara dari hasil pemukulan ( nutu ) alat tersebut dengan penumbuk padi yang terbuat dari sebatang kayu, dikenal sebagai alu . Menurut adat Cirebon, seni musik ini dipentaskan oleh wanita yang berjumlah lima orang untuk memukul lisung- nya, dan seluruh masyarakat yang berminat menyanyikan lagunya untuk melepas rasa lelah. Namun terkadang pria pun berikut serta dalam proses permainan Gondong Buhun ini. Kesenian musik ini populer di kalangan pedesaan Cirebon, salah satu contohnya ada di Kampung Cikukang, Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis...
Langesing Langesing adalah salahsatu makanan khas dari Tasikmalaya. Makanan ini sudah sangat lama sekali ada, bahkan dari masa saat Belanda masih menduduki tanah Indonesia. Saat dahulu, bahan makanan belum begitu mudah didapatkan seperti saat ini karena kita masih terbatas oleh kekuasaan Belanda saat itu. Langesing adalah makanan yang berbentuk seperti pepes. Makanan ini terbuat dari tepung beras dan memiliki isi pisang di dalamnya. Makanan ini adalah makanan yang proses pembuatannya dengan cara dikukus lalu dibungkus dengan pincuk atau disebut dengan daun pisang. Bahan: 1. Tepung Beras 2. Pisang 3. Air 4. Daun Pisang 5. Gula Putih Cara Pembuatannya: 1. Siapkan semua bahan yang diperlukan. 2. Tepung beras, gula putih, dan air dicampur sampai semuanya tercampur merata. 3. Adon bahan yang sudah dicampur tadi sampai memiliki tekstur yang cair kental. 4. Lalu masukkan adonan t...
Ongol - Ongol Ongol - Ongol adalah salahsatu makanan khas Tasikmalaya yang sangat lezat dan juga mudah dibuatnya. Ongol - ongol ini adalah makanan yang saat itu sangat disukai oleh anak - anak yang tinggal di Tasimalaya. Makanan ini memiliki bentuk bulat. Proses pembuatan dari makanan ini yaitu dengan cara dikukus. Bahan dasar dari makanan ini adalah Tepung Kawung. Kebetulan, saat itu memang Tepung Kawung memang mudah didapat dan menjadi komoditi utama pangan saat itu. Bahan: 1. Tepung Kawung 2. Kelapa Parut 3. Gula Merah 4. Air 5. Daun Pandan Cara Pembuatan: 1. Siapkan semua bahan yang diperlukan. 2. Campurkan tepung kawung dengan air hingga teksturnya membentuk sebuah adonan. 3. Setelah terbentuk adonan dari tepung kawung, campurkan dengan kelapa parut, lalu aduk hingga merata. 4. Kemudian, tambahkan gula merah ke dalam adonan tersebut lalu aduk. 5. Setelah semuanya tercampur, bentuk adon...
Dalam kehidupan masyarakat Sunda, cobek dan ulekan tidak hanya digunakan untuk melumatkan bahan-bahan masakan, namun juga sebagai bentuk dari pengharapan seorang Ibu mengenai jenis kelamin anaknya, baik menginginkan anak laki-laki atau perempuan. Pada saat seorang Ibu mengharapakan anaknya yang selanjutnya memiliki jenis kelamin tertentu, maka Ibu tersebut akan menukar cobek ataupun ulekan dengan keluarga lain. Mereka menukarnya dengan cara demikian: 1. Bila sang Ibu mengharapkan seorang anak laki-laki, maka Ibu tersebut akan menyimpan ulekannya lalu menukar cobeknya dengan ulekan dari keluarga lain sehingga ia memiliki dua ulekan. 2. Bila sang Ibu mengharapkan seorang anak perempuan, maka Ibu tersebut akan menyimpan cobeknya lalu menukar ulekannya dengan cobek dari keluarga lain sehingga ia memiliki dua cobek. Ulekan diumpamakan sebagai laki-laki dan cobek sebagai perempuan. Bila sang Ibu memiliki dua ulekan, ini berarti sang Ibu mengharapkan...
Leupeut adalah salah satu makanan khas sunda yang keberadaanya masih bisa kita temui hingga saat ini di pasar tradisional atau pun di tempat oleh-oleh di tanah pasundan.Leupeut ini biasa dijadikan panganan saat pesta pernikahan, syukuran, bisa juga untuk cemilan sehari-hari. Tekstur dari leupeut ini padat dan sedikit kenyal seperti ketupat, namun leupeut biasanya berisi kacang tanah di dalamnya. Untuk bentuknya sendiri leupeut dapat dikatakan menyerupai lontong. Cara membuatnya pun hampir sama dengan lontong yaitu dikukus namun pembungkusnya dan bahan-bahan untuk membuatnya berbeda. Maka dari itu mari kita bahas cara membuat leupeut ini. Bahan-bahan (untuk penyajian 10 biji) : 1. 200 gram beras ketan putih, rendam dalam air selama 1 jam, tiriskan) 2. 200 ml santan kelapa 3. ½ sendok makan garam 4. 100 gram kelapa parut tanpa mesin (kelapa parut yang digunakan tidak terlalu muda atau terlalu tua) 5. 25 gram kacang tanah, ren...
Sastra Sunda mempunyai banyak jenisnya, salah satunya adalah pupuh. Pupuh merupakan karya sastra berbentuk puisi yang mempunyai aturan berupa guru lagu dan guru wilangan, juga dari setiap pupuhnya mempunyai watak atau karakternya tersendiri. Sedangkan jumlah pupuh ada 17 yang terbagi menjadi sekar ageung dan sekar alit. Salah satunya adalah pupuh magatru. Pupuh magatru ini termasuk dalam sekar alit yang mempunyai watak berupa rasa sedih, penyesalan terhadap perilaku diri sendiri ataupun untuk menasihati. Pupuh magatru mempunyai aturan guru lagu dan guru wilangan berupa : 12-u, 8-i, 8-u, 8-i, 8-o. Contoh Pupuh Magatru : 1) Majalaya, Ciparay, Banjaran, Bandung (12-u) Kopo reujeung Cisondari (8-i) Cicalengka, Ujung Berung (8-u) Rajamandala, Cimahi (8-i) Leles, limbangan, tarogong (8-o) 2) Neangan gawe teh kudu saluyu (12-u) Anu luyu jeung pangarti (8-i) Tong saukur pinuh saku (8-u) Jeung loba meunang bati (8-i) Ngan teu miboga kan...