Asmarasupi merupakan judul naskah ini. Bertemakan folklor yang diperkirakan disalin pada 1890 dengan kode naskah BR 51. Awalnya, naskah ini berada di tangan J.F. Kramer (diketahui dari tandatangan yang ditemukan pada halaman awal naskah) diperoleh dari koleksi Dr. Brandes. Sekarang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI dengan nomer Rol 38.01. Naskah ini mengisahkan perjalanan Raden Asmarasupi (Jayengtilam), putra angkat Kyai Pengulu. Ia diperintahkan untuk mencari obat bagi putri di Ngesam yang bernama Retna Purbaningsih. Dalam perjalanannya, Asmarasupi sering bertemu dengan pandhita (pertapa) sebagai penunjuk jalan hingga akhirnya dapat ditemukan obat tersebut dan damailah negeri Ngesam yang diperintah oleh Jenal Ngalim. Naskah terlihat kotor, pada beberapa halaman terdapat bekas jari (2 sidik jari). Secara keseluruhan naskah ini berjumlah 320 halaman, namun terdapat 3 halaman kosong. Penulisan naskah Asmarasupi menggunakan aksara Jawa dengan balutan tinta b...
Naskah ini disalin Brandes pada 1894, isi naskah ini dari naskah-naskah Babad Bamblangan versi prosa 1. Naskah dilengkapi terjemahan yang disunting oleh Tuti Munawar pada 10 Oktober 1974 dan diterbitkan oleh Pusnas. Terdapat dua stempel kepemilikan dari Tjoa Liang Gie, Bandowoso, Java dan; Batavia Genootschap. Jilid dan lem sudah mulai rusak. Naskah bertema sejarah ini ditulis dalam bentuk prosa, berbahankan kertas Eropa bergaris berjumlah 18 halaman berukuran 20,8 x 33,1 cm. Teks masih dapat dibaca dengan baik, ditulis miring di dalam ruang tulis yang berukuran 20,4 cm menggunakan pena warna hitam dengan aksara dan bahasa Jawa, ukuran hurufnya yaitu 0,4 cm dan jarak spasi 0,2 cm sebanyak 40 baris per halaman. Pemerolehan naskah ini tidak dijelaskan lebih jauh, hanya disebutkan bahwa pemilik asal naskah ini yaitu Tjoa Liang Gie. Sekarang naskah tersimpan dan terawat dengan baik di Perpusnas dengan nomor naskah KBG 337, dengan nomor roll film 160.02. Tentang naskah ini dapat dilihat...
Naskah ini memuat bermacam-macam catatan tentang tembang dan puisi Jawa (sekar kawi, ageng, tengahan, macapat, dll), candrasengkala (kronogram), dasanama (sinonim), dll. Pada h. Vi terdapat catatan dari penyalin terahir yang menjelaskan sejarah teks ini. Bunyinya sebagai berikut : Serat Cakra Basa Kawi Sinasa. Sukla Purnama, rediti para kambir Dewi Sirah Sura Condra Wawu Momana, sengkala triyatra wiku tunggal (1793), Juni 1864, 1281. Ingkang sampun kaladosaken ing Kangjeng Gupremen, tanggal 28 Juni 1863, 15. 875 tembung. Kanjeng Pangeran Harya Suryanegara. Katurun awit sinerat dening raden Tumenggung Cakraningrat ing wanci tabuh sedoso dalu dinten malem seloso legi, tanggal ping 7 wulan sawal ing taun alip ongka 1803, utawi kaping 16 wulan Nopember tahun 1874. Katurun dening Raden Mas Atmawirana, wanci tabuh wolu dalu tanggal ping 28 wulan mulud, taun Ehe, ongka 1812, utawi kaping 6 pebruari ongka 1883.
Hantu ini berasal dari jawa Timur, tepatnya daerah Pacitan. Dia akan senang apabila ada pendatang baru yang akan tinggal di Pacitan. Kenapa disebut hantu Kisut? Karena hantu ini akan berubah ukurannya sesuai dengan bayangan tubuh yang diikutinya. Uniknya, hantu ini juga akan mengikuti gaya dan gerak-gerik orang tersebut. Waspada saja, siapa tahu bayanganmu yang kamu lihat itu ialah bukan bayangan kamu sendiri, melainkan bayangannya. Tapi tenang saja, selama kamu nggak punya niat jahat, hantu bol kisut ini nggak akan mengganggumu kok. Sumber: http://www.kejadiananeh.com/2016/03/legenda-hantu-mengerikan-indonesia.html
Serat Wedhatama adalah sebuah karya s astra Jawa Ba ru yang bisa digolongkan sebagai karya moralistis-didaktis yang sedikit dipengaruhi Islam. Karya ini secara formal dinyatakan ditulis oleh K GPAA Mangkunegara IV . Walaupun demikian didapat indikasi bahwa penulisnya bukanlah satu orang. [1] Serat ini dianggap sebagai salah satu puncak estetika sastra Jawa abad ke-19 dan memiliki karakter mistik yang kuat. Bentuknya adalah tem bang , yang biasa dipakai pada masa itu. Serat ini terdiri dari 100 pupuh ( b ait , canto ) tembang ma capat , yang dibagi dalam lima lagu, yaitu Pangkur (14 pupuh, I - XIV)) Sinom (18 pupuh, XV - XXXII) Pocung (15 pupuh, XXXIII - XLVII) Gambuh (35 pupuh, XLVIII - LXXXII) Kinanthi (18 pupuh, LXXXIII - C) Isinya adalah merupakan falsafah kehidupan, seperti hidup bertenggang rasa, ba...
Arjuna Wiwaha adalah sebuah karya sastra kuno yang dibuat dan digubah pertama kali pada abad ke-11 masehi. Seorang empu bernama Kanwa menulisnya saat masa pemerintahan Prabu Airlangga yang menguasai Jawa Timur sekitar tahun 1019-1042. Sastra ini menjadi pusaka berharga karena menjadi bukti peradaban manusia zaman dahulu yang ternyata sudah maju. Bahkan mengenal baca tulis meski hanya kalangan tertentu saja. Kitab yang lagi-lagi berupa kakawin ini berisi syair mengenai perjuangan Arjuna. Sebuah tokoh pewayangan yang sangat hebat. Dikisahkan Arjuna sedang bertapa di Gunung Mahameru. Dewa mengujinya dengan mengirim tujuh bidadari yang sangat cantik. Bidadari itu disuruh menggodanya, namun Arjuna lulus godaan. Akhirnya Arjuna disuruh melawan raksasa yang mengamuk di kayangan. Karena berhasil ia boleh mengawini tujuh bidadari yang menggodanya tadi. Sumber: https://www.boombastis.com/kitab-kuno-indonesia/45752
Hampir di seluruh wilayah pulau Jawa, para ibu hamil ketika terjadi gerhana bulan akan melaksanakan sebuah ritual tradisi dengan keyakinan bahwa bila si ibu hamil tidak melakukan tradisi ini ketika terjadi gerhana bulan maka bayi yang lahir akan cacat. Dan salah satu tradisi menyangkut gerhana bulan yang cukup unik terdapat di wilayah Mojokerto dan sekitarnya. Tradisi unik ini oleh warga di Kabupaten mojokerto di sebut sebagai tradisi liwetan yakni sebuah tradisi yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai tradisi menanak nasi, dan memang seperti namanya, pada malam menjelang gerhana bulan si ibu hamil dengan di bantu tetangganya akan menyiapkan perlengkapan menanak nasi di halaman seperti kompor, periuk, dan sebagainya. Disamping perlengkapan liwetan (menanak nasi) disiapkan juga perlengkapan lainnya seperti ranjang ukuran kecil sebagai salah satu perlengkapan yang akan dipakai dalam prosesi nanti. Ketika perlahan-lahan bulan mulai m...
Arjuna Wiwaha berarti “Perkawinan Arjuna”. Syair epis ini ditulis oleh Mpu Kanwa yg menurut dugaan, hidup pada zamannya Raja Airlangga, raja di Jawa Timur sekitar th. 1019-1042. Airlangga merupakan seorang raja yg tersohor yg merencanakan peperangan. Untuk mempersiapkan diri secara mental ia mengundurkan diri dari masyarakat dan bertapa. Kemudian hari dia kembali dari pertapaannya dan mengabdikan diri kepada kesejahteraan kerajaannya. Umum berpendapat, bahwa Mpu Kanwa mempersembahkan karyanya kepada raja Airlangga. Untuk menghormati raja itu ia melukiskan kekuasaannya dgn mengambil arjuna sebagai contoh. Hal ihwal Arjuna mencerminkan kehidupan Airlangga… Sebetulnya Arjuna itu salah satu tokoh dari Maha Bharata. Di situlah di ceritakan, bagaimana Arjuna menjalankan tapa brata di salah satu bukit di pegunungan Himalaya dgn maksud untuk memperoleh kesaktian lalu memerangi para gandarwa. Dalam kakawin pun kita berjumpa dgn seo...
Pupuh pertama Dangdanggula, 13 Bait Pupuh ini diawali oleh kalimat Bismillahi ya rakhman nirakhim. Pupuh ini menceritakan lolosnya Walangsungsang—putra Prabu Siliwangi—yang berkeinginan mencari agama Nabi Muhammad. Walangsungsang –yang juga putra mahkota Kerajaan Pajajaran—berkeinginan untuk berguru agama Nabi Muhammad. Lalu, ia mengutarakan maksudnya kepada ayahandanya, Prabu Siliwngi. Namun, Prabu Siliwangi melarang bahkan mengusir Walangsungsang dari istana. Pada suatu malam, Walangsungsang melarikan diri meninggalkan istana Pakuan Pajajaran. Ia menuruti panggilan mimpi untuk berguru agama nabi (islam)kepada Syekh Nurjati, seorang pertapa asal Mekah di bukit Amparan Jati cirebon. Dalam perjalanan mencari Syekh Nurjati, Walangsungsang bertemu dengan seorang pendeta Budha bernama Sang Danuwarsi. Pupuh Kedua Kinanti, 24 bait Pupuh ini menceritakan perjalanan Rarasantang –adik Walangsungsang yang juga berkeinginan u...