HARI PAHLAWAN
155 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Kuluk Curak
Motif Kain Motif Kain
Bengkulu

Kuluk curak adalah kian tenun tradisional khas Bengkulu yang berfungsi sebagai penutup dada kaum wanita dewasa. Seorang gadis tidak dilarang untuk mengenakan kain ini tetapi tidak sepantasnya karena peruntukannya adalah wanita bersuami dan wanita lanjut usia. Kuluk curak ini adalah bahan pakaian sehari-hari, cara memakainya adalah dengan dililitkan di dada. Bahan kuluk in adalah benang dari kapas dengan variasi warna merah, putih, dan hitam. Ukuran kain ini adalah sekitar 150 x 60 cm. corak kuluk ini berupa garis-garis lurus vertikal dan horizontal yang saling berpotongan sehingga membentuk motif kotak-kotak. Motif kotak-kotak in bermakna perlindungan bagi si pemakainya.

avatar
Widra
Gambar Entri
Kain Cutar
Pakaian Tradisional Pakaian Tradisional
Bengkulu

Kain Cutar merupakan pakaian adat tradisional suku bangsa Serawai di daerah Bengkulu. Kain Cutar ini merupakan pakaian seorang laki-laki dewasa pada siang hari atau pada waktu mengerjakan pekerjaan sehari-hari, ke sawah, ke ladang ataupun kegiatan lainnya. Pasangan kain cutar ini adalah Bebat dimpo sebagai ikat pinggangnya (Lihat Bebat Dimpo). Pakaian ini telah digunakan secara turun-temurun. Kain Cutar ini terbuat dari benang kapas yang diolah sendiri menjadi benang dengan cara tradisional, sampai pada pemberian kain. Kain Cutar digunakan sehari-hari, oleh karena itu motif-motifnya tidak indah yang penting jenis kain cutar ini lebih tahan untuk di bawa bekerja. P ada umumnya, pengrajin tenunan kain cutar hanya dilakukan untuk memenuhi keperluan sendiri. Sekarang kerajinan menenun kain cutar dapat dikatakan sudah langka. Kalaupun masih ada, hanya dilakukan oleh orang yang sudah lanjut usia dan bahannya pun sudah didatangkan dari luar. Kain Cutar berbetuk kain sarung yang ukuran kel...

avatar
Widra
Gambar Entri
Kuluk Deragam
Pakaian Tradisional Pakaian Tradisional
Bengkulu

Kuluk deragam adalah salah satu jenis pakaian adat tradisional daerah Bengkulu. Sekarang ini kuluk deragam boleh dikatakan sudah langka. Istilah "kuluk" dalam bahasa daerah bermakna pakaian penutup dada wanita yang sudah dewasa. Hal ini sesuai dengan fungsi kuluk deragam, yakni pakaian sehari-hari kaum wanita yang digunakan sebagai penutup bagian dada. Sejauh ini belum ada keterangan yang cukup memadai mengenai sejarah pembuatan kain kuluk deragam. Masyarakat setempat menuturkan bahwa kain ini sudah dibuat dan dipakai secara turun temurun. Pembuatannya pun masih menggunakan peralatan tradisional. Setiap anggota masyarakat boleh memakai kain ini tanpa memandang status sosial si pemakainya. Namun umumnya kain kuluk deragam dipakai oleh ibu rumah tangga, atau wanita yang sudah memiliki suami. ahan kuluk deragam adalah benang dari kapas dan ukurannya sekitar 170 x 90 cm. variasi warna kuluk deragam adalah merah, hitam, dan putih. Bentuk kuluk deragam hanya merupakan lembar...

avatar
Widra
Gambar Entri
Cerita Rakyat Sang Piatu
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Bengkulu

Sang Piatu merupakan cerita rakyat dari Bengkulu yang menceritakan seorang anak laki-laki polos dan lugu bernama Sang Piatu yang tinggal di hutan dan jauh dari keramaian kota. Dia tidak mempunyai orang tua lagi sehingga ia tinggal bersama neneknya yang sudah sangat tua. Pada suatu hari neneknya berkata "Hai Sang Piatu nampaknya kau ini sudah besar, maka sudah layak untuk mencari istri. Hanya saja dalam mencari istri, jangan kau cari istri yang banyak bicara, cari ia istri yang pendiam supaya tidak banyak pekerjaan" Mendengar perkataan itu, Sang Piatu menuruti apa kata neneknya dan berkata "kalau demikian, besok pagi-pagi nenek bangun, memasak nasi, memanaskan air, serta masakan sayur sebab aku mau makan pagi" "Baiklah!" jawab neneknya. Keesokan harinya, setelah Piatu makan, segera ia pergi. Dan setelah lama berjalan bertemulah dengan rumah Raja. Di rumah itu banyak orang-orang ramai, Piatu bingung melihat keramaian tersebut dan menanyakan hal itu kepada...

avatar
Widra
Gambar Entri
Kamanippah Leluhur Orang Enggano
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Bengkulu

Hari sangat cerah. Matahari bersinar cukup terik. Laut berkilau biru bening. Butir-butir pasir putih disapa ombak. Suara ombak bersahutan dengan camar laut di udara. Namun, sekelompok orang tidak dapat menikmati keindahan itu. Mereka sibuk menebang pohon nipah, bakau, dan kelapa. Mereka tidak menebang seenaknya. Hanya pohon yang sudah cukup tua dan kuat yang mereka pilih. Pohon-pohon yang telah ditebang dibersihkan pelepah atau rantingnya. Setelah bersih, kayu tersebut diseret beramai-ramai ke pantai. Gelondongan-gelondongan kayu itu mereka ikat jadi satu. Mereka menggunakan tali yang terbuat dari kulit kayu. Sepertinya mereka bermaksud membuat rakit. Rakit yang telah jadi ditumpuk menjadi dua lapis dan disatukan dengan rakit lainnya. Hasilnya adalah sebuah rakit yang sangat besar. Seorang pria berteriak-teriak memberi arahan kepada para pekerja. Tubuhnya tinggi tegap. Kulitnya yang sawo matang memerah terpanggang matahari. Dia adalah ketua rombongan itu. Meskipun seorang pimpina...

avatar
Widra
Gambar Entri
Tabot Bengkulu
Ritual Ritual
Bengkulu

Tabut sebagai Upacara Ritual sekaligus Festival asal Bengkulu 1. Sejarah Singkat Berbagai agama yang masuk ke Nusantara turut menjadi faktor akulturasi dan asimilasi budaya-budaya yang berada di Nusantara kala itu. Salah satunya di wilayah pesisir barat Sumatera, tepatnya Bengkulu. Bengkulu yang kala itu sedang dijajah oleh bangsa Inggris dan juga didatangi oleh orang-orang India asal Siphoy. Mereka datang ke Bengkulu dari Madras-Benggali India bagian selatan. Para pendatang dari India tersebut hidup bersama bangsa Inggris semasa pendudukannya di Bengkulu. Salah satu pendatang yang berasal dari India tersebut adalah seorang Ulama Syiah bernama Syeh Burhanuddin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo. Beliau merupakan pemimpin yang memutuskan untuk menetap dan mendirikan permukiman yang diberi nama Berkas, atau yang sekarang disebut Kelurahan Tengah Padang. Imam Senggolo juga membawa tradisi yang berasal dari asalnya¬¬ Madras dan Bengali. Tradisi berkabung yang d...

avatar
Wahyu Nadin
Gambar Entri
Tradisi Punggahan
Ritual Ritual
Bengkulu

Tradisi Punggahan dilakukan sebagai bentu rasa syuur dan juga sebagai bentuk untuk berkumul bersama masyarakat di seitar tempat tinggal. Nama Punggahan berasal dari kata 'munggah' yang berarti naik. Maka dari itu tradisi Punggahan ini dipercaya mampu menaikkan derajat manusia dalam menghadapi bulan puasa baik itu secara lahir dan batin. Tradisi ini sudah berlangsung sejak jaman dulu menjelang bulan Ramadhan. Sedangkan di Sumatera tradisi ini berlangsung di amlam pertama Ramadhan. Dalam penyelenggaraannya pun berbeda. Di Labuhanbatu Utara, tradisi Punggahan dilakukan dengan mengadalan makan bersama dengan seluruh warga kampung. Masyarakat desa akan membawa makanan masing-masing dan berkumpul di masjid yang berada di kampung itu. Setelah itu masyarakat akan duduk bersama sebagai bentuk mempererat tali silahturahmi, saling memaafkan dan membersihkan hati kepada tetangga dan sesama. Sedangkan di Batubara, tradisi Punggahan dilakukan dengan memotong hewan ternak seperti kerbau atau lemb...

avatar
Widra
Gambar Entri
Tradisi Berdindang
Ritual Ritual
Bengkulu

Bedindang Dalam Tradisi Pengantin Bepacak Pada Masyarakat Bintuhan yaitu kesenian yang akan mengiringi calon pengantin selama tradisi beinai, dalam adat Kaur disebut pengantin bepacak yang di laksankan pada Malam hari menjelang hari pernikahan (ijab kabul). Bedindang adalah proses berpantun dengan iringan gendang dan biola. Bedindang pada tradisi pengantin bepacak masyarakat Bintuhan melibatkan Ketua Kerja sebagai pemandu acara pengantin bepacak. Jenang sebagai pemandu acara bedindang, calon pengantin yang akan melakukan tradisi pengantin bepacak, Kepala Desa sebagai pemangku adat, penonton, serta pelaku bedindang yaitu, tukang biola, tukang gendang, tukang pantun, dan penari. sumber: Budayasayo

avatar
Widra
Gambar Entri
Nam Min Mdai Maen Unen
Ritual Ritual
Bengkulu

Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun menurut yang terjadi di daerah yang penduduknya suku rejang. Warisan budaya ini biasanya dilaksanakan pada saat syukuran kelahiran anak bayi untuk diberitahukan kepada tetangga dan lingkungan sekitar. Tradisi ini dilaksanakan setelah anak berusia 40 hari dengan menunjukkan anak bisa mandi ke luar/sungai. sumber: budayasayo

avatar
Widra