Suami-isteri Seuk Lilin Morin dan Meli Eki mempunyai dua orang putera yang sulung bernama Meli Eki Kawaik dan yang bungsu bernama Meli Eki Kiik. Keduanya tidak mempunyai saudara perempuan. Itulah sebabnya mereka ingin merantau untuk mencari seorang gadis yang kelak kemudian akan dijadikan isterinya. Untuk maksud itu ke duanya harus meninggalkan orang tuanya menuju ketempat perantauan yang bagi mereka sendiri belum jelas dimana. Dalam perjalanannya itu, tibalah mereka di suatu tempat yang disebut Rai Husar. Di tempat ini Meli Eki mengetuk dengan ujung jari kakinya maka tiba-tiba terbukalah Raik Husar itu. Ternyata di tempat yang terbuka itu, terdapat sebuah keranjang. Tali keranjang itu besar lagi panjang, sementara itu Rai Husar yang terbuka itu, sangat dalam sehingga sulit dijangkau tanpa bantuan sesuatu alat untuk mencapai dasarnya. Setelah melihat alat tersebut maka Mane Ikun atau Meli Eki Kiik mengambilnya dan diserahkan kepada kakaknya Mane Ulun atau Meli Eki Kawaik, sambil...
Konon pada jaman dahulu kala hiduplah seorang laki-laki bersama saudara perempuannya di Lahasbaluk. Laki-laki itu bernama Pati Olo Arakian, biasa disingkat dengan Pati Golo. Sedang saudaranya bernama Buikena Puawadan, biasa dipangil Bikema. Pati Golo adalah seorang pertana. Di sekitar tempat tinggal mereka banyak tumbuh pohon lontar. Oleh sebab itu Pati Golo ingin sekali menyadap untuk mengambil niranya. Untuk maksud itulah Pati Golo perhi ke hutan memotong beberapa batang bambu. Bambu-bambu tersebut sebagian diikat pada batang pohon lontar sebagian lagi dipergunakan untuk menampung niranya. Gunanya bambu untuk bercabang itu diikat pada pohon pada pohon lontar agar ia lebih mudah memanjatnya. Penduduk yang menyebutnya ekeng. Setelah selesai, pati Golo kemudian memanjat untuk menjepit mayangn ya. Alat yang dipergunakan untuk menjepit mayangnya terbuat dari dua bilah kayu yang terikat rapat pada salah satu ujungnya. Penduduk menyebutkannya mona. Maksud menjepit mayang-...
Siti Pol Mage Lio adalah nama sebuah desa di daerah Kabupaten Ende Lio. Di sana hiduplah seorang ibu dan seorang bapak. Si ibu bernama Ose Lango Ladju Burak, sedang si ayah bernama Pati Lae. Kedua suami-isteri mempunyai 8 (delapan) orang anak yang terdiri dari 7 (tujuh) orang putera dan seorang puteri. Nama ke tujuh putera tersebut masing-masing adalah Lalaku Lalo deng, Bala Karung, Kasarua Maring Badjo, Eko Kaen, Wewe Ame, Mabu Kaeng, dan Jawa Ama; Si wanita bernama Tonu Nogo Gunung Wudjo Ema. yang biasa disingkatkan menjadi Nogo Ema atau Nogo Gunug atau Tonu Wudjo. Pada masa itu orang belum mengenal makanan pokok seperti padi dan jagung. Makanan pokok mereka pada waktu itu ialah batu dan buah-buah. Minuman mereka adalah air yang berlumpur. Ketika Nogo Ema atau Nogo Gunung telah dewasa maka oleh saudara-saudaranya ia hendak ditukarkan dengan gading dan kambing. Ini berarti ia harus dibawa dan dijual kepada penduduk di pedalaman Lio. Cara semacam ini menurut istilah Lamaholot di...
Dalam sebuah kampung yang bernama We-Kto-Talaka tumbuhlah sebuah pohon beringin besar tepat di depan istana dari raja Malaka. Daunnya sangat rindang. Pohon beringin itu biasa disebut dengan nama Hali Malaka. Suatu ketika hinggaplah seekor ayam betina pada salah satu cabang beringin itu. Ayam betina itu dikirim oleh Nai Maromak atau Yang Mahakuasa ke dunia ini. Bertepatan pula pada waktu itu raja sedang berjalan-jalan menghirup udara segar di bawah pohon beringin tersebut. Setelah dilihatnya ayam betina itu, raja Malaka langsung mengambil sumptnya untuk menyumpit ayam betina itu. Sementara raja mencari-cari tempat yang cukup baik untuk menyumpitnya, tiba-tiba raja mendengar suatu suara yang mengatakan: "Hai tuan raja Malaka, janganlah engkau membunuh saya dengan sumpitmu, sebaiknya marilah kita mengadakan perundingan lebih dahulu." Kemudian ayam betina itu menruskan pembicaraannya demikian. "Tuan raja jangan memubunh saya, oleh karena saya ini adalah utusan dari Yang Mahakuasa da...
Ela Ma khusus dilakukan ketika ada orangtua yang meninggal. Saat itu ketua suku akan membunyikan gong sebagai pengumuman bahwa ada yang telah meninggal. Anak laki-laki sulung atau yang menggantikannya kemudian akan pergi kepada paman mereka untuk meminta barang berupa kain pembungkus jenazah, hewan kurban, padi-padian dan berbagai macam makanan. Barangbarang yang diminta tersebut kemudian akan dipakai untuk acara pemakaman. Hewan kurban disembelih dan dimasak untuk disuguhkan pada acara setelahnya beserta makanan lain yang diminta. Keluarga dan para tetangga kemudian akan melaksanakan acara tumbuk padi dengan menyanyikan lagu-lagu ritual. Setelah pemakaman, anak laki-laki sulung bersama rombongan kemudian pergi kembali ke paman mereka, dan mengantarkan bagian dari salah satu hewan yang disembelih, satu buah bakul padi, alat memasak yang dipakai pada acara tersebut. Makna yang terkandung dalam upacara ini adalah untuk mempersiapkan anak laki-laki sulung untuk menggantikan orang t...
Vera merupakan salah satu jenis tradisi lisan yang terdapat dalam masyarakat Rongga di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini merupakan bagian dari ritual yang dilakukan selama musim tanam dan harus dipertunjukkan di rumah adat. Selain itu, tradisi ini juga dilakukan sebagai bagian dari ritual penguburan, ketika ada bayi kembar beda jenis kelamin lahir, ketika gigi anak kecil jatuh pertama kali, dan pada upacara pemulihan nama. Vera dalam bahasa Rongga diyakini berasal dari kata “Pera”, yang berarti wasiat leluhur. Pesan-pesan dan ajaran leluhur disampaikan dalam vera untuk diterapkan dalam kehidupan dari generasi ke generasi. Vera adalah pertunjukan tradisional yang dibawakan oleh penari dewasa, baik lelaki maupun perempuan, dalam bentuk dua baris dengan seorang pemimpin tarian. Penari perempuan disebut daghe, yang berdiri di barisan depan dan penari laki-laki disebut woghu yang berdiri di belakang daghe. Seorang lelaki memimpin para penari yang...
Anak Kambing Saya Mana dimana anak kambing saya Anak kambing tuan ada di pohon waru Mana dimana jantung hati saya Jantung hati tuan ada di kampung baru Caca marica he hei Caca marica he hei Caca marica ada di kampung baru Caca marica he hey Caca marica he hey Caca marica ada di kampung baru http://liriknusantara.blogspot.com/2012/08/anak-kambing-saya.html
Sulit selaki untuk memahami kepercayaan orang Donggo (Sumbawa Timur), karena mereka begitu tertutup dan amat takut untuk memberi penjelasan mengenai apa yang mereka yakini. Hal ini tentu disebabkan karena banyak peristiwa agama telah berusaha untuk menanamkan pengaruhnya, terutama peristiwa 1969, peristiwa 1974, peritiwa 1979, belum lagi peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahan Belanda. Tulisan-tulisan tentang kepercayaan orang Donggo tidak cukup jelas, bahkan kadang-kadang tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan. Misalnya J. Elbert (1912: hlm. 69) mencatat bahwa yang menjadi ncuhi hanya dari keturunan duna (belut), sedang P. Arndt (1952) mencatat bahwa dou deke (tokok) yang berhak menjadi ncuhi. Baik Elbert dan Arndt mencatat bahwa pada masa itu hanya terdapat 5 buah klen patrilineal yang exogam, sedang masyarakat sekarang mengenal lebih dari 13 buah klen. Jadi walaupun merek seolah-olah tidak berkembang dan tidak menjalankan kepercayaannya lagi, secara...
Berbicara mengenai upacara daur hidup, maka banyak daerah yang dapat dijadikan referensi karena populernya upacara tersebut. Misalnya upacara pernikahan adat jawa, sunda, betawi, dan lain-lain. Pulau Timor atau dataran Timor (NTT) sebenarnya memiliki upacara daur kehiduapan seperti masyarakat adat lainnya. Misalnya pada masyarakat Dawan atau Atoni atau Boti. Dalam perkembangnannya, masuknya agama Kristen turut memengaruhi tata cara upacara terutama untuk suku Boti yang tinggal di daerah pesisir atau yang disebut Boti luar. Hal ini diterangkan dalam buku Laporan Hasil Kajian Upacara Siklus Kehidupan Masyarakat Suku Boti- Kabupaten TTS yang diterbitkan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Arkeologi, Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebutkan, tidak semua warga Suku Boti melaksanakan berbagai upacara tersebut, hanya sebagian kecil saja yang masih melaksanakan upacara peninggalan leluhur terse...