Konon pada jaman dahulu kala hiduplah seorang laki-laki bersama saudara perempuannya di Lahasbaluk. Laki-laki itu bernama Pati Olo Arakian, biasa disingkat dengan Pati Golo. Sedang saudaranya bernama Buikena Puawadan, biasa dipangil Bikema. Pati Golo adalah seorang pertana. Di sekitar tempat tinggal mereka banyak tumbuh pohon lontar. Oleh sebab itu Pati Golo ingin sekali menyadap untuk mengambil niranya. Untuk maksud itulah Pati Golo perhi ke hutan memotong beberapa batang bambu. Bambu-bambu tersebut sebagian diikat pada batang pohon lontar sebagian lagi dipergunakan untuk menampung niranya.
Gunanya bambu untuk bercabang itu diikat pada pohon pada pohon lontar agar ia lebih mudah memanjatnya. Penduduk yang menyebutnya ekeng. Setelah selesai, pati Golo kemudian memanjat untuk menjepit mayangn ya. Alat yang dipergunakan untuk menjepit mayangnya terbuat dari dua bilah kayu yang terikat rapat pada salah satu ujungnya. Penduduk menyebutkannya mona. Maksud menjepit mayang-mayang tersebut ialah agar mayang-mayang tersebut menjadi lembek pori-porinya membesar sehingga dengan mudah dapat meneteskan nira yang banyak. Setelah dijepit mayang-mayang itu lalu diikat mengiris ujung-ujung mayang itu dengan pisau yang tajam. Pisau pengiris ujung mayang inioleh penduduk di sebut mere. Setelah ujung-ujung mayang itu selesai diiris lalu dibungkusnya dengan daun lontar kemudian diikatnya. Pada ujung-ujung bungkusan diikat beberapa alat penampung nira dari bambu. Penduduk menyebutnya mentok. Setelah semua persiapan selesai dikerjakan maka hari-hari selanjutnya Pati Golo hanya tinggal pergi mengamil niranya untuk diminum bersama saudaranya.
Demikianlah tiap-tiap pagi dan petang Pati Golo pergi menyadap lontarnya. Tempat untuk mengisi nira tersebut dari bambu betung atau bambu yang besar. Penduduk di Flores Timur menyebutnya nawing. Akan tetapi pada suatu pagi ketika Pati Golo pergi mengambil nira, ia sangat terkejut karena nira yang tertampung di dalam bambu -bambu itu berkurang sehingga tidak cukup untuk diminum oleh keduanya. Keadaan demikian berlangsung sampai beberapa hari. Suatu pagi ketika Pati Golo kembali, Buikena sedang menenun. Sewaktu Buikena mengetahui bahwa Pati Golo kembali dengan tidak membawa nira sebagaimana biasanya langsung diambilnya hurit dan dipukul tepat di kepala Pati Golo sehingga pecah. Darah mengalir dari kepalanya. Pati Golo sendiri tidak mengadakan reaksi apa-apa hanya diam seribu bahasa. Ia hanya duduk termenung sambil bertanya dalam hatinya: "Mengapa nira yang diambil waktu pagi menjadi berkurang, pada hal petang hari nira tersebut tetap saja seperti sedia kala. Apakah pada waktu malam ada orang yang telah datang mencurinya?" atau?" Untukmnejawab persoalan ini, maka ia bermaksud sore nanti setelah mengambil nira maka ia akan kembali lagi memanjati pohon lontar tersebut untuk menunggu siapa yang sebenarnya telah datang pada waktu malam hari untuk mengambil niranya. Demikianlah Pati Golo menjelang magrib pergi memanjat lagi pohon lontar yang disadapnya itu tanpa memberitahukan kepada Buikena. Hingga jauh malam ia menunggu tetapi belum juga terjadi sesuatu apa.
Tiba-tiba terbanglah dari arah selatan seekor kelelewar raksasa bagaikan angin ribut. Kelelewar tersebut hinggap dia ats pohon lontar di mana Pati Golo berada. Tanpa peduli, kelelewar itu terus membungkus Pati Golo dan dibawanya terbang. Pati Golo tidak tahu sama sekali ke arah mana ia diterbangkan, apalagi malam begitu pekat. Keesokan paginya ia baru sadar bahwa dirinya berada di atas pohon pisang yang sedang masak buahnya. Pisang itu tumbuh di dalam sebuah kebun milik seorang nenek yang biasa dipanggil dengan nama julukan Wae Belek. Karena laparnya ia lalu memetik beberapa buah pisang untuk dimakannya. Demikialah setiap hari Pati Golo memenfaatkan buah-buah pisang itu sebagai makanannya.
Pada suatu pagi, Wae Belek berjalan-jalan di kebun untuk memeriksa tanamannya. Ketika ia tiba di bawah pohon pisang dimana Pati Golo berada, ia sangat terkejut karena dilihatnya kulit-kulit pisang yang sudah masak bertebaran di atas tanah. Ketika ia menoleh ke atas terlihat olehnya Pati Golo. Wae Belek kemudian memintanya agar ia mau turun dari atas pohon pisang tersebut. Ia pun segera turun. Setelah Pati Golo memperkenalkan namanya sambil menjelaskan latar belakang mengapa ia sampai di sini, Wae Belek lalu mengajak Pati Golo untuk tinggal bersamanya.Wae Belek lebih lanjut menjelaskan bahwa tempat atau daerah ini adalah pulau Timor. Sejak saat itu Pati Golo tinggal bersama Wae Belek di pondoknya.
Kebetulan ketika Pati Golo diterbangkan oleh kelelewar ketika itu ia juga membawa serta pisau pengiris mayang yang sarungnya terbuat dari kayu cendana. Setiap petang menjelang magrib, Pati Golo mengikis kayu cendana dengan pisau untuk diambil sebuknya kemudian dibakar sebagai dupa guna mengusir roh-roh halus dan jahat yang mengganggu mereka. Bau harum dari dupa kayu cendana ini tersebar kemana-mana sehingga akhirnya tercium oleh seorang raja yang tinggal di negeri itu. Raja tertarik akan bau kayu cendana yang dibakar itu. Oleh karena itu maka ia kemudian memerintahkan seluruh rakyatnya untuk mencari dari mana asal mulanya bau harum itu. Akhirnya raja mendapat laporan dari rakyatnya bahwa bau harum itu berasal dari kayu cendana yang dibakar oleh Pati Golo. Raja kemudian meminta Wae Belek agar Payi Golo dapat tinggal bersamanya di istana. Wae Belek mengabulakannya. Sejak saat itu Pati Golo tinggal bersama raja di istana.
Karena setiap petang menjelang magrib Pati Golo mengikis sarung pisaunya untuk dibakar sebagai dupa, maka lama kelamaan sarung pisau tersebut habislah. Suatu ketika raja bertanya pada Pati Goli: "Mengapa kau tidak lagi membakar cendananya?" Pati Golo menjawab; "Kayu itu sudah habis terpakai. Mendengar ini raja kemudian memerintahkan kepada Pati Golo untuk pergi memncari kayu cendana itu dimana saja. Pati Golo lalu memohon kepada raja agar dapat menyediakan baginya sebuah perahu besar beserta awaknya agar dapat berlayar ke tanah seberang untuk menczri kayu cendana. Raja setju dengan anjuran Pati Goli. Setelah perahu itu selesai dibuat, Pati Golo mulai mempersiapkan perlengkapan yang perlu guna mengadakan pelayaran. Setelah semua perlengkapan siap, Pati Golo beserta awak perahunya berlayar menuju tanah seberang untuk mencari kayu cendana. Setelah berlayar kurang lebih tiga minggu, maka tibalah mereka di Wailebe atau Pulau Adonara.Sedang mereka berlabuh, tiba-tiba Pati Golo melihat di atas gunung Mandiri cahaya api yang gemerlapan. Cahaya apai itu berasal dari tiga tempat.
Pertama berasal dari Wato Wela Dole, kedua berasal dari Lahabaluk, dan yang ketiga berasal dari Likat Lama boting. Tertarik akan adanya cahaya di atas gunung itu, maka Pati Golo segera memerintahkan awak perahunbya untuk berlayar menuju pulau Flores ke arah utara, dengan maksud untuk mengetahui siapakah sebenarnya mereka yang menghuni tempat-tempat tersebut.
Akhirnya mereka berlabuh pada suatu tempat bernama Wera Lama Hodung Sia Tana Garang. Sedang perahu berlabuh Pati Golo berkesempatan mencari ikan dengan memakai anak panah. Akan tetapi timbul suatu keajaiban karena ikan-ikan yang dipanah Pati Golo saat itu semuanya berubah bentuk menjadi binantang berupa kambing, babi dan lain-lain sebagainya. Melihat hal itu Pati Golo menjadi sangat ketakutan sehingga ia memerintahkan perahunya meninggalkan tempat yang angker itu. Mereka berlayar ke arah Barat, dengan menyusur pantai. Kemudian berlabuhlah mereka pada suatu tempat yang bernama Wato Krong. Ketika mereka tiba ditempat tersebut, hari sudah mulai pagi. Pati Golo memerintahkan untuk melabuhkan perahu mereka. Sesudah perahu dilabuhkan, Pati Golo lalu turun ke darat. Ia bermaksud untuk mencari keterangan siapakan sebenarnya yangmenghuni tempat-tempat dimana nyala api berada. Dengan membawa sedikit persiapan berupa bekal seperti dan beberapa potong pakaian maka berjalanlah ia masuk hutan seorang diri. Ketika ia tiba di Likat Lamabeting, tempat nyala api itu berasal, tidak ditemuinya penghuni tempat tersebut. Dari Likat Lamabeting ia berjalan ke arah ke timur menerobos hutan.Akhirnya tibalah Pati Golo pada tempat yang bernama Wato Wela Dole. Di tempat ini dilihatnya di bawah pohon Kepuka sebuah tungku tetapi apinya sudah padam sedang penghuninya sedang tiada. Ia mempunyai firasat yang tajam bahwa penghuni tempat tersebut pasti tidak lama lagi akan kembali. Oleh karena itu untuk menghindarkan diri dari bahaya yang akan dihadapinya nanti, ia lalu memanjat pohon Bukaliptus untuk menyembunyikan diri. Ketika itu hari sudah mulai sore sedang ia duduk berjaga, terdengarlah gemuruh yang sangat menakutkan.Dilihatnya seorang yang besar lagi kekar, badannya berbulu panjang mirip orang hutan tengah memikul dan menjinjing hasil buruannya. Hasil buruannya terdiri dari babi, rusa, landak, tikus bengkarung, ular dan lain-lain Pemburu ini tanpa istirahat lalu menghidupkan api guna membakar binatang buruannya dengan jalan menggosok-gosok dua belahan bambu. Lama ia menggosok tetapi api tak kunjung hidup. Ia menjadi buas dan garang karena perutnya sudah lapar sekali. Ia menjadi bingung karena baru terjadi bahwa bambu yang digosok-gosoknya kali ini tidak menghasilkan api.
Ia kemudian berdirimelayangkan pendangannya ke sekeliling. Tiba-tiba terlihat olehnya Pati Golo di atas pohon Eukaliptus. Ia menuduh bahwa Pati Golo yang telah menyihir apinya sehingga tidak menyala, dan berkata, Mo pai ahik ape, mo pita leang lera. Openeape goen hemo hala, opene lera goen hidik gere kurang. Pemburu tadi memanggil Pati Golo supaya turun dari tempat persembunyiannya. Tetapi sebelum turun Pati Golo masih meminta agar pemburu tersebut lebih dahulu membuang jenis-jenis bintang yang haram bagi manusia seperti ular, tikus, bengkarung. Permintaan Pati Golo dikabulkannya. Sesudah itu Pati Golo turun dari pohon Eukaliptus. Pati Golo kemudian menghidupkan api sendiri dengan batu api yang dibawanya dari Pulau Timor. Setelah api dihidupkan ke duanya mulai membakar binatang buruan tadi. Setelah membakar keduanya mulai bersantap bersama-sama. Pati Golo mengeluarkan bekalnya berupa ketupat dan sebotol arak. Akhirnya Pati Golo mengetahui bahwa nama pemburu itu ialah Wato Wela. Pada waktu minum, Wato Wela disuguhkan lebih banyak. Akibatnya ia menjadi mabuk dan tidak sadarkan diri lagi. Kesempatan ini digunakan Pati Golo sebaik-baiknya. Ia mulai mencukur bulu-bulu pada badan Wato Wela dan memotong kukunya yang panjang, dan pada bagian-bagian yang terlarang tidak dicukurnya. Setelah selesai mencukur, Pati Golo sangat terkejut karena makhluk yang dihadapinya itu adalah seorang wanita. Kemudian Pati Golo mengenakan sarung kepada Wato Wela. Tiba-tiba pemburu itu sadar kembali dari tidurnya dan ia menjadi sangat marah. Ia menuduh bahwa Pati Golo telah menelanjanginya. Walaupun demikian pemburu itu tidak berbuat apa-apa karena kesaktiannya telah hilang. Berkat bujukan Pati Golo keadaan dapat dipulihkan kembali.
Kemudian Pati Golo mengawininya. Dari perkawinan ini lahirlah 3(tiga) orang anak. Anak yang pertama bernama Kudi Helen Bala, yang kedua bernama Padu Ile Pook Wolo, dan yang bungsu bernama Laha Lapang Doro Duli.
Pada suatu hari Pati Golo mengajak Wato Wela dan dua orang anaknya pergi mencari ikan di pantai.Sebelum berangkat, mereka lebih dahulu singgah di Lahabaluk. Di tempat ini tinggallah seorang wanita bernama Buikena Arawadan. Buikena Arawadan mengajak mereka tinggal bersama di situ. Pati Golo sendiri sudah lupa sama sekali bahwa wanita itu adalah saudaranya. Demikian sebaliknya, Buikena Arawadan tidak menyangka bahwa Pati Golo adalah saudara kandungnya. Pada suatu ketika Pati Golo meminta kepada Buikena Arawadan mencuci rambutnya dengan santan kelapa. Pada waktu Buikena Arawadan mencuci rambut dan mencari kutu, terlihat olehnya bekas luka pada kepala Pati Golo. Buikena Arawadan kemudian menanyakan tentang bekas luka yang terdapat di kepala Pati Golo. Pati Golo lalu menceriterakan apa yang telah terjadi atas dirinya pada waktu yang lampau. Setelah selesai berceritera Buikena Arawadan lalu memeluk Pati Golo dan menangis karena mengetahui bahwa Pati Golo adalah saudara kandungnya sendiri. Lalu Pati Golo memmbawa mereka pergi untuk tinggal bersama-sama di Wato Wela Dole bersama keluarganya di sana.
Ketika ke tiga anaknya sudah dewasa, maka Pati Golo dan Wato Wela membagikan kepada mereka bertiga warisan di sekitar gunung Mandiri. Dari hasil pembagian warisan ini, anak sulung yang bernama Kudi Lelan Bala mendapat tanah di kampung lama yakni daerah di sebelah utara desa Waibalun sekarang ini, dan ia menjadi tuan tanah di tempat itu. Putera yang kedua yakni Padu Ile Pook Wolo mendapat tanah di Wato Wela Dole. Tempat ini berada disebelah utara desa Lewerang dan ia menjadi tuan tanah di tempat itu. Putera bungsu yang bernama Laha Lapang Doro memperoleh tanah di Lahabaluk.
Dari ketiga bersaudara ini, yang paling menonjol ialah Padu Ile Pook Wolo. Karena itu ketika Belanda menjajah Indonesia, di Larantuka Belanda megangkat Padu Ile Pook Wolo menjadi raja dan menurunkan keturunannya, termasuk bekas raja Larantuka sekarang ini. Sedang kakak dan adiknya tetap menjadi tuan tanah di tempatnya masing-masing.
sumber:
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...