1
2.552 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Dhandhanggula, Bagian V Serat Panitisastra
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Dhandhanggula   (1)  Sampun sampat neg manusya sami, barang katon sanepa sadaya, saniskara surahsane, sayogyanya  sang wiku , awan esah denya mabeki, den kukuh tapabrata, nira supayantuk, pakoleh mulyaken praja, lamun tuhu pangestuning  para resi , praja anut raharja.   (3)marang wadyatantranta sakyehing, miwah sekul ulam den aumrah, palane kedhep niitine, saparentahe  tinut , ajrihira pan ajrih asih, kukuh  prajane  karta, tekeng tepis dhusun, kawengan dana  sang nata , lau mungguh ing wanudya yen alaki, olehe anak lanang. (cuplikan tembang dhandhanggula bait 1 dan 3)   Artinya :   (1) sudah tersedia untuk semua manusia, semua yang terlihat hanyalah sebuah perumpamaan, semua artinya, bagaimana seharusnya sang pendeta pertapa, jangan mengeluh jika ingin berbakti, bertapa bratalah dengan kukuh, supaya mendapat apa yang kamu inginkan, mendapatkan kemulyaan dari rakyat, dan mendapatkan res...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Serat Panitisastra
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Serat panitisastra yaitu salah satu sastra piwulang  yang sebenarnya serat Nitisastra yang menggunakan bahasa Djarwa. Serat ini ketika tahun 1725 (1789M) dari bahasa Kawi disalin ke dalam bahasa Kawi-miring. Kemudian tahun 1735 (1808M),kemdian disusul kitab berbahasa Kawi-Djarwa. Setelah tahun 1746 (1819M),diubah ke dalam bahasa prosa oleh Raden Pandji Puspawilaga. Dibuat pada tahun 1843 pada zaman pemerintahan Sri Susuhunan P.B.VII.   Serat ini diedarkan di Surakarta,pada bait pertama tembang dhandhanggula menunjukkan asal muasalnya serat ini,yang berbunyi:   Makritya ring agnya narpasiwi,nular pralampitaning Sang Wusman,Ing  Surakarta wedhare, tata tri gora ratu ,Ri sangkala witning winarti, Nitisastra  inaran,winarnaeng kidung,kadi kadanging sarjawa,limaksana sasananing kang janmadi,adi yang kadriyana.   Yang artinya: akan mengerjakan perintah raja putra,meniru lambang-lambang sang wusman, di  Surakarta  terbabarny...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Serat Wulang Dalem
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Serat Wulang Dalem merupakan serat yang digubah oleh Paku Buwono (PB) IV, Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Serat ini menggunakan huruf Jawa, dan pernah diterbitkan oleh Penerbit Jonasportir di Surakarta pada tahun 1876.   Serat ini berisi ajaran PB IV kepada anak cucunya, tentang keselamatan, kesejahteraan dunia, dan akhirat. Nasihat tersebut antara lain: dalam bertindak harus ada tujuan, berbicara seperlunya, mempunyai tata karma, rukun dengan teman dan keluarga, harus beragama, tidak sombong, tidak lalai. Jangan lupa menjalankan perintah Tuhan, karena hidup di dunia ini adalah kehendak-Nya. Jika berbuat kesalahan, hendaknya cepat bertaubat. Waktu masih muda jangan lupa mengaji. Tuntutlah ilmu sejauh mungkin. Jika menjadi pemimpin jangan semena-mena terhadap bawahan.   Serat ini juga menekankan ajaran hidup yang utama, seperti mengaji, menjalankan perintah Tuhan, dan meninggalkan larangan-Nya. Mengaji adalah perbuatan terpuji. Jika mengaji tentu ada h...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Serat Cemporet
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Karya besar pujangga Ranggawarsita memang banyak yang terkenal. Selain memiliki bobot yang berkualitas, kata-kata sastrawinya juga selaras dengan perkembangan zaman. Karya Ranggawarsita yang terkenal, antara lain: Jaka Lodhang, Pustaka Raja Purwa, Sabda Jati dan Hidayat Jati. Selain itu, ada juga Serat Cemporet.   Serat Cemporet lebih terkenal lantaran digubah memakai bahasa Jawa yang indah. Zaman dahulu, sebelum Jepang menjajah Indonesia, buku tersebut digemari banyak orang untuk bacaan, khususnya yang senang melantunkan  macapat . Namun demikian, juga tidak sedikit orang yang mencela kitab tersebut lantaran bahasa yang digunakan terlalu halus (bahasa sastrawi tinggi). Obrolan orang desa yang memakai bahasa tadi dianggap terlalu tinggi, sehingga terkesan dibuat-buat. Kesan itu pernah ditulis oleh Prof. Dr. R. Ng Purbacaraka dalam bukunya “ Kepustakaan Jawa ”. Tapi banyak juga orang yang setuju dengan pendapat tersebut karena karya sastra itu mempun...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Serat Kalatidha
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Serat Kalatidha atau Kalatidha saja adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.   Latar belakang Kalatidha bukanlah karya Rangga Warsita yang terpanjang. Syair ini hanya terdiri dari 12 bait dalam metrum Sinom. Kala tidha secara harafiah artinya adalah “zaman gila” atau zaman édan seperti ditulis oleh Rangga Warsita sendiri. Konon Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. Saat itu Rangga Warsita merupakan pujangga kerajaan di Keraton Kasunanan Surakarta. Ia adalah pujangg...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Serat Rama
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Judul : Serat Rama Letak : Pustaka Artati, Perpustakaan Pusat Universitas Sanata Dharma, Mrican, Gejayan, Yogyakarta Nomor klasifikasi : 899. 222 2 Jas S C.1 Dikarang oleh : R. Ng. Yasadipura Pembuka oleh : J. Kats Dalam satu jilidan terdapat dua bundel naskah: jilid I dan II Aksara : Latin berbahasa Jawa ejaan lama. Iluminasi : tidak ada. Hanya terdapat foto-foto yang dicetak hitam putih. Isi : ringkasan singkat mengenai Kakawin Ramayana karangan Valmiki, foto-foto relief Ramayana yang terdapat di Candi Prambanan dan Candi Panataran, Serat Rama dan uraian isinya secara singkat.   Sumber: https://firaflies.wordpress.com/2015/10/31/serat-rama/ Sumber foto: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1558#prettyPhoto

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Serat Warna-Warni
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Naskah yang juga berjudul Islamitisch Godsdients ini terdiri atas enam teks. Enam teks tersebut berjudul Serat Kaliamah Kalih, Suluk Aceh, Serat Mukarannah, Serat Wirit-wiritipun Para Wali, Primbon Donga Anebihaken Sakit Sambang, dan Primbon Donga Anyalataken Mayit.   Naskah yang disalin R. Panji Suryawijaya di Batavia antara tahun 1862-1864 ini berbahan kertas Eropa berjumlah 145 halaman berukuran 16,3 x 19,1 cm. Ditulis miring ke kanan dalam bentuk macapat menggunakan tinta cair warna hitam dengan aksara dan bahasa Jawa. Teks masih dapat dibaca dengan baik, ditulis di dalam ruang tulis yang berukuran 12,5 cm hurufnya berukuran 0,7 cm dengan jarak spasi 0,2 cm sebanyak 15 baris per halaman dan terdapat beberapa halaman kosong. Pemilik asal naskah ini yaitu A.B. Cohen Stuart, naskah diserahan kepada Bataviaasch Genootschap sebagai koleksi titipan Cohen Stuart. Sekarang tersimpan dan terawat dengan baik di Perpusnas, dengan nomor naskah Cs 19 dan nomor roll film...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Asmarasupi
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Asmarasupi merupakan judul naskah ini. Bertemakan folklor yang diperkirakan disalin pada 1890 dengan kode naskah BR 51. Awalnya, naskah ini berada di tangan J.F. Kramer (diketahui dari tandatangan yang ditemukan pada halaman awal naskah) diperoleh dari koleksi Dr. Brandes. Sekarang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI dengan nomer Rol 38.01. Naskah ini mengisahkan perjalanan Raden Asmarasupi (Jayengtilam), putra angkat Kyai Pengulu. Ia diperintahkan untuk mencari obat bagi putri di Ngesam yang bernama Retna Purbaningsih. Dalam perjalanannya, Asmarasupi sering bertemu dengan pandhita (pertapa) sebagai penunjuk jalan hingga akhirnya dapat ditemukan obat tersebut dan damailah negeri Ngesam yang diperintah oleh Jenal Ngalim.   Naskah terlihat kotor, pada beberapa halaman terdapat bekas jari (2 sidik jari). Secara keseluruhan naskah ini berjumlah 320 halaman, namun terdapat 3 halaman kosong. Penulisan naskah Asmarasupi menggunakan aksara Jawa dengan balutan tinta b...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Babad Balambangan
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Naskah ini disalin Brandes pada 1894, isi naskah ini dari naskah-naskah Babad Bamblangan versi prosa 1. Naskah dilengkapi terjemahan yang disunting oleh Tuti Munawar pada 10 Oktober 1974 dan diterbitkan oleh Pusnas. Terdapat dua stempel kepemilikan dari Tjoa Liang Gie, Bandowoso, Java dan; Batavia Genootschap. Jilid dan lem sudah mulai rusak. Naskah bertema sejarah ini ditulis dalam bentuk prosa, berbahankan kertas Eropa bergaris berjumlah 18 halaman berukuran 20,8 x 33,1 cm. Teks masih dapat dibaca dengan baik, ditulis miring di dalam ruang tulis yang berukuran 20,4 cm menggunakan pena warna hitam dengan aksara dan bahasa Jawa, ukuran hurufnya yaitu 0,4 cm dan jarak spasi 0,2 cm sebanyak 40 baris per halaman. Pemerolehan naskah ini tidak dijelaskan lebih jauh, hanya disebutkan bahwa pemilik asal naskah ini yaitu Tjoa Liang Gie. Sekarang naskah tersimpan dan terawat dengan baik di Perpusnas dengan nomor naskah KBG 337, dengan nomor roll film 160.02. Tentang naskah ini dapat dilihat...

avatar
Arum Tunjung