bali
2.207 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
3 - Pura Batu Klotok
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Bali

Pura Batu Klotok ini termasuk dalam Pura Kahyangan Jagat yang terdapat di Bali. Pura ini kerap kali dijadikan sebagai tempat pemujaan Ida Bhatara Brahma atau Pesanggarahan Ida Betara Besakih. Pura ini juga oleh masyarakat setempat difungsikan sebagai tempat memohon keselamatan supaya tanah pertanian menjadi subur, makmur, gemah ripah lohjinawi.   Apa menariknya Pura Batu Klotok? Selain tempatnya sakral, pura ini dikelilingi oleh panorama alam yang menakjubkan. Alam pesisir pantai yang begitu memesona dengan latar belakang pesawahan dan Gunung Agung yang tampak dari kejauhan menjadikan Pura Batu Klotok ini semakin lengkap dan sulit untuk tak masuk daftar kunjungan Anda ketika di Bali. Dari pura ini juga pengunjung dipastikan dapat melihat keindahan gugusan Pulau Nusa Penida yang terletak tak begitu jauh dari Batu klotok. Waktu yang paling ramai di pura ini adalah ketika datangnya bulan purnama dan menjelang Tahun Baru Saka dimana banyak Umat Hindu yang datang dengan tuju...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
3 - Pura Alas Kedaton
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Bali

Alas Kedaton adalah tempat wisata yang cukup ternama di Pulau Bali yang memiliki ciri khas hutannya yang lebat dan asri, serta didiami berbagai macam satwa-satwa yang menggemaskan dan lucu, seperti kera dan kelelawar. Dengan luas lahan sekitar 6,5 hektar, Alas Kedaton dihuni oleh populasi keranya yang mencapai 1.800 ekor. Alas kedaton hingga kini sangat terjaga kelestariannya karena adat-istiadat penduduknya yang berpantang untuk menebang pohon sembarangan, apalagi jika sampai melakukan penggundulan hutan.   Pura dalam Hutan   Didalam hutannya ada sebuah pura yang dinamakan Pura Alas Kedaton. Pura ini dikelilingi oleh hutan yang lebat dengan aneka macam tetumbuhan dan hewan yang hidup didalamnya. Ketika wisatawan mengunjungi area tersebut, maka terlihat beberapa pemandu jalan bersiap untuk mengantar dan menjelaskan segala hal yang terdapat di Alas Kedaton. Ketika pengunjung baru beberapa meter saja memasuki area Alas Kedaton,  dijamin akan banyak kera...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
3 - Candi Gunung Kawi
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Bali

Mendengar kata “Gunung Kawi” barangkali ingatan kita akan melayang ke sebuah gunung cukup kesohor di Jawa Timur yang sering dijadikan tempat pesugihan untuk mencari kekayaan. Iya, Gunung Kawi yang terletak di dekat Gunung Butak tersebut terkenal sampai ke seantero negeri ini. Namun, bukan Gunung Kawi itu yang dimaksud melainkan Candi Gunung Kawi yang terletak di Tampaksiring, Bali.   Siapa yang tak mengenal Bali, kota sejuta wisata dan merupakan sumbernya keindahan yang sangat terkenal sampai ke mancanegara. Candi Gunung Kawi merupakan bukti bahwa keindahan Bali tak hanya terletak pada alamnya yang menawan dan asri, namun pada peninggalan sejarahnya yang juga kental. Adalah Candi Gunung Kawi inilah yang bisa dijadikan lokasi wisata sejarah yang layak untuk dikunjungi.   Makna Etimologi   Tak ada yang tahu pasti mengenai asal mula kata “Gunung Kawi”. Namun, berdasarkan tinjauan etimologi, Gunung Kawi berasal dari dua gabu...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
3 - Brahmavihara Arama
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Bali

Brahmavihara-Arama, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Wihara Budha Banjar merupakan salah satu tujuan wisata di Bali yang patut dijadikan salah satu tujuan bagi para wisatawan domestik mapun asing. Lokasinya terletak di Kecamatan Banjar sekitar 22 km sebelah barat Singaraja dan sekitar 11 km dari Pantai Lovina.   Eksotisme dan Relijiusitas Brahmavihara-Aramamenyajikan suasana yang tenang dan sepi serta memungkinkan untuk emandang langsung ke Pantai Lovina yang jaraknya tak begitu jauh, membuat vihara umat Budha ini menjadi daya tarik yang impresif bagi siapapun yang mengunjunginya. Sebagaimana tempat ibadah umat-umat lainnya, Vihara ini juga memiliki beberapa bagian strategis yang diantaranya:   – Upostha Gara   letaknya di puncak sebelah Barat, tempat ini merupakan sebuah ruangan yang sangat nyaman, tenang dan damai. Ruangan ini pun biasanya berfungsi untuk tempat penasbihan (pengukuhan) para Bhiku Samanera (calon Bhiku), yang a...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
3 - Lingga Yoni Keraton Kasepuhan Kota Cirebon
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Barat

Artefak berbentuk lumpang dan alu yang berada di Kompleks Siti Inggil Keraton Kasepuhan Kota Cirebon, Jawa Barat memiliki nama Lingga dan Yoni.    Nama Lingga melekat pada alu. Yoni merupakan nama dari lumpang, keduanya terbuat dari batu. Sejarawan Cirebon, Nurdin M Noer mengatakan Lingga dan Yoni yang berada di Kompleks Siti Inggil itu bekas alat penumbuk terasi petis pada era awal Islam masuk di Cirebon.    "Awal masuknya Islam, Lingga dan Yoni digunakan sebagai penumbuk terasi petis. Lingga dan Yoni ini sering dikisahkan di kisah pewayangan yang tak lepas dari kisah-kisah masa Hindu," tutur Nurdin saat ditemui detikcom di kediamannya di Kelurahan Larangan, Harjamukti, Kota Cirebon, Sabtu (11/11/2017).  Artefak Lingga juga bisa diartikan sebagai simbol kejantanan pria. Artefak Lingga juga bisa diartikan sebagai simbol kejantanan pria. Foto: Sudirman Wamad   Nurdin menjelaskan, Lingga merupakan gambaran dari laki-laki karena...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
Naskah Kuno Cerita Parahyangan
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Barat

I. Ndéh nihan Carita Parahiyangan. Énya kieu Carita Parahiyangan téh. Sang Resi Guru mangyuga Rajaputra. Rajaputra miseuweukeun Sang Kandiawan lawan Sang Kandiawati, sida sapilanceukan. Ngangaranan manéh Rahiyangta Déwaraja. Basa lumaku ngarajaresi ngangaranan manéh Rahiyangta ri Medangjati, inya Sang Layuwatang, nya nu nyieun Sanghiyang Watang Ageung. Sang Resi Guru boga anak Rajaputra. Rajaputra boga anak Sang Kandiawan jeung Sang Kandiawati, duaan adi lanceuk. Sang Kandiawan téh nyebut dirina Rahiyangta Déwaradja. Basa ngajalankeun kahirupan sacara rajaresi, ngalandi dirina Rahiangta di Medangjati, ogé katelah Sang Lajuwatang, nya mantenna nu nyieun Sanghiang Watangageung.   Basana angkat sabumi jadi manik sakurungan, nu miseuweukeun pancaputra; Sang Apatiyan Sang Kusika, Sang Garga Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Putanjala inya Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, Sang Katungmaralah, Sang Sanda...

avatar
Yeni27naibaho
Gambar Entri
1_Aksara Kwadrat Kediri
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Pada zaman kebudayaan klasik, Aksara merupakan unsur penting dalam berkomunikasi. Selain sebagai alat untuk berkomunikasi secara lisan, secara fungsional dapat kita lihat juga bahwa pada zaman sejarah kuno Aksara berfungsi sebagai media untuk menyampaikan dan mendokumentasikan berbagai informasi-informasi penting, diantaranya adalah silsilah raja-raja yang memerintah dalam satu wangsa, peristiwa-peristiwa besar yang terjadi, dan informasi waktu pembuatan sebuah situs besar baik itu tempat suci keagamaan maupun makam tokoh-tokoh besar pada waktu itu. Selain contoh-contoh di atas, tentu saja sebuah Aksara pun merupakan elemen penting dalam bidang kesusastraan kuno. Secara historikal, Aksara-Aksara yang dipakai di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara semuanya menginduk pada  Aksara Brahmi.  Aksara kuno ini kemudian berkembang menjadi  Aksara Pallawa  yang berkembang di India Selatan dan  Aksara Pranagari  serta  Dewanagari  yang berkembang di I...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
Naskah Bujangga Manik
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Barat

Naskah Bujangga Manik adalah naskah primer, yang merupakan peninggalan dari naskah berbahasa Sunda yang sangat berharga. Naskah ini ditulis dalam daun nipah, dalam puisi naratif  berupa lirik  yang terdiri dari 8 suku kata. Naskah ini seluruhnya terdiri dari  29 daun nipah, yang masing-masing  berisi  56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.     Yang menjadi tokoh dan yang menulis naskah ini adalah  Prabu Jaya Pakuan  alias  Bujangga Manik , seorang resi Hindu dari kerajaan Sunda. Walaupaun ia seorang prabu (keluarga raja/ bangsawan) dari keraton Pakuan Pajajaran, ia lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi.      Bujangga Manik melakukan perjalanan 2 kali ke negeri Jawa. Pada perjalanan kedua, ia singgah  di Bali untuk beberapa lama serta ke pulau Sumatra dan akhirnya ia bertapa di sekitar gunung Patuha sampai ia meninggal.      Bujangga Manik dalam nask...

avatar
Yeni27naibaho
Gambar Entri
1_Sejarah Pura Tirta Empul
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Bali

Dikisahkan dalam Lontar Usana Bali bahwa Tirta Empul atau Tirta Ri Air Hampul diciptakan oleh Bhatara Indra ketika ia sedang berperang dengan raja Mayanadenawa dari Bedahulu, raja tersebut diceritakan amat sakti dan memiliki kemampuan dapat menghilang. Karena kesaktiannya tersebut Mayanadenawa menganggap dirinya sebagai Tuhan, untuk alasan itulah kemudian Bhatara Indra memeranginya. Pada sebuah pertempuran yang terjadi di sebuah daerah, Mayanadenawa dan pasukannya terdesak, kemudian mereka berjalan dengan telapak kaki miring, maka dari itu, daerah tempat pertempuran tersebut kemudian dinamakan Tampaksiring. Dalam keadaan terdesak, Mayanadenawa menciptakan sebuah mata air beracun (Yeh Cetik) untuk menghancurkan pasukan Bhatara Indra. Ternyata taktiknya berhasil, karena kelelahan akibat berperang terus-menerus, akhirnya banyak pasukan Bhatara Indra yang meminum Yeh Cetik. Tak sedikit pasukan Bhatara Indra yang keracunan akibat meminum air beracun tersebut. Imbas dari taktik licik...

avatar
Sobat Budaya