Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tsunami adalah gelombang laut dahsyat (gelombang pasang) yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunung api di dasar laut (biasanya terjadi di Jepang dan sekitarnya). Jelas bahwa istilah ini merupakan kata serapan dari bahasa Jepang, tapi apakah tidak ada padanan di dalam bahasa Indonesia? Di dalam bahasa Melayu mungkin tidak ada atau memang belum ditemukan, tapi di dalam beberapa bahasa daerah lain terdapat istilah-istilah yang berpadan dengan kata "tsunami" dari bahasa Jepang. Contoh yang lazim digunakan di Aceh adalah ië beuna (air benar) dan yang tidak terlalu banyak dipakai, alôn buluëk (gelombang rakus). Di Ende, Nusa Tenggara Timur, ada istilah ae mesi nuka tana lala (air laut naik, tanah runtuh). Di Nias, Sumatera Utara, dikenal istilah oloro atau galoro , mirip dengan istilah Singkil gloro atau galoro . Di dalam bahasa Sikule disebut among atau emong , sementara dalam bahasa Simeulue dikenal s...
Puteri Pukes tinggal di Kampung Nosar, sebuah kampung di daerah Aceh bagian tengah. Dia baru saja menikah dengan seorang lelaki dari Samar Kilang, yang berjarak cukup jauh dari Kampung Nosar. Lelaki baik hati itu adalah keturunan saudagar kaya. Sesuai adat Gayo, setiap perempuan yang menikah harus ikut ke kampung suaminya dan tinggal di sana selama-lamanya. Hal ini sungguh menyiksa perasaan Puteri Pukes. “Anakku, Ibu tahu perasaanmu. Engkau pasti merasa berat untuk meninggalkan kampung kita ini, juga meninggalkan ibu dan ayahmu,” ucap ibu Puteri Pukes sambil mendekati puteri semata wayangnya. Diusapnya kepala Puteri Pukes dengan perasaan sayang. Perasaan Puteri Pukes mulai bergejolak. Sebelumnya Puteri pernah mengutarakan keberatannya apabila menikah dan harus meninggalkan keluarganya. Tetapi hal ini adalah adat-istiadat mereka. Siapa yang menentang adat konon akan celaka. “Ibu, kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga Ibu? Siapa yang akan...
Masyarakat Gayo, NAD menyebut tempat memasak dengan kata dapur. Kamus bahasa Aceh-Indonesia (Abu Bakar et. al., 2001:159) mengartikan kata dapu sebagai dapur sebagai ruangan untuk memasak dan tungku. Kata dapu sering digabungkan dengan kata rumoh sehingga menjadi rumoh dapu, yang berarti ruang dapur di belakang rumah Aceh. Tulisan ini menggunakan kata dapur untuk menunjuk ruang yang digunakan untuk memasak sedangkan tungku merujuk pada perapian untuk mengolah makanan. Masyarakat Aceh menganggap dapur sebagai ruang pribadi yang hanya boleh dimasuki anggota keluarga. Adalah hal yang tidak sopan jika ada seorang tamu yang masuk ke dapur. Bahkan, anggota keluarga pria yang baru, misalnya menantu, baru boleh masuk ke dapur bila sudah menjadi anggota keluarga selama bertahuntahun Atau paling tidak ketika pasangan suami istri tersebut sudah mempunyai dua atau tiga anak. Fungsi Dapur: Tempat menyimpan peralatan...
Masyarakat Suku Aneuk Jamee, NAD menyebut tempat memasak dengan kata dapue. Kamus bahasa Aceh-Indonesia (Abu Bakar et. al., 2001:159) mengartikan kata dapu sebagai dapur sebagai ruangan untuk memasak dan tungku. Kata dapu sering digabungkan dengan kata rumoh sehingga menjadi rumoh dapu, yang berarti ruang dapur di belakang rumah Aceh. Tulisan ini menggunakan kata dapur untuk menunjuk ruang yang digunakan untuk memasak sedangkan tungku merujuk pada perapian untuk mengolah makanan. Masyarakat Aceh menganggap dapur sebagai ruang pribadi yang hanya boleh dimasuki anggota keluarga. Adalah hal yang tidak sopan jika ada seorang tamu yang masuk ke dapur. Bahkan, anggota keluarga pria yang baru, misalnya menantu, baru boleh masuk ke dapur bila sudah menjadi anggota keluarga selama bertahuntahun Atau paling tidak ketika pasangan suami istri tersebut sudah mempunyai dua atau tiga anak. Fungsi Dapur: Tempat men...
Masyarakat Suku Tamiang, NAD menyebut tempat memasak dengan kata dapur. Kamus bahasa Aceh-Indonesia (Abu Bakar et. al., 2001:159) mengartikan kata dapu sebagai dapur sebagai ruangan untuk memasak dan tungku. Kata dapu sering digabungkan dengan kata rumoh sehingga menjadi rumoh dapu, yang berarti ruang dapur di belakang rumah Aceh. Tulisan ini menggunakan kata dapur untuk menunjuk ruang yang digunakan untuk memasak sedangkan tungku merujuk pada perapian untuk mengolah makanan. Masyarakat Aceh menganggap dapur sebagai ruang pribadi yang hanya boleh dimasuki anggota keluarga. Adalah hal yang tidak sopan jika ada seorang tamu yang masuk ke dapur. Bahkan, anggota keluarga pria yang baru, misalnya menantu, baru boleh masuk ke dapur bila sudah menjadi anggota keluarga selama bertahuntahun Atau paling tidak ketika pasangan suami istri tersebut sudah mempunyai dua atau tiga anak. Fungsi Dapur: Tempat menyimpan pe...
Masyarakat Aceh membagi dapur ke dalam tiga tipe berdasarkan fungsi dan bentuknya. Ketiga tipe dapur tersebut adalah dapur rumah tangga, dapur umum dan dapur produksi. Dapur umum Dapur umum mempunyai cakupan yang lebih luas daripada dapur rumah tangga. Dapur umum digunakan untuk memasak berbagai keperluan dalam upacara bersama masyarakat Aceh. Keterlibatan para perempuan Aceh dalam dapur umum juga tidak terbatas pada hubungan keluarga atau kekerabatan. Semua orang boleh terlibat dalam aktivitas dapur umum. Oleh karena itu, selain sebagai tempat untuk memasak, dapur umum berfungsi sebagai ruang untuk membangun relasi sosial antaranggota masyarakat. Sumber: http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2612
Kanet bagi masyarakat gayo disebut kuren, aneuk jamee menyebutnya pariuk, sedangkan di dalam bahasa Indonesia disebut periuk. Bentuknya bundar dan pada mulutnya lebih kecil serta terdapat bibir sebagai tempat penahan tutupnya. Ukuran sebuah kanet tidak sama besarnya dari ukuran paling kecil sampai yang besar. yang didasarkan kepada muatan isinya. Untuk membedakan ukuran maka disebutlah terdapatlah sebutan kanet asoe sikaj (berisi lebih kurang satu kaleng susu beras), asoe sicupak (3 kaleng susu beras) dan kanet asoe siarae (berisi 1 bambu beras). Karena kanet dipergunakan untuk kebutuhan dapur rumah tangga maka ukurannya hanya terdiri dari 3 ukuran. Kanet dibuat dari tanah liat dengan mempergunakan teknik putar di atas mal yang dipergunakan sebagai acuan. Setelah kering, kemudian dibakar baru kemudian siap untuk dipakai. Kanet dipergunakan khusus untuk menanak nasi. Sebuah kanet dapat dip...
Satu-satunya alat yang dipergunakan untuk menampi beras dipakai jeu'ee. yang dalam bahasa Indonesia disebut niru. Di Gayo disebut niu dan di masyarakat Aneuk Jamee disebut niru. Jeu'ee berbentuk lonjong yang pada pangkalnya lebih besar sedangkan pada bagian paling ujung lebih runcing. Sebuah jeu'ee mempunyai lebar pada bagian pangkal sekitar 50 cm. Pada bagian ujung sekitar 20 cm dengan panjangnya sekitar 60 cm. Untuk menganyam sebuah niru dipergunakan kulit dari batang bili, kulit rotan atau kulit bambu. Perkakas ini merupakan salah satu alat terpenting dalam kehidupan masyarakat Aceh. Niru selalu dipergunakan setiap saat untuk menampi beras yang akan dimasak. Niru yang terdapat di setiap rumah tangga di Aceh diperolehnya dengan membeli di pasar-pasar. Pembuatan niru yang nampaknya mudah tetapi bila dikerjakan sulit. Tidak semua kampung yang terdapat di Aceh memiliki pengrajin niru. Niru tidak perlu dibersihkan sesudah dipakai, dan...
Salah satu alat yang dipergunakan untuk memasak kue kiias Aceh disebut Bruek Keukaraih, orang Aneuk Jamee menyebutnya tampuang karan-karan. Dalam bahasa Indonesia dapat disebutkan tempurung karan-karan. Bruek Keukaraih, dibuat dari tempurung kelapa yang pada bagian bawah diberi lubang besar atau sepertiga dari batok kelapa tersebut dipotong. Pada bagian bawahnya diberi lubang kecil-kecil berbentuk melingkar serta diberikan gagang yang dibuat dari kayu dan diikat pada bagian atas tempurung. Bruek keukaraih ini dipergunakan untuk kue khas Aceh yang dalam masyarakat Aceh dan Aneuk Jamee disebut keukarah. Seperti umumnya peralatan dapur ada yang diperoleh dengan membeli, meminta kepada orang lain untuk membuatnya atau membuat sendiri, maka bruek keukaraih ini lebih banyak dibuat sendiri. Untuk mempergunakan sebuah bruek keukaraih memerlukan ketrampilan apabila menginginkan hasil yang baik. Pada prinsipnya cara penggunaan bruek k...