Keberadaan dan eksistensi pura-pura di Bali memang menjadi salah satu daya tarik para wisatawan yang berkunjung ke Pulaunya Para Dewa tersebut. Sehingga pura-pura di Bali memiliki peran yang berganda; yakni selain sebagai tempat pemujaan para Dewa dan menyucikan diri, juga sekaligus sebagai area wisata yang diminati banyak wisatawan yang tertarik untuk mengetahui lebih dalam soal cerita tentang sejarah, maupun berbagai keunikan pura-pura tersebut. Sebagaimana halnya Pura Gunung Lebah yang unik dan berbeda dari pura-pura lainnya karena keberadaannya di bawah jembatan Sungai Campuhan, Ubud. Pura Gunung Lebah merupakan salah satu pura yang tegolong dalam Pura Kahyangan Jagat. Arti kata Gunung Lebah sendiri yakni sebuah bukit kecil yang ada di lembah, dan bukit ini menjadi pertemuan dua luar sungai yakni Sungai Oos dan Sungai Cerik. Suasana pura ini begitu tenang dan sejuk karena keadaannya yang basah dan dikelilingi oleh hutan. Demikian juga, pura ini diri...
Mungkin banyak orang diluar masyarakat Hindu hanya mengenal Hari Raya Nyepi atau Galungan saja. Padahal Umat Hindu memiliki beberapa Hari Besar Keagamaan lainnya, termasuk didalamnya Hari Raya Saraswati. Hari Raya Saraswati? Apa itu? Masyarakat Hindu memprecayai bahwa Hari Raya Saraswati merupakan hari ilmu pengetahuan, dimana Sang Hyang Widhi telah menciptakan ilmu pengetahuan bagi umat manusia supaya bisa menyelaraskan dirinya dengan alam. Hari Raya Saraswati ini dirayakan oleh penganut Hindu di Indonesia setiap 210 hari sekali atau setiap 6 bulan, yang dalam sistem perhitungan kalender Jawa hari raya ini jatuh pada hari Sabtu. Kata Saraswati sendiri berasal dari bahasa Sangsekerta yang memiliki makna mengalir. Sehingga dalam penguraiannya lebih jauh lagi, Saraswati memiliki makna air yang mengalir dari ketinggian menuju danau atau kolam. Kata Saraswati dalam Veda memiliki arti merupakan mantra pujaan. Banya...
Selain Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali juga melaksanakan Hari Raya Pagerwesi yang jatuh setiap 210 hari sekali atau setiap 6 bulan dalam kalender Hindu. Hari Raya Pagerwesi memiliki makna sebagai hari raya bagi semua masyarakat, baik pendeta maupun rohaniawan. Tujuannya yakni untuk memagari jiwa dalam rangka penyucian diri supaya bisa menerima kemuliaan dan keberkahan dari Tuhan Yang Menciptakan. Makan Pagerwesi Kata Pagerwesi memiliki arti pagar yang terbuat dari besi. Secara harfiah, kata tersebut melambangkan segala hal yang dipagari akan terlihat kokoh dan kuat. Atau dalam makna lainnya, sesuatu yang dipagari merupakan yang bernilai tinggi sehingga tak boleh sedikitpun mendapatkan gangguan apalagi yang merusak. Sanghyang Pramesti Guru yang menjadi tujuan utama dilakonkannya upacara Pagerwesi ini ialah manifestasi Tuhan yang dipercaya merupakan gurunya manusia dan alam semesta. Pelaksanaan u...
Dalam setiap agama dipastikan memiliki hari raya kebesarannya masing-masing. Tak terkecuali dengan umat Hindu yang merupakan mayoritas di Bali. Umat Hindu Bali selalu merayakan Hari Raya Nyepi dalam setiap Tahun Baru Saka. Di hari kebesaran tersebut kebiasaan untuk amati geni dilakukan untuk membersihkan lahir dan bathin dengan melakukan Samadhi atau semedi. Makna Nyepi Asal kata Nyepi ialah sepi, sunyi, dan senyap. Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu yang sudah dimuali sejak tahun 78 Masehi. Di Hari Raya Nyepi ini seluruh Umat Hindu akan melakukan perenungan untuk kembali menjadi manusia yang fitrah, suci lahir dan bathin. Makanya tak heran ketika perayaan Nyepi semua aktifitas yang biasanya dilakukan masyarakat dihentikan, termasuk juga berbagai fasilitas umum. Beberapa upacara Nyepi adalah sebagai berikut; – Upacara Melasti; Selang waktu dua tiga hari sebelum Hari R...
Pura Keraban Langit merupakan salah satu pura yang terpenting di Bali. Keberadaannya cukup unik yakni di tepi tebing sebuah sungai. Ketika jatuh hari kelahiran atau persembahan maka akan banyak warga sekitar yang melakukan penyucian di pura ini karena juga termasuk dalam Pura Dang Kahyangan. Pura ini begitu sakral sehingga banyak orang yang melakukan meditasi disini. Didalam pura terdapat sebuah mata air yang dipercaya penduduk sekitar bisa membawa berkah. Ada beberapa dewa yang dipuja di pura ini seperti Dewa Wisnu, Ratu Gede Lingsir, Ratu Ayu dan Ratu Made. Pada hari-hari tertentu seperti hari Raya Saraswati dan Siwalatri banyak wisatawan yang berkunjung kesini untuk melakukan pemujaan dan bersemedi memohon agar apa yang menjadi harapan dan keinginan bisa tercapai. Konon menurut cerita kenapa air di dalam goa ini dianggap suci?Berawal dari sepasang suami istri yang ingin mempunyai anak setelah sekian lama berumah tangga, lalu suami tersebut memohon ke...
Bali sekalipun mayoritas masyarakatnya beragama Hindu namun kerukunan dan kedamaian antar-umat beragama berjalan dengan baik. Mereka yang memiliki keyakinan yang berbeda hidup secara berdampingan dan jarang sekali adanya percekcokan diantara mereka. Apakah ada buktinya? Salah satunya bisa dilihat dengan adanya sebuah pura yang bernama Pura Langgar atau juga dikenal dengan Pura Dalem Jawa. Mengapa sampai disebut pura Langgar? Tiada lain dan tiada bukan karena bangunannya yang mirip dengan sebuah Langgar atau tempat ibadahnya umat Muslim. Pura ini juga memiliki cerita dan bentuk yang unik yang sangat erat kaitannya dengan kebudayaan Islam yang masuk ke Bali sehingga sedikit banyak mampu memengaruhi gaya arsitektur dan segala pernak-pernik pura ini. Pura Langgar sendiri dibangun diatas kolam yang dipenuhi oleh bunga teratai. Di Pura Langgar pelaksanaan pemujaan berbeda dengan pemujaan di pura lain pada umumnya, dimana hewan yang digun...
Tak heran jika Bali dikenal sebagai Pulau Dewata yang berarti banyak dewa-dewi bersemayam di pulau nan indah ini. Sebagai singgasana dan sekaligus tempat memuja-muji para dewa maka konsekuensinya didirikan banyak pura. Dalam perkembangannya pura-pura itupun tak hanya sebagai tempat peribadatan an sich, melainkan juga sebagai lokasi pariwisata yang menambah lengkap wisata Bali selain pantai, air panas, pegunungan, hutan, dsb. Pura Makori dibangun diatas ketinggian 600 meter diatas permukaan laut sehingga udaranya cukup sejuk. Pura ini memiliki pelinggih atau tempat pemujaan yang memang lazim ditemui di beberapa pura lainnya di Bali. Didalamnya terdapat banyak batu yang digunakan untuk menyembah Ida Sanghyang Widhi Wasa. Yang menambah keunikan pura ini yakni keberadaannya yang dikelilingi oleh hutan yang masih sangat asri sehingga tempat ini menjadi begitu positif untuk melakukan permeditasian. Keunikan lainnya mengenai kapan tepatnya pura ini berdi...
Salah satu yang menjadi daya tarik dan keunikan berwisata di Bali adalah perayaan hari besar keagamaan seperti Hari Raya Galungan. Hari raya ini diperingati oleh seluruh masyarakat Bali yang beragama Hindu. Selain sebagai upacara seremonial keagamaan bisa dipastikan para turis asing maupun lokal kerap ikut ambil bagian dalam perayaan upacara megah tersebut, minimal sebagai pengambil gambar alias jujur keker. Kata “Galungan” sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “menang”. Kata Galungan juga memiliki makna yang serupa dengan “Dungulan” yakni berarti menang. Sementara Hari Raya Galungan merupakan hari kemenangan Dharma melawan Adharma yakni kemenangan kebenarana atas kebathilan lewat restu Sanghyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Galungan ini diadakan setiap 6 bulan sekali atau 210 hari (yang dalam sistem pengalenderan Hindu-Bali satu bulannya terdiri dari 35 hari. Hingga kini sebenarnya bel...
Pura Maospahit merupakan peninggalan masa Kerajaan Majapahit yang dibangun pada abad 14-15 M. sebab itu, tak heran kalau pura ini memiliki gaya arsitektur khas Jawa Timur yang juga tergolong dalam Pura Kawitan. Hal demikian tampak terlihat dari reliefnya yang terpahat kokoh digerbang dan bangunan pura sebagai berikut; – Arca Terrakota yang terdapat dibagian kiri dan kanan bangunan gedung Pura Maospahit ini. – Arca Terrakota Pergina dan Fragmen Terrakota yang terdapat di bangunan gedung Kemimitan. – Relief Garuda dan Relief Bima yang terpahat di sisi kiri dan kanan Candi Bentar. Ketika akan memasuki halaman depan terdapat gerbang dalam bentuk Candi Belah atau Candi Bentar, sebelum menuju halaman belakang terlebih dahulu melewati Kori Agung dalam bentuk Paduraksa. Saat sampai pada bagian halaman belakang pura terdapat berbagai bangunan dan benda-benda suci dalam bentuk tajuk, gedong, bale, padmasana, pelin...