Balekambang adalah sebuah balai-balai, yang juga menjadi nama sebuah dusun di Kelurahan Lumpur. Bukan hanya satu balai, namun ada tujuh balai. Di tempat inilah, pada jaman dulu menjadi tempat peristirahatan Kyai Sindujoyo, seorang tokoh sakti yang pernah bertapa dalam perut kerbau. Balé berarti balai atau tempat berkumpul, baik untuk musyawarah, makan bersama atau sekadar cangkrukan. Sedangkan Kambang diambil dari kata mengambang, yang artinya mengapung. Balai ini dinamakan demikian karena sejarahnya ditemukan dalam keadaan mengambang di laut. Menurut cerita warga Lumpur, balai ini ditemukan sekitar tahun 1506 M oleh seorang nelayan yang sedang melaut. Awalnya, nelayan tersebut mengira itu adalah sebuah sampah kayu biasa yang mengambang di laut. Kayu tersebut ditarik lagi ke tengah laut agar tidak terombang-ambing yang akan menganggu perjalanan para nelayan melaut. Namun anehnya, beberapa waktu kemudian, onggokan kayu tersebut kembali mendekat ke perairan Lumpur....
Desa Dukun tiba-tiba menjadi buah bibir masyarakat Gresik, Jawa Timur, bahkan seluruh Indonesia. Desa yang menjadi ibukota kecamatan Dukun itu sebenarnya seperti desa-desa lain, tidak ada yang istimewa dari desa itu. Namun, nama desa itu tiba-tiba banyak disebut dan diperbincangkan banyak orang. Nama desa itu mengorbit bak artis yang sedang naik daun sejalan dengan terpilihnya Drs. K.H. Robbah Ma’sum, M. M. sebagai bupati Gresik pertama yang terpilih pada era reformasi. Bupati yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa itu yang telah menorehkan tinta emas dalam pemerintahan kabupaten Gresik Betapa tidak, euforia reformasi yang ditandai dengan berdirinya partai-partai baru bentukan rakyat itu telah mengantarkan Drs. K. H. Robbah Ma’sum, M. M., keturunan tokoh legendaris Jaka Tingkir, sebagai bupati yang muncul dari dari bawah. Tidak seperti pada masa Orde Baru, bupati itu dianggkat berdasarkan...
Jejak-jejak yang mulia Sunan Giri bertebaran di Kota Santri. Wali Allah SWT tersebut meninggalkan, antara lain, bangunan fenomenal berupa Giri Kedaton. Di atas bukit itulah, lelaki berjuluk Joko Samudro tersebut memimpin pemerintahan dengan gelar Prabu Satmata. Ada pula bangunan masjid Kedaton di Desa Sekarkurung, Kebomas. Masjid yang berdiri pada ketinggian 200 meter di atas permukaan air laut itu dibangun pada 1485. Bukit kapur menopangnya. Jamaah bisa melihat secara jelas hamparan laut luas dari bukit dengan kemiringan 45 derajat. Peninggalan sumber air juga menjadi ciri khas salah seorang penyebar agama Islam di Pulau Jawa itu. Ada Telaga Pegat di Jalan Sunan Giri, Telaga Sumber di Desa Kembangan, dan Sumur Gemuling di Desa Gulomantung, Kecamatan Kebomas. Termasuk Telaga Suci di Manyar. Semua sumber air peninggalan Sunan Giri tersebut masih penting bagi warga sekitarnya. Padahal, rata-rata umur...
Sejarah terbentuknya Kabupaten Lamongan tidak lepas dari bumbu-bumbu cerita rakyat. Seperti yang satu ini, terkait asal muasal lahirnya pantangan bagi masyarakat Lamongan asli untuk memakan ikan lele. Meski banyak orang Lamongan yang merantau dan berjualan Pecel Lele, namun mereka konon pantang memakannya. Lalu apa cerita di balik kepercayaan itu? Cerita ini berawal ketika Sunan Giri III atau bernama asli Sedamargo blusukan ke daerah penyebaran Islam dengan menggunakan perahu menelusuri sepanjang aliran Bengawan Solo, hingga ke desa-desa. Sesampainya di Desa Barang (sekarang masuk wilayah Kecamatan Glagah, Lamongan), malam sudah larut, sinar terang bulan purnama menuntun langkah Sunan Giri menyusuri desa ini. Hingga pada suatu tempat Sunan Giri melihat lampu godog (sejenis oblek) yang menyala dari sebuah gubuk di sudut desa. Sedamargo lantas menghampiri sumber cahaya tersebut. Di situ didapatilah seorang wanita yang dikenal mbok rondo sedang menjahit p...
Jombang merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Jawa Timur. Selain dikenal sebagai Kota Santri karena banyaknya sekolah berbasis agama islam atau Pondok Pesantren yakni Tebu Ireng, Mambaul Ma’arif, Darul ‘Ulum, dan Tambak beras, Jombang juga melahirkan tokoh terkenal seperti KH. Hasyim Asyari seorang pahlawan nasional, Mantan Presiden RI KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur), serta budayawan Emha Ainun Najib. Kebo kicak merupakan legenda klasik yang menandai asal muasal atas nama-nama desa yang ada di Kabupaten Jombang seperti Pondok Pesantren Tebu Ireng, Megaluh, dan Mojongapit. Terkisah, pada zaman dahulu kala ada seorang yang bernama Kebo kicak. Karena durhakanya, dia disabda menjadi manusia berkepala kerbau ( dalam bahasa jawa kebo ) oleh orang tuanya. Kemudian Kebo kicak berguru kepada seorang kyai yang sakti mandraguna hingga akhirnya ia menjadi seorang yang soleh, dia sadar atas segala kesalahanya dimasa lalu hingga memiliki k...
Dalam cerita rakyat menyebutkan bahwa desa Tunggorono di kabupaten Jombang merupakan gapura keraton Majapahit bagian barat. Sedangkan gapura sebelah selatan batas wilayah kerajaan Majapahit ada di desa Ngrimbi (sekarang menjadi kecamatan Bareng), dimana sampai sekarang masih berdiri Candi Rimbi. Sekilas cerita: Ada seorang lelaki bernama Subanjar sebagai anak sulung dari dua bersaudara. Ayahnya bernama Cahyo Tunggal pemimpin Padepokan Tunggul Wulung yang disegani masyarakat. Saudara perempuan atau adik Subanjar bernama Sekar Dinulih. Subanjar terkenal bersifat brutal, suka berkelahi, menggoda wanita atau bahkan memperkosa dan membunuh tanpa merasa berdosa. Keluarga Subanjar resah, hingga akhirnya menyarankan Subanjar agar segera menikah. Namun, Subanjar menolak menikah sebelum dia menjadi orang yang benar dan sakti. Maka Subanjar berangkat bertapa di pesarean Asam Boreh. Sementara itu, di pesarean Asam Boreh tersebut berdiam makhluk halus bernama Nyi Blorong dan Gendruwo...
Manduro adalah nama sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Asal mula terbentuknya Desa Manduro menurut tradisi oral penduduk setempat adalah dari adanya dua orang pelarian Madura yang kemudian menetap di daerah perbukitan tersebut yang masih berupa hutan. Kemudian kedua pelarian tersebut beranak pinak hingga daerah tersebut berkembang sebagaimana kondisi saat ini. Siapakah kedua pelarian tersebut dan kapan keberadaan pelarian tersebut di Desa Manduro tidak didapatkan informasi yang jelas. Menurut Warito (Sekretaris Desa Manduro) berdasarkan informasi yang di dapatkan dari ‘Mbah Lurah Sepuh’, berpendapat bahwa kedua pelarian tersebut adalah dari laskar Trunajaya yang kalah perang, dan karena kalah perang malu pulang ke Madura. Akhirnya para pelarian tersebut menetap diperbukitan kapur, karena perbukitan kapur aman untuk tempat pelarian. Nasrulillahi (Kasi Kebudayaan ) berpendapat bahwa kehadiran orang Madura di Manduro k...
Sanggramawijaya Tunggadewi adalah putri Airlangga yang menjadi pewaris takhta Kahuripan , namun memilih mengundurkan diri sebagai pertapa bergelar Dewi Kili Suci . Jabatan Sanggramawijaya Pada masa pemerintahan Airlangga , sejak kerajaan masih berpusat di Watan Mas sampai pindah ke Kahuripan , tokoh Sanggramawijaya menjabat sebagai rakryan mahamantri alias putri mahkota. Gelar lengkapnya ialah Rakryan Mahamantri i Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Uttunggadewi . Nama ini terdapat dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang I (1035). Pada prasasti Pucangan (1041) nama pejabat rakryan mahamantri sudah berganti Sri Samarawijaya . Saat itu pusat kerajaan sudah pindah ke Daha . Berdasarkan cerita rakyat, Sanggramawijaya mengundurkan diri menjadi pertapa di Gunung Pucangan bergelar Dewi Kili Suci. Keistimewaan Kili Suci Tokoh Dewi Kili Suci dalam Cerita Panji diki...
Pada zaman dahulu kala di Jawa Timur pada tahun 1640 masehi, terdapat adipati yang sangat berwibawa dan tangguh bernama Raden Panji Puspa Kusuma. Raden Panji Puspa Kusuma memimpin kadipaten di Lamongan. Daerah yang dipimpinnya sangat subur dan makmur. Padi-padi di sawah menguning dan panen melimpah setiap tahunnya, tak terkecuali dalam hal perdagangan. Rakyatnya pun sangat mencintainya dan memberi gelar Kanjeng Gusti adipati. Selain itu, Raden Panji Puspa Kusuma juga terkenal mempunyai putra kembar yang sangat rupawan dari perkawinannya dengan putri Sunan Pakubuwono 11 raja Surakarta Adiningrat. Kedua putranya itu diberi nama Panji Laras dan Panji Liris yang artinya seorang putra bangsawan yang mempesona. Tidak heran kalau banyak putri-putri dari daerah lain ingin dipersunting dua pangeran yang rupawan itu. Dari kalangan rakyat pun sama, ibu-ibu yang mempunyai anak gadis juga ingin menikahkan anaknya dengan pangeran tapi maksud hati memeluk gunung apalah daya tangan t...