Berdasarkan sumber historiografi tradisional cikal bakal berdirinya kerajaan Sumedanglarang berawal dari kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur). Berdirinya kerajaan Tembong Agung sangat erat kaitannya dengan kerajaan Galuh Pakuan yang didirikan oleh Wretikandayun 612 , sedangkan kerajaan Tembong Agung didirikan oleh Prabu Guru Haji Aji Putih (696-721). Setelah terjadinya perebutan kekuasaan di Galuh pada masa Sanjaya (723 - 732) dengan Purbasora yang dimenangkan oleh Sanjaya. Ki Balangantrang berhasil meloloskan diri dari pasukan Sunda pada malam pembinasaan Purbasora oleh Sanjaya kemudian tinggal Geger Sunten (sekarang kampung Sodong Desa Tambaksari Kecamatan Rancah, Ciamis). Ki Balangantrang berserta pengikutnya berupaya menghimpun kekuatan untuk merebut kembali Galuh dari tangan Sanjaya. Sebagai patih kawakan dan cucu Wretikandayun, Balangantrang mudah memperoleh pengikut dan pendukung, akhirnya Ki Balangantrang berhasil mendekati cicitnya Manara...
Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing di Nusa Tenggara Barat hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain. Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan ke desa-desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi. Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja. Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: "Ibu batu ini makin tinggi." Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, "Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk." Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi hingga melebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun, Inaq L...
Alkisah dalam pengasingannya selama dua belas tahun Pandawa sempat mengembara sampai di sekitar Pegunungan Dieng. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat untuk berputar-putar hanya di sekeliling India. Bhima dapat menaklukkan Raja Raksasa Harimba, penguasa hutan di pusat pulau Jawa. Adik sang raja, Harimbi jatuh cinta kepada Bhima, ksatria tinggi besar kuat berotot layaknya raksasa tetapi gagah penampilannya, tidak seperti raksasa yang rewo-rewo. Harimbi adalah raksasa wanita, akan tetapi hatinya sudah lembut, evolusi jiwanya mendahului penampilannya. Dewi Kunti, ibu Bhima yang waskita memahami wanita yang cocok sebagai pendampingi sang putra, maka dia 'memoles' Harimbi dengan 'operasi plastik zaman kuna' menjadi wanita yang cantik, sehingga Bhima jatuh cinta. Dewi Kunti mendapatkan banyak ilmu dari Resi Durwasa, termasuk ilmu mendatangkan Dewa dan mempercantik wanita. Dewi Kunti juga ingat nasehat dari keponakannya, Prabu Kresna untuk menggunakan perkawinan sebagai pe...
Permainan ini dikatakan kucing-kucing atau bekel karena dalam permainan ini dibutuhkan kucing-kucing (sebangsa siput laut yang elah diambil isinya) sebanyak 6 buah dan bola karet kecil atau bola tenis. Dilaksanakan untuk mengisi waktu senggang, atau ketika anak-anak kecil atau bola tenis. Dilaksanakan untuk mengisi waktu senggang, atau ketika anak-anak tidak dapat bermain diluar rumah karena hujan. Permainan kucing-kucing atau bekel dilakukan oleh anak perempuan berusia 6 tahun – 14 tahun. Sebelum permainan dimulai lebih dulu diadakan suit untuk menentukan siapa yang lebih dulu main. Dalam permainan ini, ada 3 tahap yang harus dilalui, yakni : 1. Buah basing Bola dilantunkan ke lamtai dan kucing-kucing dibaurkan, kemudian diambil satu pwersatu, dua-dua demikian seterusnya sampai kucin-kucing ada di tangan kanan. Basing artinya kucing-kucing ditaburkan/dilepaskan dari tangan ada yang telentang dan ada yang telungkup. 2. Buah putih Buah put...
Dalam bahasa lampung peti’an berarti jentik, dimana jari tengah tangan kanan ditekukkan pada pangkal ibu jari, seperti halnya orang ingin menjentik telinga seseorang. Permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki berumur 7 – 15 tahun , pemain terdiri dari 2 orang atau lebih. Permainan ini membutuhkan beberapa buah karet/para yang telah tua sekaligus menjadi taruhan dalam permainan. Setiap pemain memerlukan ula atau gacou sebagai alat untuk menembak. Gacou terbuat dari buah karet yang telah dipersiapkan sebelumnya, di mana isi karet dibuang dan tinggal tempurungnya, lalu diasah sedemikian rupa sehingga terlihat bagus dan mudah digunakan. Gacou tersebut berbeda dengan gacou lawan mainnya tergantung kreatifitas saat penyiapan gacou. Gacou tersebut digunakan dengan cara menjentikannya dengan jari manis untuk mengenakan gacou lawan dan mengenakan buah karet taruhan disebut dengan menembak. Permainan ini biasanya dimainkan pada saat musim pohon karet berbuah. Anak-anak pe...
Ulo-Ulo ini merupakan sebuah permainan yang berasal dari Kabupaten 50 Kota, Provinsi Sumatera Barat. Jumlah pemain 2 orang atau lebih. Alat yang digunakan untuk permainan ini adalah sebuah kayu dengan bentuk melengkung, pada bagian bawah terdapat 3 buah lobang kemudian dimasukkan tali, di bagian tengah tali tersebut disimpul. Caranya Ulo-Ulo ini diberi benang sehingga terbagi menjadi dua bagian, yaitu sebelah kiri dan kanan. Bagian ulo-ulo yang bulat itu berjumlah lima buah, tapi dari ke lima buah ulo-ulo yang bulat itu tidak berada dalam satu benang yang sama. Dan, tantangan dalam permainan Ulo-Ulo ini adalah bagaimana caranya memindahkan Ulo-ulo yang bulat ke benang yang satunya lagi. Terserah mau ke kanan atau ke kiri. Intinya harus bisa memindahkan ulo-ulo kebagian yang lain. Permainan ini memerlukan kecermatan, yaitu bagaimana supaya anak ulo-ulo dapat dipindahkan kesebelah. Jika dipertandingan maka siapa yang lebih cepat dapat memindahkannya itula...
Nuwou Sesat adalah rumah adat provinsi Lampung . Dalam bahasa Lampung , kata rumah sebagai tempat tinggal disebut Lamban, Lambahana atau Nuwou, bangunan ibadah yang disebut Mesjid, Mesigit, Surau, Rang Ngaji, atau Pok Ngajei, bangunan musyawarah yang disebut Sesat atau Bantaian, dan bangunan penyimpanan bahan makanan dan benda pusaka yang disebut Lamban Pamanohan. Bangunan ini dahulu adalah balai pertemuan adat antar penyimbang (tetua masing-masing marga) pada saat mengadakan pepung adat (musyawarah). Oleh karena itu, Nuwou Sesat juga disebut Sesat Balai Agung. Bagian-bagian yang terdapat pada bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap). Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan ( serambi, biasa digunakan untuk pertemuan kecil ), pusiban ( ruang tempat musyawarah resmi ), ruang tetabuhan ( tempat menyimpan alat musik tradisional ), dan ruang gajah merem (tempat istirahat bagi para tetua)...
Permainan ini dilakukan oleh anak-anak perempuan di Sibolga, Tapanuli Tengah; menyisik dalam dialek daerah itu berarti menyembunyikan batu secara perlahan-lahan, umunya permainan ini dilakukan pada siang hari. Dimainkan oleh anak perempuan, usia antara 6 sampai 10 tahun. Peralatan yang dibutuhkan dalam permainan ini hanyalah sebuah batu kecil yang dijadikan alat tebakan. Alat lainnya tidak diperlukan. Persiapan permainan yaitu pemain terdiri dari 10 orang kemudian dibagi menjadi 2 kelompok dan tiap kelompok mengangkat 1 orang ketua. Masing-masing kelompok duduk berhadapan dan masing-masing ketua berdiri untuk melakukan undian (sut) untuk mencari siapa yang pertama melakukan permainan. Bagi kelompok yang menang menadahkan tangannya ke belakang untuk menampung/menerima batu yang dijatuhkan ketua kelompok dari belakang. Ketua kelompok dengan taktik dan gerak-geriknya menjatuhkan batu ke tangan salah satu anggota kelompok. Tugas kelompok yang kalah (kelompok penebak) adalah meneb...
Bermain erpantek pada masyarakat Karo berarti bermain patok atau tombak. Permainan ini pada masa lalu dikenal luas oleh anak-anak khususnya laki-laki untuk mengisi waktu senggang pada siang atau sore hari. Biasanya dimainkan 2 – 6 orang secara berpasangan, berusia 10 – 15 tahun. Alat permainan yang digunakan untuk permainan ini adalah sebuah tombak yang terbuat dari bambu kecil untuk masing-masing peserta, panjangnya lebih kurang 80 cm, ujung dibuat runcing agar mudah tertancap bila dilemparkan ke suatu sasaran. Sebelum permainan dimulai diadakan undian sebagai berikut : salah seorang pemain memegang batu di kepalan tangannya, lalu disuruh menerka di kepalan mana batu tersebut berada sambil diiringi kata-kata “gulda guldi, ija sierbin, ije” yang berarti gulda guldi, dimana yang semalam, disini. Setelah sampai pada genggaman terakhir dengan kata “ije” (disini), genggaman di buka. Jika tebakan benar, maka yang memulai permai...