Di Desa Lantung Aimual tinggal gadis cantik yang bernama Lala Ila. Lala Ila sejak kecil sudah ditunangkan dengan Lalu Mangi, meskipun sudah ditunangkan sejak kecil keduanya sampai besar tidak mengetahuinya. Suatu hari, Lalu Mangi mendengar cerita tentang kecantikan Lala Ila. Lalu Mangi penasaran akan kecantikan Lala Ila. Lalu Mangi mengajak pembantunya Salampe untuk membuktikan kecantikan Lala Ila. Singkatnya, Lalu Mangi mohon pamit pada Bapak dan Ibunya akan pergi Aimual. Akhirnya berangkatlah mereka ke Desa Aimual. Lalu Mangi kemanapun perginya selalu didampingi oleh Salampe. Salampe adalah anak angkat Radan Mangi. Salampe adalah orang kepercayaan keluarga Radan Mangi. Salampe kerjanya setiap pagi memandikan kuda, membersihkan kandang, menyabit rumput, memperbaiki kebun, dan mengambil kayu. Salampe bertugas melayani dan menemani Lalu Mangi bepergian. Itulah pekerjaan Salampe di rumah Radan Mangi ayah Lalu Mangi. Bapak dan ibunya memberi tahu bahwa di sana juga ada pamannya ya...
Naskah Nagarakertagama Lan Sanesipun pernah tersimpan di Universitas Leiden, Belanda. Kemudian naskah ini diserahkan kepada pemerintah Indonesia sekitar tahun 1975 dan disimpan di Perpustakaan Nasional dengan kode naskah NB 9. Naskah ini berwujud teks prosa dan puisi, berisi 157 halaman dengan ukuran 48,5 x 3,5 cm. Naskah yang tersusun dari bahan lontar ini, diurutkan sesuai teks dengan menggunakan tali ditengah-tengah lempir lontar, sehingga kondisi naskah tersusun rapih. Naskah Nagarakertagama Lan Sanesipun merupakan naskah yang ditulis dengan aksara Bali dan berbahasa Jawa Kuna, berasal dari Lombok. Naskah ini berisi cerita: Lubdhaka Siw Ratri, Kunjara Karna, Jinarti Prakerti Pralambang Kamahayanin, Kerta Samaya Bhuwana Tatwa Pariyaya, Nagara Kertagama (desa Warnana), Nirartha Prakerta, Sangu Sekar, Anyang Nirartha, Lambang Puspa, Anja-anja Sancaya Turida, dan Anja-anja Sungsang. Sumber: http://aksakun.org/
Lomba Memaos atau membaca lontar yaitu lomba menceritakan hikayat kerajaan masa lampau, satu kelompok pepaos terdiri dari 3-4 orang, satu orang sebagai pembaca, satu orang sebagai pejangga dan satu orang sebagai pendukung vokal. Tujuan pembacaan cerita ini untuk mengetahui kebudayaan masa lampau, dan menanamkan nilai-nilai budaya pada generasi penerus. Kesenian memaos ini diangkat kembali sebagai asset budaya daerah dan dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata khususnya wisata budaya. Sumber: http://arsipbudayanusantara.blogspot.com/2014/01/macam-macam-tradisi-dan-budaya-di-lombok.html
Tersebutlah pada zaman dahulu, kerajaan Bali berhasil membakar Desa Kenaga. Saat itu, yang menjadi pusat pemerintahan kerajaan Kenaga adalah Suradadi. Paihnya bernama Raden Satria Nata. Setelah kalah perang dengan Bali, Raden Satria Nata bersama pengikutnya mencari tempat untuk membuka desa baru. Akhirnya, dijumpailah tempat yang mirip dengan desa Kenaga. Desa itu bemama desa Madya. Raden Satria Nata dan pengikutnya kemudian membuka ladang dan bercocok tanam di situ. Tanaman yang paling cocok adalah jenis “komak” (dalam bahasa Jawa disebut “kara”). Konon, pada saat komak sedang berbunga, datanglah putri Jin mengisap sari bunga komak. Salah satu putri Jin tertangkap oleh Raden Satria Nata. Singkat cerita, putri Jin itu kemudian menjadi permaisuri Raden Satria Nata. Namun, kedua belah pihak telah bersepakat untuk tidak saling berbicara selama menjadi suami istri. Dalam perkawinan mereka, lahirlah seorang putra yang sangat disayang oleh Raden Satria Nata...
Setiap tahun, Pulau Lombok akan menjalankan sebuah tradisi yang sangat unik. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Festival Bau Nyale. Festival ini adalah sebuah festival rakyat, dimana banyak orang akan pergi ke laut untuk menangkap cacing laut Nyale. Festival ini diadakan di sepanjang pantai selatan Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tradisi ini diadakan setiap tahun pada hari ke-20 bulan ke-10 dalam kalender Sasak tradisional yang jatuh sekitar bulan Februari. Kata Bau Nyale sendiri memiliki arti. Bau berarti “menangkap” dan Nyale adalah sejenis cacing laut yang hanya ada di hari festival ini diadakan. Ini menyebabkan antusiasme, para penduduk untuk ikut serta dalam festival ini, meningkat. Festival Bau Nyale terpaut dengan legenda Putri Mandalika. Menurut legenda, Putri Mandalika merupakan putri dari kerajaan Tunjung Beru yang tidak suka dengan kebijakan ayahnya yang telah mengadakan suatu kompetisi untuk memperebutkan Mandalika sebagai i...
Kadal Nongak Kadal nongak leq kesambik Benang kataq setaqilan Adu dende Mun cempake sik kembang sandat Sak sengake jari sahabat Tajah onyah ndek ne matiq Nane rasaq kejarian Adu dende Mun cempake sik kembang sandat Sak sengake jari sahabat Lirik di atas merupakan cuplikan lagu "Kadal Nongak" yang berasal dari pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sekilas bagi masyarakat awam, mungkin tidak paham dan merasa aneh terhadap lirik lagunya. Namun, jangan salah! Lagu di atas memiliki filosofi yang sangat dalam. Lagu ini berkaitan dengan cerita rakyat di daerah tersebut, yang menceritakan tentang seorang Putri dari Kerajaan Selaparang di Pulau Lombok yang angkuh dan bersikap tinggi hati terhadap tahta yang ia miliki. Lalu, diceritakan lah kakak dari sang putri yang memberikan nasihat kepada putri tersebut. Namun, sang putri acuh terhadap nasihat kakak nya, dan mendapatkan kualat atau malapetaka. Setelah itu, sang Ibu pun berusaha mengh...
Makanan dengan sensasi pedas yang mematikan khas Lombok, Nusa Tenggara Barat membuat setiap orang yang memakannya terlihat seperti menyiksa dirinya sendiri. Nasi Balap Puyung merupakan makanan yang sangat familiar bagi masyarakat Lombok. Makanan ini dijual dengan harga yang terjangkau dan disajikan dalam porsi yang cukup besar. Biasanya Nasi Balap Puyung ini berisi ayam suwir, tempe orak arik, sepotong ayam goreng, dan kacang panjang, serta siraman sambal yang teramat pedas. Jangankan memakan nasi dengan sambalnya, bahkan hanya nasi dan minyak sambal pun dapat membuat seseorang 'tobat' untuk melanjutkan suapan keduanya. Makanan ini dulunya hanya dijual di malam hari bertepatan dengan waktu nongkrong para anak muda, tetapi sekarang makanan ini menemani para penduduk di Lombok mulai dari siang hari hingga malam hari. Untuk para turis atau wisatawan yang datang pada saat bulan puasa, akan sulit untuk mendapatkan makanan di luar jam buka puasa, tetapi Nasi Balap...
Makam Keramat Batu Layar Lombok tak hanya cocok untuk tempat wisata alam. Ada pula berbagai tempat wisata religi seperti Makam Batu Layar. Kabarnya, komplek makam ini menjadi lokasi peristirahatan seorang syekh yang pernah menyebarkan agama Islam di Lombok. Makam Batu Layar ada di kawasan Senggigi, Lombok Barat, NTB, tak jauh dari Pantai senggigi. Makam tersebut menjadi tempat peristirahatan seorang penyebar agama Islam, yang diyakini bernama Syekh Sayid. Makam ini pun dikeramatkan oleh warga Lombok. Makam ini tampak cukup luas dengan pintu masuk di bagian depan dan belakang. Banyak turis dari anak kecil sampai orang dewasa mengunjungi area sekitar komplek makam. Biasanya, makam akan sangat ramai dengan para peziarah saat Lebaran Topat, sekitar 10 hari setelah Idul Fitri. Lebaran ini umumnya memang diawali dengan ziarah ke makam yang dikeramatkan, termasuk Batu Layar. Makam Batu Layar rupanya dianggap keramat kare...
Kerotok adalah benda berbentuk lonceng yang dikalungkan pada leher sapi dalam permainan maleang . Permainan maleang adalah permainan rakyat daerah Lombok. Kalian tahu karapan sapi? Nah, maleang ini cukup mirip. Namun, berbeda dengan karapan sapi yang bertempat di tanah lapang, maleang diadakan di sawah yang berlumpur, yaitu pada saat sawah sedang begau (digaru). Benda ini disebut kerotok karena bunyinya 'tok tok tok.' Sebenarnya, kerotok berfungsi sebagai hiasan leher sapi atau kambing sekaligus sebagai tanda bagi pemilik untuk mengetahui ke mana ternaknya berjalan, terutama pada malam hari. Kerotok pada permainan maleang mempunyai keunikan karena ukurannya yang bisa dibilang raksasa. Kerotok raksasa ini terbuat dari kayu terep . Kayu terep adalah sejenis kayu yang tumbuh di Hutan Sesaot, Lombok Barat. Kayu jenis lain bisa juga dipakai misalnya kayu bal , n...