Makam Keramat Batu Layar
Lombok tak hanya cocok untuk tempat wisata alam. Ada pula berbagai tempat wisata religi
seperti Makam Batu Layar. Kabarnya, komplek makam ini menjadi lokasi peristirahatan seorang
syekh yang pernah menyebarkan agama Islam di Lombok.
Makam Batu Layar ada di kawasan Senggigi, Lombok Barat, NTB, tak jauh dari Pantai senggigi.
Makam tersebut menjadi tempat peristirahatan seorang penyebar agama Islam, yang diyakini
bernama Syekh Sayid. Makam ini pun dikeramatkan oleh warga Lombok.
Makam ini tampak cukup luas dengan pintu masuk di bagian depan dan belakang. Banyak turis
dari anak kecil sampai orang dewasa mengunjungi area sekitar komplek makam.
Biasanya, makam akan sangat ramai dengan para peziarah saat Lebaran Topat, sekitar 10 hari
setelah Idul Fitri. Lebaran ini umumnya memang diawali dengan ziarah ke makam yang
dikeramatkan, termasuk Batu Layar.
Makam Batu Layar rupanya dianggap keramat karena warga setempat meyakini bahwa komplek
ini merupakan lokasi peristirahatan terakhir Syekh Sayid. Konon, Syekh Sayid adalah seorang
penyebar agama Islam di Lombok yang datang dari Baghdad.
Setelah menyebarkan agama Islam, syekh ini ingin pulang ke negaranya. Ia pun pergi ke tepian
pantai di kawasan Batu Layar dan duduk di sebuah batu. Kemudian, ada hujan lebat disertai petir
dan tiba-tiba Syekh Sayid menghilang.
Cerita yang beredar pun menyebutkan bahwa yang dikubur di Makam Batu Layar bukanlah jasad
Syekh Sayid, melainkan hanya beberapa benda miliknya. Walaupun begitu, makam ini tetap
dianggap keramat oleh warga Lombok.
Nah, jika sedang liburan di Lombok dan ingin ziarah, Anda bisa langsung datang ke makam
setiap hari. Tidak ada biaya masuk ke makam, tetapi ada kotak amal yang tersedia jika Anda
ingin memberikan sumbangan seikhlasnya.
Di seberang Makam Batu Layar, ada sebuah gardu pandang dimana traveler bisa menyaksikan
keindahan Pantai Senggigi dan sekitarnya dari ketinggian.
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara