Puteri Pukes tinggal di Kampung Nosar, sebuah kampung di daerah Aceh bagian tengah. Dia baru saja menikah dengan seorang lelaki dari Samar Kilang, yang berjarak cukup jauh dari Kampung Nosar. Lelaki baik hati itu adalah keturunan saudagar kaya. Sesuai adat Gayo, setiap perempuan yang menikah harus ikut ke kampung suaminya dan tinggal di sana selama-lamanya. Hal ini sungguh menyiksa perasaan Puteri Pukes. “Anakku, Ibu tahu perasaanmu. Engkau pasti merasa berat untuk meninggalkan kampung kita ini, juga meninggalkan ibu dan ayahmu,” ucap ibu Puteri Pukes sambil mendekati puteri semata wayangnya. Diusapnya kepala Puteri Pukes dengan perasaan sayang. Perasaan Puteri Pukes mulai bergejolak. Sebelumnya Puteri pernah mengutarakan keberatannya apabila menikah dan harus meninggalkan keluarganya. Tetapi hal ini adalah adat-istiadat mereka. Siapa yang menentang adat konon akan celaka. “Ibu, kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga Ibu? Siapa yang akan...
Masyarakat Gayo, NAD menyebut tempat memasak dengan kata dapur. Kamus bahasa Aceh-Indonesia (Abu Bakar et. al., 2001:159) mengartikan kata dapu sebagai dapur sebagai ruangan untuk memasak dan tungku. Kata dapu sering digabungkan dengan kata rumoh sehingga menjadi rumoh dapu, yang berarti ruang dapur di belakang rumah Aceh. Tulisan ini menggunakan kata dapur untuk menunjuk ruang yang digunakan untuk memasak sedangkan tungku merujuk pada perapian untuk mengolah makanan. Masyarakat Aceh menganggap dapur sebagai ruang pribadi yang hanya boleh dimasuki anggota keluarga. Adalah hal yang tidak sopan jika ada seorang tamu yang masuk ke dapur. Bahkan, anggota keluarga pria yang baru, misalnya menantu, baru boleh masuk ke dapur bila sudah menjadi anggota keluarga selama bertahuntahun Atau paling tidak ketika pasangan suami istri tersebut sudah mempunyai dua atau tiga anak. Fungsi Dapur: Tempat menyimpan peralatan...
Masyarakat Suku Aneuk Jamee, NAD menyebut tempat memasak dengan kata dapue. Kamus bahasa Aceh-Indonesia (Abu Bakar et. al., 2001:159) mengartikan kata dapu sebagai dapur sebagai ruangan untuk memasak dan tungku. Kata dapu sering digabungkan dengan kata rumoh sehingga menjadi rumoh dapu, yang berarti ruang dapur di belakang rumah Aceh. Tulisan ini menggunakan kata dapur untuk menunjuk ruang yang digunakan untuk memasak sedangkan tungku merujuk pada perapian untuk mengolah makanan. Masyarakat Aceh menganggap dapur sebagai ruang pribadi yang hanya boleh dimasuki anggota keluarga. Adalah hal yang tidak sopan jika ada seorang tamu yang masuk ke dapur. Bahkan, anggota keluarga pria yang baru, misalnya menantu, baru boleh masuk ke dapur bila sudah menjadi anggota keluarga selama bertahuntahun Atau paling tidak ketika pasangan suami istri tersebut sudah mempunyai dua atau tiga anak. Fungsi Dapur: Tempat men...
Masyarakat Suku Tamiang, NAD menyebut tempat memasak dengan kata dapur. Kamus bahasa Aceh-Indonesia (Abu Bakar et. al., 2001:159) mengartikan kata dapu sebagai dapur sebagai ruangan untuk memasak dan tungku. Kata dapu sering digabungkan dengan kata rumoh sehingga menjadi rumoh dapu, yang berarti ruang dapur di belakang rumah Aceh. Tulisan ini menggunakan kata dapur untuk menunjuk ruang yang digunakan untuk memasak sedangkan tungku merujuk pada perapian untuk mengolah makanan. Masyarakat Aceh menganggap dapur sebagai ruang pribadi yang hanya boleh dimasuki anggota keluarga. Adalah hal yang tidak sopan jika ada seorang tamu yang masuk ke dapur. Bahkan, anggota keluarga pria yang baru, misalnya menantu, baru boleh masuk ke dapur bila sudah menjadi anggota keluarga selama bertahuntahun Atau paling tidak ketika pasangan suami istri tersebut sudah mempunyai dua atau tiga anak. Fungsi Dapur: Tempat menyimpan pe...
Salah satu alat yang dipergunakan untuk memasak kue kiias Aceh disebut Bruek Keukaraih, orang Aneuk Jamee menyebutnya tampuang karan-karan. Dalam bahasa Indonesia dapat disebutkan tempurung karan-karan. Bruek Keukaraih, dibuat dari tempurung kelapa yang pada bagian bawah diberi lubang besar atau sepertiga dari batok kelapa tersebut dipotong. Pada bagian bawahnya diberi lubang kecil-kecil berbentuk melingkar serta diberikan gagang yang dibuat dari kayu dan diikat pada bagian atas tempurung. Bruek keukaraih ini dipergunakan untuk kue khas Aceh yang dalam masyarakat Aceh dan Aneuk Jamee disebut keukarah. Seperti umumnya peralatan dapur ada yang diperoleh dengan membeli, meminta kepada orang lain untuk membuatnya atau membuat sendiri, maka bruek keukaraih ini lebih banyak dibuat sendiri. Untuk mempergunakan sebuah bruek keukaraih memerlukan ketrampilan apabila menginginkan hasil yang baik. Pada prinsipnya cara penggunaan bruek k...
Raja Mukhayat Syah, sang Raja Aceh, memandang langit di sebelah Timur yang berwarna hijau. Ia sering melihat warna hijau itu dengan penasaran. “Warna hijau di langit yang selama ini Tuan lihat, ternyata cahaya dari tubuh seorang putri!” pengawal memberikan laporan. “Tentu putri tersebut sangat cantik, bukan?” Raja Mukhayat Syah semakin penasaran. “Ya, benar, Tuanku. Dia adalah putri Raja Sulaiman, dari Kesultanan Deli. Bila sang putri sedang bermain di taman ataupun mandi di sungai, maka langit akan memantulkan cahaya tubuhnya,” pengawal menjawab yakin. Putri Hijau sangat terkenal dengan kecantikannya. Ia pun sangat disayangi oleh rakyatnya. Sang putri anak kedua dari Raja Sulaiman. Kakaknya bernama Pangeran Mambang Jazid dan adiknya bernama Pangeran Mambang Hayali. Semenjak Raja Sulaiman wafat, maka kesultanan dipimpin oleh Pangeran Mambang Jazid. Raja Kesultanan Aceh akhirnya menyampaikan lamaran kepada sang putri. Namun sang...
Tapak Tuan, sebuah wilayah di Kabupaten Aceh Selatan. Tapak Tuan dikenal juga dengan sebutan Kota Naga. Nama Tapak Tuan tidak lepas dari cerita dan legenda Tuan Tapa dan dua ekor naga raksasa. Di wilayah ini, terdapat sejumlah tempat wisata yang memiliki banyak cerita. Ada pantai Tapak Tuan Tapa, air terjun 7 tingkat, Pulau Dua, Batu Berlayar, dan makam Tuan Tapa. Di bibir pantai Tapak Tuan Tapa, terdapat jejak telapak kaki raksasa berukuran sekitar 4 x 3 meter. Tapak kaki manusia ini berada di atas bebatuan karang pantai. Lalu, bagaimana asal usul nama Tapak Tuan? Berikut kisahnya: Alkisah, dizaman dahulu kala, di Aceh Selatan hidup sepasang naga. Sepasang naga ini, memiliki anak perempuan yang disebut Putri Naga atau Putri Bungsu. Putri ini cantik jelita. Putri nan rupawan ini, menurut cerita didapat dari laut lepas disaat selesai badai dahsyat yang menenggelamkan sebuah kapal dari daratan cina. Konon, pada saat itu,...
Di desa Penurun di Tanah Gayo, hidup keluarga petani yang sangat miskin dengan dua anaknya. Setiap hari, Pak Tani berburu di hutan dan menangkap belalang di sawah. Belalang-belalang itu disimpannya dalam lumbung untuk diolah Bu Tani menjadi makanan. Suatu hari, Pak Tani belum juga pulang dari berburu. Kedua anaknya merengek kelaparan. Di dapur sudah tidak ada makanan apapun. Bu Tani kemudian menyuruh anaknya untuk mengambil belalang di lumbung dekat rumah mereka. Ternyata, ketika berada di lumbung, si anak lupa menutup pintu lumbung sehingga semua belalang beterbangan. Ia kembali ke rumah sambil menangis tersedu. Ia berterus terang kepada Bu Tani. Ya Tuhan! Bu Tani amat terkejut. Ia tahu Pak Tani akan marah besar. Pak Tani pun pulang tanpa membawa seekor hewan buruan. Bu Tani lalu berterus terang apa yang terjadi dengan mengatakan semua itu karena kecerobohannya. Mendengar hal itu, Pak Tani sangat murka dan mengursi Bu Tani. Sambil menangis Bu Tani pergi menuju ke Atu Be...
Di desa Penurun di Tanah Gayo, hidup keluarga petani yang sangat miskin dengan dua anaknya. Setiap hari, Pak Tani berburu di hutan dan menangkap belalang di sawah. Belalang-belalang itu disimpannya dalam lumbung untuk diolah Bu Tani menjadi makanan. Suatu hari, Pak Tani belum juga pulang dari berburu. Kedua anaknya merengek kelaparan. Di dapur sudah tidak ada makanan apapun. Bu Tani kemudian menyuruh anaknya untuk mengambil belalang di lumbung dekat rumah mereka. Ternyata, ketika berada di lumbung, si anak lupa menutup pintu lumbung sehingga semua belalang beterbangan. Ia kembali ke rumah sambil menangis tersedu. Ia berterus terang kepada Bu Tani. Ya Tuhan! Bu Tani amat terkejut. Ia tahu Pak Tani akan marah besar. Pak Tani pun pulang tanpa membawa seekor hewan buruan. Bu Tani lalu berterus terang apa yang terjadi dengan mengatakan semua itu karena kecerobohannya. Mendengar hal itu, Pak Tani sangat murka dan mengursi Bu Tani. Sambil menangis Bu Tani pergi menuju ke Atu Be...