Masjid Agung Subang berdiri megah di pinggir sebuah jalan raya di pusat kota Subang. Jalan raya dimana masjid agung berada tersebut diberi nama jalan Aria Wangsa Goparana. Lalu siapakah Aria Wangsa Goparana sehingga dijadikan nama jalan di sana? Raden Aria Wangsa Goparana adalah salah satu tokoh penyebar Islam di wilayah Subang. Beliau adalah putra raja Talaga (Majalengka). Di Talaga, Arya Wangsa Goparana merupakan orang pertama yang memeluk Islam dan mendapat pelajaran dari Sunan Gunungjati. Sekitar tahun 1530 ia mengadakan perjalanan ke arah barat dalam rangka menyebarkan agama Islam. Wilayah yang diislamkannya diantaranya Subang, Purwakarta, Cianjur, Sukabumi dan Limbangan yang saat itu merupakan wilayah kerajaan Sumedang Larang. Kemudian beliau menetap di wilayah Sagalaherang. Konon, nama Sagalaherang pun dipercaya diberinama oleh beliau. Gerbang Makam Aria Wangsa Goparana Makam Aria Wangsa Goparana Arya Wangsa Gopa...
Asal Usul Di Kampung Cijambe, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung ada sebuah kesenian tradisinonal yang bernama reak , yaitu sebuah kesenian yang merupakan perpaduan antara: reog, angklung, kendang pencak, dan topeng . Konon, kesenian ini lahir sekitar abad ke-12. Ketika itu Prabu Kiansantang (putra Prabu Siliwangi) menginginkan agar penduduk pulau Jawa, khususnya Jawa Barat menganut agama Islam. Dalam agama Islam ada kewajiban bahwa seorang anak laki-laki mesti dikhitan. Mengingat bahwa khitanan berarti memotong bagian ujung penis , maka dalam pelaksanaanya seringkali membuat anak menjadi ketakutan. Untuk itu, para sesepuh menciptakan suatu kesenian dengan tujuan agar yang disunat terhibur, sehingga mengurangi rasa takut. Dan, kesenian itu disebut sebagai “ reak” karena merupakan perpaduan dari berbagai jenis kesenian, sehingga mewujudkan kehiruk-pikukan dan kesorak-soraian baik dari pemain maupun penonton. ...
Karawang pada masa Islam juga merupakan kawasan penting. Pelabuhan Caravan yang sudah eksis sejak masa Kerajaan Sunda tampaknya terus berperan hingga masa Islam. Salah satu situs arkeologi dari masa Islam di Karawang adalah makam Syech Quro . Menurut tulisan yang tertera pada panil di depan komplek makam, Nama lengkap Syech Quro adalah Syech Qurotul A’in . Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, Syech Quro adalah seorang ulama yang juga bernama Syeh Hasanudin . Beliau adalah putra ulama besar Perguruan Islam dari negeri Campa yang bernama Syech Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syech Jamaluddin serta Syech Jalaluddin ulama besar Mekah. Pada tahun 1418 datang di Pelabuhan Muara Jati, daerah Cirebon. Tidak lama di Muara Jati, kemudian pergi ke Karawang dan mendirikan pesantren. Disebutkan bahwa letak bekas pesantren Syech Quro berada di Desa Talagasari, Kecamatan Talagasari, Karawang. Di Karawang dikenal sebagai Syech Quro karena beliau adalah seoran...
Ciung Wanara adalah legenda di kalangan orang Sunda di Indonesia. Cerita rakyat ini menceritakan legenda Kerajaan Sunda Galuh, asal muasal nama Sungai Pamali serta menggambarkan hubungan budaya antara orang Sunda dan Jawa yang tinggal di bagian barat provinsi Jawa Tengah. Cerita ini berasal dari tradisi cerita lisan Sunda yang disebut Pantun Sunda, yang kemudian dituliskan ke dalam buku yang ditulis oleh beberapa penulis Sunda, baik dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Ringkasan Turunnya sang raja Dahulu berdirilah sebuah kerajaan besar di pulau Jawa yang disebut Kerajaan Galuh, ibukotanya terletak di Galuh dekat Ciamis sekarang. Dipercaya bahwa pada saat itu kerajaan Galuh membentang dari Hujung Kulon, ujung Barat Jawa, sampai ke Hujung Galuh ("Ujung Galuh"), yang saat ini adalah muara dari Sungai Brantas di dekat Surabaya sekarang. Kerajaan ini diperintah oleh Raja Prabu Permana Di Kusumah. Setelah memerintah dalam waktu yang lama Raja memutusk...
Pada Tahun 1409 Ki Gedeng Tapa dan anaknya nyai Subang Larang,penguasan Syahbandar Muara Jati Cirebon, menyambut kedatangan pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Muslim Cheng Ho ditugaskan oleh Kaisar Yung Lo (Dinasti Ming 1363-1644) memimpin misi muhibah ke-36 negara. Antara lain ke Timur Tengah dan Nusantara (1405-1430). Membawa pasukan muslim 27.000 dengan 62 kapal. Misi muhibah Laksamana Cheng Ho tidak melakukan perampokan atau penjajahan. Bahkan memberikan bantuan membangun sesuatu yang diperlukan oleh wilayah yang didatanginya. Seperti Cirebon dengan mercusuarnya. Oleh karena itu, kedatangan Laksamana Cheng Ho disambut gembira oleh Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon. Di Cirebon Laksmana Cheng Ho membangun mercusuar. Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu, rupanya juga diikutsertakan seorang ulama Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh...
Tari Kandagan tergolong tari kreasi baru dalam ranah seni tari Sunda. Tari ini merupakan pengembangan dari tari Renggarini, kreasi salah satu maestro tari Sunda, Raden Tjetje Somantri pada tahun 1957. Tari Renggarini sendiri awalnya diberi nama tari topeng Wadon. Akan tetapi karena dianggap nama ini kurang representatif, namanya diganti menjadi 'Renggarini', yang kurang lebih berarti wanita yang enerjik. Kandagan sendiri berarti wadah untuk menyimpan perhiasan dan barang berharga. Nama Kandagan dimaksudkan bahwa tari ini merupakan kumpulan berbagai gerakan tari yang indah. Tarian yang memerlukan keterampilan dan latihan keras ini, ditampilkan baik secara tunggal maupun berkelompok. Dalam mempersiapkan diri, para penari Kandagan pemula perlu melakukan rangkaian olah badan dan persiapan tari. Tari Kandagan memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan tarian seperti Jaipong dan tari merak yang tergolong tari putri atau tari yang dibawakan oleh penari wanita. Seperti jug...
Alat musik "Gamelan/Goong Renteng" berkembang dibeberapa daerah di Provinsi Jabar. Sama halnya dengan Gamelan lain, Gamelan ini biasa dimainkan dengan perangkat alat musik lainnya: Kenong, Demung, Saron, Gong, dan Bedug. Hal yang paling khas dari jenis gamelan ini adalah penyusunan/ peletakkannya yang secara berderet/berjejer. Gemelan ini sering dianggap berusia tua tapi dengan lagu yang begitu hidup dan tidak terlalu 'formal'. Menurut Elang Mamat dari Sanggar Kelapa Jajar (K. Kanoman) Penyusunan Gamelan yang renteng/ berjajar menggambarkan urutan yang teratur sesuai dengan barisanya. Angka jumlah instrumen yang digunakannya melambangkan jumlah-jumlah yang berkaitan dengan Islam. 14 gamelan, dan 5 buah, berserta 2 gong. Angka tersebut dianggap menggambarkan 7 hari 7 malam sholat 5 waktu dan 1 syahadat Tauhid + 1 Syahadat Rasul.
Ritual popokan (lempar lumpur) merupakan tradisi sedekah desa untuk menghormati pendiri desa setelah berhasil mengusir harimau dan keselamatan warga setempat. Dengan membawa berbagai sesaji dan replika harimau, ratusan warga Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang mengarak menuju areal persawahan untuk melakukan ritual popokan atau saling lempar lumpur. Tradisi ini sudah dilakukan warga sejak ratusan tahun silam sejak pendirian desa. Ritual ini sebagai wujud syukur atas keberhasilan pendiri desa yang berhasil mengusir harimau yang akan mengganggu warga dengan melempar dengan lumpur. Setelah menyiapkan berbagai sesaji dan melakukan doa, replika harimau yang sudah dipersiapkan dimasukkan ke persawahan untuk dilempar lumpur. Setelah berhasil mengusir harimau, warga kemudian menggelar pesta dengan saling melempar lumpur. Ratusan warga, tua dan muda saling serang menggunakan lumpur. Ada kepercayaan warga setempat bila terkena...
Gunung kelud terletak di Jawa timur masuk kedalam tiga wilayah yaitu Bltar,Kediri, dan Malang. Akan tetapi yang sekarang exis dengan daerah wiasta atau yang dibuka untuk tempat wisata adalah gunung kelud yang masuk wilayah kabupaten Kediri. Pada zaman dahulu gunung merupakan tempat yang sacral bagi umat manusia utamanya adalah umat hindu budha. Seperti contohnya gunung kelud yang merupakan gunung tolak kejahatan. Di tinjau dari asal kata gunung kelud tersebut yaitu kelud berarti membersihkan, dalam konteks ini membersihkan berarti membersihkan segala sesuatu yang bersifat negative. Dewasa ini masyarakat masih mempercayai bahwa suatu gunung merupakan sesuatu tempat yang sakral khususnya masyarakat disekitar gunung tersebut. Seperti halnya masyarakat lain yang berada di lereng gunung, masyarakat yang ada di sekitar lereng gunung kelud ini juga mempercayai bahwa gunung kelud merupakan tempat yang sakral. Nampak bahwa setiap satu tahun sekali tepatnya pada bulan suro (bulan dalam hi...