Ngitung Batih merupakan adat istiadat yang digunakan untuk menghitung jumlah saudara. Tradisi ini dilakukan oleh semua elemen masyarakat tanpa terikat umur, jenis kelamin, jabatan dan perbedaan latar belakang. Ngitung Batih sendiri merupakan upaya pelestarian budaya adiluhung yang ada di tanah Jawa. Filosofi Ngitung Batih merupakan sarana doa bagi masyarakat yang berharap jumlah saudara mereka bisa tetap sama pada tahun depannya dengan tetap diberikan keselamatan, kesejahteraan, murah rezeki dan terhindar dari mara bahaya. Awal mula dilaksakannya tradisi ini diketahui sejak masa kerajaan Mataram. Dahulu di Kecamatan Dongko terjadi peperangan yang mengakibatkan jumlah warga Dongko semakin berkurang. Hal ini diduga lantaran warga Dongko menghilang pada malam hari atau emboh parane dalam bahasa masyarakat sekitar. Ngitung Batih menjadi tradisi yang memiliki makna mendalam dan begitu disakralkan oleh masyarakat sekitar. Ngitung Batih dilakukan dengan mengarak 40 takir plontang berupa...
" Wajah kota lama Semarang Abbas, Novida and Riyanto, Sugeng and Chawari, Muhammad (2019) Wajah kota lama Semarang. Badan Penelitian dan Pengembangan, Yogyakarta. ISBN 978-623-91488-2-9 [img] Text Abbas, Chawari, dan Riyanto_Semarang_2019.pdf - Published Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial. Download (3MB) Abstract Buku Wajah Kota Lama Semarang ini bersumber dari hasil serangkaian penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta tahun 2008 sampai dengan tahun 2016. Penelitian arkeologi tersebut mengungkapkan bukti adanya benteng yang mengelilingi kawasan Kota Lama Semarang. Menurut sumber-sumber sejarah, benteng Kota Lama Semarang didirikan oleh Belanda pada sekitar pertengahan abad ke-18 dan dihancurkan pada tahun 1824. Bukti fisik tentang benteng Kota Lama Semarang ini diharapkan dapat melengkapi gambaran tentang Kota Lama Semarang sekaligus melengkapi pemahaman tentang kota berbenteng di Jawa, selain di Jakar...
Bahan-bahan: 1 Ikat bayam daun besar (Jawa=bayam ri) 1 Ikat sawi hijau 1 genggam daun kemangi 1 gayung air Bumbu halus: 4 siung bawang putih 1 ruas kencur 1 sendok teh garam 1 bungku bumbu penyedap 1 sendok makan gula Langkah: Siangi (Jawa=Pitili) daun bayam dan sawi. Asingkan batangnya. Lalu cuci bersih daun bayam,sawi,dan daun kemangi Haluskan bumbu. Parut kelapa,dan peras ambil santan dibagi menjadi 2. Santan kental dan santan encer. Rebus air sampai mendidih. Lalu masukkan batang daun bayam dan sawi nya dulu sampai empuk.Baru daun"nya.jika sudah empuk semua angkat dan tiriskan. Rebus santan encer dulu sambil masukkan bumbu halus tadi. Sampai mendidih. Lalu masukkan daun bayam dan sawi yg sudah direbus tadi.tunggu sampai mendidih. Jika sudah mendidih masukkan santan kental dan beri garam,Masako Ayam dan gula. Tunggu sampai mendidih.tabur daun kemangi di atasnya. Aduk" lagi. Lalu icip-icip rasa. Siap disajikan
Umat Hindu Tengger mempercayai bahwa sembilan penjuru alam semesta ini dijaga oleh Manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Dewata Nawa atb Sanga yang meliputi Dewa Wisnu, Sambu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara dan Siwa. Upacara adat ini dilaksanakan tiap satu tahun sekali yang jatuh pada Panglong ke Sanga (9) setiap Bulan Kesanga menurut hitungan Kalender Tengger. Berbeda dengan Kasada, dalam upacara adat “Pujan Kasanga” terbagi menjadi 3 (tiga) sesi yaitu resik, puja mantra/bantenan dan mubeng dheso. Sarana yang dibutuhkan dalam sesi pertama adalah sesajen yang terdiri dari panggang ayam, tumpeng, bunga panca warna, pisang ayu, suruh dan jambe ayu. Selain itu, persembahan yang berupa beberapa ekor ayam utuh dan bahan pangan lainnya dan pada akhir upacara adat persembahan ini akan diserahkan kepada para sesepuh Desa. Semua dikumpulkan di rumah Kepala Desa untuk dibacakan japa mantra oleh Dukun Adat yang disebut Rama Dukun Pandito. Masyarakat tengger mempe...
Upacara Tugel Kuncung atau Tugel gombak juga merupakan salah satu upacara tradisional yang diselenggarakan oleh masyarakat Tengger di Desa Wonokerso, kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo. Upacara ini diadakan untuk anak laki-laki yang berumur empat tahun, yang siap untuk melakukan khitan. Proses pertama yang dilakukan adalah memotong rambut dahi dari anak laki-laki yang mengikuti jalannya upacara, untuk mendapatkan berkat dan kesejahteraan dari Tuhan. Sementara itu, Tugel Gombak adalah upacara untuk anak perempuan. Upacara ini wajib bagi masyarakat Tengger dan yang akan selalu diadakan sekali dalam seumur hidup. Sebelum upacara, masyarakat menggelar doa bersama di Pura setempat. Lalu, dukun yang memimpin upacara ini akan memotong rambut para peserta inisiasi. Masyarakat setempat percaya bahwa Tugel Kuncung dan Tugel Gombak dilakukan untuk melempar nasib buruk jauh dari remaja pubertas, dan diharapkan mereka akan terhindar dari berbagai rintangan dalam hidup dan memiliki kemak...
Bersih Desa merupakan slametan atau upacara adat Jawa untuk memberikan sesaji kepada danyang desa. Sesaji berasal dari kewajiban setiap keluarga untuk menyumbangkan makanan. Bersih desa dilakukan oleh masyarakat dusun untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu. Maka sesaji diberikan kepada danyang, karena danyang dipercaya sebagai penjaga sebuah desa. Dengan demikian, upacara bersih desa diadakan di makam danyang. Di desa yang mempunyai pengaruh muslim kuat, upacara bersih desa diadakan dilaksanakan di Masjid. Adapun isinya adalah doa-doa dalam Muslim. Sementara, di beberapa desa yang tidak memiliki makam danyang, upacara bersih desa diadakan di rumah kepala desa maupun di Pendopo Kantor Kepala Desa. Bersih desa juga dimaknai sebagai ungkapan syukur atas panen padi, maka upacaranya dilakukan setelah panen padi berakhir. Bersih desa biasanya diadakan pada bulan Sela atau Syawal, yaitu bulan ke-11 Kalender Jawa. Untuk tanggal, setiap desa berbeda pelaksanaannya, namun...
Potu Nyilem merupakan makanan khas Madura yang dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat di daerah Madura. Makan ini khususnya disajikan pada saat berpuasa atau bulan Ramadhan yaitu sebagai makanan berbuka puasa atau sehabis sholat tarwih sebagai jaburanMasyarakat Madura sangat kental dengan agama Islam, pada saat berbuka puasa disunahkan berbuka dengan makanan yang manis-manis. Untuk membuat makanan yang manis salah satunya adalah Potu Nyilem, disebut demikian karena pada proses pembuatannya yaitu adonan ketan dibuat bulat-bulat seperti bola dan dimasukan kedalam air mendidih maka adonan yang berbentuk bola tersebut mengalami proses tenggelam dan tidak waktu lama akan timbul atau mengapung jika adonan tersebut matang. Tenggelam dalam bahasa Madura disebut nyilem, sehingga kue ini disebut kue Potu Nyilem. Proses pembuatan potu nyilem pertama-tama menyiapkan bhan baik bahan utama maupun bahan tambahan. Daun pandan dicuci lalu ditumbuk, diberi sedikit air kemudian diperes. Perasan daun p...
Adat perkawinan dalam Adat Tumper di lakukan sehubungan dengan adanya kepercayaan masyarakat Osing Banyuwangi yang melarang melakukan perkawinan antara sepasang pengantin yang berstatus sebagai anak sulung di lingkungan keluarganya masing-masing. Apabila perkawinan tetap di lakukan maka di percaya dapat berakibat pasangan pengantin baru itu akan banyak mengalami halangan dan rintangan dalam mengarungi hidupnya. Akan tetapi, apabila di sebabkan oleh sesuatu hal kemudian perkawian antara pasangan yang berstatus anak sulung tetap harus di lakukan maka untuk mencegah sesuatu hal-hal yang tak di inginkan, maka semua adat di lakukan dalam upacara Adat Tumper saat upacara berlangsung.
Grebeg Pancasila biasanya dimulai sejak tanggal 31 Mei dengan rangkaian acara seperti Bedhol Pusaka, Tirakatan, dan ditutup dengan Upacara Budaya. Kemudian pada tanggal 1 Juni pagi, acara dilanjutkan dengan Kirab Gunungan Lima dan Kenduri Pancasila. Namun, rundown acara bisa berubah tiap tahunnya, tergantung kondisi. Seperti tahun kemarin dan tahun ini, di mana hari Pancasila bertepatan dengan bulan suci Ramadan, sehingga dilaksanakan lebih awal. Prosesi Bedhol Pusaka dilakukan dari tanggal 31 Mei sore, dan kegiatan Kirab Gunung Lima diadakan pada malam harinya hingga dini hari. Bedhol Pusaka Ini merupakan prosesi memindahkan benda pusaka dari rumah dinas Wali Kota Blitar di Jl. Sudanco Supriyadi ke kantor Pemkot Blitar. Pusaka yang dibawa antara lain Teks Pancasila, Teks Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, serta Bendera Merah Putih, yang masing-masing pusaka dimasukkan dalam sebuah peti. Selain tiga pusaka itu, ada pula ukiran kayu burung Garuda dan foto Bung Karno yang diarak be...