Di dalam masyarakat Desa Setren, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tenagh, dikenal tradisi Susuk Wangan. Tradisi ini erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari warga yang banyak berkutat dengan pertanian dan sumber air. <> Susuk Wangan sendiri, memiliki arti membersihkan saluran air. Sebagai ungkapan syukur atas sumber air yang diberikan Allah, setiap tahunnya mereka menggelar acara ini. Tradisi yang memilik nama lengkap “Ritual Susuk Wangan Amerti Tirta” ini biasa dilakukan pada Sabtu Kliwon setiap datang Bulan Besar (Dzulhijah). "Ritual ini, merupakan adat istiadat masyarakat Desa Setren dan sekitarnya, sebagai bentuk rasa syukur karena selama ini mereka memperoleh manfaat dari aliran air gunung yang mengalir sepanjang tahun dari sumber Girimanik di hutan Setren," kata Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Slogohimo, Sarosa. Pada tahun ini untuk memeriahkan Susuk Wangan, Pemerintah Kabupaten setempat menggelar Susuk Wangan pada Ahad (3/11...
Ada sebuah tradisi khas yang dilakukan masyarakat Wonogiri setiap datangnya Lebaran. Tradisi lama yang telah turun-temurun dijaga hingga kini. Sebuah tradisi bernama Ngider . <> Ngider hampir sama dengan Halal Bihalal. Yakni bersilaturahmi sembari saling meminta dan memberi maaf. Cuma bedanya Ngider dilakukan dengan disertai memberikan bingkisan. “Bingkisan biasanya berupa makanan kecil, kadang-kadang jajanan pasar seperti jadah ketan, tape singkong atau wajik klethik,” tutur Kasmi (56) warga Gemawang, Ngadirojo, Ahad. Sementara di Giriwoyo acara Ngider diikuti makan bersama. Seorang warga akan mengunjungi tetangganya seraya membawa bingkisan. Setelah ngobrol dan bersenda-gurau bingkisan tersebut dimakan bersama-sama. “Itu nikmatnya berlebaran, kita bisa makan bersama-sama tetangga, supaya tidak lekas kenyang, bingkisan yang dibawa bukan berisi makanan besar seperti nasi dan lauk-pauk, tapi makanan kecil seperti snack , kue kering,...
Pada zaman dahulu, dikisahkan terkait dengan lahirnya tradisi dan atau ritual Ledek yang ada di Dusun Tanjung, Eromoko, Wonogiri. Sejarah ledek ini berawal dari lahirnya seorang Dayang [2] yang bernama Denuh, Gadung Melathi, Bendo Gilir yakni orang yang pertama kali yang lahir dan tinggal di dusun tersebut. Mereka dijanji harus mau menjadi dayang di desa itu, akan tetapi mereka menolak kecuali dengan berbagai syarat yang harus di penuhi. Suatu ketika dayang-dayang tersebut bermain-main di suatu tempat yang berada di Tanjung itu, sesuai syarat yang diminta mereka harus dipenuhi, syarat-syarat tersebut diantaranya : kitiran, sempritan, klopo disunduki, bedil-bedilan, panah-panahan, dan juga godongan. Suatu hari mereka melakukan sebuah kegiatan atau bermain yang belum pernah dilakukan sebelumnya, permainan itu ialah tari-menari yang disebut ledekan. Kegiatan yang dilakukan oleh dayang tersebut ke belakangnya disebut dengan tradisi ritual Ledek. Tradisi Ledek ini dilak...
https://id.wikipedia.org/wiki/Jaka_Linglung Jaka Linglung Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Jump to navigation Jump to search Jaka Linglung merupakan putera Aji Saka yang berwujud ular naga raksasa pada masa Kerajaan Medang Kamulan . Berbagai tempat dihubungkan dengan kisah perjalanan hidupnya hingga meninggal, salah satunya adalah Bleduk Kuwu . Daftar isi 1 Nama 2 Perjalanan hidup 2.1 Versi Serat Centhini 2.2 Versi lain 3 Lihat juga 4 Referensi Nama [ sunting | sunting sumber ] Nama "Jaka Linglung" memiliki arti "jejaka (pria muda yang belum menikah) yang kebingungan/ linglung". Terdapat beberapa versi bagaimana nama tersebut diperoleh Jaka Linglung. Versi per...
https://id.wikipedia.org/wiki/Kek_Lesap Kek Lesap Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Jump to navigation Jump to search Ke' Lesap adalah putera Madura keturunan dari Pangeran Sosro Diningrat / Pangeran Tjokro Diningrat III / Pangeran Cakraningrat III (1707-1718) dengan isteri selir . Tokoh ini sering muncul dari cerita rakyat Madura. Daftar isi 1 Kehidupan awal 2 Pemberontakan 3 Bengkah La An 4 Pranala luar 5 Bacaan lanjut Kehidupan awal [ sunting | sunting sumber ] Pada suatu waktu Ke' Lesap diberitahu oleh ibunya tentang siapa sebenarnya ayahnya. Sebagai seorang pemuda ia merasa kesal dan berusaha untuk tampil ke depan dengan berbagai macam keahliannya....
Sri Tanjung Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Jump to navigation Jump to search Ini adalah artikel tentang cerita rakyat dari Kabupaten Banyuwangi . Untuk kereta api milik PT Kereta Api Indonesia , lihat kereta api Sri Tanjung . Ini adalah artikel tentang taman yang terkenal. Untuk taman kota milik Kabupaten Banyuwangi , lihat Taman Sritanjung . Sri Tanjung atau juga dikenal dengan kisah Banyuwangi ( Bahasa Jawa untuk "air yang harum") adalah sebuah kisah dongeng dalam khazanah kebudayaan Jawa mengenai kesetiaan seorang istri kepada suaminya. Kisah ini populer sejak zaman Majapahit . Kisah ini dikenal dalam karya sastra berbahasa Jawa Pertengahan dalam bentuk kidung yaitu tembang yang dinyanyikan. Selain itu cerita ini juga terkenal karena biasa dibawakan dalam up...
Tawur Bubur Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Jump to navigation Jump to search Tradisi Tawur Bubur Tradisi Tawur Bubur Tawur Bubur atau disebut juga Festival Tawur Bubur merupakan salah satu upacara tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Jepara , khususnya Desa Jinggotan . Tawur Bubur rutin digelar setiap pada tahun. Sejarah [ sunting | sunting sumber ] Asal usul [1] adanya Festival Tawur Bubur Dukuh Tretes adalah, dulu kala memiliki sumber air yang selalu menes, namun saat ini sudah hilang dan diharapkan dengan kesadaran warga dengan menjaga dan melestarikan alam dengan penghijauan kembali diwilayah sekitar. Agar nantinya sumber air tersebut bisa kembali di nikmati dan digunakan kemba...
Liburan ke Purwokerto, maka kamu harus membawa pulang Soklat Inyong. Produksi cokelat satu ini memang masih rumahan, tetapi penggemarnya cukup banyak. Rasa yang lezat ditambah harganya yang murah berkisar Rp 15 ribu, semakin membuat Soklat Inyong selalu jadi idaman. Sumber: https://www.idntimes.com/food/dining-guide/andi-aris/10-cokelat-asli-indonesia-gak-kalah-dari-impor-1/full
Terdiri dari ornamen utama yang berbentuk empat bulatan lonjong dibuat menyerupai bentuk bunga (kembang), sehingga motif ini dinamakan Kawung Kembang. Ornamen utama yang terdiri dari bulatan lonjong terdapat isen motif berbentuk garis diletakkan pada setiap ujung bulatan kawung. Di tengah-tengah antara bulatan kawung satu dengan yang lainnya terdapat isen motif yang berbentuk deretan titik dengan arah melingkar, serta membentuk lingkaran yang kecil dan empat titik yang berada di luar lingkaran tersebut. Komposisi warna pada motif Kawung Kembang terdiri dari warna putih, putih kekuningan sebagai warna ornamen utama, merah soga sebagai warna kontur dan hitam untuk warna latar pada motif Kawung Kembang. Sumber: https://infobatik.id/batik-solo-bentuk-ceplok-kawung-kembang-cengkeh/