Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Jawa Tengah
Kek Lesap
- 24 November 2018

https://id.wikipedia.org/wiki/Kek_Lesap

 

Kek Lesap

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 
 
Jump to navigationJump to search

Ke' Lesap adalah putera Madura keturunan dari Pangeran Sosro Diningrat / Pangeran Tjokro Diningrat III / Pangeran Cakraningrat III (1707-1718) dengan isteri selir. Tokoh ini sering muncul dari cerita rakyat Madura.

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Pada suatu waktu Ke' Lesap diberitahu oleh ibunya tentang siapa sebenarnya ayahnya. Sebagai seorang pemuda ia merasa kesal dan berusaha untuk tampil ke depan dengan berbagai macam keahliannya. Kek Lesap muda memiliki kebiasaan suka sekali bertapa di Gunung-gunung dan di kuburan-kuburan yang keramat. Pada suatu waktu ia bertapa di gunung Geger (di Bangkalan) dengan waktu yang cukup lama, hingga setelah bertapa ia mempunyai beberapa macam keahlian dan terutama keahliannya sebagai dukun untuk menyembuhkan bermacam-macam penyakit yang diderita oleh orang-orang.

Hal itu terdengar oleh Raja Bangkalan yang bernama Suro Diningrat / Pangeran Tjokro Diningrat IV / Pangeran Cakraningrat IV (1718-1736). Lalu ia dipanggil dan diperkenankan untuk tinggal di Bangkalan dan diberi hadiah berupa rumah di Desa Pejagan, selain itu Raja juga mengizinkan ia untuk menjalankan praktiknya sebagai dukun. Sebagai dukun ia tak segan untuk memberi berbagai macam obat-obatan kepada siapapun yang menderita sakit.

Meskipun sudah mendapat penghormatan semacam itu, Ke' Lesap masih merasa belum puas karena ia merasa sering diawasi oleh Raja. Sementara Ke' Lesap sendiri mempunyai maksud tersembunyi yaitu dia berambisi untuk memegang pemerintahan di seluruh Madura, karena itu Ke' Lesap meninggalkan kota Bangkalan dengan menuju ke arah timur dan akhirnya ia sampai di gua Gunung Pajuddan di daerah Guluk-Guluk dan di gua itulah ia bertapa untuk beberapa tahun lamanya.

Diceritakan bahwa Ke' Lesap mempunyai sebuah calok atau golok yang dinamai dengan Kodhi' Crancang yang dapat disuruh untuk mengamuk sendiri tanpa ada seorang pun yang memegangnya, karena kesaktian-kesaktian yang dimilikinya, maka ia makin dikenal sampai ke seluruh pelosok Madura.

Pemberontakan[sunting | sunting sumber]

Akhirnya Ke' Lesap merasa yakin pada dirinya sendiri bahwa ia sudah cukup mampu untuk mengobarkan api pemberontakan, keahlian dan kemasyhurannya banyak membawa simpati pada rakyat, sehingga ketika ia turun dari pertapaannya di gunung Pajuddan dan ia mulai dapat menaklukan desa-desa yang ia datangi.

Dengan bantuan pengikutnya Ke' Lesap yang dikomandoi oleh panglima perangnya yang bernama oleh Raden Buka mulai menyerang kerajaan Sumeneppada tahun 1749 - 1750 M. Pertempuran terjadi di mana-mana dan tak lama kemudian Sumenep dapat didudukinya. Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro IV atau Raden Alza atau Adipati Sumenep XXVIII ( 1744 - 1749) sebagai Bupati Sumenep merasa sangat ketakutan, dan ia melarikan diri bersama-sama keluarganya ke Surabaya dan melaporkan adanya pemberontakan itu kepada Kompeni Belanda - VOC (1749 M) yang berada di Surabaya.

Setelah keraton Sumenep dapat diduduki, Ke' Lesap menempatkan Raden Buka sebagai Adipati Sumenep (1749 - 1750).

Selanjutnya Kek Lesap menuju ke Pamekasan melalui jalan sebelah selatan ialah Bluto, Prenduan, Kaduaradan seterusnya. Di manapun tempat yang ia lalui, dia selalu disambut oleh rakyat dengan penuh simpati dan terus rakyat menggabungkan diri sebagai pasukan pemberontak, Pamekasan dengan mudah pula dapat dikalahkan karena pada waktu itu Bupati Pamekasan Tumenggung Ario Adikoro IV (R. Ismail) tidak ada di tempat, karena ia sedang bepergian ke Semarang.

Raden Adikoro IV tak lain adalah menantu Cakraningrat V yang bertahta di Bangkalan, sewaktu Adikoro IV kembali dari Semarang dan singgah di Bangkalan ia lalu mendengar dari mertuanya bahwa Ke' Lesap melakukan pemberontakan, setelah mendengar berita itu Adikoro IV meminta diri kepada ayahnya untuk berangkat berperang melawan Ke' Lesap. Ia sangat marah karena memikirkan nasib rakyat pamekasan yang tentunya kocar kacir karena ditinggal pemimpinnya.

Dengan diiringi pengikutnya yang masih setia Adikoro IV terus menuju ke Sampang, Di kota ini ia berhenti untuk beristirahat sebentar, pada saat makan siang datanglah seorang utusan Ke' Lesap dengan membawa sepucuk surat yang isinya menantang untuk berperang. Adikoro IV sangat marah dan serta merta nasinya tidak dimakannya bahkan ia terus berdiri dan menanyakan kepada orang-orang banyak siapa yang sanggup mengikuti dirinya untuk berperang dengan Ke' Lesap. Penghulu Bagandan tidak menyetujui untuk berangkat segera karena hari itu adalah hari naas dan menasihatkan untuk berangkat keesokan harinya saja.

Tetapi adikoro tidak sabar untuk menunggu semalam saja, ia menanyakan lagi siapa yang sanggup mati bersama-bersama dengan dirinya. Penghulu Bagandan menyahut bahwa ia yang pertama bersedia untuk mati bersama pemimpinnya karena itu tanpa ditunda-tunda lagi Adikoro berangkat dengan diikuti penghulu Bagandan dan pengiring-pengiring menuju ke Pamekasan, Adikoro IV dan pasukannya mengamuk sedemikian rupa sehingga musuhnya dapat dipukul mundur sampai ke Pangantenan di daerah Pamekasan, namun karena jumlah pasukan Adikoro sangat sedikit dan ia sendiri sudah amat lelah maka tidak lama kemudian perutnya terkena senjata sampai ususnya keluar. Tetapi semangatnya tidak padam, dengan melilitkan tangkai ususnya pada tangkai kerisnya, ia terus mengamuk dengan tombaknya, rupanya ia kehabisan tenaga juga dan terus jatuh dan meninggal dunia. Demikian pula Penghulu Bagandan gugur di Medan pertempuran bersama Adikoro IV.

Setelah Adikoro IV dapat dikalahkan maka Ke' Lesap beserta pasukannya terus menuju ke Bangkalan. Saat itu Bangkalan dipimpin oleh Raden Adipati Sejo Adi Ningrat I / Panembahan Tjokro Diningrat V / Pangeran Cakraningrat V (1736-1769). 
di Bangkalan pertempuran hebat pun dimulai, sebab pasukan Cakraningrat V mengadakan perlawanan-perlawanan yang cukup berkobar tetapi lama kelamaan pasukan Bangkalan dapat dipukul mundur dan saat bantuan Kumpeni Belanda telah didatangkan dari Surabaya, pertempuran terus berkobar kembali.

Bantuan dari Kumpeni belanda tidak dapat bertahan dan terpaksa mundur pula. Merasa hampir kalah, Cakraningrat V akhirnya mengungsi ke daerah Malajah, sedangkan Benteng masih dipertahankan oleh Pasukan Kompeni Belanda (VOC), dan waktu itu Ke' Lesap membuat Pesanggrahan di desa Tonjung.

Bengkah La An[sunting | sunting sumber]

Pada suatu malam Cakraningrat V bermimpi supaya Ke' Lesap dikirimi seorang perempuan dengan disuruh memegang bendera putih yang maksudnya Bangkalan akan menyerah, tipu muslihat itu keesokan harinya dijalankan seorang perempuan diberinya pakaian Keraton serta disuruh memegang bendera putih dan terus dikirimkan kepada Ke' Lesap. Ke' Lesap menerima pemberian itu dan wanita si pemberi hadiah itupun dibawa ke Pesanggrahannya dengan keyakinan bahwa Bangkalan sudah menyerah.

Pada waktu Cakraningrat V menunggu reaksi, Ke' Lesap dengan dikirimkannya seorang wanita yang memegang bendera putih, tiba-tiba terlihatlah tombak pusaka Bangkalan yang bernama Ki Nenggolo gemetar dan bersinar-sinar seolah mengeluarkan api, Cakraningrat V bangkit dari tempat duduknya dan langsung mengambil tombak itu, ia lalu mengajak pasukannya untuk berangkat berperang guna menumpas pemberontakan Ke' Lesap.

Sesampainya di Desa Tonjung Ke' Lesap sangat terkejut karena Cakraningrat V datang menyerang dengan tiba-tiba dengan tidak menunggu lama Cakraningrat V mendatangi pempinan pemberontak itu dan menancapkan tombaknya, pada seketika itu Ke' Lesap meninggal, Rakyat Bangkalan yang mengikuti Rajanya berseru "Bengkah la'an" yang artinya sudah matilah. Karena itu sebagian orang Madura mengatakan bahwa nama Bangkalan itu berasal dari kalimat itu.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Bouvier, Hélène (1994) La matière des émotions. Les arts du temps et du spectacle dans la société madouraise (Indonésie). Publications de l'École Française d'Extrême-Orient, vol. 172. Paris : EFEO. ISBN 2-85539-772-3.

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu