Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Jawa Tengah
Jaka Linglung
- 24 November 2018

https://id.wikipedia.org/wiki/Jaka_Linglung

 

Jaka Linglung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 
 
Jump to navigationJump to search

Jaka Linglung merupakan putera Aji Saka yang berwujud ular naga raksasa pada masa Kerajaan Medang Kamulan. Berbagai tempat dihubungkan dengan kisah perjalanan hidupnya hingga meninggal, salah satunya adalah Bleduk Kuwu.

 

Daftar isi

Nama[sunting | sunting sumber]

Nama "Jaka Linglung" memiliki arti "jejaka (pria muda yang belum menikah) yang kebingungan/ linglung". Terdapat beberapa versi bagaimana nama tersebut diperoleh Jaka Linglung. Versi pertama (Serat Centhini) menyebutkan nama tersebut diperolehnya dari Ratu Anginangin.[1] Versi kedua menyebutkan bahwa saat dalam perjalanan kembali ke Medang Kamulan melalui bawah tanah, ia muncul pada suatu tempat sebagai anak kecil yang linglung sehingga dirawat oleh seorang wanita tua sampai sembuh. Karena itu, wanita tersebut menamainya Jaka Linglung. Setelah sembuh, Jaka Linglung kembali masuk ke lubang tempat ia keluar untuk melanjutkan perjalanan, sementara tempat ia menjadi linglung menjadi Bleduk Kuwu. Versi ketiga menyebutkan bahwa Prabu Aji Saka sendiri yang menamainya Jaka Linglung, karena putranya bercerita bahwa ia tersesat beberapa kali sebelum mencapai istana sehingga perjalanan pulangnya jauh lebih lama dibandingkan saat ia berangkat.

Jaka Linglung juga disebut dengan berbagai nama, antara lain Linglung Tunggulwulung, Prabu Anom Tunggulwulung, Tunggulwulung Jaka linglung,[1]dan Ki Joko Linglung.

Perjalanan hidup[sunting | sunting sumber]

Perjalanan hidup Jaka Linglung diceritakan dalam berbagai versi. Serat Centhinijuga menceritakan kisah hidup Jaka Linglung hingga meninggal dalam 75 bait tembang (11 bait pocung, 36 bait megatruh, dan 28 bait gambuh).[1]

Versi Serat Centhini[sunting | sunting sumber]

Kisah hidup Jaka Linglung diceritakan oleh Ki Jatipitutur, juru kunci Kasanga (di wilayah Gabus, Grobogan), kepada Jayengresmi. Ki Jatipitutur juga menyebutkan lima tempat lain di wilayah Kasanga yang berupa sumber lumpur, yaitu Bedhug, Kuwu, Crewek, Mandhikal, dan Sedang Ramesan.[1]

Cerita dimulai dari Aji Saka yang telah menjadi prabu di Medang Kamulan. Ia terbiasa berburu di hutan dan gunung tanpa diiringi prajurit. Pada suatu ketika, ia membunuh seekor ular raksasa yang sedang bertapa dengan panahnya sehingga dirinya menerima kutukan. Setelah itu, Aji Saka bertamu ke rumah Nyi Janda Kasiyan di Desa Sangkeh yang memiliki putri kecil bernama Rarasati. Saat ia tiba, Nyi Janda sedang mengawasi para wanita menumbuk padi dan putrinya yang beranjak remaja ikut menumbuk. Rarasati selalu diikuti induk ayam kesayangannya yang berwarna putih bersih. Aji Saka bernapsu saat melihat kemolekan Rarasati sehingga nutfahnya menetes ke tanah, demikian pula dengan Rarasati. Ayam katai peliharaan Rarasati memagut keduanya sementara Aji Saka pulang karena malu.[1]

Ayam katai Rarasati bertelur beberapa hari kemudian dan telurnya disimpan Nyi Janda di tempat penyimpanan beras. Ternyata beras di sana terus bertambah meskipun tiap hari ditanak. Selanjutnya telur tersebut diletakkan di lumbung hingga menetas seekor ular. Saat Nyi Janda melihat ular besar di dalam lumbungnya, ia berlari ketakutan hendak melapor kepada patih. Ular tersebut keluar dari lumbung menemui Rarasati sambil memanggilnya ibu, Rarasati juga berlari ketakutan. Akhirnya ular tersebut menjelaskan perihal dirinya yang merupakan putra dari Aji Saka dan Rarasati kemudian meminta untuk dibawa ke istana.[1]

Aji Saka murka karena ular naga tersebut mengaku sebagai anaknya, terutama karena dirinya masih perjaka dan belum menikah. Setelah diberi penjelasan oleh sang ular, Aji Saka menjadi malu kemudian mengutusnya ke laut selatan menghadapi buaya putih penjelmaan Dewatacengkar sebelum diakui sebagai anak serta mencarikannya tunangan. Ular naga melesat ke laut selatan dan berkelahi dengan buaya putih selama beberapa hari dan menang. Kemenangan tersebut disambut bahagia oleh Ratu Anginangin yang selanjutnya memberinya hadiah memerintah di laut selatan selama tujuh hari, menjodohkannya dengan putrinya Nyi Blorong yang cantik, bersedia menjadi tunangan Aji Saka, dan memberinya gelar Linglung Tunggulwulung. Ia diberi ramalan akan merajai makhluk halus di gunung-gunung. Setelah tujuh hari, Jaka Linglung memohon pamit untuk pulang, Ratu Anginangin melarangnya melalui jalan yang sama seperti ia berangkat. Akhirnya ia pulang dengan cara menembus bumi dan muncul ke permukaan untuk melihat apakah sudah sampai. Tempat ia keluar dari dalam bumi berubah menjadi berbagai sumber lumpur.[1]

Setibanya di istana, Aji Saka mengangkatnya menjadi Pangeran Adipati dan menyuruhnya tinggal di Tunggulwulung. Namun, Jaka Linglung menghabiskan seluruh unggas di kediamannya sehingga Aji Saka memanggilnya dan mengajarinya ilmu kasar halus. Ia kemudian bertapa menganga di hutan selama bertahun-tahun sampai seluruh tubuhnya ditumbuhi semak belukar dan tidak kelihatan lagi. Pada suatu hari, ada sembilan anak gembala yang hendak berlindung dari hujan. Delapan anak masuk ke dalam mulut Jaka Linglung yang dikira mereka gua, sementara yang seorang dilarang masuk. Anak tersebut memanjat punggung Jaka Linglung kemudian membacokkan kudi ke punggung yang dikiranya adalah tanah, Jaka Linglung segera mengatupkan mulutnya sehingga kedelapan anak gembala yang lain mati. Anak kesembilan berlari pulang ketakutan.[1]

Prabu Aji Saka yang mendengar berita tersebut menjadi marah dan memerintahkan untuk memasak mulut Jaka Linglung sehingga akhirnya mati di tempat. Ki Jatipitutur sebagai juru kunci Kasanga menjelaskan bahwa Jaka Linglung tinggal di bawah Kasanga dan terkadang memberikan pertanda (ramalan) melalui ledakan lumpur di Kasanga yang "tingginya melebihi gunung".[1]

Versi lain[sunting | sunting sumber]

Berbagai variasi cerita Jaka Linglung adalah sebagai berikut:

  1. Sebelum mengalahkan Dewatacengkar, Aji Saka tinggal di rumah Kaki Grenteng yang memiliki putri bernama Rara Cangkek. Aji Saka tertarik pada kecantikan Rara Cangkek kemudian kencing, air seninya diminum seekor ayam jantan yang selanjutnya bertelur sebutir. Telur tersebut disimpan oleh Rara Cangkek di dalam lumbung padi. Padi di dalam lumbung tersebut tidak habis-habis sehingga menimbulkan kecurigaan Kaki Grenteng.
  2. Pemilik ayam yang menelurkan Jaka Linglung adalah seorang janda tua dari Desa Dadapan. Janda tersebut yang digantikan oleh Aji Saka saat Prabu Dewatacengkar hendak memakannya.
  3. Setelah diakui sebagai putera, Jaka Linglung tinggal di taman kerajaan bersama binatang-binatang yang lain. Namun, ia tidak diberi cukup makanan hingga kelaparan dan memakan binatang-binatang yang lain. Aji Saka menghukumnya ke Hutan Klampis dan melarangnya makan apapun selain yang masuk sendiri ke dalam mulutnya. Itulah sebabnya ia memakan delapan anak gembala yang masuk ke dalam mulutnya, sementara anak kesembilan berlindung di bawah pohon besar.
  4. Versi lain menyebutkan jumlah anak gembala yang berlindung dari hujan ada sepuluh orang. Sembilan orang masuk ke dalam mulut Jaka Linglung sementara yang satu tidak mau masuk. Setelah di dalam, kesembilan anak tersebut memukul-mukul golok mereka ke dinding gua sehingga Jaka Linglung kesakitan dan menelan semuanya. Karena kenyang, Jaka Linglung meneteskan air liur yang selanjutnya berubah menjadi letupan-letupan lumpur. Ia masuk ke dalam bumi untuk melanjutkan pertapaannya. Tempat tersebut akhirnya dinamai Kêsóngó (dari bahasa Jawa cah songoyang artinya "sembilan anak") atau Pêsóngó.
  5. Aji Saka menghukum Jaka Linglung dengan cara tubuhnya diikat ke tanah dan mulutnya dicengkal sehingga tidak bisa mengatup lagi dan meninggal dalam siksaan.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i Ranggasutrasna, Ngabei (1991). Centhini: Tambangraras-Amongraga, Jilid I, hal. 67-76. Jakarta: Balai Pustaka. ISBN 979-407-358-X.

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Tradisi MAKA
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
Nusa Tenggara Barat

MAKA merupakan salah satu tradisi sakral dalam budaya Bima. Tradisi ini berupa ikrar kesetiaan kepada raja/sultan atau pemimpin, sebagai wujud bahwa ia bersumpah akan melindungi, mengharumkan dan menjaga kehormatan Dou Labo Dana Mbojo (bangsa dan tanah air). Gerakan utamanya adalah mengacungkan keris yang terhunus ke udara sambil mengucapkan sumpah kesetiaan. Berikut adalah teks inti sumpah prajurit Bima: "Tas Rumae… Wadu si ma tapa, wadu di mambi’a. Sura wa’ura londo parenta Sara." "Yang mulia tuanku...Jika batu yang menghadang, batu yang akan pecah, jika perintah pemerintah (atasan) telah dikeluarkan (diturunkan)." Tradisi MAKA dalam Budaya Bima dilakukan dalam dua momen: Saat seorang anak laki-laki selesai menjalani upacara Compo Sampari (ritual upacara kedewasaan anak laki-laki Bima), sebagai simbol bahwa ia siap membela tanah air di berbagai bidang yang digelutinya. Seharusnya dilakukan sendiri oleh si anak, namun tingkat kedewasaan anak zaman dulu dan...

avatar
Aji_permana
Gambar Entri
Wisma Muhammadiyah Ngloji
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Wisma Muhammadiyah Ngloji adalah sebuah bangunan milik organisasi Muhammadiyah yang terletak di Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wisma ini menjadi pusat aktivitas warga Muhammadiyah di kawasan barat Sleman. Keberadaannya mencerminkan peran aktif Muhammadiyah dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan dakwah dan pendidikan berbasis lokal.

avatar
Bernadetta Alice Caroline
Gambar Entri
SMP Negeri 1 Berbah
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

SMP Negeri 1 Berbah terletak di Tanjung Tirto, Kelurahan Kalitirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Gedung ini awalnya merupakan rumah dinas Administratuur Pabrik Gula Tanjung Tirto yang dibangun pada tahun 1923. Selama pendudukan Jepang, bangunan ini digunakan sebagai rumah dinas mandor tebu. Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut sempat kosong dan dikuasai oleh pasukan TNI pada Serangan Umum 1 Maret 1949, tanpa ada yang menempatinya hingga tahun 1951. Sejak tahun 1951, bangunan ini digunakan untuk kegiatan sekolah, dimulai sebagai Sekolah Teknik Negeri Kalasan (STNK) dari tahun 1951 hingga 1952, kemudian berfungsi sebagai STN Kalasan dari tahun 1952 hingga 1969, sebelum akhirnya menjadi SMP Negeri 1 Berbah hingga sekarang. Bangunan SMP N I Berbah menghadap ke arah selatan dan terdiri dari dua bagian utama. Bagian depan bangunan asli, yang sekarang dijadikan kantor, memiliki denah segi enam, sementara bagian belakangnya berbentuk persegi panjang dengan atap limasan. Bangunan asli dib...

avatar
Bernadetta Alice Caroline
Gambar Entri
Pabrik Gula Randugunting
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Pabrik Gula Randugunting menyisakan jejak kejayaan berupa klinik kesehatan. Eks klinik Pabrik Gula Randugunting ini bahkan telah ditetapkan sebagai cagar budaya di Kabupaten Sleman melalui SK Bupati Nomor Nomor 79.21/Kep.KDH/A/2021 tentang Status Cagar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2021 Tahap XXI. Berlokasi di Jalan Tamanmartani-Manisrenggo, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, pabrik ini didirikan oleh K. A. Erven Klaring pada tahun 1870. Pabrik Gula Randugunting berawal dari perkebunan tanaman nila (indigo), namun, pada akhir abad ke-19, harga indigo jatuh karena kalah dengan pewarna kain sintesis. Hal ini menyebabkan perkebunan Randugunting beralih menjadi perkebunan tebu dan menjadi pabrik gula. Tahun 1900, Koloniale Bank mengambil alih aset pabrik dari pemilik sebelumnya yang gagal membayar hutang kepada Koloniale Bank. Abad ke-20, kemunculan klinik atau rumah sakit di lingkungan pabrik gula menjadi fenomena baru dalam sejarah perkembangan rumah sakit...

avatar
Bernadetta Alice Caroline
Gambar Entri
Kompleks Panti Asih Pakem
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Kompleks Panti Asih Pakem yang terletak di Padukuhan Panggeran, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, merupakan kompleks bangunan bersejarah yang dulunya berfungsi sebagai sanatorium. Sanatorium adalah fasilitas kesehatan khusus untuk mengkarantina penderita penyakit paru-paru. Saat ini, kompleks ini dalam kondisi utuh namun kurang terawat dan terkesan terbengkalai. Beberapa bagian bangunan mulai berlumut, meskipun terdapat penambahan teras di bagian depan. Kompleks Panti Asih terdiri dari beberapa komponen bangunan, antara lain: Bangunan Administrasi Paviliun A Paviliun B Paviliun C Ruang Isolasi Bekas rumah dinas dokter Binatu dan dapur Gereja

avatar
Bernadetta Alice Caroline