Sandiwara Cirebon, dikenal oleh masyarakat Jawa Barat dengan sebutan Masres pada tahun 1940-an, ketika Cirebon diduduki oleh kolonialis Jepang. Berdasarkan keterangan yang dihimpun oleh para tokoh sandiwara Cirebon saat ini, bahwa pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, di daerah Cirebon muncul kesenian yang digemari oleh masyarakat yaitu reog Cirebonan yang terkenal dengan nama Reog Sepat. Pertunjukan Reog tersebut terdiri dari dua bagian. Pertama, berupa atraksi bodoran/lawakan; dan kedua, berupa drama yang mengambil cerita dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut. Pada saat bersamaan, di daerah Jamblang Klangenan muncul pula sebuah kesenian yang lazim disebut Toneel dengan nama Cahya Widodo. Kesenian ini tiap hari bahkan berbulan-bulan melakukan narayuda (ngamen). Dari kedua jenis kesenian tersebut, kemudian mengilhami seorang pemuda dari kampung Langgen, desa Wangunarja, Klangenan Cirebon yang bernama Mursid untuk mendirikan kesenian baru di daerah Cirebon. Dikumpu...
Sekilas tentang batik basure' Batik basure’ merupakan batik yang memiliki ragam hias tulisan al-Quran dan kaligrafi Islam, kadang dipadu dengan bentuk geometris, arabesque , maupun bentuk-bentuk rajah (bentuk/motif tertentu yang dijadikan lambang suatu harapan, perlindungan, tolak bala, dsb). Basure’ berarti bersurat, dalam hal ini diartikan sebagai tulisan arab. Kadang ditemukan huruf-huruf yang dibuat dengan pantulan kaca, dan tulisan yang kurang jelas, kemungkinan karena pembuatnya kurang memahami bahasa arab. Batik basure’ merupakan bagian dari busana tradisional di Bengkulu dan Jambi. Dahulu batik basure’ dibuat di Cirebon, Jawa Barat, untuk diekspor ke Sumatera, kini dibuat juga di Bengkulu, Sumatera. Berikut di antara motif selendang Basure' Cirebon
Kain Panjang Ayam Alas Gunung Jati Ragam hias ini bernama Ayam Alas Gunung Jati. Diyakini bahwa ayam berkokok saat fajar yang menandakan dimulainya syiar Islam di Gunung Jati. Sunan Gunung jati merupakan salah satu dari sembilan Wali di Jawa
Mushaf-mushaf ini terdapat di Masjid Dog Jumeneng, di kompleks makam Sunan Gunung Jati, Gunung Sembung, Desa Astana Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Menurut informasi dari pengurus masjid yang sudah sepuh, dahulu banyak sekali mushaf dan naskah keagamaan di masjid ini, disimpan di para, di atas langit-langit masjid, di dalam karung. Ketika masjid ini dibongkar pada sekitar tahun 1952, keadaan naskah banyak yang hancur, dan dibuang. Berikut penampakan dan keterangan gambarnya Gbr. Mushaf 1: Mushaf ini berbaha n kertas Eropa, ukuran 33 x 21 x 5,5 cm, bidang teks 22 x 13 cm. Cap kertas tertera Erve Wysmuller. Menurut keterangan Russell Jones, kertas dengan cap seperti itu berasal dari pertengahan abad ke-19, sekitar 1850-1964.[1] Mushaf ini tidak lengkap, bagian depan adalah akhir Surah al-Baqarah dan bagian akhir Surah al-Munafiqun. Mushaf ini merupakan “ayat sudut” atau “ayat pojok”m artinya, setiap halaman diakhiri dengan penghabisan ayat...
Jika Anda berkunjung ke kota Cirebon, tak lengkap rasanya jika Anda tidak membeli Sirup Tjampolay, karena Sirup Tjampolay merupakan salah satu kuliner atau oleh-oleh khas Cirebon yang telah dikenal sejak dulu. Sirup Tjampolay merupakan salah satu kekayaan kuliner yang dimiliki oleh kota Cirebon, minuman ini diproduksi oleh Tan Tjek Tjiu, tepatnya pada 11 Juli 1936. Setelah Tan Tjek Tjiu meninggal dunia pada tahun 1964, produksi Sirup Tjampolay sempat berhenti beroperasi selama 6 tahun. Kemudian pada tahun 1970, Sirup Tjampolay kembali diproduksi oleh anak dari Tan Tjek Tjiu, Setiawan. Dalam mengelola Sirup Tjampolay, Setiawan pun mengalami berbagai rintangan dan tantangan yang tidak mudah, hingga pada ahirnya usaha Sirup Tjampolay harus terhenti kembali. Namun, pada tahun 1983 usaha Sirup Tjampolay kembali bangkit melawan berbagai rintangan persaingan bisnis dan kondisi ekonomi bangsa yang tidak menentu. Jatuh bangun bisnis Sirup Tjampolay kini telah berbuah manis,...
Kalau kita pergi ke daerah Puncak, Jawa Barat, di sana terdapat sebuah telaga yang bila dilihat pada hari cerah akan terkesan airnya berwarna-warni. Telaga itu namanya Telaga Warna dan konon merupakan air mata tangisan seorang ratu. Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja. Prabu, begitulah orang memanggilnya. Ia adalah raja yang baik dan bijaksana. Tak heran, kalau negeri itu makmur dan tenteram. Tak ada penduduk yang lapar di negeri itu. Semua sangat menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki anak. Itu membuat pasangan kerajaan itu sangat sedih. Penasehat Prabu menyarankan, agar mereka mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak setuju. “Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak angkat,” sahut mereka. Ratu sering murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya.. Lalu Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa, agar dikaruniai anak. Beberapa bulan...
Asal usul nama kota Subang selain daripada nama Subang Larang sendiri, ada cerita dari Kasepuhan kalaulah nama Subang di ambil dari cerita ketika Mbah Rangga Wulung alias Astra Prawira beserta rengrengan mencoba memasukan berbagai jenis pohon tanaman ke dalam pusaran air yg terletak di poncol Gunung Sapotong ( yg kini bernama Bumi Perkemahan Rangga Wulung ) untuk mengetahui di manakah akhir dari pusaran air tersebut berada. Namun setelah beberapa kali mencoba hal itu tidak diketahui dengan menelusuri ke semua sumber air, semua tanaman hasil coba ada . Hingga terbersit suatu cara yaitu dengan memasukan seekor anjing merah ke dalam pusaran air tersebut yg kemudian diselusuri di sumber air manakah anjing tersebut akan muncul. Ternyata anjing tersebut keluar di sumber air yg berada di Park ( Parek org sunda bilang ) tanah kosong sebelah bangunan Hotel Subang Plaza yg hingga kini tanah kosong tersebut tak terurus dan takkan mungkin di dirikannya sebuah bangunan sehubunga...
Alquran berusia ratusan tahun yang dibuat dari kulit dengan tulisan tangan menjadi saksi bisu penyebaran Islam di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sayang, tulisan ayat di dalamnya sudah memudar dan lembaran-lembarannya sobek. Kini, Alquran tua itu tersimpan di Museum Wisma Karya , Subang. Lembaran Alquran yang dibuat dari kulit binatang tersebut tampak kusam. Tulisan di beberapa bagian tidak bisa terbaca lagi. Lembaran Alquran itu juga sudah tidak memiliki sampul. Ahmad Soleh, pengelola museum, Senin (15/7/2013), menjelaskan, Alquran tua tersebut diperkirakan dibuat pada abad XVI, yakni saat Kerajaan Mataram menduduki wilayah Subang atau sebelum penyerangan ke Batavia. Alquran tersebut ditemukan di Kecamatan Cipunagara. Tinta untuk menulis ayat Alquran dibuat dari getah pohon yang diawetkan dengan minyak setelah dibungkus kain. Namun, susunan surah pada Alquran itu tidak sama dengan mushaf lainnya yang dimulai dari Alfatihah dan diakhiri dengan surah Annas. Meski t...
Ditemukannya situs Subang Larang di Muara Jati, Desa Naggerang , Binong tahun 2011 lalu ternyata menguak kisah lain dari wilayah yang disebut Astana Panjang oleh masyarakat sekitar. Astana Panjang merupakan sebutan untuk kawasan antara Muara Jati hingga ke Teluk Agung di desa Nanggerang. “Wilayah antara Muara Jati hingga Teluk Agung disebut Astana Panjang, entah sejak kapan nama tersebut dipakai, padahal sekarang kawasan ini tidak digunakan untuk lokasi Astana (pemakaman),” kata Asep, warga sekitar kepada kotasubang.com, Jumat (6/12/2013). “Sampai sekarang belum terpecahkan, kenapa nama Astana Panjang itu dipakai untuk menamai kawasan ini,” tambahnya. Menurut Asep, sejak puluhan tahun lalu warga masyarakat sekitar sering mememukan benda-benda kuno di daerah yang disebut kawasan Astana Panjang ini. Sehingga sebagian masyarakat meyakini kawasan ini merupakan bekas kuburan kuno. “Dulu waktu kecil, kami sering menemukan benda semacam keleren...