Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
cerita rakyat Jawa Barat Subang
Situs Subang Larang
- 24 Agustus 2014

Ditemukannya situs Subang Larang di Muara Jati, Desa Naggerang , Binong tahun 2011 lalu ternyata menguak kisah lain dari wilayah yang disebut Astana Panjang oleh masyarakat sekitar. Astana Panjang merupakan sebutan untuk kawasan antara Muara Jati hingga ke Teluk Agung di desa Nanggerang.

“Wilayah antara Muara Jati hingga Teluk Agung disebut Astana Panjang, entah sejak kapan nama tersebut dipakai, padahal sekarang kawasan ini tidak digunakan untuk lokasi Astana (pemakaman),” kata Asep, warga sekitar kepada kotasubang.com, Jumat (6/12/2013).

“Sampai sekarang belum terpecahkan, kenapa nama Astana Panjang itu dipakai untuk menamai kawasan ini,” tambahnya.

Menurut Asep, sejak puluhan tahun lalu warga masyarakat sekitar sering mememukan benda-benda kuno di daerah yang disebut kawasan Astana Panjang ini. Sehingga sebagian masyarakat meyakini kawasan ini merupakan bekas kuburan kuno.

“Dulu waktu kecil, kami sering menemukan benda semacam kelereng di sini, tapi ada lubangnya. Ya, karena ga ngerti biasa kami pakai untuk main kelereng saja,” ungkap Asep.

“Waktu itu banyak juga masyarakat yang menemukan benda-benda lain, tapi karena takut terjadi sesuatu, maka biasanya benda tersebut tidak diambil,” tambahnya.

Hingga sekitar tahun 1991 masyarakat baru mengerti bahwa barang yang mereka temukan adalah benda bersejarah, sejak saat itu mereka tidak takut lagi jika menemukannya dan mulai menyimpannya.

Usep, salah seorang masyarakat lain juga bercerita. Neneknya pernah menemukan benda yang terbuat dari emas di sana. Namun sayang saat itu neneknya malah menukar benda tersebut dengan seekor sapi.

“Nenek saya pernah menemukan benda kayak batangan emas berukir di sini, tapi kemudian malah ditukar dengan sapi. Sekarang emasnya hilang, sapinya juga sudah tidak ada, “ katanya menyayangkan.

Pecahan Gerabah dan Keramik yang Ditemukan di Sekitar Situs Subang Larang

Pecahan Gerabah dan Keramik yang Ditemukan di Sekitar Situs Subang Larang

Menurut Asep hingga tahun 2000-an masyarakat sekitar masih sering menemukan benda-benda kuno berserakan di sekitar Astana Panjang.

“Sekarang aja, kalau habis hujan, biasanya suka ada saja benda kuno yang terlihat, “kata Asep.

Benar saja ketika hujan reda, kotasubang.com mencoba sedikit berkeliling beberapa langkah dari tempat kami berbincang dengan warga di sekitar di Muara Jati, kami menemukan serpihan kecil keramik dan gerabah kuno di sekitar tempat tersebut.

“Serpihan-serpihan kecil gitumah sudah tidak diambil. Biasanya yang disimpan benda-benda yang hampir utuh, dan sekarangmah sudah tidak ditemukan lagi” kata Asep.
Pecahan Gerabah dan Keramik yang Ditemukan di Sekitar Sitis Subang Larang

Pecahan Gerabah dan Keramik yang Ditemukan di Sekitar Sitis Subang Larang

Benda-benda yang ditemukan di Astana Panjang sangat beragam, seperti gerabah kuno, keramik cina, penutup gigi dari emas, senjata, batu asahan, perhiasan dan masih banyak lagi. Benda-benda yang ditemukan tersebut menunjukkan tidak berasal dari satu masa kehidupan.

“Benda-benda yang ditemukan tersebut berasal dari beberapa masa, ada yang berasal dari masa Islam, masa sebelum Islam bahkan dari masa sebelum sejarah. Namun yang hampir bisa dipastikan beberapa peninggalan tersebut merujuk pada peninggalan suku Buni ” ungkap Asep.

Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan beberapa waktu lalu dengan penggalian sekitar 60 cm di sekitar Muara Jati. Benda-benda yang ditemukan tersebut diantaranya diduga peninggalan kebudayaan suku Buni. Kebudayaan Buni diperkirakan muncul pada akhir pra-Masehi hingga sekitar abad ke-5 Masehi, sebarannya meliputi wilayah pesisir utara Banten dan Jawa Barat.

Ciri-ciri kebudayaan Buni adalah banyaknya penggunaan gerabah seperti piring, periuk, kendi, dan peralatan sehari-hari. Ini ditunjang beberapa unsur tradisi megalitik, seperti penyertaan bekal kubur, mayat yang dilengkapi manik-manik, serta beberapa menhir dan batu meja.

Benda-benda hasil temuan masyarakat tersebut kini telah dikumpulkan oleh pengurus situs tersebut. Ke depan direncanakan akan dibangun sebuah museum di sekitar Muara Jati untuk menampung benda-benda bersejarah tersebut.

“Doakan saja, semoga pembangunan museumnya segera terwujud, kami juga berharap segera dilakukan penelitian lanjutan untuk mengungkap semua misteri yang ada di sini,” pungkas Asep.

 
 

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu