Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan Jawa Barat Cirebon, Indramayu
Masres: Sandiwara Cirebon
- 4 Agustus 2014

Sandiwara Cirebon, dikenal oleh masyarakat Jawa Barat dengan sebutan Masres pada tahun 1940-an, ketika Cirebon diduduki oleh kolonialis Jepang. Berdasarkan keterangan yang dihimpun oleh para tokoh sandiwara Cirebon saat ini, bahwa pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, di daerah Cirebon muncul kesenian yang digemari oleh masyarakat yaitu reog Cirebonan yang terkenal dengan nama Reog Sepat. Pertunjukan Reog tersebut terdiri dari dua bagian. Pertama, berupa atraksi bodoran/lawakan; dan kedua, berupa drama yang mengambil cerita dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut. Pada saat bersamaan, di daerah Jamblang Klangenan muncul pula sebuah kesenian yang lazim disebut Toneel dengan nama Cahya Widodo. Kesenian ini tiap hari bahkan berbulan-bulan melakukan narayuda (ngamen). 

Dari kedua jenis kesenian tersebut, kemudian mengilhami seorang pemuda dari kampung Langgen, desa Wangunarja, Klangenan Cirebon yang bernama Mursid untuk mendirikan kesenian baru di daerah Cirebon. Dikumpulkannya para pemuda dari Iingkungan sekitar untuk bersama­sama mendirikan perkumpulan kesenian dari perpaduan antara Reog Sepat dan Toneel Cahya Widodo. Kesenian ini merupakan bentuk drama gaya Cirebonan dengan iringan musik yang didukung oleh waditra berlaraskan prawa. Perpaduan kesenian tersebut dinamakan Jeblosan yang artinya menurut mereka adalah pertunjukan Toneel tanpa Iayar tutup (bhs Cirebon, jeblas jeb/os). Sementara kesenian yang baru saja terbentuk itu ada yang menyebutnya Bungkrek (bahasa Cirebon yang artinya Bujang (pemuda) yang sering angkrak-engkrek, menari). 

Oleh karena Jeblosan ini banyak dipengaruhi ketoprak/Toneel/Stambul Cahya Widodo, maka tidak heran apabila cerita yang dibawakan pada saat itu berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akan tetapi adakalanya cerita diambil dari cerita rakyat Jawa Barat tentang asal usul daerah atau dongeng-dongeng rakyat. Dalam perjalanannya kesenian jeblosan ini sangat digandrungi oleh masyarakat. Walaupun pada saat itu seluruh pemainnya terdiri dari kaum pria, namun para kaum pria tersebut mayoritas pejuang kemerdekaan. Dari kesenian inilah, media untuk penerangan sekaligus juga perjuangan melawan penjajah tercipta melalui lakon-lakon yang dimainkannya. 

Pada tahun 1946 di Desa Kebarepan Kecamatan Plumbon Cirebon berdiri pula kesenian sejenis dengan nama Langendriyo yang diprakarsai oleh Suwandi dan Mursid, desa Barepan. Antara Langendriyo dengan Jeblosan ini hampir sama seperti Toneel Cahya Widodo, namun ada perbedaan pada bahasa penyampaiannya. Pada Langendriyo penyampaian cerita dengan memakai bahasa Jawa dan pada Jeblosan memakai bahasa campuran antara bahasa Jawa Cirebonan dengan bahasa Jawa. 

Pada tahun 1949 bentuk Langgen Jeblos mulai ditingkatkan sarananya dengan mempergunakan panggung. Nama Jeblos diganti dengan Langen Perbeta yang berarti Lasykar (bahasa sandi), Persatuan Bekas Tentara. Dan pada tahun lima puluhan namanya diganti lagi dengan Sari Sasmita.yang berfungsi sebagai media penerangan. Kejayaan Sari Sasmita mulai nyata, karena dari malam ke malam di setiap musim hajatan, kesenian tersebut tak pernah istirahat memenuhi undangan masyarakat penggemarnya.

Pada tahun 1952 di Desa Bojong Wetan Kecamatan Klangenan, berdiri pula kesenian yang sejenis dengan nama Sanpro (sandiwara proletar). Pendiri kesenian ini adalah H. Abdullah yang pada saat itu menjabat sebagai kepala desa setempat. Kemudian pada tahun 1956 berdiri pula perkumpulan sandiwara di daerah Bedulan, desa Suranenggala Cirebon Utara dengan nama yang dikenal sekarang yakni Masres (nama sebuah benang yang dipakai untuk jaring ikan). Salah satu pendirinya adalah Ibu H. Sami'i yang dikenal pula sebagai pesinden Cirebonan. Dan pada tahun 1956 ini partai-partai politik mulai melirik kesenian sandiwara tersebut untuk media dan kepentingan mereka masing-masing. Maka di Desa Bojong Wetan Kecamatan Klangenan Cirebon, para tokoh Partai Sosialisme Indonesia (PSI) mendirikan perkumpulan seni sandiwara menggantikan Sanpro dengan nama Setia Budhi. Tokoh-tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Suluh Budaya. Sementara tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Dharma Bhakti. Perkumpulan ini hanya berlangsung sampai tahun 1965 dan ketika meletus gerakan 30 September (G30S/PKI), group ini bubar oleh amukan massa yang anti PKI. Sejak saat itu fungsi sandiwara juga kesenian lain tidak lagi didampingi oleh kepentingan partai politik. 

Pada tahun 1970-an sandiwara Cirebon mengalami masa kejayaan, karena banyak sekali masyarakat yang menanggap kesenian ini. Maka tidak heran jika di daerah Cirebon saat ini banyak bermunculan kelompok/grup­grup sandiwara di setiap desa dan kecamatan. Sandiwara Cirebon hingga kini masih hidup di masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Kehidupan kesenian ini tidak terlepas dari dukungan para penyangganya yang masih membutuhkan seni pertunjukan tersebut sebagai pengiring dalam upacara-upacara inisiasi, katarsis dan simpatetik magis (perkawinan, khitanan, kaul dan lain-lain). 

Alat musik yang dipakai dalam sandiwara Cirebon memakai gamelan pelog, dimana beberapa jenis waditranya meliputi: bonang, kemyang, saron, titil, penerus, gong besar dan kecil, kendang, dogdog dan ketipung, tutukan, kenong (jenglong), kecrek, seruling, dan gambang. Dalam perkembangannya saat ini, unsur musik ditambahkan beberapa peralatan musik modern diantaranya key board dan gitar electric. Sementara perlengkapan lain dalam mengusung pertunjukan sandiwara Cirebon meliputi property, layar dan dekor. 

Dalam pertunjukannya saat ini banyak menampilkan cerita yang diambil dari babad Cirebon, seperti ,lakon Nyi Mas Gandasari, Pangeran Walangsungsang, Ki Gede Trusmi, Tandange Ki Bagus Ran gin, Pusaka Golok Cabang dan lain-lain. Sekalipun demikian, adakalanya sandiwara Cirebon menampilkan cerita-cerita dongeng atau legenda masyarakat Jawa pada umumnya, terutama pada saat pertunjukan berlangsung siang hari. Namun pada malam hari, sajian cerita yang ditampilkan kebanyakan diambil dari babad Cirebon hingga tuntas menjelang pagi. Oleh karena sifatnya yang egaliter, Sandiwara Cirebon banyak mempertunjukan pula kemasan-kemasan musik dangdut Cirebonan, atau kadang-kadang tayuban sebagai selingan dalam sebuah lakon pertunjukan. Pertunjukan Sandiwara Cirebon pada malam hari biasanya dimulai pada jam 08.00 malam - 03.30 pagi. Struktur pertunjukan sandiwara Cirebon meliputi; Musik pembuka (tatalu); Adegan gimmick (surprise dengan trik panggung, berupa kembang api); Tarian pembuka; Pertunjukan lakon sandiwara; penutup dengan musik dan epilog pimpinan sandiwara. (rsk/iway)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum