Naskah Koleksi Museum Candi Cangkuang Beberapa meter dari Candi Cangkuang terdapat sebuah museum. Museum tersebut menyimpan foto tentang penelitian candi Cangkuang. Namun tidak itu saja, di dalam museum tersebut ada koleksi yang mampu menarik perhatian orang banyak yaitu naskah kuno. Naskah yang terdapat dalam museum tersebut kurang lebih berjumlah 18 naskah. Naskah-naskah tersebut adalah peninggalan dari Arief Muhammad. Arief Muhammad konon adalah seorang dari Mataram yang menyerang VOC. Setelah gagal menyerang VOC, Arief Muhammad memutuskan untuk mengasingkan diri ke Kampung Pulo. Makam dari Arief Muhammad berada tepat di depan museum Candi Cangkuang. Naskah koleksi museum ini termasuk dalam naskah-naskah Islam. Aksara yang digunakan adalah aksara Pegon, Arab, dan Jawa. Berikut adalah beberapa contoh naskah : 1. Al-Quran: Naskah Ini menggunakan alas tulis dluwang dan menggunakan aksara...
Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Bentuknya hampir sama dengan kerambit. Di bagian badan tajamnya terdapat lubang yang berjumlah sekitar 1-5, fungsinya adalah sebagai hiasan.
NASKAH MERTASINGA - SYNOPSIS Judul Buku : Sajarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga) Alih aksara dan bahasa : Amman N. Wahju, 2005 Penerbit : Penerbit PUSTAKA Jl. Penghulu Haji Hasan Mustafa No. 121, Telp 022-7210778,022-7103616, Bandung, 40125 Tebal : 524 halaman. ISBN : ISBN 979-3511-18-4 Naskah ini adalah alih bahasa dari sebuah babad, ditulis berupa rangkaian dari pupuh-pupuh yang berjumlah sebanyak 87 pupuh (dengan 1918 saleh / bait dan 14.478 padan/baris) ditulis dalam aksara Arab Pegon dalam bahasa Jawa Kuno dengasn dialek Cirebon dan Sunda. Naskah asli dari babad ini ini merupakan pusaka yang disimpan beberapa generasi di keluarga penyusun Naskah ini berisi babad yang menceritakan : 1. Sejarah Wali Sunan Gunung Jati yang dimulai dari keberangkatan anak raja &nb...
Bandros adalah salah satu jenis kue tradisional yang terbuat dari campuran tepung beras, kelapa parut dan santan. Rasanya yang gurih dari kelapa parut dan santan kelapa ini terasa nikmat setelah ditaburi dengan sedikit gula pasir. Bahan-bahan/bumbu-bumbu : Bahan I: 60 gram tepung beras 350 ml santan dari 1/2 butir kelapa 2 lembar daun pandan, disimpul 2 1/2 sendok teh garam Bahan Ii: 225 gram tepung beras 300 gram kelapa parut kasar 2 butir telur, dikocok lepas 475 ml air 75 gram gula pasir untuk taburan Cara membuat (50 buah): Bahan I : rebus tepung beras, santan, daun pandan, dan garam sambil diaduk sampai mengental. Bahan II: aduk rata tepung besar dan kelapa parut. Tambahkan rebusan bahan I sambil diaduk rata. Masukkan telur dan air sedikit – sedikit sambil diaduk rata. Panaskan cetakan kue bandros yang sudah dipanaskan. Tuang adonan sampai penuh. Tutup dan biarkan sampai matang. Keluarkan dar...
Batik Ganasan Subang merupakan seni batik yang muncul belakangan oleh inspirasi dan kekayaan seni serta alam yang bukan saja memiliki keindahan semata tetapi juga sarat dengan nilai-nilai luhur serta falsafah hidup. Corak pada batik ganasan mengambil bentuk-bentuk seperti Nanas/Ganas, Wisma Karya, Baobab/Kitambleg, dan sebagainya yang memberikan simbolisasi akan kehidupan masyarakat Subang, Jawa Barat. Workshop/Showroom Batik Ganasan: Jl. Raya Cicadas - Binong No. 13, Subang 41253
Warga menyebutnya "intip", mengingat bahan utama pembuatannya berasal dari kerak nasi liwet. Asal kata intip diambil dari bahasa Jawa Cirebon yang berarti kerak. Kuliner ini terbuat dari kerak nasi yaitu kerak yang dihasilkan ketika kita menanak nasi dengan cara konvensional. Intip yang biasa dijual dalam 2 ukuran, yakni yang besar dengan berat kira-kira ¼ kg atau 3 ons dan yang kecil dengan berat kira-kira 1 hingga 1 ½ ons, terdiri dari 2 macam yakni yang manis dan yang asin. Bahan-bahan utama : Intip/kerak nasi liwet Bahan-bahan bumbu : Kelapa 2 gelondong Bawang putih 1 kg Bawang merah ¼ kg Ketumbar 1 ons Garam ¼ kg Gula pasir 4 kg Cara pembuatan : Dua gelondong kelapa tadi dibuat santan dengan air 4 liter Bawang putih, bawang merah dan ketumbar dihaluskan Campurkan ke dalam air santan berturut-turut...
Seni Gembyung merupakan salah satu kesenian peninggalan para wali di Cirebon. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian Terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Konon seperti halnya kesenian terbang, gembyung digunakan oleh para wali yang dalam hal ini Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sebagai media untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Untuk pastinya kapan kesenian ini mulai berkembang di Cirebon tak ada yang tahu pasti. Yang jelas kesenian Gembyung muncul di daerah Cirebon setelah kesenian terbang hidup cukup lama di daerah tersebut.Gembyung merupakan jenis musik ensambel yang di dominasi oleh alat musik yang disebut waditra. Meskipun demikian, di lapangan ditemukan beberapa kesenian Gembyung yang tidak menggunakan waditra tarompet Setelah berkembang menjadi Gembyung, tidak hanya eksis...
Pupuh pertama Dangdanggula, 13 Bait. Pupuh ini diawali oleh kalimat Bismillahi ya rakhman nirakhim. Pupuh ini menceritakan lolosnya Walangsungsang—putra Prabu Siliwangi—yang berkeinginan mencari agama Nabi Muhammad. Walangsungsang –yang juga putra mahkota Kerajaan Pajajaran—berkeinginan untuk berguru agama Nabi Muhammad. Lalu, ia mengutarakan maksudnya kepada ayahandanya, Prabu Siliwngi. Namun, Prabu Siliwangi melarang bahkan mengusir Walangsungsang dari istana. Pada suatu malam, Walangsungsang melarikan diri meninggalkan istana Pakuan Pajajaran. Ia menuruti panggilan mimpi untuk berguru agama nabi (islam)kepada Syekh Nurjati, seorang pertapa asal Mekah di bukit Amparan Jati cirebon. Dalam perjalanan mencari Syekh Nurjati, Walangsungsang bertemu dengan seorang pendeta Budha bernama Sang Danuwarsi. Pupuh Kedua Kinanti, 24 bait. Pupuh ini menceritakan perjalanan Rarasantang –adik Walangsungsang yang juga berkeinginan untuk mempelajari agam...
ARIMBA Wayang Kulit Sunda Arimba adalah raja Pringgadani,berwujud raksasa yg sangat mengerikan.Ketika Pandawa diasingkan dan mengembara sampai kedekat hutan Pringgadani,prabu Arimba memerintahkan adiknya dewi Arimbi untuk mengusirnya.Akan tetapi setelah melihat Bima,Arimbi malah jatuh cinta dan ter-gila2 kepadanya.Mengetahui hal itu,Arimba marah dan langsung menyerang bima dan dalam peperangan itu akhirnya Arimba mati.Kemudian dewi Kunti meminta Bima menjadikan Arimbi sebagai istrinya yg kelak dikemudian hari melahirkan seorang ksatria terkenal bernama Gatotkaca