Kain tradisional Indonesia yang satu ini sudah berkali-kali hampir di-klaim oleh negara tetangga kita. Padahal, jika kita telusuri, jelas-jelas akar kata batik adalah dari bahasa Jawa. Batik berasal dari kata “ amba ” yang dalam bahasa jawa artinya menulis dan “ titik ” yang artinya titik. Pada awalnya batik dibuat di atas kain mori lalu digambar dengan menggunakan lilin dengan canting. Motif atau corak batik bukan hanya sekedar indah, namun juga mengandung berbagai lambang dan makna masing-masing. Beberapa motif batik batik bahkan hanya digunakan oleh keluarga keraton. Batik tak melulu hanya batik jogja. Ada juga batik solo, batik pekalongan , batik cirebon, batik banyumas, batik bali, dan lainnya.
Pernah mendengar istilah aksara Jawa? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa aksara Jawa adalah "aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa, berjumlah dua puluh huruf, bermula dengan ha dan berakhir dengan nga ;". Aksara Jawa dikenal juga sebagai Hanacaraka dan Carakan, adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah di Indonesia lainnya seperti bahasa Sunda dan bahasa Sasak. Tulisan ini berkerabat dekat dengan aksara Bali. Aksara Jawa adalah sistem tulisan Abugida yang ditulis dari kiri ke kanan. Setiap aksara di dalamnya melambangkan suatu suku kata dengan vokal / a / atau / É" / , yang dapat ditentukan dari posisi aksara di dalam kata tersebut. Penulisan aksara Jawa dilakukan tanpa spasi ( scriptio continua ). Dibandingkan dengan alfabet Latin , aksara Jawa juga kekurangan tanda baca dasar, seperi titik dua, ta...
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Daerah Istimewa setingkat provinsi di Indonesia yang merupakan peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah, dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Daerah Istimewa yang memiliki luas 3.185,80 km2 ini terdiri atas satu kota, dan empat kabupaten, yang terbagi lagi menjadi 78 kecamatan, dan 438 desa/kelurahan. Menurut sensus penduduk 2010 memiliki jumlah penduduk 3.452.390 jiwa dengan proporsi 1.705.404 laki-laki, dan 1.746.986 perempuan, serta memiliki kepadatan penduduk sebesar 1.084 jiwa per km2. Penyebutan nomenklatur Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlalu panjang menyebabkan sering terjadinya penyingkatan nomenklatur menjadi DI Yogyakarta atau DIY. Daerah Istimewa ini sering diidentikkan dengan Kota Yogyakarta sehingga secara kurang tepat sering disebut dengan Jogja, Yogya, Yogyakarta, Jogjakarta. Walaupun m...
Sekilas Sejarah Awal Mula Munculnya Aksara Jawa Aksara jawa merupakan aksara turunan dari aksara Kawi (aksara Jawa Kuno), dimana aksara Kawi adalah turunan dari aksara Pallawa. Meskipun aksara Jawa turunan dari aksara Kawi tetapi mempunyai ciri khas tersendiri yang berbeda dengan aksara sebelumnya, antara lain dalam hal bentuk dan urutan. Di jawa, khususnya di Jawa Tengah, ada dua aksara turunan Kawi, yaitu aksara Budha di wilayang sekitar gunung merapi-Merbabu yang mempunyai bentuk yang relatif hampir tak berubah banyak dari aksara Kawi, dan aksara Jawa di wilayah Demak-Pajang-Mataram-Kartosura-Surakarta-Yogyakarta yang mempunyai bentuk yang sudah berubah banyak dari aksara Kawi. Aksara Budha mempunyai urutan 'kaganga' seperti Kawi, sedangkan aksara jawa mempunyai urutan 'hanacaraka' sehingga sering disebut juga 'carakan'. Setelah pudarnya kejayaan majapahit maka pusat budaya juga bergeser ke kerajaan baru yaitu Demak yang dibidani oleh para Wa...
Aksara Jawa dalam motif kain Kaos Kaligrafijawa Ajur Ajer model kufi, yang berarti senantiasa berbaur dan beradaptasi dengan lingkungan atau alam dimana dia berada dalam hubungan yang selalu harmoni. Salam Aksara jawa http://kaligrafijawa.com Kaligrafijawa OLShop
RESEP LEDRE KHAS YOGYA Bahan Ledre: 2 ons tepung beras 1 ons tepung kanji 400 ml santan dari 1 butir kelapa ½ sendok teh garam 4 butir telur, kocok lepas Bahan Isian: 6 buah pisang raja, kupas ½ ons gula pasir Cara Membuat: 1. Siapkanlah bahan-bahan dan pelengkap yang dibutuhkan terlebih dahulu. 2. Belah pisang menjadi dua bagian dan potong kecil-kecil masing-masing belahannya. Sisihkan. 3. Lalu, dalam wadah lain silahkan mencampur tepung beras dan tepung kanji sampai merata. 4. Kemudian, tuangi santan sedikit demi sedikit sambil tetap diaduk hingga rata. 5. Selanjutnya, beri kocokan telur serta garam. Aduk kembali hingga teksturnya benar-benar sesuai untuk membuat dadar tipis. 6. Berikutnya, siapkan pan dadar atau teflon yang sudah dipanaskan. Tuangkan sekitar satu sendok sayur adonan di atasnya. 7. Sesudahnya, buatlah menjadi dadar tipis-tipis dan taburi lembaran ledre dengan potongan pisang serta gula pasir di atasnya hingga merata. 8. Lalu...
Selama ini, jamur ling zhie dikenal sebagai campuran ramuan jamu. Rasanya teramat pahit dan getir. Jamur berwarna coklat dan keras tersebut sementara ini belum ada yang bisa mengolahnya sebagai jenis makanan seperti jamur tiram, jamur kuping dan lainnya. Namun, upaya kreasi untuk membuat jamur ling zhie agar bisa lebih banyak dikonsumsi tetap ada. Salah satunya dengan membuatnya sebagai teh celup. Adalah Sumedi Purbo, warga desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, dengan upaya yang ulet mampu membuat beragam minuman berbahan jamu ling zhie seperti sirup dan teh. Sumedi bahkan berinisiatif membuat jamu itu dalam bentuk kapsul, agar masyarakat lebih mudah mengkonsumsi jamu berkhasiat tinggi tersebut tanpa merasakan rasa pahit dan getirnya. Namun karena rasanya yang teramat pahit, membuat jamur tersebut hanya dikonsumsi sebagai jamu, sehingga penjualannya menjadi terbatas. Maka, Sumedi berinisiatif mengkreasikannya menjadi beragam produk makanan. Sumedi mengawali uji c...
Walang kekek, menclok nang tenggok Mabur maneh, menclok nang pari Ojo ngenyek yo mas, karo wong wedho Yen ditinggal lungo, setengah mati E… ya ye…, ya ye… ya E ya… yae yai, e yaiyo yaiyo Manuk sriti kecemplung banyu Bengi ngimpi awan ketemu Walang abang menclok neng koro Walang biru.. walange putih Bujang maneh yo mas, ora ngluyuro Sing wis duwe putu, ra tau mulih E… ya ye…, ya ye… ya E ya… yae yai, e yaiyo yaiyo Biso nggambang yo mas, ora biso nyuling Biso nyawang, ora biso nyanding Walang ireng, mabur brenggenggeng Walang ireng, dowo suthange Yen podo seneng yo mas, ojo mung mandeng Golek ono ngendi omahe E… ya ye…, ya ye… ya E ya… yae yai, e yaiyo yaiyo Biso nggambang yo mas, ora biso ndemung Biso nyawang, ora wani nembung Walang kekek, walange kayu Walang kayu, tibo neng lemah Yen kepingin yo mas, arep melu aku Yen m...
Kupu kuwi tak cekele (incupe) Mung abure ngewuhake Ngalor ngidul Ngetan bali ngulon Mrana mrene ing saparan paran Mencok cegrok mlabur bleber (Sapa bisa ngicupake) Mentas mencok cegrok Banjur (nuli) mabur bleber Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-di-yogyakarta.html