Prasasti Pasir Awi merupakan salah satu prasasti dari tujuh prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara, kerajaan tertua di Jawa Barat. Prasasti ini berlokasi di selatan bukit Pasar Awi (± 559 mdpl) di kawasan hutan di perbukitan Cipamingkis Kabupaten Bogor, daerah yang berbeda dengan prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumangara lainnya. Prasasti ini pertama kali ditemukan oleh seorang arkeolog bernama N.W. Hoepermans. S. yang berasal dari Belanda pada tahun 1864. Prasasti Pasir Awi berpahatkan sepasang telapak kaki yang dianggap milik Raja Sri Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara serta ada juga pahatan lainnya seperti sebatang dahan dengan ranting-ranting dedaunan dan buah-buahan. Prasasti ini terdapat aksara akan tetapi tidak dapat dibaca oleh siapapun sampai sekarang. Prasasti ini telah ditetapkan menjadi Benda Cagar Budaya peringkat nasional. #OSKMITB2018 Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/prasasti-pasir-awi-jejak-tarumanegar...
Sejarah Si Raja Oloan Si Raja Oloan àmemiliki 2 istri yaitu : A. Istri pertama (Nai Jabaon br. Limbong) Ãâàini melahirkan dua anak bernama Si Ganjang Ulu (Naibaho) dan Si Godang Ulu (Sihotang). Kedua anak Si Raja Oloan ini memiliki kelainan dikepalanya. Naibaho memiliki kepala yang panjang makanya disebut Si Ganjang Ulu dan Sihotang memiliki kepala yang besar makanya disebut Si Godang Ulu. Pada saat keduanya sudah besar/dewasa, malu lah orang tuanya akan kelainan kedua anaknya ini. Maka jika ada pesta yang diadakan di rumahnya, disembunyikanlah Si Godang Ulu ke hutan rotan, itulah maka sampai sekarang Si Godang Ulu disebut juga Sihotang yang berarti Rotan (tanaman Rotan). B. Istri ke dua (boru Pasaribu)  melahirkan Bakara, Sinambela, Sihite dan Manullang. Inilah urutan Marga Si Raja Oloan dari yang sulung sampai bungsu : 1. NAIBAHO/Si Ganjang Ulu Marga Naibaho s...
Di daerah Aceh banyak sekali di dapatkan nisan kuno dimana-mana, terutama di daerah Banda Aceh yang menjadi pusat pemerinatahan kerajaan Aceh pada masa lalu. Salah satu teori yang menjelaskan bahwa Islam masuk ke Aceh berasal dari Gujarat India adalah berdasarkan bukti sejarah berupa batu nisan yang coraknya sangat khas dengan corak batu nisan yang terdapat di India Teori ini menyatakan bahwa Islam masuk di Indonesia bukan berasal dari Arab atau Mesir-Afrika tetapi berasal dari Gujarat, India sekitar abad ke-13 M, dibawa oleh orang-arang yang menjalin kontak dagang antara kedua belah negeri. Boleh jadi melalui orang-orang Gujarat yang membawa barang-barang dagangan ke anak-anak Nusantara, tetapi boleh jadi anak-anak Nusantara yang membawa hasil-hasil pertanian dan rempah-rempah ke sana ikut serta mendalami ajaran Islam, lalu membawa pulang ke negerinya, atau kedua belah pihak sama-sama aktif mengembangkan ajaran agama baru ini di In...
Tahukah kawan-kawan bahwa dijaman moderen ini banyak sekali istilah-istilah dalam bahasa daerah yang hampir punah. Baik itu karena suku itu sudah tidak ada lagi maupun karena suku itu sudah ikut dalam arus moderen yang akhirnya istilah untuk menyebut suatu barang tersebut hilang. Dalam artikel kali ini saya membahas tentang istilah dalam bahasa batak yang terancam punah karena barang-barang/teknik yang digunakan sudah sangat jarang dipakai oleh masyarakat batak itu sendiri. Istilah tersebut adalah maninggala, manduda eme di losung pangke andalu, mangarogo, mardege, purik, anduri, dan maniari. Istilah tersebut banyak dipakai pada bidang pertanian karena pada dasarnya orang batak sebagian besar hidup dengan bertani. Mari kita kupas satu per satu. Maninggala adalah istilah untuk teknik untuk membajak yang ditarik kerbau. Selanjutnyaa manduda eme di losung pangke andalu yang artinya adalah mengolah padi menjadi beras di lesung pake alu. Hal ini sudah sangat jarang ditemukan kare...
Peribahasa Jawa, Wujud Kreativitas Nenek Moyang Tiap bahasa memiliki keunikannya masing-masing. Salah satu keunikan itu terwujud dalam ragam lisan yang bermacam-macam, salah satunya dalam bentuk peribahasa, yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang dan nilai yang dianut oleh masyarakat penutur bahasa tersebut. Masyarakat Jawa ternyata memiliki kekhasan tersendiri dalam hal ini. Dalam bahasa Jawa, peribahasa dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: Paribasan Perkataan yang menggunakan tembung entar (kata kiasan, kata yang tidak bermakna sebenarnya) dan tidak mengandung perbandingan atau pertentangan Contoh: durung pecus keselak besus = durung sembada nanging pengene ora-ora (belum mapan atau mampu, tapi sudah menginginkan atau memimpikan hal yang tidak-tidak/terlalu jauh.) [durung:belum, keselak:terburu, besus:terampil] welas tanpa alis = mesakke tok ora isa ngopo-ngopo (hanya bisa mengasihani, tapi tidak mampu berbuat apa...
Wot Batu adalah suatu tempat di jalan bukit dago pakar timur no 98, Cuburial, Cimenyan, Bandung Jawa Barat tepatnya di kawasan selasar sunaryo art space, Wot Batu adalah tempat pameran karya seni yang berisikan batu-batu karya Bapak Sunaryo, beliau adalah salah satu seniman di Indonesia yang berasal dari Banyumas, tetapi sekarang menetap di bandung, dan beliaupun memiliki almamater di Institut Teknologi Bandung, dan sekarang beliaupun menjadi dosen seni rupa di institusi tersebut. Disana banyak batu karya beliau yang dipajang memiliki keterangan seperti arti, pesan, serta cerita sejarah batu tersebut. Batu-batu yang dipajang pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan tak sedikit juga yang berasal dari luar negeri. Suasana disanapun sangat nyaman dan memberi kesan, karena tidak hanya ada pameran bebatuan, tetapi ada cafe, ruang auditorium, kolam dll, view artspace ini juga sangat indah, karena menghadap hutan dan pemandangan kota di sisi yang lain, sangat cocok jadi tempat wis...
Didalam kebudayaan Sunda, terdapat kepercayaan terhadap hal-hal gaib, salah satu contohnya ialah mantra. Mantra yang biasanya orang awam ketahui, adalah perkataan atau ucapan yang bisa mendatangkan daya gaib. Salah satu contohnya adalah untuk menyembuhkan, yang biasa suku sunda sebut dengan Jampé. Pada zaman dahulu, Jampé sering dipakai untuk mengobati rasa sakit, khususnya oleh masyarakat sunda karuhun. Melalui warisan nenek moyang, pemanfaatan alam pun tampak, yaitu digunakannya daun-daunan untuk mengobati perut kembung, tampak dalam jamp é beunghak beuteung (jampé perut kembung). Masyarakat Sunda Karuhun biasanya menggunakan mantra Jampé Beunghak saat perut terasa kembung. Jampé Beunghak Beuteung juga biasanya diperuntukkan untuk bayi atau anak kecil. Pengucapan jampé tersebut harus disertai dengan menggosokkan daun eurih ke perut yang mengalami sakit karena kembung. Berikut adalah mantra jampé beunghak beuteung :...
Watu Marando adalah sebuah Batu Kuno yang terletak di Suku wana pedalaman Morowali Utara, Sulawesi tengah. Menurut Penjelasan Kepala Suku To Wana batu Watu Marando bukanlah Batu sembarangan melainkan perwujutan manusia. Menurut kepercayaan suku To wana, dahulu kala Batu watu Marando adalah seorang manusia dan kemudian setelah ia mati dan berubah menjadi subuah batu. Watu Marando sendiri memiliki bulatan-bulatan tersruktur pada permukaannya. masyarakat to wana tidak mengetahui dari mana asal muasal bulatan-bulatan itu terbentuk. menurut mayarakat to wana juga, bahwa bulatan-bulatan pada watu Marando timbul satu-persatu tergantung dengan cuaca. Apabila cuaca bagus maka bulatan pada watu Marando akan timbul, apabila buruk maka bulatannya tidak akan muncul. sehingga mereka menyebutnya mati tapi hidup. sekian artikel dari saya semoga bermanfaat. terima kasih.
Prasasti Kawali I merupakan salah satu dari enam prasasti yang ditemukan di kawasan Astana Gede Kawali, ibu kota dari Kerajaan Galuh yang kemudian menjadi Kerajaan Sunda Galuh sebagai akibat penyatuan dengan Kerajaan Pakuan, sekarang menjadi bagian dari Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Prasasti Kawali I, bersama kelima prasasti lainnya, menjadi salah satu bukti keberadaan Kerajaan Sunda Galuh ketika masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana. Prasasti ini ditulis dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno. Prasasti ini terdiri dari 10 baris sehingga menjadi prasasti dengan isi terpanjang dari Prasasti Kawali lainnya. Pada baris kelima, terdapat frasa Mahayunan Ayuna Kadatuan yang memiliki arti pembangunan untuk kebahagiaan daerah. Selain itu, prasasti ini menceritakan Keraton Surawisesa yang dibangun oleh Prabu Niskala Wastukancana dan petuah untuk berbuat kebajikan dalam kemakmuran. Secara keseluruhan, Prasasti Kawali I merupakan tugu peringatan untuk mengen...