Sebaran Apem adalah ritual yang dilakukan dengan penyebaran kue apem keong mas. Ritual ini diadakan karena dipercaya membawa berkah. Sebaran Apem masih rutin dilakukan oleh masyarakat Pengging, terletak sebelah timur pusat Kota Boyolali. Ritual ini juga disebut dengan istilah "Saparan", karena dilakukan di bulan saparan dalam kalender jawa. Asal mula ritual ini karena wabah hama tanaman dahulu kala yang merugukan panen padi rakyat sekitar. Namun sang Raden Ngabei Yosdodipuro melakukan ritual dengan melepas keong mas di persawahan. Akibatnya, wabah tanaman dapat diatasi dan rakyat dapat kebali memanen padi. Sebaran Apem dilakukan rutin untuk tanda kemakuran rakyat sekitar. Sebelum memulai ritual, didahulukan dengan pembacaan doa kepada Allah SWT, kemudian dilanjutkan dengan kirab dari halaman Kantor Kecamatan Banyudono menuju halaman Masjid Ciptomulyo. Kirab adalah perjalanan bersama-sama yang unik dengan ritual ini adalah diiringi kerbau yang merupakan keturunan kerbau bule...
Sungkeman, salah satu ritual yang berasal dari Jawa guna menunjukkan rasa hormat pada orang tua. Ritual ini dilakukan dengan cara berlutut di depan orang tua sembari meminta maaf diikuti dengan orang tua yang memberikan nasihat penting kepada anaknya. Sungkeman biasa dilakukan oleh pasangan yang sedang melaksanakan pernikahan dan orang-orang yang sedang merayakan hari raya idul fitri. Pada saat ini, tradisi sungkeman yang dilakukan pada hari raya idul fitri sudah jarang dilakukan, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi beberapa keluarga di Jawa tengah, mengingat sungkeman adalah bagian dari acara pernikahan mereka. #OSKMITB2018
Jawa merupakan daerah di Indonesia yang memiliki berbagai macam budaya untuk setiap kabupaten/kota di daerahnya. Berbagai macam budaya tersebut bisa berupa kebiasaan, ritual, pakaian , dan lain sebagainya. Salah satu budaya yang terdapat di tanah jawa adalah tegal deso. Tegal deso merupakan budaya yang sering di lakukan di tanah jawa khususnya daerah pedesaan/perkampungan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada tuhan Yang Maha Esa karena kelimpahan dan kemakmuran yang telah diberikan di tanah jawa ini. Tegal deso biasanya dilaksanakan masyarakat jawa di balai desa yang memiliki tanah luas ,karena pada saat acara ini dimulai masyarakat jawa sangat berantusias untuk mengikutinya. Acara yang dilakukan pada tegal deso biasanya berupa doa, berbagi makanan gratis, dan biasanya juga diadakan pertunjukan perwayangan. Tegal deso tidak hanya diikuti ol...
Tradisi Sangjit adalah salah satu prosesi pernikahan dalam budaya Tionghoa, tak terkecuali keturunan Tionghoa di Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, sangjit berarti proses seserahan atau lamaran dari pihak keluarga mempelai pria dengan membawa “persembahan” ke pihak keluarga mempelai wanita. Tradisi ini merupakan salah satu dari banyak tradisi yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa yang bermigrasi dari negeri Tiongkok ke Indonesia. Tradisi ini pun tidak melekat pada kepercayaan agama tertentu, walaupun sudah banyak diantara warga etnis Tionghoa yang memeluk agama lain seperti Kristen, katolik dan lain lain, mereka tetap melakukan tradisi ini sebelum melakukan pernikahan. Sangjit dilakukan sebelum hari pernikahan. Hari sangjit ini didiskusikan bersama oleh kedua pihak mempelai. Dalam prakteknya saat ini, tradisi ini seringkali ditiadakan atau digabungkan dengan prosesi lamaran yang terkesan lebih moderen. Adapun tata cara dalam prosesi sang...
Menjampuik Marapulai atau yang dalam Bahasa Indonesia menjemput mempelai laki-laki merupakan salah satu prosesi adat pernikahan di Minangkabau sebelum dilangsungkannya ijab qabul. Kegiatan manjampuik marapulai dilakukan oleh keluarga mempelai perempuan. Kegiatan ini merupakan agenda penting karena bukan hanya sekadar menjemput sang mempelai laki-laki tetapi juga langkah awal kedua keluarga mempelai bercengkerama. Oleh karena itu, terdapat beberapa persembahan serta etika saat menjemput sang pengantin laki- laki. Adapun persembahan yang dibawa antara lain : sirih dalam carano (sejenis wadah yang ditutupi sulaman emas), nasi kuning dan singgang ayam, pakaian adat lengkap untuk marapulai, serta buah tangan dari keluarga pengantin wanita berupa kue, buah, dan lain-lain. Selain baarang-barang di atas, terkadang ada barang tambahan lain yang dibawa sesuai dengan kesepakatan kedua keluarga atau ciri khas masing masing daerah. Pertama, rombongan keluarga mempelai wanita mendatangi...
Saat mendengar janur kuning pasti tak asing lagi bagi kita untuk menyadari bahwa sedang dilangsungkan acara pernikahan. janur kuning memang dimanfaatkan untuk petunjuk untuk sang empunya hajat bahwa di tempat tersebut tengah berlangsung acara besar terutama di daerah Jawa tentunya. Dari segi bahasa, kata janur berasal dari bahasa Arab yang artinya cahaya dari surga sedangkan kata kuning diambil dari bahasa Jawa yang berarti suci. Sama halnya dengan masyarakat Jawa yang mengartikan janur sebagai 'sejating nur' yang berarti cahaya sejati. Janur memiliki makna bahwa sejatinya manusia membutuhkan cahaya dari Tuhan Yang Maha Esa untuk dapat melihat jelas hal yang baik dan buruk. Janur dianggap sebagai simbol kebahagiaan yang diolah menjadi berbagai bentuk dan fungsi. janur juga dirangkai menjadi kembang mayang seperti hiasan yang dipajang disepanjang pelaminan. Dalam upacara perkawinan adat Jawa, kembar mayang digunakan sejak prosesiÃâÃ&...
Lombok, selalu memiliki ragam budaya yang unik, budaya inilah yang menjadi daya tarik bagi setiap wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Seperti halnya Upacara Rebo Bontong yang menjadi rutinitas tahunan masyarakat Pringgabaya di Lombok Timur. Biasanya upacara adat ini dilaksanakan di Pantai Ketapang Pringgabaya. Upacara Rebo Bontong bertujuan untuk tolak bala (menolak marabahaya). Tradisi ini menjadi andalan bagi masyarakat Pringgabaya, sebab selain untuk ritual, Tradisi Rebo Bontong juga dijadikan sebagai salah satu event wisata tahunandi Pantai Ketapang dan Pantai Tanjung Menangis yang ada di Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur. Upacara ini disebut dengan istilah Rebo Bontong karena puncak pelaksanaannya dilaksanakan pada hari Rabu terahir di bulan Syafar. Upacara ini dilaksanakan setiap tahun, tepatnya pada minggu terahir bulan Syafar (perhitungan tahun Hijriah dan tahun Sasak). Sebelum dilaksanakannya acara puncak Rebo Bontong, masyarakat Prin...
Massuro Baca Massuro baca merupakan salah satu budaya yang berasal dari suku Bugis, Sulawesi Selatan. Budaya ini merupakan ritual turun temurun yang sampai sekarang masih dilestarikan masyarakat, baik itu masyarakat pedesaan maupun masyarakat perkotaan. Massuro baca lebih dikenal dengan berdoa bersama untuk para leluhur dan juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Ritual ini biasanya dilakukan pada saat menjelang bulan Ramadhan dan menjelang hari raya lebaran dengan cara menghidangkan aneka hidangan atau masakan seperti nasi, ayam goreng, sup, ikan bakar serta kemenyan dan dupa yang berasap. Semua ini dihidangkan dalam suatu wadah (baki) yang biasanya memuat 4-5 macam hidangan. Setelah semuanya dipersiapkan, para anggota keluarga dalam rumah tersebut akan duduk bersila mengelilingi hidangan sambil ikut membaca doa syukur dan mendoakan para leluhur. Selain itu, masyarakat percaya bahwa massuro baca ini juga bertujuan untuk mendoakan para anggota keluarga agar s...
puisi mandar,sarat makna dan pelajaran #OSKMITB2018