254 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Buwoh, Tradisi Gotong Royong Masyarakat Bojonegoro
Ritual Ritual
Jawa Timur

Buwuh atau buwoh sebagaimana masyarakat Bojonegoro menyebutnya memiliki arti sumbangan dari tamu kepada pihak yang memiliki hajatan. Biasanya tradisi ini dilakukan ketika ada yang memiliki hajatan baik itu nikahan, khitanan, syukuran, dan lain sebagainya. Pada umumnya masyarakat Bojonegoro menggunakan bahan makanan pokok seperti beras, mie, dan bahan makanan mentah seperti gula, telur, dan lain-lain tergantung si penyumbang. Inilah yang membedakan buwoh di Bojonegoro dengan daerah lainnya yang biasanya hanya memberikan sejumlah uang atau bingkisan hadiah kecil. Dalam tradisi buwoh barang yang disumbangkan bisa mencapai 5 kg lebih, dan apabila penyumbang memiliki hajatan di masa depan maka si pemilik hajatan yang disumbang harus memberi balik sebagai balas budi. Namun ada aspek yang agak kurang menyenangkan dalam tradisi buwoh, dimana orang yang tidak membalas buwohan atau balasannya kurang akan menjadi bahan pembicaraan warga sedesa (bahkan lintas desa). Meskipun begitu, tradisi ini...

avatar
OSKM18 16018380 Muhammad Rijalul Fikri
Gambar Entri
Kebiasaan Muluk
Ritual Ritual
Jawa Timur

Ciri makan orang jawa yang paling terkenal adalah dengan muluk. Muluk merupakan cara makan dengan menggunakan tangan. Orang jawa lebih menyukai kesederhanaan sehingga kebiasaan ini dilakukan dengan menggunakan tangan saja. Selain menjadi kebiasaan orang jawa, makan menggunakan jari merupakan sunnah rasul. Rasulullah makan menggunakan 3 jari yaitu ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah.  Makan menggunakan tangan atau jari dianggap lebih nikmat dan memiliki sensasi tersendiri bagi orang jawa. Biasanya menu makanan yang dinikmati dengan muluk dilengkapi dengan sambal dan nasi yang ditempatkan di wakul.  Kebiasaan muluk masih sering dijumpai di daerah jawa, khususnya di restoran yang berkonsep lesehan. Di warung pinggir jalan tak jarang terlihat orang jawa yang makan dengan muluk. Bahkan di rumah pun orang jawa melakukan kebiasaan muluk. Maka dari itu muluk merupakan suatu kebiasaan yang sangat khas di daerah jawa karena masih banyak orang jawa yang melakukan kebiasa...

avatar
Oskm18_16418001_sabrina
Gambar Entri
Rebo Wekasan Gresik
Ritual Ritual
Jawa Timur

Rebo Wekasan             Bulan Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan hijriyah islam. Masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, sering mengatakan bulan Safar adalah bulan Tasa’um atau kesialan. Anggapan ini masih diyakini sebagian umat muslim hingga saat ini, termasuk sebagian bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, yaitu masyarakat Desa Suci, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.             Tradisi Rebo Wekasan adalah perayaan unik yang hanya ada di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur dan hanya dirayakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Rebo Wekasan bermula dari penemuan sebuah sumber air baru oleh Sunan Giri di sebuah desa bernama Pongangan yang bertepatan dengan hari Rabu terakhir di bulan Safar. Menurut cerita tutur, pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, Tuhan Yang Maha Esa mengabulkan segala permin...

avatar
OSKM18_16418054_[Tiara]
Gambar Entri
Tradisi Budaya Aduk Jenang di Candi Songgoriti
Ritual Ritual
Jawa Timur

Tradisi Budaya Aduk Jenang merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat Kota Batu, khususnya di Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, dalam merayakan Tahun Baru Hijriyah. Kegiatan ini merupakan puncak dari tradisi Manghanyubagyo Sasi Suro Jenang Suro Bareng yang dilaksanakan di Candi Songgoriti. Pelataran Candi Songgoriti akan dihiasi dengan umbul-umbul berbagai warna, obor, dan hiasan dari janur. Segala keperluan kegiatan ini disiapkan oleh para pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna, masyarakat setempat, dan sesepuh desa. Tradisi Aduk Jenang telah berlangsung sejak lama. Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun untuk memperingati malam Suro di Tahun Baru Hijriyah. Kini, tradisi ini dianggap sebagai uri-uri budaya leluhur yang berarti melestarikan budaya leluhur. Jenang merupakan makanan tradisional olahan berbahan dasar beras, ketan, kelapa, dan kacang tanah. Jenang telah mengakar dalam kebudayaan Jawa bahkan sejak Zaman Hindu-Buddha....

avatar
Oskm18_19718142_albert gunawan
Gambar Entri
Bersih Desa Kandangan
Ritual Ritual
Jawa Timur

Bersih Desa Kandangan Bersih Desa merupakan slametan atau upacara adat Jawa untuk memberikan sesaji kepada danyang desa. Bersih desa dilakukan oleh masyarakat dusun untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu. Bersih desa, sebagai upacara adat, memiliki makna spiritual di baliknya.Pertama-tama bersih desa bertujuan untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang didapat.Selanjutnya, upacara bersih desa bertujuan untuk memohon perlindungan kepada danyang sebagai penjaga sebuah desa.Terakhir, tujuan bersih desa adalah untuk memohon berkat agar hasil panen berikutnya melimpah. Selain itu, bersih desa juga memuat tujuan solidaritas di dalamnya. Makanan yang menjadi santapan bersama adalah hasil sumbangan warga sendiri. Kandangan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.Kecamatan Kandangan merupakan perbatasan antara Kabupaten Kediri dengan Kabupaten Malang. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai pe...

avatar
OSKM18_16918220_Muhammad Febrilian Syah
Gambar Entri
Tradisi Nyekar, Ziarah Jelang Lebaran
Ritual Ritual
Jawa Timur

NYEKAR Nyekar adalah tradisi ziarah atau kunjungan ke makam di kalangan Muslim Jawa Berbeda dengan tradisi ziarah yang ditujukan kepada tokoh-tokoh ulama atau wali yang dianggap keramat, sebagai penghormatan dan upaya mengambil berkah, subjek ziarah dalam nyekar ini umumnya adalah makam leluhur keluarga: kakek-nenek, orang-tua, dan saudara. Nyekar berasal dari kata Jawa sekar yang berarti kembang atau bunga. Dalam praktiknya, memang ziarah ini melibatkan penaburan bunga di atas makam yang dikunjungi. Bahkan sebagian masyarakat ada yang menyertakan dupa dan kemenyan. Tetapi aspek ritual yang terakhir ini, belakangan ini sudah jarang dilakukan, meski tidak berarti hilang sama sekali.  Nyekar bisa dilakukan kapan pun sepanjang tahun. Misal pada waktu tahun pertama dari anggota keluarga yang meninggal, di mana ikatan-ikatan emosional dengan orang yang telah mendahului itu masih sangat kuat. Nyekar juga biasa dilakukan seseorang menjelang pelaksanaan upacar...

avatar
OSKM18_16618334_Kemal Hanif
Gambar Entri
Upacara Khas Warga Magetan
Ritual Ritual
Jawa Timur

Upacara Khas Watga Magetan “Sawalan” Sawalan adalah suatu upacara atau adat khusus di kalangan warga magetan. Sawalan ini diperuntukan untuk mnesyukuri telah menunaikan ibadah 1 bulan penuh di bulan suci Ramadhan dan menyambut datingnya bulan Syawal. Upacara ini memiliki ciri khas sendiri berbeda dengan upacra upacara lain yang dilakukan didaerah lain untuk menyambut datangnya bulan Syawal. Perbedaannya adalah disini warga Magetan harus mencari bambu yang tumbuh dari tanah mereka sendiri atau dari tanah saudara mereka ataupun tetangga mereka yang masih memiliki kedekatan dalam hubungan dan masih serumpun. Warga Magetan akan membuat yang diseput “Lontong Kupat Sangga” dan “Lontong Lepet Pasak”. Selain membuat itu mereka juga memasak makanan wajib untuk mendampingi “Lontong Kupat Sangga” dan “Lontong Lepet Pasak” masakan itu adalah garang asem, sayur Lombok serta pecel khas madiun. Lontong lontong tersebut harus dimasak d...

avatar
OSKM18_19718283_HEMADANDA MUHAMMAD
Gambar Entri
Upacara Labuhan Pantai Ngliyep
Ritual Ritual
Jawa Timur

Pantai Ngliyep adalah salah satu pantai yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Pantai Ngliyep yang terletak di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Jawa Timur ini lebih dikenal dengan nama "Pantai Selatan" yang penuh dengan legenda tentang Nyi Roro Kidul. Nyi Roro Kidul sendiri adalah dewi penjaga Pantai Selatan. Konon, Nyi Roro Kidul merupakan seorang putri kerajaan yang cantik jelita bernama Dewi Kadita. Namun, Raja Munding Wangi, ayah Dewi Kadita menginginkan anak laki-laki. Akhirnya sang raja menikahi Dewi Mutiara untuk mewujudkan keinginannya. Dewi Mutiara menginginkan putranya menjadi raja dan mengusir Dewi Kadita. Hal tersebut mengundang kemurkaan sang raja. Dewi Mutiara pun menempuh cara lain untuk mengusir Dewi Kadita, yaitu dengan mendukuni Dewi Kadita sehingga tubuhnya penuh dengan bisul dan berbau busuk. Raja pun menganggap kehadiran Kadita akan membawa dampak buruk bagi kerajaannya sehingga ia mengirim putrinya ke luar negeri. Dewi Kadita pun pergi seor...

avatar
OSKM_19918154_Shannina Ariella
Gambar Entri
Suro Agung
Ritual Ritual
Jawa Timur

SURO AGUNG             Malam satu suro atau Suro Agung atau yang biasa dikenal tahun baru Islam oleh masyarakat Jawa adalah tradisi turun temurun yang diadakan oleh dua perguruan pencak silat yang ada di Madiun. Dua perguruan pencak silat ini adalah SH (setia hati) Terate dan SH Winongo. Dua perguruan silat ini memiliki tradisi yang berbeda dalam merayakan malam satu suro . SH Terate mengadakan konvoi bersama dan takziah bersama anggota padepokan ke makam-makam leluhur juga mengadakan acara pengesahan anggota yang hendak menjadi warga (tingkatan tertinggi dalam perguruan tinggi tersebut). Mereka yang hendak mengikuti pengesahan untuk menjadi warga harus mengikuti beberapa tahap seperti mencuci kain mori sesuai weton, mengambil kain mori yang ada di makam leluhur pada tengah malam. Jika mereka berhasil melewati tahap tersebut, maka mereka sudah resmi menjadi warga perguruan silat SH Terate. Lain halnya dengan SH Winong...

avatar
Oskm18_16918040_alia