Hijratun Nabi Shollallahu alaihi wasallam seribu seratus sembilan puluh delapan tahun 2 rajab hari jum’at Mengawali, Itulah duli yang dipertuan kita Sri Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah dhillullah fil alam dan paduka nanilah raja tureli Bolo bergelar perintah dalam bernama Muhyiddin dan paduka jeneli parado bergelar sahbandar bernama Abdul Mahmud dan paduka jeneli Bolo bernama Abdurrajak dan paduka jeneli Woha bernama Abdul Jalal akan bermufakat manalah dalam surat serta cap yang dipegang dalu rautu yaitu rangga kuneh dengan segala dalu2 yang lain2 karena sekarang ini Duli yang dipertuan kita membaharui dan memulai akan adat tanah Manggarai yang dikerjakan oleh segala dalu2.
Pertama-tama seperti dalu Cabul tiada boleh sekali-sekali mengerjakan pekerjaan yang telah salah dibiyasakan akan menanyakan orang lawananya tuan kita dan tanah Bima kepada tanah negerinya, maka jikalau ia mengerjakan pekerjaan yang dilarangkan itu membiasakan diri dengan tanahnya dan seperti dalu tudu/todo tiada boleh sekali-sekali membuat bendera pada sungai Ramuk yang bermufakat dengan orang Bugis atau Mangkasar dan barang jenis yang lain-lain akan membawa dagangan yang besar seperti bekal/beduk/bilal atau obat dan timah dan harta yang besar-besar demikiyan lagi dalu lailah.
Perkara yang kedua segala dalu-dalu tiyada boleh sekali-sekali pegang memegang segala elanya atau hambanya yang masuk keluar kepada salah seorang sebab itulah pekerjaan Pu han perbantahan segala dalu-dalu itu jikalau ada perbantahan dengan elanya tiada boleh sekali-sekali akan merusakkan diperlu melayinkan memalumkan kepada Naib tahta kerajaan di Reok barang apa sesuatu yang telah dimufakatkan itulah dikerjakannya demikian lagi segala elanya tiada boleh masuk keluar kepada dalu-dalu yang lain-lain jikalau ada pekerjaan dalunya yang tiada disukai melainkan memalumkan kepada ganti tuan kita di Reok.
Perkara yang ketiga pekerjaannya segala dalu-dalu itu tiada boleh segala dalu-dalu pandai memandai dengan segala dagang itu melainkan diketahui oleh ganti tuan kita dan orang yang memegang bendera pada satu-satu sungai atau labuan demikian lagi segala orang Bima iya bernama bedagang itu tiada boleh sekali-sekali naik di atas gunung,
Perkara yang ke empat segala dalu-dalu tiada boleh sekali-sekali menaruh senjata yang besar-besar jikalau ia mendapat senjata yang besar-besar diserahkan kepada ganti tuan kita di Reok tiada boleh sekali-sekali membayakan adanya.
Perkara yang kelima, tiada boleh segala dalu-dalu itu jikalau ada anak raja-raja yang dari Bima atau yang duduk kepada tanah Manggarai ini boleh bermufakat barang seseuatu pekerjaan perbantahan atau bicaranya melayinkan ia diketahuai ganti tuan kita adanya.
Perkara yang ke enam seperti orang Bugis atau Mangkasar atau orang Bima belagi bini dengan segala anak buah dalu-dalu itu tiada boleh sekali-sekali duduk di atas nagarinya pada segala dalu-dalu itu karna orang itulah merusakkan agama dan adat tanah Bima melainkan ia turun duduk kepada pasar besar seperti Reyok atau di Pota dan Bari dan gunung Talaq dan Nangga lily itulah negeri yang patut kedudukkan segala orang nama Islam barang siapa melalui dan merombakkan perkataan dalam surat ini itulah orang yang dimurkai oleh adat tanah Bima yang patut dibunuh bunuhkan dan patut ada Nacai Ancaiakan yang patut dendah dendahkan demikianlah adanya Peringatan segala senjata tuan kita dan tanah Bima yang dipegang oleh dalu Rato tanah ia membaharui dan mena’kidkan beperhambaan oleh tuan kita dan tanah Bima yaitu bendera kuning selat/selatan. Demikianlah adanya.
Catatan. Beberapa kata tidak bisa dibaca perlu konsultasi lagi dengan beberapa Filolog.
Sumber: bimasumbawa.com
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...