Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno Daerah Istimewa Yogyakarta Jogjakarta
Serat Tekawardi
- 4 Januari 2019

Sejak mulai mengenal tulisan, orang-orang di seluruh Nusantara banyak sekali menghasilkan karya yang dituliskan dalam berbagai media, seperti lontar, batu, kayu.

Tulisan-tulisan yang jumlahnya ribuan tersebut saat ini banyak yang sudah hilang (hanya berupa salinannya saja) atau telah dibawa dan disimpan di museum-museum di luar negeri. Salah satu dari sekian banyak tulisan tersebut adalah Serat Tekawardi.

Serat Tekawardi adalah salah satu naskah kuno yang saat ini hanya berupa salinannya, sedangkan naskah aslinya sudah tidak diketahui lagi keberadaannya.

 

Naskah yang tidak diketahui siapa pengarangnya serta tanggal dan tahun berapa ditulis ini, merupakan koleksi Bapak Prodjodiredjo yang bertempat tinggal di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jika dilihat dari gaya bahasa mau pun isinya, Serat Tekawardi kemungkinan ditulis pada akhir abad ke-19. Pada waktu itu mungkin sedang terjadi kemerosotan moral, sehingga para pemuka masyarakat berusaha untuk menuntun orang-orang ke jalan yang benar.

Hal ini juga dapat dilihat dengan lahirnya naskah-naskah lain yang berisi tentang pendidikan, moral, ajaran, dan falsafah hidup, seperti Serat Sasana Sunu (Yasadipura II), Wulang Reh (Paku Buwana IV), Wulang Brata.

Isi Serat Tekawardi

Secara ringkas Serat Tekawardi berisi tentang: (1) nasihat kepada orang muda; (2) nasihat untuk orangtua; (3) sifat raja yang utama; (4) sikap dan perbuatan yang baik bagi setiap orang; (5) sikap dan perbuatan yang baik bagi seorang abdi;

(6) sikap yang tepat untuk mengabdi kepada raja yang masih muda usia; (7) tujuan tinggal atau menetap di asrama/padepokan; (8) apa yang harus dipelajari bila belajar bahasa;

 

(9) sikap dan perbuatan seorang murid supaya lekas pandai; (10) uraian tentang nafsu dan cara menguasainya; (11) sikap, perbuatan dan usaha manusia yang sudah setengah tua agar hidup bahagia;

(12) sikap yang baik bagi atasan kepada bawahan; (13) sikap yang baik bagi seorang calon abdi (yang masih magang); (14) usaha-usaha agar tidak terganggu oleh setan; dan (15) perbuatan-perbuatan yang disenangi oleh Tuhan.

Berikut ini adalah beberapa sifat dan sikap utama yang diterangkan dalam Serat Tekawardi.

1. Sifat Raja/Pemimpin yang Utama

Menurut Serat Tekawardi, sifat-sifat yang sebaiknya dimiliki oleh seorang raja agar dapat menjadi panutan bagi rakyatnya adalah:

(a) tidak pernah bohong, jika berbicara harus dipikirkan terlebih dahulu dan tidak boleh ditarik kembali; itulah sebabnya ia disebut raja;

(b) menguasai, memegang teguh syarak agama, dan melaksanakan syariat agama; itulah sebabnya ia disebut kalifatullah;

(c) seorang raja harus pandai memakmurkan rakyatnya dan segala tindakannya harus adil dan bijaksana sehingga dicintai oleh rakyatnya; itulah sebabnya ia disebut Sri Narendra;

 

(d) dalam hidupnya harus mampu mendekatkan diri kepada Tuhan, seperti halnya Nabi;

(e) dalam kehidupannya sehari-hari tidak pernah melupakan Tuhan dan selalu berdoa, seperti halnya Wali; dan

(f) segala perbuatannya harus dilandasi kesucian hati dan tidak ada rasa dengki, seperti halnya orang mukmin.

2. Sikap Hidup yang Baik bagi Setiap Orang

Sikap hidup yang akan membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi seseorang adalah:

(a) hidup dengan rasa prihatin (sederhana);

(b) jangan terlalu bersenang-senang karena akan mendapat duka;

(c) perangai sebaiknya selalu gembira dan ramah terhadap sesama manusia;

(d) mencontoh segala perbuatan yang dilakukan orang-orang yang beriman;

(e) jika berkata jangan sembarangan;

(f) jangan menonjolkan diri atas kelebihan yang dimiliki, sebab akan membuat orang lain tidak simpatik;

(g) jika mendapat kesenangan jangan ketawa lebar-lebar;

(h) jangan bersikap sembrono atau lengah;

(i) selalu bersikap hati-hati dan waspada;

(j) rajin menimba ilmu;

(k) beriman kepada Tuhan;

(l) selalu mematuhi perintah wali/imam agama;

(m) tidak pernah lupa berdoa, untuk keselamatan dan kemakmuran diri, keluarga dan orang lain; dan

(n) selalu menghindarkan diri dari perbuatan yang tercela.

3. Sikap bagi Seorang Abdi

Sikap seorang abdi (kerajaan atau negara) yang baik adalah:

(a) jika sedang dipakai oleh raja (atasan) jangan sombong. Hal ini akan membuat hati orang lain menjadi tidak senang;

 

(b) jangan sakit hati jika ditegur oleh raja (atasan). Jika seorang abdi mau menerima teguran atasan dengan tidak sakit hati, maka lama-kelamaan justru akan menjadi orang yang pandai;

(c) melaksanakan perintah atasan dengan senang hati. Dan jika terpaksa menolak, haruslah dengan kata-kata yang halus dan sifatnya hanya suatu pertanyaan atau saran. Itu pun harus dilakukan dengan sangat hati-hati;

(d) berusaha untuk memahami politik. Jika seorang abdi tahu akan politik, ia akan lebih mudah membantu atasan yang biasanya dalam pekerjaan tidak lepas dari masalah politik. Politik di sini bukan hanya masalah kenegaraan, tetapi termasuk kebijaksanaan sehari-hari;

(e) menguasai peraturan yang berlaku. Seorang abdi yang menguasai segala peraturan akan membantu mengurangi kesalahannya sendiri;

(f) tahu akan hal yang baik dan yang buruk. Seseorang yang tahu baik dan buruk akan mengurangi perbuatan-perbuatan yang tercela;

(g) rajin;

(h) selalu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu;

(i) memunyai loyalitas tinggi;

(j) seorang abdi apabila sudah beristri, dilarang untuk mencari wanita lain;

(k) jangan bermain cinta dengan istri atasan;

(l) jangan merusak desa, jangan merusak lingkungan kerja yang bersih dan sehat;

(m) jangan membocorkan rahasia; dan

(n) harus memunyai tata krama yang baik.

sumbe r: http://www.wacana.co/2009/04/serat-tekawardi/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
KrediOne
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
DKI Jakarta

cara hapus akun/data (#KrediOne) secara permanen kamu bisa hubungi pelanggan layanan resmi via WA di (+62.821-7553-746 atau 0898.4440.241). Jelaskan alasan permintaan penghapusan data atau akunnya lalu siapkan identitas diri seperti (KTP) untuk proses verifikasi dan ikuti instruksi petugas customer service untuk menyelesaikan laporan Anda.

avatar
Admin2026
Gambar Entri
Berikut Cara Mengembalikan Dana PT Tri Usaha Berkat
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.

avatar
Admin99