Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah kuno Jawa Tengah Jawa
Serat Salokatama
- 23 Mei 2018

Ajaran Luhur dalam Serat Salokatama Naskah Serat Salokatama dikarang oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ariya Mangku Nagara IV pada 1799 Jawa atau 1870 M. Serat Salokatama dikarang dalam bentuk tembang mijil, seluruhnya ada 31 "pada" (bait), sudah pernah diterbitkan oleh Nurhipkolep, Jakarta, 1953, dengan huruf Jawa.

 Saloka berarti perumpamaan atau cerita, sedang tama berarti utama atau baik. Salokatama berarti perumpamaan atau cerita yang utama atau yang baik. Ini terungkap pada bait terakhir dari tembang tersebut yang berbunyi: Itij panawunging ruwiyadi (telah selesai uraian cerita yang baik).

 Ada pun intisari isi Serat Salokatama selengkapnya berikut ini.
 Yang dilihat oleh pengarang adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya dan selalu mengganggu pikirannya. Umumnya orang yang punya kemauan sering tidak mawas diri, berbuat tak terkendali dan akhirnya mendapatkan "nistha". Orang muda suka menonjolkan dirinya agar orang lain takut dan menghargai. Mereka tidak tahu bahwa perbuatannya itu banyak yang menertawakan, membuat orang lain tidak senang dan musuhnya menjadi bersyukur karenanya. Tampaknya seperti seorang pemberani, tingkah lakunya dibuat-buat, sehingga tampak seperti seorang jahil atau penjahat. Kelak ika mereka telah berhenti dari perbuatan itu, orang tetap tidak percaya bahwa mereka orang baik-baik.

 Andai kata orang hidup itu dua kali, tidak ada orang takut mati serta tak ada orang yang kecewa. Tetapi karena hidup hanya satu kali, banyak yang kecewa hidupnya, sehingga kadang-kadang ingin bunuh diri. Tetapi bunuh diri sebenarnya lebih sengsar, makamnya tidak boleh dicampur dengan leluhur dan orang banyak. Orang yang membunuh orang dosanya amat besar, tetapi masih lebih besar dosa orang yang bunuh diri, sehingga "nistha" melebihi matinya lutung atau kera.

 Membersihkan dosa tidak ada cara lain kecuali minta maaf kepada semua yang disakiti hatinya. Jika lebih tua dan lebih tinggi, berbaktilah. Jika lebih muda tetapi lebih tinggi, dengan salam takzim dan bahasa yang halus. Semuanya adalah usaha untuk menghilangkan kemarahan. Jika malu dengan berkata langsung, tulislah surat yang manis. Kemudian minta maaf dan bertobat kepada Tuhan. Juga jangan lupa menghormati leluhur agar tidak mendapatkan dosa dari padanya. Memang orang berbuat baik itu berat, berbeda dengan orang yang akan berbuat jelek selalu lebih mudah.

 Umumnya orang di dunia ini, baik yang tinggi mau pun yang rendah martabatnya tidak suka mengalah meski pun bukan berarti kalah yang sebenarnya. Dan lagi pada umumnya orang jika dipuji dan didukung pendapatnya akan suka hatinya serta jauh dari sakit hati.

 Umumnya orang yang tidak tahu akan budi baik, jika ada sesuatu hal yang diceritakan yang buruk dahulu, sebabnya memang tidak sampai pemikirannya. Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan agar terlaksana kita harus berani rendah hati, minta pertolongan dan doa restu.

 Jika suatu ketika cita-cita kita gagal, jangan terkejut dan lalu menyalahkan dirinya sendiri sejadi-jadinya. Mohonlah petunjuk kepada Tuhan, rasakan apa kekurangan kita. Karena manusia ini semuanya kekasih Tuhan, Jika memunyai cita-cita, mohonlah kepada Tuhan, pasti akan dikabulkan. Jika belum berhasil, barangkali memang belum waktunya.

 Ibaratnya buah durian muda jika dipanjat sukar memetiknya, dan jika sudah dipetik tidak dapat dimakan, padahal usahanya mati-matian. Lain halnya jika sedikit demi sedikit, sabar menunggu, jika sudah waktunya akan jatuh sendiri, mudah memetiknya dan enak dimakan.

 Demikian juga orang mencari kemuliaan. Jika terlalu dipaksakan kadang-kadang sampai kehabisan akal, segala jalan ditempuh dan tidak segan-segan menggunakan cara yang tidak baik, misalnya dengan menggunakan magis. Jika berhasil, umumnya kurang baik, tidak tahan lama dan tidak lestari. Ini persamaannya seperti memetik durian muda tadi.

 Lain halnya dengan orang yang berusaha dengan jalan yang baik. Pada malam hari selalu memohon kepada Tuhan. Sehari-harinya tingkah lakunya baik, rajin, jujur, rendah hati, bicara manis, patuh pada atasan, cinta kepada sesama. Umumnya yang melaksanakan seperti itu, sudah selayaknya jika yang dicita-citakan berhasil. Hal itu anugerah nyata dari Tuhan. Kehidupanya selamat tidak dirundung kesusahan dan kadang-kadang dapat menurun ke anak-cucu.

 Ibarat ingin memetik buah durian yang masak di pohon, jika memunyai cita-cita harus ada usahanya tidak cukup hanya dipikir. Tuhan tidak akan mengabulkan bagi yang tidak berusaha.

Kepustakaan Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Depdikbud

Sumber: https://tanahmemerah.wordpress.com/kasastraan/naskah-kuno/serat-salokatama/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Ingin Membatalkan Pinjaman Adakami? Begini Cara Membatalkan Pinjaman Adakami
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Barat

Cara Membatalkan Transaksi Pinjaman (AdaKami) Kamu bisa menghubungi layanan Live Chat via WA((+62821=6213=907)). jelaskan dengan baik alasan ingin melakukan Pembatalan, lalu siapkan data diri anda seperti KTP, dan ikuti langkah-langkah Pembatalan yang di instruksikan oleh customer service melalui WA.

avatar
Agustin
Gambar Entri
Ingin Membatalkan Pinjaman EasyCash? Begini Cara Membatalkan Pinjaman EasyCash
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Barat

Berikut ini cara membatalkan pinjaman (EasyCash), Silahkan hubungi Customer Service(O822=9567•411O, melalui Live Chat via WhatsApp, dan Siapkan data diri seperti KTP" dan ikuti instruksi yang diberikan oleh agen customer service untuk melanjutkan proses Pembatalan anda.

avatar
Agustin
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu