Ahyaning arda rubeda, Ki Pujangga amengerti, mesu cipta matiraga, mudhar waraning gaib, sasmitaning sakalir, ruweding sarwa pakewuh, wiwaling kang warana, dadi badaling Hyang Widdhi, amedharken paribawaning bawana.
Syair tembang sinom diatas merupakan pembuka dari kitab sastra kuno Serat Kalathida karangan (R.Ng) Ranggawarsita (1728-1802 tj). Kalathida sendiri secara harfiah terdiri dari gabungan dua kata yaitu Kala yang artinya masa dan Tidha yang artinya samar, kabur atau tak menentu. Jadi bila dua kata itu di gabungkan maka Kalathida bermakna sebuah zaman yang samar, gagap, kabur, absurd dan tak menentu.
Ranggawarsita melalui karyanya inilah meramalkan bahwa akan datang satu periode masa yang jungkir balik dan tak menentu (dia menyebutnya sebagai “zaman edan atau zaman kalabendhu”) sebuah zaman dimana laki-laki akan seperti perempuan dan perempuan layaknya laki-laki, dimana sebuah janji dusta dimuntahkan, dan seribu topeng dikenakan, mayoritas manusia pun akan kehilangan eksistensialisme kemanusiaannya karena manusia lebih mementingkan untuk mengejar dimensi-dimensi keduniawian semata dan mengesampingkan dimensi spiritualitas kejiwaan. dan kita (kita?) seperti yang di ramalkan oleh serat itu
Dan kalau ditilik-tilik dari kekinian yang kita hadapi sekarang ini, apakah mungkin inilah zaman kalabendhu yang di ramalkan oleh Ki Ranggawarsita sebagai “bila tatanan berguncang, akan datang zaman kalabendhu” itu.
Terlepas dari benar tidaknya ramalan itu, menurut saya Serat Kalathida memiliki semacam semangat protes zaman, protes pada keadaan yang telah memporak-porandakan sendi kehidupan dan merampas kemanusiaan seorang manusia. Pada bagian ini Ki Ranggawarsita seperti sedang menguraikan sebuah absurditas kehidupan, ketak menentuan dan mengeksplorasi sisi eksistensialisme seorang manusia, sehingga dari sini manusia kemudian diharapkan menyadari bahwa dirinya adalah wakil jagat raya yang harus dan mau mengenali dirinya sendiri sebagai makhluk teomorfis. Dengan begitu kemudian manusia-manusia itu pun menjelma sebagai manusia unggul. Manusia-manusia pilihan.
Dan ternyata, entah kebetulan atau memang kitab karangan ini beredar hingga ke Jerman dan Perancis, beberapa tahun kemudian pandangan Ki Ranggawarsita tentang humanisasi dan moralitas kehidupan ini diikuti pula oleh pemikir-pemikir modern di sana, sebut saja seperti Nietzche dengan uebermencsh dalam kotbah monumentalnya Zarathustra, atau Sartre lewat ensoi dan poursoi-nya, Camus lewat moralitas kehidupannya, bahkan Edmund Husserl dengan filsafat penomenologisnya dan banyak lagi.
Yang mungkin membedakan pandangan Ki Ranggawarsita dengan para filsuf Jerman dan Perancis di atas hanyalah terletak pada bagaimana cara penyelesaian mereka terhadap penomena yang mereka hadapi itu. jika Ranggawarsita (mungkin karena factor cultural) lebih menekankan pada sikap pasrah dan mendekatkan diri ke Tuhannya, maka berbeda jalan yang di tempuh oleh Nietzsche, Husserl, Camus dan Sartre (lagi-lagi mungkin karena factor cultural juga). Para filsuf itu lebih memilih bersikap memberontak pada tatanan yang membelenggu eksistensi kemanusiaan mereka.
“Eksistensialisme a la Ranggawarsita termanipestasi dalam penyerahan total dan mutlak pada eksistensi Tuhannya”, demikian kata Supaat I. Latief, “sehingga eksistensinya sendiri (eksistensi pribadi) kehilangan sebuah kemungkinan.” Dengan begitu, eksistensi seperti ini merupakan eksistensi kebebasan yang telah dicabut dari posibilitasnya untuk dapat mengubah tatanan. Sikap pasrah Ranggawarsita ini dapat kita saksikan lewat syair yang beliau tulis di salah satu bab serat Kalathida di bawah ini:
Sageda sabar santosa, mati sajeroning ngurip, kaling ing reh aruara, murka angkara sumingkir, tarlen meleng malatsih, sanityasa tyas mamasuh, badharing sapudhendha, antuk mayar sawatawis, borang angga suwarga mesi martaya.
Meskipun begitu, sikap pasrah pada eksistensi Tuhan yang di ajarkan oleh syair di atas tentu saja tidak serta merta mengharuskan manusia dalam mencapai kesucian harus meninggalkan segala tetek bengek keduniawian mereka dan ngejogrog namru di tempat-tempat sunyi dan jauh dari orang-orang di sekitarnya seperti kain pel yang habis di pakai. Seorang manusia, boleh-boleh saja berada di tempat keramaian, selama ia tidak terganggu dan tetap punya kesempatan untuk merenung dan kontemplasi pada permasalahan eksistensialis. Sendiri dalam keramaian. Mati sajeroning ngurip. Iwak rak melu asin senajan urip ning segoro. Dengan demikian, pada akhirnya dari laku lampah yang ia jalani itu diharapkan sang manusia dapat memberi makna dan nilai terhadap kehidupan di sekitarnya, ditengah keong sak kenong matane, tikus-tikus pada ngidung lan kucing gering kang njagani.
Kalau sudah begitu, pada tingkat selanjutnya barulah sang manusia boleh meneruskan perjalanannya menuju dunia transenden untuk kemudian menjadi soko guru atau pandhito ratu yang mumpuni untuk memberikan contoh tauladan dan nasihat pada manusia-manusia disekitarnya…
Sumber: http://arsipbudayanusantara.blogspot.com/2012/09/serat-kalathida-eksistensialisme-la-jawa.html
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...