Entah dari mana dan kapan pemakaian nama sejenis ikan hewan laut dipakai sebagai nama orang pada zaman Majapahit. Yang jelas pada zaman Majapahit beberapa nama orang sekelas bangsawan apapun tingkatannya tidak ada yang memakai nama atau gelar yang mengambil nama sejenis ikan. Rata-rata mereka memakai nama hewan darat atau hewan terbang/angkasa. Selebihnya jika dikaitkan dengan nama hewan melata adalah sejenis ular atau buaya.
Orang-orang pada zaman Majapahit kebanyakan memakai nama sejenis hewan darat dengan sifat-sifat yang mencitrakan kekuatan, keberanian, kegarangan, dan kelincahan seperti kidang telangkas, kuda sempana, jaran panoleh, sima rodra, singa yudha, mahesa cempaka, lembu sora, kebo kenongo, dan gajah mada. Sedangkan hewan sejenis burung seperti Hayam Wuruk, Sawung Galing, Gagak Seta, dan jenis hewan air seperti Bajul Sengara, Sawer Wulung, atau yang lainnya jarang dipakai. Apalagi hewan air sejenis ikan,tampaknya sulit atau tidak ditemukan pada orang-orang sezaman yang memakainya. Tidak ada orang-orang Majapahit yang memakai nama depan dari jenis ikan seperti lele, bader, bandeng, apalagi Tombro, tampaknya
janggal.
Kalaupun ada, konon hanya seorang yang memakai nama jenis ikan yaitu Adipati Pati yang bernama Tombronegoro. Nama ini jelas tertulis dalam Babad Pati local (pupuh 646, halaman 113) dan Buku Pakem Jilid II, Sejarah Pati, Djoewana lan Rembang (Halaman 130). Tapi dalam Babad Pati terbitan Balai Pustaka tidak ada tertulis nama Tombronegoro. Diceritakan Tombronegoro Adipati Pati hadir dalam pertemuan di Majapahit pada masa Brawijaya II bernama Jaka Pekik, putra Jaka Suruh.
Oleh Tim Hari Jadi Pati 1994 (THJP 1994) dinyatakan dengan pembuktian adanya kehadiran Adipati Pati Tombronegoro di Majapahit yang tertulis dalam prasasti Tuhanaru yang dikeluarkan oleh Raja Majapahit bergelar Prabu Jayanegara tahun 1323 di Desa Sidateka (sejarah Hari Jadi Kabupaten Pati, 1994, halaman 48).
Akan tetapi setelah dibaca dan diamati dengan teliti dalam prasasti Tuhanaru yang teks aslinya dicantumkan dalam lampiran 1, halaman 58-67, dan terjemahannya pada lampiran 2 halaman 68-71, pada Buku Sejarah Hari Jadi Kabupaten Pati 1994 oleh Tim Penyusun Hari Jadi, tidak ditemukan nama Adipati Pati Tombronegoro tercantum dalam prasarti Tuhanaru.
Pada lampiran 1, halaman 60-61, butir 1b, 2a, 2b, atau pada lampiran 2, halaman 68 butir 1b, 2a, 2b. Dalam buku tersebut tercatat dalam prasasti Tuhanaru sejumlah 24 orang pejabat Kerajaan Majapahit yang hadir dalam penutupan prasasti Tuhanaru. Di antara mereka ada dua orang pejabat yang memakai nama atau gelar yang beridiom “Pati” yaitu Sang Wredhamantri Sang Aryya Patipati Pu Kapat (teks asli: San Matri Wrddhengtajna San Aryya Patipati Pu Kapat) dan Sang Aryya Jayapati Pu Pamor (teks asli: San Aryya Jayapati, Pu Pamor) yang mana di antara mereka dianggap sebagai Adipati Pati Tombronegoro ?
Kalau logika yang dipakai karena ada nama “Pati”-nya sehingga dianggap sebagai Adipati Pati, lantas apakah semua Adipati dan Senopati berasal dari Pati? Yang jelas memang Pragola Pati adalah Adipati Pati, termasuk Najib Kertapati dan Soleh Pati berasal dari Pati.
Dalam Kamus Kawi-Jawa oleh CF. Winter SR. dan R. Ng. Ronggowarsito, halaman 20, diartikan “Patipati” adalah “Kalangkung-langkung”. Jadi Sang Aryya Patipati Pu Kapat dapat diartikan “Pu Kapat ingkang linangkung”, maksudnya Pu Kapat adalah orang yang kesaktiannya sanagat tinggi. Orang yang berkemampuan demikian paling tidak beliau adalah seorang Senopati perang, Sang Wedhamantri Sang Aryya Patipati.
Oleh Prof Dr Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakertagama, halaman 185, dijelaskan pada zaman Majapahit, para pegawai pemerintahan disebut “tanda”, masing-masing diberi sebutan atau gelar sesuai dengan jabatan yang dipangkunya. Para tanda Majapahit dapat dibagi atas tiga golongan, yakni: 1) Golongan Rakyan, 2) Golongan Arya, 3) golongan Dang Acarya.
Dilihat dari gelarnya,Pukapat termasuk golongan Arya, lebih rendah dari golongan Rakyan. Lebih lanjut,Prof Dr Slamet Muljana menjelaskan pada halaman 187dibukunya tersebut, karena jasa-jasanya seorang Arya dapat dinaikkan menjadi Wreddhamantri atau Menteri Sepuh.
Pada buku tersebut, di atas pada halaman 208 disebutkan penjelasan tentang siapa sebenarnya Pukapat, diuraikan pada piagam Raja Kertarajasa yang dikeluarkan pada tahun 1296. Pada piagam itu, dijelaskan bahwa Panji Patipati Pu Kapat,sahabat karib dan sahabat karib dan pengawal setia Raja Kertarajasa Jayawardhana. Sejak muda beliau di istana Singasari. Panji Patipati Pu Kapat mendapatkan anugerah tanah di Sukamerta dari Sri Baginda Kertarajasa sebagai balas jasa. Pada hakikatnya, piagam penanggungan di atas dikeluarkan sebagai pengukuhan anugerah tanah Sukamerta kepada Pu Kapat.
Sekarang apakah mungkin Panji Patipati Pu Kapat seorang Wreddhamantri (menteri sepuh) di masa Raja Kertarajasa (Raden Wijaya), ayah Jayanegara diidentikkan sebagai Adipati Tombronegoro. Apakah mungkin Pu Kapat yang sedang sepuh dalam waktu yang sama juga menjabat sebagai Adipati Pati? Yang jelas dalam piagam penanggungan tersebut, Pu Kapat tinggal di Sukamerta, lereng Gunung Penanggungan, Jawa Timur, bukan di Pati Jawa Tengah.
Lebih jelasnya, berikut daftar nama 24 orang pejabat Majapahit yang tertera dalam Prasasti Tuhanaru. Dalam lampiran 2, halaman 62, butir 1b, 2a,2b (terjemahan) pada buku Sejarah Hari Jadi Kabupaten Pati, nama-nama pejabat Majapahit yang diketik ada yang tidak sesuai dengan yang tertulis di Prasasti Tuhanaru. Oleh karena itu, kami sertakan daftar 24 orang pejabat Majapahit tersebut yang langsung kami kutipdari teks asli Tuhanaru dengan sedikit penyesuaian huruf dan pembacaannya.
Daftar Nama Pejabat Majapahit dalam Prasasti Tuhanaru :
Sri Sundarapandyadewa Dhiswara Wirakramattunggadewa
Smaranatha
(Dikutip dari buku Sejarah Hari Jadi Kabupaten Pati, 1994, lampiran 1, naskah asli Piagam Tuhanaru dalam Bahasa Jawa Kuno, halaman 60-61, butir 1a/b dan 2a/b).
Dari 24 nama pejabat Majapahit tersebut dalam daftar di atas, adakah tercantum nama Adipati Pati Raden Tombronegoro ? Seperti apa yang diceritakan Babad Pati tentang Tombronegoro dalam pertemuan di Majapahit pada masa Brawijaya II atau Jayanegara (1309-1328).
Sumber : https://argakencanacom.wordpress.com/2018/08/30/identifikasi-tombronegoro-dalam-prasasti-tuhanaru/
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...