Permainan Tradisional
Permainan Tradisional
Permainan Tradisional Jawa Tengah Sleman
Permainan Ancak-Ancak Alis
- 13 Juli 2018

Permainan ancak-ancak alis berasal dari bahasa Jawa yaitu dari kata ancak-ancak dan alis. Kata ancak berarti bujur sangkar dengan berbingkai pelepah daun pisang untuk lempar sesaji sedangkan kata alis dalam lagu permainan ini yang dimaksud adalah nama seekor kerbau. Dengan demikian antara nama permainan dan permainannya sendiri tidak ada sangkutpautnya. Permainan ancak-ancak alis dapat dilakukan sewaktu-waktu atau pada saat istirahat serta memerlukan halaman yang agak luas.

Latar belakang permainan ancak·ancak alis ini menitikberatkan kepada kehidupan pertanianyang sebagian besar merupakan mata pencaharian penduduk di Indonesia. Oleh sebab itu secara tidak langsung permainan ini mendidik anak-anak untuk mengetahui dunia pertanian. Misalnya, mengenalkan nama-nama tanaman, nama hama tanaman, cara– cara bertani dan sebagainya. Dilihat dari ini dari lagu yang mengiringnya dapat disimpulkan bahwa permainan ancak-ancak alis dapat digunakan untuk membina anak terhadap pengenalan alam lingkungan.

Lalar belakang sejarah perkembangan permainan ancak-ancak alis ada yang berpendapat bahwa permainan ini berasal dari pedesaan yang akhimya meluas ke daerah perkotaan. Pada saat ini permainan ancak-ancak alis masih dikenal oleh anak-anak lerutama di desa, sedangkan untuk daerah perkolaan sudah sangat jarang sekali anak-anak yang mengetahui.

Untuk dapat bermain ancak-ancak alis diperlukan peserta yang relatif besar yaitu sekilar 10 anak. Semakin banyak peserta yang mengikutinya maka permainan akan semakin meriah, namun dengan demikian tentu saja diperlukan pula tempat bermain yang agak luas. Usia para peserta permainan ini adalah mereka yang berusia sekitar 6 – 15 tahun atau seusia anak-anak sekolah dasar. Anak yang berperan sebagai petani dipilih diantara peserta yang paling besar, badannya kuat serta linggi, dan dipilih sebanyak dua orang. Para pesertanya dapat anak-anak perempuan maupun anak laki-Iaki,namun kebanyakan yang sering melalukan permainan ini adalah anak-anak perempuan. Di dalam permainan ini tidak membutuhkan peralatan apapun, hanya berupa gerak-gerik saja. Adapun iringan dalam permainan ini berupalagu ancak-ancak alis lanpa menggunakan bunyi-bunyian. Syair tersebutadalah sebagai berikut:

“ancak-ancak alis, si alis kebo janggitan, anak-anak kebo dhungkul, si dhungkul bang-bang teyo, tiga rendheng, enceng-enceng gogo beluk, unine pating cerepluk, ula sawa ula dumung, gedhene salumbang bandhung, sawahira lagi apa?”

Jalannya Permainan

Pertama-tama dipilih dua orang anak diantara peserta yang sama besarnya,tinggi dan kuat untuk dijadikan petani. Kemudian kedua petani tersebut menyingkir sebentar, atau menjauhi para peserta lainnya untuk berunding. Dalam perundingan itu kedua petani memilih salah satu nama alat pertanian untuk dirinya, misalnya garu, luku, pacul, dan sebagainya. Setelah menemukan nama diri masing-masing lalu kembali ke tempat para peserta yang lain. Dengan kembalinya ke dua petani tersebut mulailah permainan ancak-ancak alis.

Kedua petani berdiri berhadapan sambil tangannya diangkat ke alas dan kedua telapak tangan masing-masing ditempelkan satu sama lain sehingga berbentuk seperti pintu gerbang. Kemudian kedua telapak tangan mereka saling bertepuk tangan sambil bernyanyi ancak-ancak alis. Sementara itu anak-anak peserta yang lain berjalan berkeliling berurutan saling memegang ikat pinggang atau pinggang atau baju teman yang berada di depannya. Anak yang paling depan dipilih diantara para peserta yang terbesar. Pertama-tama barisan tadi berada di sebelah barat kedua petani. Setelah selesai maka anak yang terdepan dalam barisan itu menjawab: lagi mluku.

Setelah menjawab, maka barisan tersebut berjalan diantara kedua petani dengan cara menyusup di bawah kedua tangan mereka, seperti layaknya orang masuk dalam gapura. Sekarang barisan itu berada di sebelah timur kedua petani, lalu berjalan berkeliling lagi. Selama barisan berkeliling kedua petani bernyanyi ancak-ancak alis. Sesampainya pada kaiimat terakhir dalam lagu itu, maka anak yang terdepan dalam barisan menjawab: lagi angler.

Sesudah menyahut maka barisan tersebut berjalan menyusup di bawah kedua tangan petani yang berada di alas kepalanya, dan sekarang barisan berada kembali di sebelah barat kedua petani. Demikianlah seterusnya, berulang-ulang sampai beberapa kali. Adapun jawaban dalam pertanyaan dalam kalimat terakhir lagu tersebut bergantl-ganti, antara lain lagi tandur (sedang menanam), lagi ngilir (tanamannya mulai menghijau), lagi ijo (sedang menghijau) dan seterusnya yang pada dasarnya merupakan istilah dalam pertanian. Setelah jawaban lagi wiwit,maka anak yang terakhir dalam barisan tersebut mengambil dedaunan. Kemudian ia masuk ke dalam barisan lagi dan kedua petani tersebut juga ikut berbaris di depan sendiri. Barisan tersebut jalannya berbelitan seperti angka delapan sambil menyanyikan lagu: Menyang pasar Kadipaten, leh-olehe jadah manten, menyang pasar Ki Jodog, leh-olehe Cina bidhug.

Setelah selesai menyanyikan lagu tersebut maka posisinya kembali seperti semula. Kedua petani berdiri berhadapan sambil kedua tangan mereka diangkat ke alas, sedang para peserta lainnya berbaris lagi seperti semula. Kemudian kedua petani bernyanyi ancak-ancak a1is.Sekarang jawaban alas lagu tersebut hanya satu saja yaitu lagi panen (sedang panen). Selanjutnya barisan menyusup di bawah tangga kedua Petani dan anak yang terakhir dalam barisan itu ditangkap kemudian ditanya dengan berbisik supaya para peserta lainnya tidak mendengar. Pertanyaannya hendak membeli apa setelah panen, garu atau luku,· dan jawab anak tersebut juga berbisik.

Seperti pada perjanjian semula antara kedua petani, barang siapa yang jawabannya memilih salah satu nama dari kedua petani tersebut akan menjadi anak semang petani yang dipilih nama dirinya. Misalnya, petani I memilih nama garu, sedang petani II namanya luku. Kemudian anak yang ditangkap menjawab garu, maka anak tersebut menjadi anak semang petani I dan selanjutnya ia berdiri di belakangnya. Selanjutnya kedua petani tersebut bernyanyi ancak-ancak alis. Nyanyian ini dinyanyikan secara berulang-ulang sampai tinggal satu peserta yang belum menjadi anak semang kedua petani tersebut yaitu anak terdepan dalam barisan. Selama itu nama dari kedua petani tersebut tetap menjadl rahasia. Setelah peserta tinggal satu, anak yang terdepan dalam barisan tersebut dinyanyikan sebuah lagu oleh kedua petani dengan lagu sebagai berikut: dikekuru, dilelemu, dicecenggring, digegering.

Setelah anak tersebut ditangkap oleh kedua petani tersebut, maka posisi tangan kedua petani tersebut berubah yaitu tangan yang sepasang masih di atas sedang tangan yang sepasang lagi berada di bawah sehingga berbentuk huruf 0 dan kedua petani berkata: kidang lanang apa wadon. yen lanang mlumpata, yen wadon mbrobosa. Mendengar itu si kijang atau anak yang terakhir ditangkap akan menerobos atau mlumpat Biarpun ia berusaha keras untuk keluar dari tangkapan kedua petani tidak berhasil, kemudian ia ditanyai seperti peserta yang lain. Setelah memilih iapun keluar mengikuti petani yang memiliki nama dari alat pertanian yang sesuai dengan pilihannya, lalu berkumpul dengan anak semang yang lain. Menang kalah dalam permainan ini tergantung jumlah anak semang. Siapa yang jumlah anak semangnya lebih banyak maka dianggap dialah yan gmenang dan sebaliknya dianggap yang kalah. Namun ada juga penentuan kalah dan menang berdasarkan kepada adu kekuatan. Adapun caranya dengan tari-menarik antara kedua petani dengan dibantu oleh anak semangnya masing-masing. Karena belum tentu yang mempunyai anak semang sedikit itu pasti kalah dengan yang mempunyai anak semang yang banyak. Apabila sudah diketahui yang menang dan kalah maka berakhirlah permainan ancak-ancak alis tersebut.

 

Sumber: https://m2indonesia.com/budaya/mengenal-permainan-ancak-ancak-alis.htm

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker