
Tim Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi yang dipimpin langsung oleh Kepala Pusat Litbang Lektur Muhammad Zain, berkunjung ke dua tempat penyimpanan naskah di Aceh Besar dan Banda Aceh. Museum Peduli Sejarah(Mapesa) yang terletak di Punge Blang Tjut, Banda Aceh adalah salah satu tempat penyimpanan naskah yang dimiliki oleh Masykur (20 tahun) asal Pidie.
Masykur menekuni koleksi naskah dan barang-barang antik sejak empat tahun yang silam, tepatnya ketika ia sedang berada di bangku sekolah SMA kelas II. Jumlah naskah yang dikumpulkannya sebanyak 400 naskah, 200 naskah disimpan di Mapesa, Aceh Besar, 200 naskah lainnya disimpan di rumah orang tuanya di Luengputu, Pidie Jaya.
Naskah yang dikoleksi berjenis mushaf Alquran sejak abad ke 16 M dan kitab-kitab ilmu pengetahuan agama lainnya, seperti Fiqih, Tasawuf, ilmu falak, ilmu Tajwid, Sejarah Aceh, dan obat- obatan serta azimat dan ta’bir gempa. Pada umumnya naskah-naskah tersebut diproduksi antara abad ke-17-19 M.
Kondisi naskah-naskah ini masih belum mendapatkan perawatan yang baik, sementara keadaannya sudah rusak dan bahkan terpisah dari jilidan. Naskah-naskah ini belum dikatalogisasi dan didigitalisasi.
Tak hanya itu, tim memburu lagi pelacakan naskah Aceh pada kolektor lainnya bernama Tarmizi (50 tahun), di Komplek BIP Ie Masen (Banda Aceh), asal Pidie juga. Ia memiliki naskah 600 an dengan variasi isi yang berbeda-beda. Ia menyimpan sejumlah karya-karya besar dan penting, seperti karya Abdurrauf Singkil, Mir’atut Tullab, karya pertama Ar-Raniri, Akhbarul Akhirat, kitab Tajul Muluk, kitab Dala’ilul Khairat, dan banyak lagi kitab-kitab penting lainnya.
Kondisi naskah sebagian sudah direstorasi, namun ia belum membuat katalog dan digitalisasi. Ia mencintai naskah ini sudah sejak tahun 1995. Ia memiliki idealisme untuk menjaga dan menyimpan manuskripnya untuk diberikan kesempatan kepada pengkaji dan penelaah manuskrip dari mana dan siapa pun.
Namun ia tidak berkenan memberikan fisik dan kopi digital manuskripnya kepada lembaga-lembaga luar negeri, baik dalam bentuk kerjasama, menjual, menyimpan di lembaga-lembaga tertentu di luar negeri. Ia membuka pintu kerja sama penyelamatan manuskripnya hanya dengan lembaga-lembaga pemerintah negerinya dengan tetap menempatkannya di lokasinya.
"Dari dua pengoleksi yang sempat dikunjungi tim, memberikan tantangan baru bagi Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi untuk melakukan banyak hal terkait penyelamatan warisan bangsa yang sangat berharga bagi generasi sekarang dan akan datang," ungkap Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi, Muhammad Zain, belum lama ini.
Menurutnya, langkah konkrit yang mendesak dan harus dilaksanakan segera adalah katalogisasi dan digitalisasi, agar penyelamatan dapat dilakukan untuk satu tahap. Langkah berikutnya, ujar Zain, kerja sama dengan lembaga restorasi seperti Perpustakaan nasional dan lembaga daerah adalah langkah berikutnya.
"Selanjutnya, kajian untuk menelaah isi naskah dan melahirkan buku-buku yang maha karya menjadi tugas berikutnya," ucap Zain.
Dikatakannya, naskah-naskah yang berbentuk petuah-petuah dan sejarah-sejarah perlu dicetak ulang dan dikemas secara sederhana dan menarik untuk dipersembahkan kepada masyarakat, agar mereka paham dan melek sejarah kekayaan leluhurnya akan dunia pengetahuan.
"Last but not least, naskah-naskah warisan bangsa ini perlu menjadi bahan kurikulum muatan lokal bagi anak-anak sekolah agar generasi sekarang dan akan datang dapat melek sejarah dan paham pengetahuan masa lampau," ucapnya.
Sumber : https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/04/16/p79wbr396-pemuda-punge-blang-tjut-ini-koleksi-400-naskah-kuno
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...