Kalender tradisional Pawukon merupakan kalender tradisional yang digunakan oleh masyarakat Jawa dan Bali. Kalender tradisional ini memiliki banyak kegunaan, di antaranya sebagai pedoman untuk menentukan hari-hari suci umat Hindu, hari pasaran, hari perayaan pribadi, menentukan hari baik dan hari buruk, menjabarkan watak-watak manusia berdasarkan hari lahirnya, dan sebagainya.
Jadi, kalender Pawukon tidak hanya berfungsi sebagai penanggalan biasa, tapi memiliki banyak kegunaan lain. Sebagai ilmu peramalan, kalender tradisional ini memang tidak sepopuler astrologi Barat (zodiak) ataupun astrologi Tionghoa (shio), tapi perhitungan dan informasi yang diberikannya tidak kalah dari kedua sistem astrologi tersebut. Malah, kalender asli Indonesia ini memiliki kelebihan. Pawukon tidak hanya memberi gambaran secara umum kondisi fisik, karakter, atau watak seseorang, tetapi juga menentukan waktu dan jenis naas (pengapesan) atau pantangan yang harus dihindari seseorang, serta proyeksi nasibnya di masa datang.
Pawukon berasal dari kata dasar wuku. Satu tahun Pawukon terdiri atas 30 wuku. Setiap wuku terdiri dari 7 hari. Dengan demikian, 1 tahun kalender Pawukon berlangsung selama 210 hari.Perputaran hari dalam 1 wuku disebut sebagai saptawara yang dimulai dari hari Minggu dan diakhiri hari Sabtu. Setiap hari berpasangan dengan siklus 5 harian yang disebut sebagai pancawara atau pasaran dan membentuk apa yang oleh orang Jawa disebut weton. Pasangan saptawara dan pancawara menghasilkan siklus tiga puluh lima harian (selapan).
Selain dua siklus hari tadi masih ada 8 siklus hari yang lain. Total ada 10 siklus hari, yaitu ekawara, dwiwara, triwara, caturwara, pancawara, sadwara, saptawara, astawara, sangawara, dan dasawara. Dilihat dari namanya, kita bisa tahu bahwa masing-masing siklus terdiri atas satu, dua, tiga, dan seterusnya sampai sepuluh hari. Kesemua siklus hari tersebut disebut wewaran.Menurut Serat Pustaka Raja Purwa karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, Pawukon berkaitan dengan cerita wayang purwa tentang Raja dari Kerajaan Gilingwesi, Prabu Watugunung dan keluarganya yang kalah perang dengan Batara Wisnu. Nama Prabu Watugunung, istri-istrinya, beserta anaknya dijadikan nama ketiga puluh wuku.
Nama wuku dimulai dari istri pertama Prabu Watugunung, Sinta, kemudian dilanjutkan dengan istri keduanya, Landep, dan diikuti dengan kedua puluh tujuh anak mereka: Wukir, Kuranthil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Madasiya, Julungpujud, Pahang, Kuruwelut, Marakeh, Tambir, Madhangkungan, Maktal, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dhukut, dan terakhir ditutup oleh nama raja Gilingwesi, Watugunung. Meski tidak diketahui siapa yang menciptakan Pawukon, adalah jelas bahwa kalender ini merupakan warisan peradaban Hindu di Nusantara. Kalender ini digunakan oleh masyarakat Jawa sampai masa Majapahit.
Pascakeruntuhan Majapahit, penggunaan Pawukon oleh masyarakat Jawa mulai memudar. Itu sebabnya, saat ini Pawukon tidak lagi populer di tempat asalnya, tapi masih digunakan di pulau Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu.
Sumber:
https://1001indonesia.net/pawukon/
Soto adalah salah satu masakan Indonesia yang sangat populer dan bisa ditemukan hampir di setiap daerah, masing-masing dengan ciri khas dan keunikannya. Setiap kota memiliki versi soto yang berbeda, tergantung pada budaya dan selera lokal. Salah satunya adalah Soto Bancar , sebuah kuliner khas dari Purbalingga , Jawa Tengah, yang memiliki rasa manis sebagai ciri utamanya. Soto ini sangat digemari oleh warga lokal dan menjadi pilihan favorit para wisatawan yang ingin mencicipi keunikan masakan khas Banyumasan. Asal Usul Soto Bancar Purbalingga, yang terletak di Jawa Tengah, terkenal dengan kuliner khasnya yang beragam dan menggugah selera. Salah satu hidangan yang sangat terkenal di daerah ini adalah Soto Bancar. Nama “Bancar” sendiri berasal dari daerah tempat soto ini pertama kali dijual, yaitu di sekitar perempatan Bancar , Kecamatan Purbalingga. Soto Bancar mulai dikenal dan berkembang sejak beberapa dekade yang lalu, dan hingga kini tetap menjadi favorit...
Kuntulan Semangkung merupakan sebuah Kesenian asal Banjarnegara, lebih tepatnya dari dusun Semangkung, Kecamatan Punggelan. Warisan budaya yang memikat dengan ciri khasnya yang unik dan memukau. Kuntulan Semangkung tidak hanya sekedar seni pertunjukan, tetapi juga sarat dengan nilai filosofis dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam setiap penampilannya, kesenian ini menghadirkan harmoni antara alat musik terbangan (rebana) yang dimainkan oleh sesepuh dusun dan gerakan tarian yang sarat makna. Melalui atraksi seperti "gigit meja" dan "bolang baling," Kuntulan Semangkung tidak hanya menciptakan hiburan visual yang menakjubkan, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan kearifan lokal yang meleburkan keindahan seni dan kearifan budaya. Apa Itu Kuntulan Semangkung? Kuntulan, atau yang disebut Kuntulan Semangkung ini, merupakan salah satu bentuk seni tradisional khas bagi masyarakat Dusun Semangkung. Seni ini telah diwariskan secara turun temurun sejak...
Rampak Gendang merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Sesuai dengan namanya, Rampak Gendang merupakan kesenian yang menggunakan gendang atau kendang sebagai media utamanya. Selain gendang, pertunjukan Rampak Gendang ini juga ditemani dengan berbagai macam alat musik seperti bonang, gong, rebab, kenong, demung, peking, saron I dan II, serta rincik. Rampak berasal dari bahasa Sunda yang berarti serempak atau bersama-sama, sehingga Rampak Gendang dapat dikatakan bermain gendang bersama-sama. Rampak Gendang dimainkan oleh lebih dari dua orang dan semua pemain menggunakan kostum yang sama. Mereka mengenakan pakaian tradisi Sunda, yaitu takwa, sinjang dan udeng (ikat kepala). Tetapi untuk penabuh gendang, mereka mengenakan pakaian khusus yang berbeda, yaitu terdapat motif Sunda dengan warna menarik yang seragam. Pada saat pertunjukan dimulai, para pemain akan naik ke panggung dan menempati posisinya masing-masing sesuai dengan alat musik yang dimainkan. Begitu aba-aba dari salah...
Aksara Lampung merupakan sistem tulisan tradisional yang digunakan oleh masyarakat Lampung sejak berabad-abad lalu. Aksara ini termasuk dalam rumpun aksara Brahmi dari India dan memiliki kemiripan dengan aksara Pallawa, Rejang, serta aksara-aksara kuno lain di Sumatra. Dalam masyarakat Lampung, aksara ini dikenal dengan sebutan Had Lampung atau Kaganga, yang diambil dari tiga huruf pertamanya, yaitu ka, ga, dan nga. Pada masa lalu, aksara Lampung digunakan untuk menulis berbagai naskah adat, sastra, hukum, serta catatan kehidupan masyarakat. Tulisan tersebut biasanya ditorehkan pada media seperti kulit kayu, bambu, tanduk, maupun daun lontar. Meskipun penggunaannya sempat menurun akibat pengaruh modernisasi dan penggunaan huruf Latin, aksara Lampung kini terus dilestarikan melalui pendidikan dan berbagai kegiatan kebudayaan sebagai bagian dari identitas masyarakat Lampung. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Lampung
Tari Jauk adalah salah satu tari tradisional khas Bali yang terkenal karena gerakannya yang enerjik, ekspresif, dan penuh karakter. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang penari laki-laki dengan mengenakan kostum berwarna cerah, kain khas Bali, hiasan kepala, serta topeng yang memiliki mata besar dan ekspresi tajam. Nama “Jauk” sendiri sering dikaitkan dengan sosok makhluk penjaga atau tokoh yang memiliki sifat gagah, kuat, dan kadang terlihat menyeramkan. Oleh karena itu, penampilan Tari Jauk mampu memberikan kesan dramatis sekaligus memikat bagi penonton. Gerakan dalam Tari Jauk sangat khas karena menonjolkan penggunaan topeng berwarna merah atau putih, gerakan tangan, dan langkah kaki yang cepat. Penari harus mampu menggerakkan wajah topeng ke kanan dan kiri dengan lincah, lalu menggabungkannya dengan posisi tubuh yang tegas dan dinamis. Gerakan tersebut mencerminkan karakter tokoh Jauk yang selalu waspada, berani, dan memiliki kekuatan batin. Iringan gamelan Bali yang cepat...