Tantu Panggelaran adalah sebuah teks prosa yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia di pulau Jawa dan segala aturan yang harus ditaati manusia. Tantu Panggelaran ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan pada zaman Majapahit. Suntingan teks yang sangat penting telah terbit pada tahun 1924 di Leiden oleh Dr. Th. Pigeaud.
Cerita Rakyat adalah bagian dari kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki setiap bangsa. Jika digali dengan sungguh-sungguh, negeri kita sebenarnya berlimpah ruah Cerita rakyatyang menarik. Bahkan sudah banyak yang menulis ulang dengan cara mereka masing-masing.
Cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu masyarakat melalui bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya dan susunan nilai sosial masyarakat tersebut.
Perkembangan kisah dalam Tantu Panggelaran dapat dibagi menjadi beberapa Babak:
Pada mulanya pulau Jawa tidak berpenghuni dan dalam keadaan khaotis, karena pulau Jawa selalu bergoncang (bandingkan dengan batu apung yang bergoncang di atas permukaan air). Oleh karena itu, pulau Jawa membutuhkan gunung untuk menancapnya, sehingga tidak bergoncang lagi.
Gunung tempat Batara Guru mengatur keadaan yang khaotis ini adalah Gunung Dihyang (atau Gunung Dieng, lihat artikel tentang Gunung Dieng). Proses pengaturannya berjalan sebagai berikut: para Dewa mengangkat puncak gunung Mahameru (Gunung Semeru) dari India dan ditempatkan di sebelah barat pulau Jawa. Namun yang terjadi adalah, bahwa pulau Jawa terjungkit dan sebelah timur pulau Jawa terangkat ke atas.
Oleh karena itu para dewa memindahkannya ke sebelah timur, tetapi dalam perjalanan pemindahan gunung itu ke sebelah timur, gunung tersebut berceceran di sepanjang jalan, sehingga terjadilah gunung Lawu, Wilis, Kelut, Kawi, Arjuna, Kumukus dan pada akhirnya Semeru. Setelah itu keadaan pulau Jawa tidak bergoncang lagi.
Setelah pulau Jawa tidak lagi bergoncang, Batara Guru ingin membuat manusia sebagai penghuni pulau Jawa. Untuk itu dia memerintahkan Batara Brahma dan Batara Wisnu menciptakan manusia.
Mereka menciptakan manusia dari tanah yang dikepal-kepal lalu dibentuk manusia berdasarkan rupa dewa. Brahma menciptakan manusia laki-laki dan Wisnu menciptakan manusia perempuan, yang kemudian kedua manusia ciptaan para dewa tersebut dipertemukan dan mereka hidup saling mengasihi.
Pada mulanya manusia telanjang karena tidak dapat membuat pakaian, tidak tinggal di dalam rumah, tidak dapat berbicara, oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa manusia pertama yang tinggal di pulau Jawa tidak mempunyai peradaban.
Untuk itu para dewa diberi tugas oleh Batara Guru untuk “memberi pelajaran” kepada manusia, supaya mereka dapat membuat pakaian, membuat rumah, dapat berbicara antara satu sama lainnya. Pada intinya para dewa mengajar manusia Jawa tentang budaya dan peradaban.
Contoh yang dikutip dari kitab Tantu Panggelaran untuk Babak ini:
Demikianlah kata Bhatara Mahakarana (istilah lain dari Batara Guru):
Anakku, Brahma, turunlah engkau ke Pulau Jawa. Pertajamlah benda-benda tajam, misalnya: panah, parang, pahat, pantek, kapak, beliung, segala pekerjaan manusia. Engkau akan disebut pandai-besi. Engkau akan mempertajam benda-benda tajam itu di tempat yang bernama Winduprakasa. Ibu jari (kw. empu) kedua kakimu mengapit dan menggembleng, besi anak panah dikikir.
Panah itu menjadi tajam oleh ibu jari kedua kaki, maka dari itu engkau akan disebut Empu Sujiwana sebagai pandai-besi, karena ibu jari/empu dari kakimu mempertajam besi. Oleh karena itu, tukang pandai-besi disebut empu, karena ibu jari kakimu menjadi alat bekerja. Demikianlah pesanku kepada anakku.
Lagi pesanku kepada anakku Wiswakarmma. Turunlah ke Pulau Jawa membuat rumah, biar dirimu ditiru oleh manusia. Sebab itu, engkau dinamai Hundahagi (membangun).
Adapun engkau Iswara. Turunlah ke Pulau Jawa. Ajarlah manusia ajaran berkata-kata dengan bahasa, apalagi ajaran tentang Dasasila (sepuluh hal yang utama) dan Pancasiska (lima hukum/tata tertib). Engkau menjadi guru dari kepala-kepala desa, sehingga engkau dinamai Guru Desa di Pulau Jawa.
Adapun engkau Wisnu. Turunlah engkau ke Pulau Jawa. Biarlah segala perintahmu dituruti oleh manusia. Segala tingkah lakumu ditiru oleh manusia. Engkau adalah guru manusia, hendaknya engkau menguasai bumi.
Adapun engkau Mahadewa, turunlah engkau ke Pulau Jawa. Hendaknya engkau menjadi tukang pandai emas dan pembuat pakaian manusia.
Bhagawan Ciptagupta hendaknya melukis dan mewarnai perhiasan, serta membuat hiasan yang serupa dengan ciptaan, menggunakan alat ibu jari tanganmu. Oleh karena itu engkau akan dinamai Empu Ciptangkara sebagai pelukis.
Perkembangan karya sastra bangsa Indonesia seirama dengan perkembangan sejarahnya. Banyak sekali hasil karya sastra bangsa Indonesia masa lalu mempunyai nilai amat tinggi, bahkan menguraikan falsafath, dijadikan suri tauladan kehidupan masyarakat. Sedang karya sastra yang isinya berupa ceritera kebanyakan menjadi ceritera rakyat dituturkan uturn tumurun. Sebagai contoh adalah kitan Tantu Panggelaran.
Menurut isinya kitab Tanu Panggelaran merupakan kumpulan ceritera pendek dan banyak yang menjadi ceritera rakyat, didongengkan orang tua sebelum anaknya tidur. Misalnya asal-usul Gunung Semeru, terjadinya gerhan bulan dan sebagainya.
Kitab Tantu Panggelaran ditulis dengan huruf Jawa dan Bahasa Jawa Tengahan, yaitu bahasa Jawa antara bahasa Jawa Kuno dan bahasa Jawa sekarang dan berkembang mulai masa kejayaan Kerajaan Majapahit sampai Kerajaan Demak, Salah satu salinannya berupa naskah kuno disimpan di Perpustakaan Nasional, Bagian Naskah. Penulisannya berbentuk prosa. Sebagai contoh diberikan beberapa ceritera sebagai berikut:
Pada waktu itu Pulau Jawa belum dihuni oleh manusia, bagaikan daun padi yang terapung dan terombang-ambing di tengah samudera. Kedudukannya tidak tetap dan selalu berubah arah. Batara Guru menciptakan manusia sejodoh di Pulau Jawa yang lalu beranak pinak.
Sayang mereka masih telanjang, tidak dapat berbicara dan belum menetap dalam suatu rumah. Batara Guru memerintah kepada para dewa agar turun ke Pulau Jawa, mendidik manusia Jawa agar dapat membuat pakaian, rumah dan perabotannya dan cara hidup menetap seperti orang sekarang.
Waktu itu penduduk belum merasa tenteram karena Pulau Jawa selalu berubah arah. Batara Guru menyuruh agar Pulau Jawa dipaku memakai gunung. Atas perintah itu, maka salah seorang dewa mencabut pundak gunung Mahameru dari tanah Hindustan di India. Puncak Mahameru dibawa terbang ke Pulau Jawa melewati Pulau Sumatera. Dalam perjalanan gunung itu berceceran sepanjang Pulau Sumatera dan menjadi Bukit Barisan.
Sampai di bagian barat Pulau Jawa, Puncak Mahameru ditancapkan sebagai paku. Ternyata Pulau Jawa berat sebelah, bagian barat tenggara dan bagian timur mencuat ke atas. Maka bagian puncak Mahameru tadi dipasang dan diterbangkan ke bagian timur. Sepanjang penerbangan gunung tersebut rontok.
Puncak-puncak rontokan itu antara lain Gunung Ciremai, Gunung Slamet, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Kelud, Gunung Lawu, Gunung Wilis, Gunung Anjasmara dan lain-lain. Kemudian puncak yang tersisa ditancapkan berupa Gunung Semeru, dari kata Mahameru. Mulai saat itu Pulau Jawa menjadi tenang kedudukannya seperti sekarang ini.
Ringkasan ceritera sebagai berikut: Maha Dewa mengetahui agar para dewa tidak dapat mati meskipun kena sakit, harus minum air penghidupan atau amrta. Amrta itu adanya di dasar lautan susu dalam suatu wadah.
Seluruh dewa termasuk Maha Dewa tidak mampu mengambil amrta di dasar lautan susu. Sidang dewa memutuskan menunjuk raksasa maha besar untuk mengambilnya. Apabila raksasa itu berhasil, maka akan diberi kedudukan sama dengan dewa. Salah satu dewa menyampaikan tugas itu kepada raksasa.
Sang raksasa menyanggupinya, kemudian mencabut puncak gunung untuk mengaduk (mengebur) lautan susu. Adukan (keburan) itu menimbulkan arus putar vertikal air lautan susu. Arus air lautan susu semakin lama semakin kencang dan kuat.
Dengan kekuatan arus maha dahsyat, maka seua benda di dasar lautan hanyut terbawa putaran arus. Pada saat wadah amrta tampak di permukaan lautan susu, dengan secepat kilat disambar oleh sang raksasa. Kemudian wadah amrta dipersembahkan kepada para dewa.
Setelah itu timbullah niar raksasa ingin tahu tentang amrta. Sang raksasa bertanya kepada salah satu dewa dan mendapat penjelasan bahwa amrta adalah air penghidupan. Barang siapa minum air penghidupan, maka ia akan hidup selama-lamanya meskipun tertimpa sakit.
Mendengar penjelasan itu raksasa terkejut dan menyesal mengapa diserahkan kepada dewa. Timbul keinginan untuk memilikinya atau minimal ikut minum. Sang raksasa berusaha dapat mencuri amrta. Saat itu pula ia bermaksud minum amrta. Bersamaan dengan saat raksasa menenggak amrta, diketahui oleh Dewa Wisnu.
Tanpa membuang waktu Wisnu melepaskan panah cakra tepat mengenai leher raksasa dan putus. Kepala Raksasa yang telah minum amrta tetap hidup dan terbang ke angkasa. Badan mulai dari leher yang belum terkena amrta, mati roboh ke bumi manjadi kayu. Oleh penduduk, kayu itu dijadikan bahan membuat “lesung” (tempat menumbuk padi).
Kepala raksasa tanpa badan terus terbang mengelilingi bumi ingin membalas dendam. Ia bermaksud “nguntal” menelan tanpa dikunyah) bidadari. Sebab bidadari adalah isteri para dewa. Salah satu budadari adalah bulan. Maka kepala raksasa itu terus mengejar bulan. Pada saat tertentu bulan dapat terkejar dan “diuntal”.
Saat itu terjadi gerhana. Karena raksasa tadi tidak punya badan (perut), maka bulan keluar lagi. Pada saat terjadi gerhana bulan seluruh penduduk kampung memukuli lesung (badan raksasa).
Penduduk yakin, dengan memukul badan raksasa, maka karena merasa kesakitan raksasa mengurungkan memakan bulan. Sampai sekarang, apabila terjadi gerhan bulan tentu di perkampungan terdengar suara ramai orang memukul lesung atau titir kentongan.
Ceritera semacam itu termasuk ceritera klise, yaitu alur ceritera sama yang terdapat di berbagai belahan dunia, misalnya di Persia, Arab, Tibet, Indonesia dan lain-lain. Ringkasan ceritera yang terdapat dalam Tantu Panggelaran sebagai berikut:
Seorang empu dari Kampung Tapawangkeng di wilayah Kerajaan Daha bernama Sameget Baganjing mempunyai pinjaman berupa makanan. Ia berjanji akan membayar hutangnya setelah matahari terbenam.
Empu Sameget Baganjing tidak mempunyai uang membayar hutangnya setelah matahari terbenam. Agar tidak ditagih bayah hutang, maka matahari ditahan perjalanannya, sehingga matahari bersinar terus dan malam (magrib) tertunda datangnya. Padahal waktu itu Sang Raja sedang berpuasa dan akan berbuka setelah matahari terbenam.
Sang Raja sudah merasa lapar sekali, tetapi matahari tidak bergerak menuju peraduannya. Setelah diselidiki ternyata matahari ditahan perjalanannya oleh Empu Sameget Baganjing yang tidak dapat bayar hutang. Akhirnya matahari terbenam dan Sang Raja dapat berbuka puasa.
Banyak karya sastra lama semacam kitab Tantu Panggelaran itu tidak dituliskan nama pengarangnya. Pada umumnya isinya berhubungan dengan keagamaan, yaitu Hindu. Nilai sastranya sangat tinggi, gaya bahasanya indah. Naskah kuno semacam itu banyak disimpan, dirawat dan dilestarikan di museum seluruh Indonesia.
Tantu Panggelaran berisi tentang etiologi alam semesta. Tantu Panggelaran ditulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan etiologis, misalnya, mengapa ada gempa bumi, mengapa ada gerhana matahari, mengapa ada gunung-gunung yang tersebar di pulau Jawa, mengapa ada manusia di pulau Jawa, mengapa ada biji hijau, hitam, putih, tetapi tidak ada biji kuning, mengapa ada bahasa, mengapa manusia membuat rumah, pakaian, dsb. Pertanyaan-pertanyaan etiologis ini dijawab dalam cerita Tantu Panggelaran.
Selain itu cerita ini mementingkan proses pengaturan alam semesta, dari dunia yang khaos menjadi dunia yang teratur (kosmos). Hal ini juga dapat ditemui dalam cerita-cerita orientalis kuna. Para Dewa sangat menghargai dunia yang teratur. Motif ini dijumpai dari cerita-cerita Yunani kuna sampai cerita-cerita India.
Di samping itu terdapat perbedaan teologis antara cerita Jawa Pertengahan ini dengan teologi Hindu di India. Di dalam kisah ini diceritakan bahwa Batara Guru adalah ayah dari dewa-dewa yang lainnya. Gunung menjadi tempat yang keramat, tempat para dewa.
Motif ini juga terdapat dalam dunia teologis orientalis. Ishak dipersembahkan di gunung Moria (Yerusalem). Zarathustra atau Zoroaster ketika berkotbah juga naik ke gunung. Firaun membuat piramida yang juga melambangkan gunung. Agama masyarakat Indonesia kuna juga membuat punden berundak-undak yang juga melambangkan gunung.
sumber :http://www.wacana.co/2009/02/kitab-tantu-panggelaran/
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...