Hermes adalah salah satu dari 12 dewa yang tinggal di Gunung Olimpus. Dalam mitologi Yunani, ia adalah Putra Zeus dengan seorang Peri yang bernama Maia. Hermes dilahirkan digunung Kellina daerah Arkadia. Ia merupakan pesuruh atau pembawa berita para dewa terutama berita dari dewa Zeus. Dewa Hermes digambarkan sebagai sosok yang cerdas, tubuh yang atletis dan juga cepat gerak-geriknya.
Dewa Hermes juga dianggap sebagai dewa pelindung kaum gembala, atlit, pengembara, pelindung perbatasan, perdagangan, sastrawan, penemu hingga pencuri. Hermes juga dianggap sebagai dewa keberuntungan, dan dewa penunjuk arah. Dalam kebudayaan Romawi Hermes juga disebut Merkurius.
Hermes dilukisan sebagai pemuda yang memakai topi dan sepatu bersayap (lambang kecepatan) Tangannya kadang-kadang memegang sebuah tongkat dililit ular (lambang berita), atau sebuah dompet (lambang perdagangan). Diantara 12 dewa Olimpus Hermes merupaka dewa yang termuda setelah Dionisos.
Lantas bagaimana jejak dewa Hermes bisa ada di tanah Betawi atau Jakarta, padahal Hermes merupakan salah satu dewa dalam mitologi Yunani? Alkisah jejak Hermes pada awalnya ditemukan di daerah Harmoni pada tahun 1930-an, tepatnya berada dipembatas jembatan Harmoni. Jejak dewa Hermes termanifestasikan dalam sebuah patung perunggu seberat 70 kg berdiri dengan satu kaki dengan wajah menghadap ke langit seolah-olah ingin terbang dengan membawa tongkat yang dililit ular.
Namun usut punya usut ternyata jejak Hermes di Batavia lebih dahulu ditemukan di daerah Mester Cornelius atau Jatinegara saat ini. Berdasarkan catatan sejarah, pada awalnya patung dewa Hermes adalah milik seorang pedagang asal Jerman yang kemudian menjadi warga negara Belanda. Karl Wilhelm Stolz, nama pedagang itu, memiliki sebuah toko dengan nama Jenny &Co yang menjual barang logam dan pecah belah. Toko Jenny & Co terletak di jalan Rijswijkstraat sekarangi Jalan Veteran, Jakarta Pusat.
Patung ini sendiri dibeli sekitar tahun 1920-an di Hamburg, Jerman. Patung ini dibuat berdasarkan Patung Hermes karya Giambologna atau Giovanni Bologna (1529–13 August 1608). Ia adalah pematung terkenal di zaman Renaissance. Patung Hermes ini awalnya dipajang di halaman rumah Karl Wilhelm Stolz di Mester Cornelius. Istri Karl kabarnya tidak terlalu senang dengan patung yang dianggapnya "porno" itu.
Tahun 1930-an, sang istri meninggal dunia. Karl berniat kembali ke negaranya. Ia pun menjual tokonya. Dan sebagai tanda terima kasih telah diizinkan membuka usaha di Hindia Belanda, ia menyumbangkan patung Dewa Hermes itu ke pemerintah.Oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu, patung ini dipasang di jembatan Harmoni.
Pemerintah Hindia Belanda waktu itu menaruh di jembatan Harmoni yang dibangun sekitar tahun 1905 dengan maksud untuk mempercantik kota Batavia yang saat itu sedang berkembang. Disamping sebagai pembawa keberuntunga, patung Hermes juga dianggap sebagai penjaga para pedagang yang waktu itu memang sudah ramai di kawasan jalan Hayam Wuruk dan jembatan Harmoni merupakan pintu masuk ke kawasan tersebut.
Penempatan patung Hermes di jembatan Harmoni juga sebagai penanda batas antara kawasan niaga dan bisnis yang berada di jalan Hayam Wuruk dengan kawasan pemukiman elit yang ada di jalan Veteran.
Sebenarnya jejak dewa Hermes di Batavia ada dua, yang satu berada di dekat Masjdi Istiqlal yang menghadap gereja Katerdral, kemungkinan patung Hermes yang ada di dekat Istiqlal sebagai tanda masuk ke kawasan Passer Baroe (baca:pasar baru) juga sebagai pembatas dengan kawasan elit Rijswijkstraat. Namun sayang, jejak Hermes berupa patung yang berada di dekat Istiqlal sudah hilang tanpa bekas sejak tahun 1970.
Hanya Replika
Sekitar Agustus tahun 1999 pembatas jembatan Harmoni pernah tertabrak mobil dan menyebabkan patung Hermes agak miring ke sungai tidak lama kemudian patung tersebut Hilang, ternyata patung tersebut tidak hilang melainkan diamankan oleh Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta atas perintah Guberur Sutiyoso.
Untuk menghidari kerusakan dan pencurian patung dewa Hermes, atas perintah Gubernur DKI Jakarta patung dewa Hermes di jembatan Harmoni dibuatkan replikanya sebab harga patung asli dewa Hermes mencapai Rp 1 milyar dipasar SIngapura pada waktu itu.
Jadi, patung dewa Hermes yang saat ini berada di jembatan Harmoni merupakan replika bukan aslinya. Patung replika tersebut dibuat oleh seniman patung asal Jogjakarta bernama Arsono dengan berat sekitar 100 kg, lebih berat 30 kg dari patung aslinya dan harga pembuatan sekitar Rp150 juta. Namun sayang dewa Hermes yang berada di jembatan Harmoni kini telah kehilangan tongkat Cadeceusnya, diprkirakan tongkat itu hilang tahun 2005.
Kini, patung Hermes yang asli dapat dilihat di bagian belakang Museum Sejarah Jakarta. Patung dewa yang dikenal sebagai pembawa pesan itu telah menyampaikan pesan tak tertulis mengenai sejarah kehidupan kota Jakarta mulai dari zaman pemerintahan Belanda, hingga era reformasi. (DAM)
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...