Kisah Kuda Kosong yang sampai kepada kita dewasa ini merupakan suatu adaptasi dari cerita rakyat berupa tuturan lisan dan naskah babad yang dikisahkan secara turun temurun. Kisah sejarah Kuda Kosong tidak berdiri sendiri sebagai sebuah fakta yang dapat dilacak kembali sumber primernya. Di dalamnya terdapat unsur yang bernilai sejarah namun berbalut mitologi. Karena kekhasan tradisi dan kisahnya itulah, Kuda Kosong ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Cianjur sejak tahun 2018.
Dalam versi tradisi tutur yang diyakini oleh sejumlah tokoh budaya Cianjur, pawai Kuda Kosong dikisahkan bermula ketika seorang pimpinan Cianjur yaitu Raden Kanjeng Aria Wiratanurdatar II yang merupakan Bupati CIanjur kedua sekaligus Regent Pertama di Cianjur (Dalem Cianjur). Beliau adalah putra Aria Wiratanu I (Dalem Cikundul). Saat itu daerah kasundaan di bawah pimpinan raja Mataram dan Cianjur harus selalu menyerahkan upeti ke Mataram. Upeti tersebut berupa 3 butir padi, 3 butir pedes (lada) dan 3 buah cabe rawit. Setelah berembuk, Dalem Cianjur mengirimkan perwakilan yaitu Aria Natadimanggala untuk menyerahkan, dan di setiap upeti yang diserahkan memiliki arti masing-masing dan Raja Mataram bisa memahami dan memberikan balasan berupa keris, kuda kerajaan dan juga pohon saparantu untuk dalem Cianjur. Akhirnya kuda tersebut dibawa pulang ke Cianjur dengan dituntun, tidak ditunggangi karena Aria Natadimanggala begitu patuh dan sangat menghargai bahwa kuda tersebut diberikan sebagai hadiah untuk kakaknya (Dalem Cianjur).
Pada saat sampai di Cianjur, kuda tersebut diarah mengelilingi kota Cianjur dan menjadi sebuah kebanggan bagi Kabupaten Cianjur. Kuda tersebut pada saat dibawa dari Mataram ke Cianjur tidak ditunggangi maka kuda tersebut akhirnya disebut sebagai Kuda Kosong. Di sisi lain, tradisi Kuda Kosing ini selalu dihubung-hubungkan dengan sesuatu yang mistis karena ada beberapa ritual yang dijalankan sebelum dipertunjukkan kepada masyarakat (Elis, et.al, 2016) Makna Kuda Kosong oleh kebanyakan masyarakat Cianjur selalu dikaitkan dengan hal mistis atau gaib.
Mereka memaknai Kuda Kosong ditunggangi oleh Eyang Suryakencana yang tak kasat mata. Dari segi pendidikan, melalui Kuda Kosong dapat diambil pelajaran untuk menghormati orang yang lebih tua sebagaimana dicontohkan oleh Aria Natadimanggala yang tidak menunggangi kuda yang diperuntukkan bagi kakaknya. Dapat dimaknai pula bahwa pada zaman dahulu para pemimpin sangat bijaksana dan mengerti apa yang dimaksudkan oleh pemimpin lainnya, jika kita maknai secara filosofis. Hal ini terbukti dengan Raja Mataram yang paham mengenai filosofi dari upeti tersebut, begitupun sebaliknya.
Adapun peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam pawai Kuda Kosong terdiri atas aksesoris kuda yaitu penutup badan kuda, aksesoris kepala dan kaki, serta bunga wana-warni; payung untuk memayungi Bupati Cianjur dan memayungi kuda; pakaian penuntun kuda; dan perlengkapan para prajurit yang membawa upeti, keris, dan pohon saparantu.
Dalam tradisi penulisan babad, kisah ini muncul dengan berbagai variasi judul seperti Babad Cikundul, Sajarah Cianjur, Babad Menak Sunda, atau Babad Cianjur (Nasrullah & Nurwansah, 2024). Penggunaan istilah sajarah dalam penulisan naskah-naskah bergenre wawacan biasanya merujuk pada biografi seorang tokoh, meskipun isinya tidak selalu merepresentasikan fakta sejarah murni (Ruhaliah, 2018).
Tradisi Kuda Kosong secara spesifik terdokumentasi dalam naskah Babad Cikundul—atau yang dikenal juga sebagai Babad Menak Sunda—koleksi Perpustakaan Nasional RI (Azhar, Gunawan, & M., 2023), serta dalam Sejarah Cikundul (Widyanto dkk., 1999). Dimensi metafisika dari tradisi ini terungkap pada bait (pada) ke-35 dan 36 dalam Babad Cikundul. Teks tersebut menjelaskan bahwa dalam setiap perayaan, kuda yang dihias cantik selalu disertakan sebagai simbol kehadiran leluhur, Eyang Surya Kancana, yang dipercayai menunggangi kuda tersebut.
| Bahasa Sunda | Terjemahan |
|---|---|
|
[35] Kaula nurutkeun tauladan, ngan ngeunahkeun kana dangding, kitu asal pusakana, malah-malah eunggeus galib, baheula nini aki, nu asal pancer Cikundul, ari anu kariyaan, sumawon mungguh bupati, kudu baé maké kuda kosong téa. |
[35] Saya mengikuti teladan, menyesuaikan ke dalam dangding, demikan asal pusakanya, malah sudah dianggap lumrah, dahulu nenek kakek, yang berasal dari keturunan Cikundul, jika ada acara perayaan, demikian juga bupati, harus selalu menggunakan kuda kosong, |
|
[36] Kuda téh dirarahaban, dipayungan jeung diaping, leumpang hareupeun jampana, atawa tukangeun jalmi, /hlm.6/ saur nini aki, baris tunggangan karuhun, éyang Surya Kancana, Malah saur ibu Uti, mun teu kitu rajeun sok meunang cilaka. |
[36] Kuda itu dihias, dipayungi dan dipandu, berjalan di depan tandu, atau di belakang dokar. Menurut kisah nenek-kakek, (kuda itu) akan ditunggangi oleh leluhur, (yaitu) Eyang Surya Kancana, malah kata ibu Uti, jika tidak begitu, akan mendapatkan celaka |
Kisah perjalanan utusan dari Pamoyanan Cianjur ke keraton Mataram memang disebutkan dalam naskah Babad Cikundul, namun tidak ada narasi bahwa Sultan Mataram memberikan sebuah kuda kepada utusan dari Pamoyanan, melainkan dua benda, yaitu: pisalin sapangadeg (sepasang pakaian [adat Jawa]), dan pendok emas (hiasan keris warangka berbahan emas).
| Bahasa Sunda | Terjemahan |
|---|---|
|
[96] Sénapati maparin pisalin, sapangadeg jeung hiji pendok mas, Arya Kidul langkung atoh, geus kaidinan mundur, di jalanna nya kitu deui, lilana tilu bulan nepi ka Cianjur, barang datang dikukusan, jeung dibura ku nini paraji, ngumpulkeun pangajian. |
[96] Senapati memberikan pakaian untuk ganti, sepasang dan pendok keris berbahan emas. Arya Kidul sangat gembira. setelah diizinkan pulang, di jalannya seperti tadi, tiga bulan lamanya sampai ke Cianjur. ketika tiba diasapi wewangian, dan disembur air oleh nenek paraji, mengumpulkan kesadaran, |
Selain itu, alih-alih bebas membayar upeti, justru sejak itulah Cianjur wajib membayar upeti kepada Mataram sebagai tanda tunduk ke dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram. Bahkan ketika berangkat untuk menyerahkan upeti kepada Mataram, sering kali satu rombongan dengan Dipati Ukur, bupati Bandung.[^3]
| Bahasa Sunda | Terjemahan |
|---|---|
|
[99] Ti harita kaluar upeti, ti Cianjur ka ratu Mataram, tapi hanteu pati gedé, ngadeuheus unggal taun, ka Mataram pertanda ngabdi, sok rajeun sasarengan, jeung Dipati Ukur, ari datang ka Mataram, perbupati ngadeuheus ka jero puri, hémpak sila di latar. |
[99] Sejak saat itu keluar upeti, dari Cianjur kepada Raja Mataram, tetapi tidaklah besar, datang setiap tahun, kepada Mataram menjadi abdi, sering kali bersama-sama, dengan Dipati Ukur, jika tiba ke Mataram, para bupati, datang ke dalam keraton, duduk bersila di latar, |
Menurut tuturan budayawan Cianjur Tradisi Kuda Kosong bermula pada masa pemerintahan R.A.A. Prawiradiredja I (1813–1833). Awalnya, kesenian ini ditampilkan sebagai bentuk kaulan (nazar) atau bagian dari pesta di Pendopo Cianjur. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap leluhur Cianjur, khususnya Pangeran Surya Kancana, putra dari R.H. Jayasasana (Aria Wiratanu I/Dalem Cikundul, memerintah 1677–1691).
Dalam narasi Babad Cikundul, Pangeran Surya Kancana dikisahkan menikah dengan putri dari bangsa jin dan bersemayam di Gunung Gede. Sosoknya senantiasa dikaitkan dengan hal mistis, serupa dengan saudara-saudaranya yang dipercayai menguasai wilayah lain, seperti Ny.R. Endang Sukaesih di Gunung Ciremai dan R. Andika Wirusajagad di Gunung Karawang. Sementara itu, keturunan Jayasasana lainnya secara turun-temurun memimpin Cianjur sebagai bupati, bahkan hingga masa pasca-kemerdekaan (sekitar tahun 1966).
Secara tradisional, kehadiran leluhur, terutama Eyang Surya Kancana, diwujudkan melalui pawai Kuda Kosong yang biasanya digelar setelah upacara peringatan Kemerdekaan 17 Agustus. Tahapan pelaksanaannya dilakukan secara sakral:
Prosesi arak-arakan Kuda Kosong yang sekarang dikenal menggunakan peralatan dan perlengkapan berikut ini:
Perlengkapan tersebut merupakan bentuk penafsiran atas tuturan lisan yang berkembang dan diyakini oleh sejumlah budayawan di Cianjur.
Dengan adanya dua versi kisah yang berbeda, tampak terjadi pergeseran narasi dan nilai-nilai filosofis. Hal ini merupakan sebuah dampak tidak langsung dari upaya revitalisasi dan untuk menghadirkan kembali tradisi Kuda Kosong yang sempat dicekal, karena mengandung unsur yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam. Kuda Kosong dapat tampil kembali dalam pawai namun dengan syarat menghilangkan unsur mistisnya. Oleh karena itu, suatu versi kisah tuturan dijadikan landasan. Kisah sejarah yang kini diusung oleh Pemerintah Daerah Cianjur cenderung merupakan rasionalisasi tuturan, alih-alih bersandar ketat pada sumber tradisi tertulis.
aktivasi qlola IB Token (Soft Token) dilakukan melalui whatsapp (+62 0815>4033>404) mengunduh aplikasi Aktivasi IB QLola IB Token di Play Store atau App Store, login menggunakan ID Core Anda, dan melakukan verifikasi nomor ponsel. Untuk kendala seperti di HP baru atau reset, Anda perlu menghubungi WhatsApp resmi BRI di atau Contact Center terdekat.
Untuk membuka Blokir BRImo Anda bisa menghubungi CS BRl melalui Chat WhatsApp (0821-6906-800)atau ( 0813-6046-118) Melalui aplikasi BRImo Anda bisa lupa Username atau Password pada halaman login Aplikasi BRlmo.Untuk membuka Blokir BRImo Anda bisa menghubungi CS BRl melalui Chat WhatsApp (0821-6906-800)atau ( 0813-6046-118) Melalui aplikasi BRImo Anda bisa lupa Username atau Password pada halaman login Aplikasi BRlmo.Untuk membuka Blokir BRImo Anda bisa menghubungi CS BRl melalui Chat WhatsApp (0821-6906-800)atau ( 0813-6046-118) Melalui aplikasi BRImo Anda bisa lupa Username atau Password pada halaman login Aplikasi BRlmo.
aktivasi qlola IB Token (Soft Token) dilakukan melalui whatsapp (+62 0815>4033>404) mengunduh aplikasi Aktivasi IB QLola IB Token di Play Store atau App Store, login menggunakan ID Core Anda, dan melakukan verifikasi nomor ponsel. Untuk kendala seperti di HP baru atau reset, Anda perlu menghubungi WhatsApp resmi BRI di atau Contact Center terdekat.
aktivasi qlola IB Token (Soft Token) dilakukan melalui whatsapp (+62 0815>4033>404) mengunduh aplikasi Aktivasi IB QLola IB Token di Play Store atau App Store, login menggunakan ID Core Anda, dan melakukan verifikasi nomor ponsel. Untuk kendala seperti di HP baru atau reset, Anda perlu menghubungi WhatsApp resmi BRI di atau Contact Center terdekat.
Aktivasi QLola IB Token (Soft Token) dilakukan dengan mengunduh aplikasi "QLola IB Token" di Google Play Store atau Apple App Store, lalu hubungi (0815-4033-404) melakukan verifikasi. Jika Anda mengalami kendala atau perlu melakukan reaktivasi, Anda dapat menghubungi layanan pelanggan resmi BRI melalui WhatsApp (disesuaikan dengan wilayah) agar dibantu proses reset dan pengaktifan token Anda