Halo sobat budaya, udah pada tahu apa belum nih kalau orang jawa punya cara unik buat ngebungkus makanan lhoo. Orang jawa pada zaman dahulu sebelum adanya piring mereka menggunakan dedaunan guna membungkus maupun sebagai tempat makan. Dedaunan yang biasa digunakan adalah daun pisang. Daun pisang banyak digunakan oleh orang jawa untuk membungkus maupun menjadi alas makan.
Daun pisang yang digunakan dibentuk menjadi beragam bentuk lhooo, salah satunya yang paling sering dijumpai adalah teknik membungkus makanan yang bernama “Pincuk”. Bagi sebagian orang jawa, pasti sudah ga asing dengan kata-kata tersebut. Akan tetapi, bagi kalian yang bukan orang jawa pasti bertanya-tanya apa sih pincuk itu. Pincuk dapat dikatakan sebagai salah satu teknik membungkus yang dimiliki orang jawa. Dimana pincuk sendiri biasanya daun yang digunakan adalah daun pisang.
Pincuk ini biasanya digunakan untuk alas makan sehari-sehari bahkan saat dilakukan tradisi loooh. Melansir dari penelitian Afriani (2020) bahwa pincuk biasanya digunakan dan hadir dalam upacara atau tradisi nyadran. Tradisi nyadran biasanya diakhiri dengan acara makan bersama,nah disinilah pincuk hadir sebagai tempat atau alas makan sobat. Jadi, bisa disimpulkan nih kalau pincuk itu bukan Cuma untuk makan sehari-hari tapi juga sebagai salah satu sarana pelengkap tradisi.
Tapi, pincuk kan cuman alat bungkus apa istimewanya? Eitss jangan salah salah meskipun cuman alat bungkus makanan pincuk mempunyai arti tersendiri lhoooo. Pincuk terbuat dari lembar daun pisang. Lembaran ini memiliki arti bahwa kita harus memulai sesuatu dengan lembaran yang baru dan bersih. Selain itu, cara menyangga daun pisang yang dipincuk juga memiliki makna bahwa kita harus menerima dengan ikhlas segala hal terjadi di hidup kita. Lembar daun yang dijadikan satu dengan lidi juga menunjukan bahwa manusia harusnya solid dan hidup rukun dengan sesamanya.
Nah istimewakan makna ataupun filosofi dari tradisi membungkus secara pincuk. Meskipun sudah jarang digunakan, tetapi teknik membungkus secara pincuk masih eksis lhoo. Pincuk sendiri ternyata identik dengan beragam jenis makanan sobat. Ada beberapa makanan yang identik dengan pincuk,yaitu ada sate lontong, pecel , cabuk rambak dan juga gudangan ( urap). Makanan- makanan tersebut sampai sekarang masih disajikan dengan cara pincuk.
Namun, gimana sih caranya bikin pincuk? buat kalian yang belum tau caranya, ada beberapa langkah nih buat bikin pincuk. Pertama, siapkan dua lembar daun pisang yang tidak terlalu muda tetapi juga tidak terlalu tua. Daun yang terlalu muda atau tua akan membuat daun mudah robek saat dibentuk. Kedua, lipat bagian atas daun sehingga membentuk lancip pada bagian bawah daun yang dilipat. Ketiga, bagian atas yang dilipat tadi kemudian disemat lidi. Pada zaman sekarang pincuk tidak hanya terbuat dari daun pisang saja tetapi juga dari kertas minyak dikarenakan harga daun pisang yang seringkali mengalami kenaikan harga(Nugrahani, 2022).
Nah itu tadi sedikit informasi mengenai tradisi membungkus ala orang jawa, semoga bisa menambah pengetahuan bagi sobat budaya yang membacaaaa.
Sumber: Afriani, I., & KA, S. P. (2020). Tradisi Nyadran Di Desa Ngasem Kecamatan Batealit Kabupaten Jepara. Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa, 8(1), 37-44. Nugrahani, A., & Parela, K. A. (2022). Leksikalisasi Pembungkus Tradisional Dari Daun Pisang: Kajian Etnosemantik. ALINEA: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajarannya, 2(2), 148-159.
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...