Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan
Teater Betawi DKI Jakarta Petukangan
Topeng Blantek
- 2 Februari 2020

TTopengopengopengopenpeTTopengoTTTopengopengopengopenpeTTopengoTTTopengopengopengopenpeTTopengoTppTTopengopengopengopenpeTTopengoTpp MediaMediaMediaMediaMediaMediaMediaMediaMediaMediaMediaMediaMediaMediaMediaMedia SosiSosiSosialalSosiSosiSosialalSosialalSosialal

Kategori

Topeng Blantek, sebuah seni pertunjukan yang merupakan media sosial masyarakat Betawi. Media sosial yang berlandaskan nilai-nilai sekaligus menjadi sarana apreasiasi masyarakat. Hal-hal yang diungkapkan pada publik berisikan kepedulian dan kritik sosial, menjadi bagian dari nilai sosial dalam Topeng Blantek. Seni pertunjukan Betawi ini antara lain memiliki fungsi sebagai sarana informasi masyarakat dalam aspek-aspek kebudayaan yang berisi tentang sejarah dan aktivitas masyarakat Betawi.

Pada latihan adegan atau peran menunjukkan setiap pemain harus memiliki keterampilan. Jadi pementasan Topeng Blantek merupakan media bagi para pemain untuk menunjukkan kemampuan atau keahlian dalam bermain. Keterampilan yang dimiliki oleh setiap pemain yang tergabung dalam sanggar seni Topeng Blantek, menandakan adanya sebuah keterampilan dalam kelompok.

Panggung merupakan sebuah media dalam melakukan pementasan. Pada Topeng Blantek, panggung adalah sarana dan prasarana pementasan. Pementasan Topeng Blantek juga dapat memakai karpet lebar sebagai latar tempat untuk mengganti panggung. Seni Topeng Blantek menjadi sebuah media sosial untuk semua kalangan masyarakat. Media yang memberikan pesan pada para penonoton. Seni Topeng Blantek sebagal media sosialisasi menyampaikan pesan melalui isi cerita melalui sebuah teater. Seni Topeng Blantek merupakan sebuah teater Betawi yang memerlukan persiapan-persiapan sebelum tampil.

Proses sosialisasi yang dilakukan oleh pemain dengan cara menampilkan cerita yang ingin disampaikan pada masyarakat. Hal tersebut menunjukan proses sosialisasi terwujud melalui adanya hubungan komunikasi melalui perilaku terbuka dari peran seniman dan pemain Topeng Blantek itu sendiri. Perilaku terbuka dalam hal ini ditunjukkan dengan gerakan-gerakan dan adegan yang ditampilkan seni Topeng Blantek. Para pemain Topeng Blantek memberikan beberapa aspek yang perlu diperhatikan oleh para penonton. Aspek-aspek tersebut adalah kemampuan yang merupakan sebuah keterampilan, sumber ilmu pengetahuan, baik bersifat tentang seni budaya ataupun umum, serta nilai-nilai universal yang menjadi sebuah tuntunan, tidak hanya tontonan. (Abdul Azis)

Laman

Tautan

RekanRekanRekanReRekakaRekanRekanRekanRekaRekanRekanRekanRekaRekanRekanRekanReka

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker